:

Membaca Tanda-Tanda di Sekitar Kita

Judul Buku  :   Tanda – Kata, Angka, & Nada

Penulis       :    Rm. Jost. Kokoh, Pr

Penerbit     :    Kanisius, 2009

Isi              :   304 halaman

 

Hidup manusia ternyata tidak lepas dari tanda, baik itu yang diberikan oleh alam, kehidupan sehari-hari, juga oleh Sang Pencipta.  Setiap bangsa dan suku juga memiliki tanda-tanda itu.  Mereka meyakini, membuat komitmen, lalu menganggap tanda tersebut sebagai sesuatu yang sakral.

Read more

Litani Serba Salah Romo

Kalau romonya muda, dibilang masih bloon.Kalau romonya tua, sebaiknya pensiun saja. Kalau khotbah terlalu panjang, dibilang menjengkelkan.Tapi kalau cepat, “koq kayak kereta ekspres…” Kalau mulai misa tepat waktu, katanya kaku.Kalau terlambat, “Idiih… romonya malas…..” Kalau di kamar pengakuan menasihati, katanya banyak omong.Kalau sebaliknya, dibilang tidak tanggap. Kalau mengikuti pendapat umat, dibilang tak punya pendirian.Kalau pakai … Read more

Ambillah dan Bacalah

Agustinus bimbang luar biasa sejak berjumpa Ambrosius.  Ia ingin dibaptis dan menjadi Kristiani; namun merasa tidak mampu melepaskan diri dari ambisi kesuksesan duniawi serta nafsu seksual.  Suatu ketika ia berada di sebuah taman bersama beberapa sahabatnya.  Tatkala menyendiri, terdengar suara bocah berulang-ulang dari sebuah rumah, “Tolle lege – ambillah dan bacalah!”

Merasa seruan itu ditujukan baginya, ia segera menemui Alypius, sahabatnya, lalu membuka Kitab Suci.  Dengan tenang ia membaca ayat yang pertama kali ditemukan: “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.  Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Roma 13:13-14).  Begitu selesai dibacanya, segala kebimbangannya sirna.

Read more

Mbah Surip : I Love You Full

Mbah Surip telah pergi.  Namun orang-orang masih terus mengenangnya tanpa henti. Dan diliputi sedih karena kepergiannya yang begitu dini.  Mbah Surip telah tiada.  Tapi lagunya “Tak Gendong Ke Mana-Mana” masih senantiasa mengiang di banyak telinga.  Seakan ia masih ada, dan terus tertawa, “Ha, ha, ha.” Mbah Surip memang selalu gembira.  Dan ingin membuat orang lain gembira.  Dan kegembiraan yang diberikannya bukan kegembiraan yang mewah, mahal dan penuh polesan dan kosmetika, tapi memberikan kegembiraan yang sederhana, murah dan apa adanya.  Lagunya, “Tak Gendong”, bukan lagu yang tinggi mutunya atau indah aransemennya.  Lagu itu sangat sederhana, malah minim dengan aransemen yang indah.  Namun lagu itu mengalir dari kesederhanaannya, membual dari kegembiraan hatinya yang terdalam.  Karena itu “Tak Gendong” juga bisa membuat orang gembira dan tertawa bersamanya, “Ha, ha, ha.”

Read more

Sukses Gak Harus Nunggu Tua

Kalau menengok ke belakang, terutama masa-masa 10-20 tahun lalu, mungkin kita yang masih muda-muda ini cenderung berpikir bahwa untuk menjadi sukses/mapan biasanya harus menunggu usia matang/dewasa (baca: tua). Beberapa dari kita mungkin berpikir bahwa usia itu bisa di atas 30 tahunan untuk yang sukses dari bekerja di perusahaan besar.   Untuk yang bisa sukses dari usaha sendiri, cenderung menunggu usia yang hampir menyentuh angka pensiun, yakni 60 tahunan. Memang, kesuksesan itu tidak mudah untuk dicapai, sehingga cenderung membutuhkan waktu lama untuk mencapainya.

Read more

Doa Rosario Hidup

Rabu, 20 Mei 2009, sekitar Pk. 18.00 para pembina dan remaja mulai berdatangan di sekitar Gu Maria Paroki Trinitas – Cengkareng.  Hari itu memang akan diadakan Doa Rosario Hidup.  Setelah  nyanyian dan doa pembukaan, kami mengadakan perarakan mengusung patung Bunda Maria, Bunda yang sangat kami  hormati, mengelilingi gereja, diiringi lagu-lagu Maria, dan berakhir di Aula St. Eugenius de Mazenod.  

Para pembina dan remaja yang tiga hari sebelumnya telah mengadakan gladiresik menyusun suatu formasi berbentuk rosario.  Setelah diberikan pengantar singkat mengenai Bunda Maria dan pentingnya kita berdoa rosario, kami mulai mendaraskan doa dengan khidmat.  Suasana hening lebih terasa karena penerangan listrik kami ganti dengan lilin-lilin yang dipasang di tiap butir Doa Salam Maria.  Tiap peristiwa diisi juga dengan pembacaan puisi dan doa. 

Read more

Rekoleksi Rekreasi PS Elisabeth dan PS Salve Deus

Untuk menyemangati para anggota paduan suara (PS) yang sudah mulai jenuh, memupuk semangat kebersamaan dan kekeluargaan, saling berbagi pengalaman, dan membina persaudaraan, PS Elisabeth (Wil. 1) dan PS Salve Deus (Wil. 21) mengadakan Rekoleksi Rekreasi yang mengangkat tema “Semangat Pelayanan”.  Rekoleksi yang berlangsung 18-19 Juli 2009 di Villa Gadog, Bogor ini dibawakan oleh Romo Andi Gunardi, Pr dari Wacara Bakti Jakarta.  

Para peserta yang merupakan anggota kedua PS tersebut terlihat antusias mengikuti sesi-sesi yang dibawakan oleh Romo Andi.  Pada intinya, semangat melayani dalam bidang apa pun membutuhkan banyak pengorbanan baik waktu, tenaga, pikiran, dsb.  Khusus untuk melayani Gereja lewat paduan suara, para anggota diharapkan memiliki disiplin dan komitmen yang tinggi.  “Yang terpenting, bergembira dan bergairah-lah dalam karya pelayanan kita,” begitu pesan Romo Andi.

Read more

Intisari Homili Minggu Biasa XXIII, 06 September 2009

Tuli dan Gagap akan Tuhan
Oleh: Romo Petrus J. McLaughlin, OMI

“Engkau selalu menantikan kami membuka hati padaMu.  Sadarkanlah kami selalu…” demikian cuplikan Doa Pembukaan pada Misa Kudus Minggu ini.  Membuka hati seringkali dialami oleh umat yang mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi, para Katekis dan Pembina Iman, tetapi juga di dalam keluarga.

Diceritakan dalam Kitab Suci bahwa Yesus masuk ke kampung berpenduduk bukan orang Yahudi, mengusir roh-roh jahat yang masuk ke seorang bapak dan lalu roh-roh jahat itu meminta izin kepada Yesus untuk masuk ke sekawanan babi.  Setelah kejadian itu, orang-orang desa dengan hormat meminta Yesus untuk meninggalkan tempat mereka dan berharap Yesus tidak kembali lagi ke sana.

Read more

Anne Avantie: “Pelayanan Mulai Dari Rumah”

Melayani bukan pada tanggal berapa, hari apa, jam berapa dan, dengan siapa. Tetapi melayani itu sewaktu-waktu, di mana pun dan pada siapa pun!

Dalam keheningan hati, kita menyadari bahwa dunia membutuhkan cinta dan kasih. Cinta kasih membutuhkan penjelmaan nyata, perwujudan pengabdian anak– anak Allah yang sejati. Allah adalah teman keheningan, kita harus dapat menemukan Allah dalam kehidupan kita.

Banyak hal yang tidak bisa kita pahami dalam misteri Allah. Keinginan untuk melayani-Nya kadang tidak sampai pada tujuan. Mengapa? Karena tidak ada gambaran yang jelas bagaimana memilih jalur dan cara untuk menuju kesucian. Kita harus percaya bahwa rahmat Allah bekerja dalam diri kita. Supaya kita mengikuti jejak-Nya dan menyerupai citra-Nya. Karena itu, kita harus tanggap pada suara hati yang dituntun oleh kehendak Allah untuk mewujudkan pengabdian kita pada sesama dengan segenap jiwa.

Read more