:

Mohon Pengampunan

Setan mengeluh kepada Tuhan. “Tuhan, Engkau tidak adil.  Ada begitu banyak orang yang berbuat dosa, dan Engkau menuntun mereka kembali ke jalanMu.  Kenyataannya, juga banyak orang kembali berbuat dosa dan Engkau selalu menerima dan mengampuni mereka lagi.  Padahal aku hanya membuat satu kesalahan besar, tapi Engkau mengutukku selama-lamanya.  Tuhan, Engkau sungguh tidak adil!” “Pernahkah engkau … Read more

Intisari Homili Minggu Biasa XXIX, 18 Oktober 2009

Peran Sebagai Pelayan dan Hamba
Oleh: Romo A. Widiatmoko, OMI

Liburan Idul Fitri selesai sudah.  Banyak ibu rumah tangga yang sekarang bisa tersenyum bahagia, karena para pembantu rumah tangganya sudah kembali dari kampung halamannya.  Saat ditinggal mudik para pembantu, barulah terasa peran mereka yang cukup besar dalam rumah kita.  Yang memasak, menyapu, mengepel lantai, mencuci dan menggosok, membersihan rumah, menyiram pohon, dan lain sebagainya.  Kelihatannya semua pekerjaan itu sepele, tetapi saat kita yang harus mengerjakan semuanya, barulah kita merasakan beratnya.
 

Be Responsible – Bertanggungjawablah!

Ini lagu dari Milli Vanilli yang dinyanyikan secara lip sync, dari album “Girl You Know It’s True” di tahun 1989. Mungkin beberapa orang belum pernah mendengar lagu ini karena sudah cukup lama, tapi izinkan saya membagikan liriknya bagi kita semua.   
 
Secuplik dari lagu mereka adalah :

Read more

Intisari Homili Minggu Biasa XXVIII, 11 Oktober 2009

Pilihan dalam Hidup
Oleh: Romo F.X. Sudirman, OMI

Dalam hidup ini, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan.  Kita memilih sekolah yang baik, pekerjaan yang cocok, dan lainnya.  Begitu juga dalam hal kita sebagai orang beriman, kita perlu punya pilihan yang menjamin masa mendatang.

Kebanyakan orang belum merasakan tenteram dan aman dengan apa yang dipunyainya sekarang ini.  Dalam Bacaan Injil Minggu ini dikatakan bahwa seorang muda yang kaya gelisah dan membayangkan hidup kekal di masa datang, padahal ia mengaku sudah melakukan semua perintah Allah.  Tapi dengan begitu pun orang muda itu belum merasakan jaminan ketenteraman hidupnya.  Tenteram digambarkan sebagai mengorbankan sesuatu yang ada di dunia ini.

Televisi, Kekerasan, dan Anak

Televisi telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan anak. Aneka tayangan kekerasan di televisi memberi dampak negatif terhadap perkembangan karakter anak. Anak-anak mudah mengadopsi nilai-nilai yang disampaikan melalui tayangan televisi. Berbagai pesan kekerasan terus membombardir anak-anak dan terkristalisasi dalam kepribadiannya.

Penelitian yang dilakukan oleh Children’s Media Development Foundation (YPMA) terhadap 939 anak SD di Jakarta dan Bandung (2006) menemukan bahwa anak menonton televisi lebih dari empat jam setiap hari. Idealnya, durasi menonton televisi sebaiknya tidak melebihi 15 jam per minggu. Ironisnya, jam menonton anak lebih banyak dari waktu belajar dan membaca di sekolah.

Masa kanak-kanak adalah periode emas pembentukan karakter. Nilai-nilai karakter luhur, seperti kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, toleransi, dan sejenisnya paling relevan ditanamkan di usia dini. Namun sayangnya, media televisi yang seharusnya mendidik karakter luhur, justru menanamkan nilai kekerasan dalam diri anak.

Read more

Intisari Katekese Tahun Imam, Minggu, 04 Oktober 2009

 

“Gereja Kita adalah Gereja Orang Miskin”
Oleh: Romo F.X. Sudirman, OMI

Gereja Katolik adalah untuk dan menyatu dengan orang-orang miskin.  Orang-orang yang dipanggil pertama kali untuk menjadi pengikut Kristus pun kebanyakan datang dari kalangan miskin.  Ada juga yang kaya, tetapi miskin iman.  Masyarakat dunia sekarang pun kebanyakan berada di bawah garis kemiskinan.  Kita semua sebagai Gereja senantiasa dipanggil untuk menyatu dan mengalami kemiskinan.

Teladan kita, para orang kudus, adalah orang-orang yang sederhana, yang selalu menghayati kemiskinan.  Bunda Maria yang selalu menjadi teladan iman kita, adalah seorang miskin yang sangat diberkati Tuhan. Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus menghayati imannya akan Kristus dengan menjadi miskin bahkan dalam masa lorong-lorong gelap jalan imannya, Santa Theresia tetap setia untuk menjadi miskin dan kecil.  Santo Fransiskus Asisi senantiasa mencintai dan menghayati kehadiran Allah dalam setiap ciptaanNya.  Pesta Malaikat Pelindung yang baru saja kita rayakan pun menyadarkan kita akan arti kedekatan Allah pada kita.

Mengubah Sampah Jadi Berkat

Sejak beberapa bulan yang lalu, Kelompok Lingkungan Hidup bekerjasama dengan Pelayanan Kesehatan Trinitas, dan Seksi PSE Paroki membuka pelatihan untuk usaha salon dan ketrampilan pengolahan limbah plastik bekas pembungkus cairan isi ulang.  Dengan mengambil tempat di Ruang St. Lukas, kedua pelatihan ini berjalan bersama-sama setiap hari Selasa dan Kamis, mulai pkl. 14.00.

PPG Santa Maria Imakulata Ngamen di Paskalis

Sabtu-Minggu, 26-27 September 2009 yang lalu, PPG Santa Maria Imakulata mendapat kesempatan untuk ‘ngamen’ di Paroki Paskalis – Cempaka Putih.

Persiapan ngamen yang sudah dilakukan dari jauh-jauh hari ini berbuah manis.  Romo Antonius Widiatmoko, OMI dan Bapak Alex Sudityo, Ketua Seksi Dana Eksternal, memimpin Tim PPG datang ke Paroki Paskalis.  Dari 5 kali Misa Sabtu dan Minggu tersebut, Romo Widi memimpin 3 kali Misa dan memborong seluruh Homili Misa-Misa tersebut.
Dalam Homilinya, selain mengupas Bacaan Injil Minggu tersebut, Romo Widi juga mengetuk hati umat Paskalis untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan gedung gereja Santa Maria Imakulata yang terletak di CitraGarden City, Kecamatan Kalideres.  Romo Widi sempat pula mengalunkan suaranya yang merdu lewat sebuah tembang yang sangat menyentuh hati.

Read more

Romo T.A.M. Rochadi Widagdo, Pr: “Semua Misa Adalah Misa Penyembuhan…”

Romo Thomas Aquinas Murdjanto Rochadi Widagdo, Pr adalah seorang Imam Praja Keuskupan Agung Jakarta. Saat ini Beliau berkarya sebagai Pastor Paroki Pejompongan, tetapi Beliau juga sangat berminat melayani orang-orang sakit dan menderita. Pastoral ruang tamu, pelayanan Misa penyembuhan, dan kelompok doa meditasi Kitab Suci dijadikannya sarana pelayanan bagi mereka yang menderita sakit, stres, atau mengalami kebimbangan iman kepercayaan.   Beliau selalu berkata: “Tuhan sangat mencintai mereka yang menderita dan lemah.  Mereka dipakai untuk menyampaikan kasih-Nya. Biarlah cinta Tuhan semakin dialami oleh banyak orang, karena justru pada saat menderita itulah manusia sangat terbuka dan berharap pada kasih-Nya.”