<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Selebriti Bicara &#8211; Gereja Trinitas</title>
	<atom:link href="https://www.trinitas.or.id/kategori/artikel/selebriti-bicara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.trinitas.or.id</link>
	<description>Paroki Cengkareng</description>
	<lastBuildDate>Wed, 31 Jan 2024 05:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2024/01/cropped-logo@2x-32x32.png</url>
	<title>Selebriti Bicara &#8211; Gereja Trinitas</title>
	<link>https://www.trinitas.or.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mata Fariz R.M. Berkaca-Kaca</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/mata-fariz-rm-berkaca-kaca/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Jan 2011 04:39:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Selebriti Bicara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/mata-fariz-rm-berkaca-kaca/</guid>

					<description><![CDATA[Pengantar: Pada 25 Desember 2010, Fariz R.M. bernyanyi dalam Ibadah Natal GKI MaulanaYusuf bersama Qasidah Ar-Rahman, yang  dilanjutkan dengan sapaan Natal oleh Ulil Abshar Abdalla. Jauh melampaui sebagian kaum Muslimin yang masih enggan dan ragu berucap “Selamat Natal”, Fariz mantap akan keputusannya. Namun, sebagian teologiman Kristen justru mengecam acara tersebut. 5 Januari 2011, Fariz R.M. ... <a title="Mata Fariz R.M. Berkaca-Kaca" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/mata-fariz-rm-berkaca-kaca/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Mata Fariz R.M. Berkaca-Kaca">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em><img fetchpriority="high" decoding="async" class=" alignleft size-full wp-image-608" src="https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2011/01/fariz-rm.jpg" border="0" style="float: left; margin: 10px; border: 0pt none;" width="200" height="264" />Pengantar: Pada 25 Desember 2010, Fariz R.M. bernyanyi dalam Ibadah Natal GKI MaulanaYusuf bersama Qasidah Ar-Rahman, yang  dilanjutkan dengan sapaan Natal oleh Ulil Abshar Abdalla. Jauh melampaui sebagian kaum Muslimin yang masih enggan dan ragu berucap “Selamat Natal”, Fariz mantap akan keputusannya. Namun, sebagian teologiman Kristen justru mengecam acara tersebut.</em></p>
<p style="text-align: justify;">5 Januari 2011, Fariz R.M. berhari jadi yang ke-52. Bersama Wiendy Widasari, Diani Sitompul, si kecil Sophia, dan Sahat, saya datang berucap selamat. Oneng menyambut dengan wajah riang, Fariz menyusul 10 menit kemudian. Kue hari jadi ‘Fariz 52: Mengalir Lebih Deras’ yang kami pesan dari rumah kue Hansel &amp; Gretel tersaji di meja. Ditemani Sophia, putri Diani, Fariz meniup lilin, memotong kue, menyuapi sang istri dan memberi kecupan tipis di bibir. Saat mencicipi kue <em>double chocolate,</em> Fariz terbelalak: “Luar biasa enak!” serunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Fariz kemudian makan mie panjang umur yang dibawa Diani. Sahat menghajar 1 dari 7 bungkus nasi Padang rumah makan <em>Sederhana</em> yang dibawanya. Sebuah perayaan hari jadi yang bersahaja namun hangat. Seusai makan, kami berkongkow seru, termasuk membincang komentar beberapa teologiman di <em>facebook</em> soal Ibadah Natal di GKI Maulana Yusuf, 25 Desember 2010. Berikut, petikannya:</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya mengenal Yesus sejak lahir, berdoa kepadaNya, dan rajin mengikuti Komuni. Itu kebiasaan indah yang menghias masa kecil. Ketika Mami kemudian menjadi <em>mualaf</em>, saya pun ikut dengannya. Saya seorang Muslimin yang tidak terlalu taat, jarang sholat, namun berusaha mati-matian menghargai kemanusiaan.”</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p><span id="more-609"></span></p>
<p>“Saya hidup di negara yang menetapkan ‘Bhineka Tunggal Ika’ sebagai semboyan yang menghidupi masyarakatnya. Ketika kemudian menjadi musikawan, nilai-nilai itu muncul di setiap karya musik yang saya persembahkan. Tentu saja saya menolak untuk dikotak-kotakkan ke dalam warna musik tertentu, parpol tertentu, bahkan agama tertentu. Saya milik semua golongan. Itu cara yang saya pilih untuk bersetia kepada Republik tercinta ini.”</p>
<p> </p>
<p style="text-align: justify;">“Ketika menerima undangan dari GKI Maulana Yusuf untuk bernyanyi di dalam Ibadah Natal tanggal 25 Desember 2010, Oneng sempat sedikit kuatir. Saya menenangkannya dengan berkata: ‘Jika ini undangan dari Tuhan, semua akan dimudahkan. Saya bertanya kepada Sahat, lagu apa yang harus saya nyanyikan. Sobat saya yang ‘setengah dewa’ itu menjawab cepat: ‘<strong>Mari Pulihkan Dunia’</strong>, dan ‘<strong>Aku Mau Bilang Padamu’</strong>. Namun, yang bikin saya kaget, Pendeta Albertus Patty meminta agar ‘Mari Pulihkan Dunia’ dinyanyikan bersama jemaat di dalam Ibadah. Itu membuat saya bertanya kepada diri sendiri: ‘siapakah saya yang Muslimin ini hingga mendapat kehormatan memandu umat Kristen menyanyikan lagu pujian kepada Tuhannya?’”</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya lalu terkenang kembali ke masa kecil, ketika rajin pergi ke gereja bersama mami. Ada rasa haru yang menyeruak. Gambar di layar kenangan itu berpindah cepat ke rentang waktu ketika saya berada di dalam penjara akibat sebuah kebodohan yang luar biasa. Saat itu, Ravenska dan Ravenski bercerita tentang Suster-Suster di sekolah Tarakanita yang sering bertanya mengenai keadaan saya di penjara Cipinang. “Ayah,” kata Venska, “Beberapa Suster menyalakan lilin setiap pagi dan menaikkan <em>Novena</em> untuk kebebasan Ayah.” Doa-doa mereka mewujud. Saya dibebaskan dari segala tuntutan. Malam pertama kembali berada di rumah, saya merenung dan bertanya: ‘Ya Allah, kapan saya bisa membalas kebaikan orang-orang Kristen itu?’”</p>
<p style="text-align: justify;">“Semua kenangan itu memantapkan hati untuk memenuhi undangan GKI Maulana Yusuf. Sedikit pun tak ada lagi keraguan. Sehari sebelum berangkat ke Bandung, saya berkunjung ke rumah Mami dan terkejut ketika mendapati dia sedang membaca buku ‘<strong>Dari Sebuah Guci’</strong>. ‘Berhari-hari Mami tak bisa lepas dari buku ini, indah sekali,’ ucapnya. Mami mengaku sudah baca buku tersebut 2 kali, dari awal hingga akhir. ‘Ini yang ketiga kali,’ katanya. Kepada Mami saya ceritakan rencana kepergian ke Bandung esok dan bernyanyi di dalam Ibadah Natal. ‘Pergilah,’ ucap Mami sambil mengecup pipi saya, ‘Tidak semua orang seberuntung kamu.’”</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya memutuskan untuk menyanyikan ‘<strong>Aku Mau Bilang Padamu’</strong> tidak seperti versi yang saya nyanyikan dalam CD ‘Dari Sebuah Guci’. Syairnya sederhana, tapi sangat menggetarkan dan karenanya perlu disampaikan dengan cara yang juga sederhana: bernyanyi sambil memainkan piano tunggal. Semua hentak perkusi saya hilangkan. Keindahan syairnya harus sampai ke umat yang mendengar.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tanggal 25 Desember itu saya bangun pagi dan menyiapkan diri dengan utuh: tidak cuma pita suara tapi juga hati, karena hanya dengan bersikap jujur sebuah pesan bisa mendarat dengan baik. Keluar dari kamar hotel, saya dan Oneng bersua dengan Sahat dan Muna dan langsung menyampaikan ‘Selamat Natal’. Kami berdua berangkat ke gereja, jauh mendahului Muna dan Sahat yang bahkan pada saat itu belum mandi. Ya, saya sangat bersemangat menyongsong pengalaman spiritual yang sebentar lagi saya masuki.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Di dalam gereja, saya memeriksa <em>keyboard</em> dan <em>sequencer</em>, memastikan semua sudah terhubung dengan baik. Segala sesuatu nampaknya berjalan lancar. Saat itulah sebuah suara menyelinap keluar sanubari: ‘Tuhan-lah yang mengundang saya datang ke rumahNya pagi ini.’ Saya ingat betul, dada saya berdebur lembut saat itu.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ibadah dimulai. Saya duduk bersama Oneng dan Muna. Aneh, saya sama sekali tidak merasa canggung dengan suasana yang tercipta. Saya dan Oneng duduk dan berdiri sesuai dengan ajakan yang tertulis dalam tata ibadah. Ketika mendengar umat bernyanyi, saya terpana oleh keindahan musikal yang tersaji.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan, tibalah giliran saya maju ke depan. Bohong, jika saya katakan dada saya tidak berdebar. Pertama, ini kali pertama saya bernyanyi di pagi hari, beberapa menit sebelum jam 8. Kedua, ini kali pertama juga saya bernyanyi di tengah-tengah orang Kristen di dalam ibadahnya. Sebab, jangankan di dalam gereja, di dalam mesjid pun saya belum pernah bernyanyi.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Intro mengalun sepanjang 4 bar dan saya lantas terkejut karena keheningan betul-betul menyekap. Demi Allah, saya kepingin menangis ditemani suasana khusyuk seperti itu. Tidak satu pun suara lain terdengar, tidak seperti di konser-konser saya yang riuh dan penuh celoteh. Saya betul-betul di bawa ke Hadirat Allah untuk mengumandangkan pujian kepadaNya. Larik demi larik saya ucapkan. Saya tahu, syair lagu ‘Aku Mau Bilang Padamu’ ditulis Muna Panggabean berdasarkan nyanyian pujian Maria di Injil Lukas. Sambil bernyanyi saya mengenang devosi dan Salam Maria yang dulu kerap saya ucapkan di masa kecil. Saya terkenang kepada Mami, kepada Opa dan Oma. Saya merasa dipersatukan kembali dengan mereka setelah selama ini dicekoki paham-paham yang mengatakan ada tembok pemisah yang kokoh antara umat Islam dan umat Kristen. Itu adalah 4 menit terindah dalam hidup saya. 4 menit yang mengatasi semua kepahitan. Dulu, ketika menguburkan anak pertama, saya berkata, “Ya Allah, aku hadapkan wajah anakku ini kepadaMu; tapi beri aku keajaiban agar dapat kembali percaya kepadaMu.”  Tak cuma satu, Tuhan kemudian memberi saya sepasang anak kembar! Dan pagi itu, di dalam gedung gereja, Tuhan yang dulu saya tantang, Tuhan yang dulu saya sangkal, berhadapan dengan saya dan menyinari wajah saya dengan kemuliaanNya. Kepada dunia, Cinta mendamba dan mengosongkan diriNya.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Saya sangat menikmati khotbah Pendeta Berty. Buat saya, dia adalah imam bagi kemanusiaan yang utuh. Dia mengajar saya untuk tidak merasa terpisah dari sesama umat. Saya berbahagia sekali dan melamun menyampaikan kabar itu kepada Mami di rumahnya. Saya membayangkan berkata begini: ‘Mami tidak perlu gelisah. Di surga, kita akan berjumpa dengan Opa dan Oma karena ternyata mereka juga ada di sana.’”</p>
<p style="text-align: justify;">“Damai kian merasuki hati ketika mendengar tuturan <strong>Yanti Kerlip</strong>, perempuan berjilbab, pegiat kemanusiaan yang teguh menyapa umat Kristen dengan ucapan: ‘Saudaraku yang seiman, pagi ini kita merayakan hari kelahiran Yesus Kristus.’ <em>It’s ring my bell,</em> bukankah Yesus juga Nabi yang saya puja?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Selanjutnya nafas saya menderu menikmati rancaknya para penabuh <em><strong>Ar-Rahman</strong></em> memukul kendang dan rebab dan kemudian betul-betul tercengang ketika jemaat Kristen GKI Maulana Yusuf memberi <em>applause</em> panjang seusai <em>Ar-Rahman</em> mengumandangkan<em> Shalawat Nabi</em>. Inikah Indonesia baru itu? <strong>Ulil Abshar Abdalla</strong> lalu membantu saya dan segenap umat Islam untuk meyakinkan umat Kristen bahwa kami bukan kaum barbarik yang semena-mena dan mengira punya kuasa untuk mengatur Republik ini sendirian. Saya bersyukur mendapati Islam Indonesia memiliki seorang intelektual secerdas dia. Ah, pagi itu saya ternyata punya sangat banyak alasan untuk bersyukur.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu, puncak acara saya masuki dengan mendendangkan lagu ‘<strong>Mari Pulihkan Dunia’</strong>. Itu memang bukan kali pertama saya bernyanyi dengan orang banyak, tapi pagi itu saya bernyanyi bersama mereka kepada Tuhan. Semua orang bernyanyi sambil bertepuk-tangan: tua-muda, besar-kecil di gedung gereja yang penuh sesak. Saya sangat bersukacita. siapa pun pasti larut ke dalam syair yang mudah dicerna, lugas, namun membongkar semua kemapanan.”</p>
<p style="text-align: justify;">reff:<br /> Mari pulihkan dunia<br /> Dengan sepenuh jiwa<br /> Sepenuh hasrat, juga semburat<br /> Cahaya berpendar di s’k’ilingmu</p>
<p style="text-align: justify;">Mari getarkan cinta<br /> Dengan keringat kerja<br /> Mari ucapkan, juga lakukan<br /> Hingga kau rebah.</p>
<p style="text-align: justify;">1/<br /> Kepada m’reka yang kalah<br /> <em>(tertindas dan dilupakan)</em><br /> Tarian kita bersembah<br /> Kita kabarkan warta<br /> Bahwa surga t’lah sunyi<br /> s’bab Tuhan ada di bumi<br /> Menari bersama kita ==&gt;reff</p>
<p style="text-align: justify;">2/<br /> Satu tepukan di bahu<br /> <em>(sapaan lembut dan mesra)</em><br /> Adalah embun penyembuh<br /> Sungguh tak ada kubu<br /> Cuma hasrat merindu<br /> Tuhan melompat riang<br /> Bersama kita berdendang==&gt;reff</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan ketika kebaktian usai, saya berdiri di pintu keluar bersama Pendeta Berty, Ulil, Muna, dan Oneng. Rahmat Allah Yang Maha Besar terasa diguyurkan ke wajah. Ada lebih dari 1.000 orang yang menyalami saya dan berkata satu-per-satu: ‘Terima kasih atas lagu-lagunya, Mas, saya merasa diberkati’. Saat itu saya langsung tahu, jika kelak MUI atau FPI mengecam keterlibatan saya di dalam Ibadah Natal ini, saya sudah punya jawaban: ‘Menurut kalian, dengan ucapan yang saya terima dari lebih 1.000 umat seperti itu, saya akan diganjar pahala atau kutukan?’”</p>
<p style="text-align: justify;">“Saat itu pula saya teringat akan wejangan Papi, beberapa jam sebelum dia mengembuskan napas terakhir dahulu. ‘Is,ingatlah bahwa kamu seorang khalifah.’ – ‘Saya tahu, Pap’ – ‘Tidak, kamu tidak tahu bahwa kamu adalah seorang khalifah bagi para penggemarmu.’  Saya tersentak, itu beban yang sangat berat.  <em><strong>‘Terima kasih atas lagu-lagunya tadi, Mas Fariz, saya merasa diberkati.’ </strong></em><em>M</em>asya Allah, wejangan papi menemukan wujudnya pagi itu!”  <em>(pada bagian ini mata fariz berkaca-kaca)</em></p>
<p style="text-align: justify;">“Jadi, kalau para ahli teologi mengecam Ibadah Natal kemarin, itu berarti mereka sama sekali tidak peka kepada kebutuhan umatnya. Mereka membutakan mata bahwa di antara para jemaat ada yang memiliki dilema seperti Mami saya; pasti ada dari antara mereka yang berayah-ibu Islam, atau berkakek-nenek Islam dan selama ini terus dihantui ketakutan tidak bertemu dengan mereka lagi di surga nanti. Ibadah Natal tanggal 25 Desember kemarin telah menyatukan kita semua.  Nanti, di surga, suasananya sama seperti di GKI Maulana Yusuf kemarin: orang Kristen, Islam, Hindu, Buddha, Kejawen, Tao, Konghucu, Sinto, berdiam di satu rumah, memuji dan menyembah Allah yang satu. Lebih daripada segalanya, Ibadah Natal GKI Maulana Yusuf kemarin telah menghadirkan prototipe surga kepada kita.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Yang terakhir, saya mau bertanya kepada mereka yang mengecam itu: apakah ada dari antara mereka yang pernah diundang langsung oleh Tuhan? Saya, Fariz R.M. sudah pernah dan saya memenuhi undanganNya pada tanggal 25 Desember 2010 di gedung gereja GKI Maulana Yusuf. Di sana saya memuliakan Tuhan yang turun ke bumi dalam rupa cinta.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Sepulang dari Bandung saya jadi rajin bersholat. Setiap jam 4 pagi saya bangun dan berjalan kaki ke mesjid. Di sana saya berdoa bagi segenap manusia. Saya berdoa buat Papi, buat Mami, buat Venska dan Venski yang sedang menuntut ilmu di Belanda, buat Opa dan Oma, buat Muna, buat Pendeta Berty, dan buat buku ‘Dari Sebuah Guci.  Sekarang, saya mantap. Jika Tuhan sudah menetapkan waktunya, saya siap&#8230;”</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Catatan:</em><em><br /> <em>1. Sampai dengan saat ini Fariz R.M. masih menderita kanker hati; sebagian sudah diangkat, namun sebagian masih berdiam di pankreasnya. Tidak berkembang, katanya sambil tertawa lepas.</em><br /> <em>2.Untuk menikmati nyanyian FarizR.M. dalam Ibadah Natal tersebut, silahkan kunjungi </em><em><a href="http://www.darisebuahguci.com/">www.darisebuahguci.com</a></em></em><em> klik kanal KLIP, di sana ada beberapa video file.</em></p>
<p style="text-align: justify;">(Ditulis oleh: Muna Panggabean, seorang pengamat sastra sekaligus pelaku, esais, dan budayawan.  Ibu Rumah Tangga dari 3 puteri dan 2 putera.  Sumber: situs kompasiana.com)</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anne Avantie: &#8220;Pelayanan Mulai Dari Rumah&#8221;</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/anne-avantie-qpelayanan-mulai-dari-rumahq/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 08:31:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Selebriti Bicara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/anne-avantie-qpelayanan-mulai-dari-rumahq/</guid>

					<description><![CDATA[Melayani bukan pada tanggal berapa, hari apa, jam berapa dan, dengan siapa. Tetapi melayani itu sewaktu-waktu, di mana pun dan pada siapa pun! Dalam keheningan hati, kita menyadari bahwa dunia membutuhkan cinta dan kasih. Cinta kasih membutuhkan penjelmaan nyata, perwujudan pengabdian anak– anak Allah yang sejati. Allah adalah teman keheningan, kita harus dapat menemukan Allah ... <a title="Anne Avantie: &#8220;Pelayanan Mulai Dari Rumah&#8221;" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/anne-avantie-qpelayanan-mulai-dari-rumahq/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Anne Avantie: &#8220;Pelayanan Mulai Dari Rumah&#8221;">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<div align="justify"><img decoding="async" class=" alignleft size-full wp-image-355" src="https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2009/09/anne-avantie-01.jpg" border="0" hspace="10" align="left" width="110" height="139" />Melayani bukan pada tanggal berapa, hari apa, jam berapa dan, dengan siapa. Tetapi melayani itu sewaktu-waktu, di mana pun dan pada siapa pun!</p>
<p>Dalam keheningan hati, kita menyadari bahwa dunia membutuhkan cinta dan kasih. Cinta kasih membutuhkan penjelmaan nyata, perwujudan pengabdian anak– anak Allah yang sejati. Allah adalah teman keheningan, kita harus dapat menemukan Allah dalam kehidupan kita. </p>
<p>Banyak hal yang tidak bisa kita pahami dalam misteri Allah. Keinginan untuk melayani-Nya kadang tidak sampai pada tujuan. Mengapa? Karena tidak ada gambaran yang jelas bagaimana memilih jalur dan cara untuk menuju kesucian. Kita harus percaya bahwa rahmat Allah bekerja dalam diri kita. Supaya kita mengikuti jejak-Nya dan menyerupai citra-Nya. Karena itu, kita harus tanggap pada suara hati yang dituntun oleh kehendak Allah untuk mewujudkan pengabdian kita pada sesama dengan segenap jiwa. <br />
<span id="more-358"></span><br />
<br />Namun, dalam kehidupan rohani, kita sering dihadapkan pada suatu persimpangan jalan dalam menanggapi suara hati. Apakah ini berasal dari Allah atau suara hati yang dikendalikan oleh keinginan sehingga menguasai hati kita. Seolah–olah itu suara Allah. Oleh karena itu, akal budi kita harus diperbaharui. </p>
<p>Janganlah kamu hidup serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm. 12:2). </p>
<p>Untuk mengasah hati dan pikiran kita ke arah positif memang memerlukan pengorbanan yang tidak kecil. Hal duniawi kadang tidak merespon diri kita ketika ingin melayani Dia dengan tulus dan penuh kasih. Kasih merupakan prioritas utama. Karena itu, kita harus teguh dalam kasih dan iman yang memancarkan terang dalam hidup kita. Sekecil apa pun sinarnya, terang itu yang akan menarik orang untuk mencari dan mengenal Tuhan Yesus yang kita teladani. </p>
<p><strong>Fokus pada Pelayanan </strong></p>
<p><img decoding="async" class=" alignleft size-full wp-image-356" src="https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2009/09/anne-avantie-03.jpg" border="0" hspace="10" align="left" width="142" height="187" />Sebagai tugas awam, kadar kerohanian kita memang tidak bisa diukur dari kadar aktivitas kita dalam gereja. Maraknya persekutuan doa yang tumbuh subur bak jamur di musim hujan, menjadi gambaran betapa banyaknya pribadi yang mulai mencari kehendak Allah. Mereka memikirkan bagaimana supaya Kerajaan Allah dapat dihadirkan dalam dunia ini. </p>
<p>Dalam aneka bentuk kehidupan serta tujuan dari pencarian kehendak Allah, muncullah berbagai kegiatan yang bisa disebut pelayanan. Berbicara tentang pelayanan, tentu membawa suatu misi atau tugas yang harusnya digerakkan oleh Roh Allah. Pelayanan merupakan suatu proses yang menuntut kerjasama antara kita dan rahmat panggilan. Dewasa ini banyak orang yang melayani namun tidak berdasarkan rahmat panggilan. Hal ini terjadi karena kurangnya penghayatan akan sapaan Allah dalam pelayanan. Kita harus hidup kontemplatif tidak bertentangan antara satu dengan yang lain supaya apa yang kita lakukan bertumbuh. Sebenarnya kita perlu mengerti dengan jelas apa itu pelayanan dan bagaimana pelayanan itu berdasarkan rahmat Allah. </p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, ketika saya mengisi sharing di sebuah persekutuan doa, saya sempat kaget melihat suatu kenyataan bahwa ternyata kebersamaan mereka dalam pelayanan masalahnya begitu kompleks. Kegiatan kerohanian saya sebagai pembicara, entah itu dalam kelompok kecil maupun kelompok besar memberi gambaran nyata mengenai kebersamaan. Kebersamaan artinya seni memberi dan menerima. Kebersamaan adalah inti dari sebuah persekutuan. Namun (tidak semua), suara–suara yang saya tangkap, sungguh bukan suara yang berasal dari rahmat Allah. Dalam kelompok– kelompok doa tertentu, para anggotanya sering membicarakan satu sama lain. Bahkan saling menjatuhkan dan saling menghujat. Saya merasakan keprihatinan mendalam. </p>
<p>Kebersamaan bukan ketika kita bergandengan tangan, bukan pula ketika kita makan bersama, atau pergi berkelompok. Tetapi kebersamaan mempunyai arti yang mendalam di luar jasmani semata. Kebersamaan adalah ketika tubuh kita tidak bersentuhan namun hati kita terjalin dalam persekutuan kasih. </p>
<p>Ketika kita melayani bersama dalam kegiatan kerohanian menjalankan proyek cinta kasih, segala atribut yang menempel di tubuh dan jiwa kita harus ditanggalkan. Kita fokus pada tujuan yang akan kita layani, yang akan kita persembahkan pada Yesus. </p>
<p>Gesekan sebesar apa pun harus kita kendalikan. Ketika iman dan kasih kita melemah dan nyaris runtuh karena perbedaan–perbedaan yang terjadi, dibutuhkan jiwa besar untuk melampaui proses itu. Persekutuan kita dengan Allah sangat berarti ketika kita berada dalam situasi-situasi yang melemahkan semangat pelayanan kita. Persekutuan yang tidak sehat akan menimbulkan krisis iman dan ketidak nyamanan dalam pelayanan. Kita diingatkan oleh pesan Rasul Paulus: “Jangan ada lagi dusta, jangan ada lagi kepura–puraan, katakan yang sebenarnya pada sesamamu. Bagaimana pun di dalam tubuh Kristus kita semua terkait satu dengan lain. Bila kamu berdusta kepada orang lain, itu berarti kamu juga berdusta pada dirimu sendiri, selain Tuhanmu.” </p>
<p><strong>Pelayanan Dimulai dari Rumah </strong></p>
<p>Pertama, kita pelayanan keluar rumah, tetapi dalam rumah anak–anak kesepian tanpa pendampingan orang tua. Kita disibukkan oleh pelayanan ke sana ke mari sampai meninggalkan kewajiban sebagai orangtua. </p>
<p>Kedua, kita mengunjungi panti jompo, tetapi ada orang tua kita yang kesepian di rumah tanpa belaian kasih kita. “Jangan mencari Yesus di negeri yang jauh.“ Dia berada di dekat kita. Kita utamakan melayani orangtua kita dahulu.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class=" alignright size-full wp-image-357" src="https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2009/09/anne-avantie-02.jpg" border="0" hspace="10" align="right" width="250" height="187" />Ketiga, pelayanan kunjungan ke orang-orang sakit, tapi kita melupakan pembantu rumah tangga kita yang tergolek tak berdaya. Ia tak terjamah oleh kita. Bahkan ditengok pun tidak, apalagi didoakan. “Berbagilah kepedulian mulai dari orang-orang yang tinggal bersama, sentuhlah dalam cinta dan kasih sayang.” </p>
<p>Keempat, banyak kesulitan ekonomi yang dialami oleh orang– orang terdekat kita tetapi tidak tertangkap oleh kacamata kepedulian kita. Mereka adalah para karyawan, buruh, orang–orang dalam ruang lingkup keseharian kita. “Sebelum mengulurkan tangan pada orang lain, utamakan berbagi kegembiraan dalam mencintai orang terdekat kita.” </p>
<p>Kelima, pendidikan yang semakin mahal membuat anak-anak terancam putus sekolah. Kejahatan merajalela karena himpitan kesulitan dan krisis iman. Program beasiswa, anak asuh atau pendampingan pada karyawan menjadi nyala api pengharapan buat mereka. </p>
<p>Keenam, ketika sekolah tiba, membelikan sepatu sekolah dan alat tulis untuk anak-anak karyawan, mengajak mereka bersukacita dalam liburan sekolah adalah pelayanan dalam wujud karya nyata. “Hendaklah kita tidak cukup hanya memberikan uang saja sebab uang dapat dicari, tetapi kita harus berikan karya dan hati kita untuk melayani orang-orang yang berada dalam ruang lingkup yang terdekat.” </p>
<p>Ketujuh, resep dokter memang hanya selembar kertas, tetapi kertas akan tetap sebagai rangkaian tulisan ketika tidak mampu menebus resepnya. Sebelum kita menyumbang orang sakit dalam pelayanan kita pada kegiatan kerohanian, kita utamakan “apotik di rumah“ menerima resep orang-orang terdekat kita. Mereka yang tidak mampu menebus obat-obatan yang mereka butuhkan. Bahkan, kata Bunda Teresa seorang sekarat sekali pun masih dapat tersenyum. </p>
<p>Kedelapan, menjadi pribadi yang hangat adalah sebuah pelayanan. Harus diingat, yang terpenting bukan seberapa besar peran kita dalam kelompok-kelompok doa, tetapi seberapa besar cinta yang kita sertakan dalam tindakan kita dengan orang-orang yang berinteraksi dengan kita. Tampil di mimbar bukan jaminan bisa mendirikan Kerajaan Surga dalam rumah. Dalam rumah diperlukan keteladanan. </p>
<p>Akhirnya, waktu dan proses inilah yang menuntun persekutuan kita dengan Allah. Dalam setiap Gereja dan kelompok-kelompok kecil, Allah mengizinkan kita bertumbuh dalam ujian persekutuan. </p>
<p>Mari kita membangun persekutuan yang sejati yang dimulai dari hal yang paling mendasar, mulai dari rumah dengan orang-orang terdekat kita. </p>
<p>Sesungguhnya kita diciptakan untuk menjadi serupa dengan Kristus, melalui keteladanan sederhana.</p>
<p>(<em>Sumber: Majalah Bahana, Juni 2009</em>)</p>
<p><strong>Catatan Administrator:</strong><br />Anne Avantie adalah disainer kebaya moderen Indonesia yang dikenal bukan saja di dalam negeri, tetapi juga di negara-negara lain di dunia.  Buku biografinya: “Aku, Anugerah, dan Kebaya” menceritakan perjuangan hidupnya hingga menggapai sukses seperti sekarang ini.  Buku itu juga  menjadi suatu refleksi peziarahan iman Katoliknya hingga pendiri Wisma Kasih Bunda yang menampung dan merawat anak-anak cacat ini mampu berkata: “Manakala kita bersahabat dengan emosi, yang muncul adalah pemikiran yang dangkal.  Namun, jika kita bersahabat dengan kepercayaan kepada Tuhan, langkah akan menjadi lebih jernih dan ringan.” </div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sandra Dewi: &#8220;Menyembuhkan Diri Sendiri&#8221;</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/menyembuhkan-diri-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 12:51:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Selebriti Bicara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/menyembuhkan-diri-sendiri/</guid>

					<description><![CDATA[Sahabat-sahabatku, malam hari ini aku mengalami banyak hal. Naik turunnya masalah dalam kehidupan….  Sekarang ini, setiap Senin sampai Jumat aku bangun pkl. 05.00 pagi, kemudian aku mandi, makan dan berangkat ke Transtv.   Lalu aku lanjutkan dengan syuting sinetron “Cinta Indah 2”. Nah, sekarang ini, aku ingin meningkatkan kualitas diriku, memang tidak ada kata terlambat untuk ... <a title="Sandra Dewi: &#8220;Menyembuhkan Diri Sendiri&#8221;" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/menyembuhkan-diri-sendiri/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Sandra Dewi: &#8220;Menyembuhkan Diri Sendiri&#8221;">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img loading="lazy" decoding="async" src="images/stories/artikel/sandra-dewi.jpg" border="0" hspace="10" vspace="10" width="87" height="108" align="left" />Sahabat-sahabatku, malam hari ini aku mengalami banyak hal. Naik turunnya masalah dalam kehidupan….  Sekarang ini, setiap Senin sampai Jumat aku bangun pkl. 05.00 pagi, kemudian aku mandi, makan dan berangkat ke Transtv.   Lalu aku lanjutkan dengan syuting sinetron “Cinta Indah 2”. Nah, sekarang ini, aku ingin meningkatkan kualitas diriku, memang tidak ada kata terlambat untuk ilmu. Aku belajar lagi, aku mengambil kursus lagi.  Kemarin aku ke toko buku Gramedia. Aku membeli map dan buku, i-pod , dan lain-lain untuk perlengkapan belajar.  Aku ambil kelas “Stage Act” bersama Ari Tulang dan Otti Jamalus.  Selama bulan Maret ini, setiap Senin, Rabu, dan Jumat aku ikut kursus itu. Jadi setelah acara “Derings” jam 9,  terus briefing “Derings”, aku langsung kursus lagi sampai pkl. 13.00, nah, setelah itu aku baru syuting “Cinta Indah 2”.</p>
<p>Itulah ilmu, kita ‘gak bisa bilang terlambat untuk belajar, dan tuntutlah ilmu itu setinggi langit.  Cuma ada sedikit masalah hari ini.  I-pod yang aku beli untuk belajar ternyata salah, karena tipenya harus yang lama dan sudah tidak keluar lagi tipe itu sekarang. Terus jalanan macet, sehingga aku takut telat, dan masih banyak lagi hal-hal lainnya…. . Aku banyak merencanakan dan menjalankan rencana-rencanaku belakangan ini.  Aku terus berusaha, kadang aku capek juga. Karena aku sendirian, aku sendirian…. Aku berlari sendiri.  Aku jatuh bangun sendiri.  Sampai ketika aku berada di mobil, aku ‘gak tahan lagi, aku menangis. <br />
<span id="more-173"></span></p>
<p align="justify">Inilah aku, manusia biasa, kadang, ketika aku merasa lelah dan stuck, aku butuh 1 jam untuk menangis sendiri.  Tapi 1 jam kemudian, aku bisa menyembuhkan diriku sendiri. Ketika sampai di lokasi syuting, aku sudah lega dan siap untuk syuting.</p>
<p align="justify">Dari dulu aku punya kebiasaan, ketika aku down, selain berdoa tentunya, aku selalu menumpahkan segala gundah dan beban di hati sendirian dan itu memakan waktu 1jam.  Setelah itu aku merasa lega, dan bisa kembali bersemangat menjalankan aktivitas.   Ini yang aku sebut menyembuhkan diri sendiri. Dan tentunya ditambah dengan lindungan dari Tuhan, dukungan keluarga , dan sahabat yang sangat luar biasa.</p>
<p align="justify">Sahabat-sahabatku, kalian adalah hartaku, dengan support kalian dan semangat dari kalian, aku jadi orang yang bersemangat.  Aku jadi orang yang sangat kuat. Terima kasih atas segala yang telah kalian berikan untukku.  Aku bersyukur karena punya kalian dalam hidupku. Aku tidak ada artinya jika tidak ada kalian.  Terima kasih, ya.</p>
<p align="justify">Buat temanku semua, dalam hidup kita selalu ada masalah yang menghampiri kita.  Kita boleh merasa down, itu normal.  Tapi jangan lama-lama, semangati dan sembuhkan kita dari keadaan itu.  Dengar lagu “Hero” dech,  aku suka dengar lagu itu.  Sangat bagus liriknya.</p>
<p><em><font face="times new roman,times">Sumber:  Blog Sandra Dewi: www.sandradewi.seleb.tv</font></em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Susy Susanti: &#8220;Tuhan Itu Sungguh Baik&#8221;</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/susy-susanty-qtuhan-itu-sungguh-baikq/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 07:42:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Selebriti Bicara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/susy-susanty-qtuhan-itu-sungguh-baikq/</guid>

					<description><![CDATA[  Tak harus mengandalkan kekuatan sendiri.  Itu disadarinya dengan sungguh.  Menang atau kalah dalam sebuah pertandingan adalah hal biasa.  Tapi yang ia sangat rasakan adalah kekuatan Tuhan itu selalu menyertainya selama mengikuti berbagai kejuaraan. Pengalaman hidupnya sebagai seorang olahragawati yang sukses, tak membuatnya besar kepala.  Semua itu karena kebaikan Tuhan.  Ia selalu bersyukur atas campur ... <a title="Susy Susanti: &#8220;Tuhan Itu Sungguh Baik&#8221;" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/susy-susanty-qtuhan-itu-sungguh-baikq/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Susy Susanti: &#8220;Tuhan Itu Sungguh Baik&#8221;">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div> </div>
<div><img loading="lazy" decoding="async" src="images/stories/artikel/susi-susanti2.jpg" border="0" hspace="10" vspace="10" width="97" height="126" align="left" />Tak harus mengandalkan kekuatan sendiri.  Itu disadarinya dengan sungguh.  Menang atau kalah dalam sebuah pertandingan adalah hal biasa.  Tapi yang ia sangat rasakan adalah kekuatan Tuhan itu selalu menyertainya selama mengikuti berbagai kejuaraan.</p>
<p>Pengalaman hidupnya sebagai seorang olahragawati yang sukses, tak membuatnya besar kepala.  Semua itu karena kebaikan Tuhan.  Ia selalu bersyukur atas campur tangan Tuhan dalam hidupnya.  Lucia Fransiska Susy Susanti Haditono ini merasa bahwa Tuhan sangat sayang padanya. </div>
<div align="justify"> <br />
<span id="more-100"></span>
</div>
<div align="justify"><strong>Iman Diuji</strong></p>
<p>Setelah menikah tahun 1997 dengan Alan Budikusumo, setahun kemudian, tahun 1998, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari dunia pertandingan.  Padahal, saat itu ia masih punya peluang untuk mengikuti pertandingan Asian Games.  Sebab di antara banyak kejuaraan dunia yang telah dimenangkannya, kejuaraan yang belum diraihnya adalah kejuaraan Asian Games.  Ini peluang terakhir baginya.  Tapi sayangnya, sekitar 2 hingga 3 bulan sebelum kejuaraan Asian Games, dirinya dinyatakan positif hamil.</p></div>
<div align="justify">Awalnya ia bergumul.  Memilih ikut Asian Games atau menerima buah kasih Tuhan yang bersemayam di rahimnya.  Meskipun berat, akhirnya ia memutuskan untuk tetap menjaga bayi, sang buah hati di dalam kandungannya.  &#8220;Waktu itu saya bergumul antara ambisi dan berkat.  Ini memang ujian berat bagi saya.  Waktu itu ranking saya masih kelas dunia.  Tapi akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengambil peluang itu,&#8221; tuturnya mulai bercerita.</p>
<p>Dengan peristiwa itu, ia sadar bahwa imannya sedang diuji.  Ia tahu bahwa segala talenta yang dimilikinya adalah pemberian Tuhan.  Dalam pergumulan itu, ia sampai berpikir bila bayi dalam kandungannya gugur, pasti Tuhan akan marah.  Bahkan mungkin karena kemarahan itu, bisa jadi ia pun tak bakal memiliki anak.  Pergumulan iman itu, semakin menyadarkannya bahwa Tuhan sudah memberinya berkat lebih dari cukup.  Apalagi, Tuhan telah memberikannya seorang bayi.  &#8220;Ini berkat Tuhan yang tidak bisa dibeli oleh apa pun.  Saat itu, rasanya tidak ada keraguan, tidak ada penyesalan ketika saya memutuskan untuk tidak ikut bertanding lagi,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Ternyata imannya lebih kuat dibandingkan dengan berbagai tawaran dan ambisi pribadi.  Hingga hari ini, ia merasa sangat beruntung.  Dengan kehadiran Laurencia Averina, anak pertamanya itu, ia mengakui kehadirannya selalu membawa keberuntungan dalam perjalanan hidupnya.  &#8220;Saya yakin, sekiranya kita setia mengikuti jalan yang sudah ditunjukkanNya, pasti semuanya akan lancar,&#8221; tutur ibu 3 anak ini dengan mata berseri-seri.</p>
<p><strong>Berdoa di Lourdes</strong></p>
<p>Dari pengalaman hidupnya, ia mengakui jujur bahwa Tuhan selalu menyertainya.  Kesan itu paling kuat ketika ia bersikeras ke Lourdes, saat mengikuti pertandingan di Perancis.  Coba bayangkan, ia tak peduli mempersiapkan diri untuk menang dalam pertandingan, hanya karena ingin ke Lourdes.  Meninggalkan latihan bukan hal mudah baginya.  Tapi itu yang dibuat oleh Susy.  &#8220;Saat itu saya lebih memilih kalah daripada tidak berziarah ke Lourdes.  Tapi terbukti saya menang seusai kembali dari Lourdes,&#8221; tutur Manager Tim Uber Puteri Indonesia ini.</p>
<p>Pengalaman lain lagi.  Saat Komuni, ia menerima 2 hosti.  Anehnya, sejak saat itu prestasinya bertanding naik.  Menurut papinya, ia diberi berkat lebih.  &#8220;Sejak tahun 1988 selalu kalah.  Setelah itu, juara terus,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Berkat yang lain ia terima saat bertanding di Inggris tahun 1991 ketika ikut kejuaraan All England.  Saat itu, ia bersama Alan dan pelatih berada di sebuah hotel.  Di depan pintu hotel, kira-kira 20 meter, ada seorang nenek tua.  Dalam waktu setengah jam, nenek ini hanya berjalan 10 meter dari tempatnya semula.  Sang pelatih mengajak agar menyumbang 1 poundsterling untuk sang nenek.  Saat itu yang lain sudah memberikan sumbangan kepada si nenek, sementara ia belum.  Susy lantas memberikan 5 poundsterling langsung kepada sang nenek, karena di kantongnya tidak aa 1 poundsterling.  Saat itu ia merasa kehangatan dan kehalusan tangan sang nenek.  Ia, tak tahu kenapa, langsung menangis sesungukan.  Ia begitu iba dan terharu terhadap nenek itu.  Rasanya ada keteduhan dan kedamaian dari wajah nenek itu ketika memandangnya.  Tak tahan dengan tatapan sang nenek, tak berapa lama ia memutuskan kembali ke hotel.  Anehnya, sang nenek pergi begitu cepat saat dirinya dicari dalam waktu yang singkat.  Herannya, tak seorang pun di seputar hotel itu yang melihat kehadirannya.  Selepas pengalaman itu, Susy berhasil dalam final pertandingan.  &#8220;Kata papi, Tuhan mungkin ingin memberi perlindungan untuk saya,&#8221; kenangnya penuh haru.</p>
<p>Hal lain lagi ia alami saat berada di Malaysia dalam pertandingan Uber Cup tahun 1988.  Sebuah pengalaman yang mendebarkan ia alami.  Lift yang ditumpanginya bersama 12 orang rekan dari Indonesia tiba-tiba mati.  Mereka sempat bertahan beberapa saat di dalam lift, hingga terasa oksigen dalam lift habis.  Ia dan rekannya berhasil menyelamatkan diri dengan pertolongan seorang wartawan Indonesia yang saat itu bertugas dan terjebak dalam lift yang sama.  Tubuh wartawan itu dinaiki sebagai bantalan keluar dari lift.  Mereka pun selamat.</p>
<p>Esoknya, Susy dan rekannya, Elizabeth Latif, selamat dari pecahan kaca di kolam renang.  Herannya, mereka yang berada di kolam renang itu menjadi korban, kecuali Susy dan Elizabeth Latif.  Para korban akhirnya ditangani dengan bantuan tim dokter dari Cina, karena tim dokter dari Indonesia kewalahan.  Susy pun ikut membantu.  &#8220;Darah berceceran.  Handuk besar sampai penuh darah.  Ini sabotase atau apa, saya tidak tahu,&#8221; tutur ibu yang hingga kini tetap menjaga staminanya dengan olah rag bulutangkis.</p>
<p><strong>Tuhan itu Baik</strong></p>
<p>Bagi Susy, penyertaan Tuhan dalam hidupnya sangat konkrit.  &#8220;Allah itu sungguh hidup, meskipun kita tidak melihatNya.  Dia ada dalam hati kita.  Maka ada perkataan, berbahagialah orang yang tidak melihat tapi percaya.  Dengan percaya, ada semacam rem dalam hidup ini.  Jadi bila kita percaya Tuhan, maka kita pun takut berbuat salah,&#8221; paparnya menjelaskan keyakinannya akan Tuhan.  </p>
<p>Menurutnya, hidup adalah pilihan.  Ada banyak pilihan yang diberikan Tuhan dalam hidup setiap orang.  Soalnya, pilihan itu ditentukan oleh kemauan bebas manusia.  Kalau kita mengikuti suara hati yang terdalam di mana Tuhan ada di sana, jalan pasti akan mulus.  Baginya, setiap manusia telah diberi jalan masing-masing, tetapi bagaimana memaknainya, kembali kepada manusia.  &#8220;Manusia itu kadang ego dan ambisi, meskipun sudah tersandung-sandung.  Sudah diperingatkan, tapi tidak sadar-sadar,&#8221; ungkapnya sedikit menasihati.</p>
<p>Sebagai pengikut Kristus, Susy merasa bahwa sering ia seperti orang buta yang tidak mengerti arah jalan.  Tapi dikala itu Tuhanlah yang menuntun kita.  Kadang orang merasa Tuhan tidak ada, sehingga jalannya tidak terarah.  Ini sangat disayangkan.  Tapi baginya, apa pun kesulitan dalam hidup ini, ia berusaha taat dan konsisten dengan apa yang diimaninya.  Ia selalu berpegang bahwa bila Tuhan punya rencana dna dijalankan dengan setia, maka akan memperoleh hasilnya yang terbaik.  Ia tidak pernah memaksakan sesuatu yang tampaknya bukan untuknya.  Ia percaya bahwa Tuhan yang menentukan.  &#8220;Manusia yang dituntut untuk peka terhadap tuntunanNya.  Meski ada cobaan dan ujian, namun saya yakin bahwa itu tidak melebihi kekuatan manusia,&#8221; ujarnya bijak.</p>
<p>Dan yang terpenting baginya adalah bagaimana ia menanamkan kebajikan.  Ia memiliki motto bahwa apa yang ditanam, itulah yang dihasilkan.  Ia percaya segala sesuatu memiliki sebab dan akibat.  Dalam hidup perkawinan, ia mengamiki perkawinan sebagai sesuatu yang sakral di hadapan Tuhan.  Bersama Alan, ia berusaha saling percaya dan terbuka, serta membangun komunikasi.  Ia memposisikan Alan tak hanya sebagai suami, tapi juga teman, kakak, ayah, dan saudara baginya.</p>
<p>Motto lain dalam hidupnya adalah mengalah bukan berarti ia kalah.  Mengalah untuk kemudian memperoleh kemenangan adalah sikap yang dihayatinya.  &#8220;Saya percaya kalau kita berbuat kebaikan bagi banyak orang, berkat kita itu nggak berkurang.  Karena memang Tuhan itu sungguh baik,&#8221; ujar pendoa setia Devosi St. Brigitta ini.</p>
<p><em>(Sumber:  Majalah Hati Baru, no 3 tahun XI, September 2008)</em></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Heidi Awuy: Kasih Allah dalam Denting Harpa</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/heidi-awuy-kasih-allah-dalam-denting-harpa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 07:39:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Selebriti Bicara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/heidi-awuy-kasih-allah-dalam-denting-harpa/</guid>

					<description><![CDATA[  Perpaduan antara bakat yang dikembangkan sejak kecil, pola asuh keluarga, dan pengalaman hidup, telah membentuk Heidi Awuy Tumbelaka menjadi seorang pewarta yang tak lepas dari dunia musik sebagai sarana mewarta.  Anak kedua dari tiga bersaudara ini dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat. Ayahnya seorang diplomat yang mengajarkan tentang esensi bertuhan kepada anak-anaknya. Melalui sang ... <a title="Heidi Awuy: Kasih Allah dalam Denting Harpa" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/heidi-awuy-kasih-allah-dalam-denting-harpa/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Heidi Awuy: Kasih Allah dalam Denting Harpa">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div> </div>
<div><img loading="lazy" decoding="async" src="images/stories/artikel/heidi-awuy.jpg" border="0" hspace="10" width="91" height="144" align="left" />Perpaduan antara bakat yang dikembangkan sejak kecil, pola asuh keluarga, dan pengalaman hidup, telah membentuk Heidi Awuy Tumbelaka menjadi seorang pewarta yang tak lepas dari dunia musik sebagai sarana mewarta. <br /> <br />Anak kedua dari tiga bersaudara ini dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat. Ayahnya seorang diplomat yang mengajarkan tentang esensi bertuhan kepada anak-anaknya. Melalui sang ayah, Heidi belajar bahwa Yesus menyayangi dirinya dan keluarganya. Kepada sang ayah, ia merasa lebih dekat. “Ayah sebagai teman,” tuturnya. Ia sempat merasa kehilangan saat ayahnya meninggal.<br /> <br />Sedangkan ibunya, seorang pianis yang tegas dalam mengajarkan kedisiplinan beribadah kepada anak-anaknya. Kedisiplinan beribadah ini telah tertanam dalam diri Heidi sejak kecil. <br />
<span id="more-99"></span><br />
<br /><strong>Harpa yang Menawan</strong></p>
<p>Perempuan kelahiran Bern, Swiss, 45 tahun yang lalu ini, menyukai musik sejak kanak-kanak. Piano menjadi alat musik yang telah akrab dengannya sejak kecil. Hingga suatu hari, di musim salju saat Natal di Swiss, ia mendengar denting harpa yang melambungkan rasa indahnya. Heidi kecil pun terpikat. <br />Rasa kagumnya terhadap denting harpa, membuat dirinya ingin mempelajari harpa. Ia mengutarakan keinginannya kepada sang ayah. Ia ingat, saat itu sang ayah bertanya, mengapa Heidi ingin memainkan harpa? “Saya menjawab bahwa keinginan itu ada karena di Indonesia tidak ada harpis,”kenangnya. Dengan jawaban itu, keinginannya mempelajari harpa tercapai. Saat ia dan keluarganya pindah ke Bangkok, ia belajar intensif bermain harpa di Bangkok. Usianya saat itu 14 tahun. Ia mendapat seorang guru perempuan asal Belgia. </p>
<p>Saat ada di Indonesia, selepas sekolah menengah atas, ia mempelajari ilmu hukum di Universitas Pancasila. “Hingga tingkat III mempelajari hukum,” tuturnya. Dan kemudian, tahun 1984-1987, ia beralih mempelajari harpa di Kanada. </p>
<p>Saat kembali ke Indonesia tahun 1987, ia sudah diundang untuk mengiringi lagu-lagu Natal dengan harpa. Dan tahun 1988, ia sudah mulai mengajar privat harpa. Ia juga ikut mengiringi pertunjukan musik Erwin Gutawa dan Chrisye (alm). Kepiawaiannya bermain harpa ia kembangkan dengan mendirikan “musical play group” bernama “Bina Bakat Belia”, tahun 1994. <br /> <br /><strong>Titik Balik Menuju Pelayanan </strong></p>
<p>Di tahun 1999, istri Glenn Tumbelaka ini memainkan harpa di sebuah gereja Kristen. Saat itu seseorang menegur, mengapa Heidi tak memainkan harpa untuk memuji Tuhan? Heidi tertegun. Selama satu tahun, ia bertanya diri dan bergumul tentang apa artinya memuji Tuhan. Dalam refleksinya ia merasa bahwa dirinya telah memberikan yang terbaik dari kemampuannya bermain harpa. Ia juga sudah berdoa dan melakukan hal-hal yang baik. </p>
<p>Sebuah peristiwa menghantarnya menjawab pergumulan itu. Di tahun 1999, ada orang tua dari seorang anak yang ingin dibuatkan partitur sebuah lagu pujian. Heidi hanya mendengar lagunya lewat CD. Ia masih ingat syair dalam lagu yang berkesan untuknya, “Bapa Engkau sungguh baik….” Dan syair “Kunaikan syukurku,” telah menyentuh hatinya. Lagu itu ia pelajari dengan cepat. “Saya merasa seperti belajar dari anak itu lewat lagu yang dinyanyikan,” akunya. </p>
<p>Di tahun 2000, dalam Misa akbar Yubelium Gereja Katolik di Jakarta, ia diminta mengiringi lagu-lagu pujian dengan harpa. Peristiwa ini menghantarnya mengenal para tokoh Karismatik Jakarta. Ia mengakui bahwa awalnya ia tidak tahu bahwa lagu-lagu pujian yang diiringinya adalah lagu-lagu Karismatik. Ia sempat marah, ketika tahu bahwa lagu-lagu yang diiringinya adalah lagu-lagu Karismatik. Ia teringat tentang larangan untuk dirinya mengenal Karismatik, sebab saat itu ada imej buruk tentang Karismatik. Hal yang sama sempat dialami juga oleh sang suami.    </p>
<p>Menurutnya, tahun 2000 adalah titik balik hidupnya. Bertemu dengan para tokoh Karismatik, membuat ia menemukan makna dari pergumulannya. Ia mulai mengerti bahwa memuji Tuhan artinya Allah ditinggikan. Dan bersama keluarganya, ia mengalami perubahan hidup. “Saya merasa bahwa Yesus ada.”  Ia merasa ada kasih dan peneguhan diri dalam hatinya. <br />Ia mengakui bahwa ia sempat ada di persimpangan jalan. Ia harus memilih antara dunia atau Dia. Tetapi kecondongan batinnya ada untuk Dia. Saat berdoa di kamar, ia merasa ada gelap dan terang. “Saya memilih terang,”ujarnya. Peneguhan ini membuatnya tidak ragu-ragu dengan pilihannya hingga sekarang. <br />            <br /><strong>Mengandalkan Tuhan   </strong><br />  <br />Titik balik itu menghantar hidup Heidi agar tak mengandalkan manusia, tetapi mengandalkan Tuhan. Ia belajar melalui pengalaman konkrit. Contohnya, tentang ketidaktegasannya dalam berelasi. Dulu, ia tak bisa memilih hal yang penting atau tidak penting, juga prioritas dalam pergaulan. Kini, ia bisa menegaskan bahwa yang penting untuknya adalah apakah berkenan atau tidak di mata Tuhan. </p>
<p>Penggemar musik klasik ini merasa bahwa kesombongannya juga diubah. Dulu, ia merasa dimanfaatkan dan dibutuhkan orang. Sekarang, ia merasa membutuhkan orang lain untuk berbagi. Lewat pengalaman konkrit, ia melihat bahwa semuanya harus berubah. “Bila merasa ingin diubah Tuhan, maka harus siap diubah.” Ia merasa bahwa Yesus tidak mencari kelemahan, tapi Yesus mampu mengubah atau menerima apa adanya. Ia menyebut cinta Yesus, “unconditional love”.</p>
<p>Ibu empat anak ini melihat bahwa yang diajarkan Tuhan lewat peristiwa konkrit adalah dengan tidak menghakimi, karena karya Yesus bisa masuk lewat jalan mana saja. Saat ia merasa batinnya kering, lelah, putus asa, juga kelelahan fisik, ia teringat perjalanan Yesus. Hal yang sama juga berlaku untuk relasi suami isteri. Ia tidak melupakan kasih mula-mula. </p>
<p>Heidi pun terlibat aktif dalam PD Elisabeth. Dan sejak 2002, ia menjadi Ketua Imago Dei hingga sekarang. Dalam pelayanannya mengajar anak-anak melalui musik, ia menanamkan nilai agar mereka bisa bersaksi tentang kasih Yesus, melalui perilaku sehari-hari di lingkungan dan sekeliling. Ia mengajarkan anak-anak agar mengandalkan Yesus. Ia juga melakukan kaderisasi tim kerja di Imago Dei Kids. </p>
<p>Pelayanan lain bersama harpanya ia lakukan ke beberapa daerah. Contohnya ke Manado, Kupang, pedalaman Kalimantan, Medan, dan Sumatera. Menurutnya, pelayanan itu membawa kepuasan batin tersendiri. Baginya, itu adalah suka cita. “Jangan pernah takut menyaksikan Tuhan Yesus, bisa dengan apa pun, misalnya musik, kata-kata.” Pelayanan dengan harpa dilakukan juga bersama keluarganya.</p></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><em>(Sumber:  Situs Badan Pelayanan Keuskupan Pembaharuan Karismatik Katolik KAJ)</em></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lisa A. Riyanto: &#8220;Panggilan Khusus Adalah Anugerah Luar Biasa Dari Tuhan&#8221;</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/lisa-a-riyanto-qpanggilan-khusus-adalah-anugerah-luar-biasa-dari-tuhanq/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 07:37:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Selebriti Bicara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/lisa-a-riyanto-qpanggilan-khusus-adalah-anugerah-luar-biasa-dari-tuhanq/</guid>

					<description><![CDATA[  Elizabeth Deny Retno Putri atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Lisa A. Riyanto adalah artis penyanyi ibukota yang tak asing lagi.  Lahir 6 September 1975 sebgai anak bungsu A. Riyanto &#8211; pencipta lagu dan pentolan grup band The Favourite&#8217;s yang berjaya di Nusantara di tahun 1970-an &#8211; Lisa memang kental mewarisi bakat seni ayahnya.  ... <a title="Lisa A. Riyanto: &#8220;Panggilan Khusus Adalah Anugerah Luar Biasa Dari Tuhan&#8221;" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/lisa-a-riyanto-qpanggilan-khusus-adalah-anugerah-luar-biasa-dari-tuhanq/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Lisa A. Riyanto: &#8220;Panggilan Khusus Adalah Anugerah Luar Biasa Dari Tuhan&#8221;">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><img decoding="async" src="images/stories/artikel/lisa-ariyanto.jpg" border="0" hspace="10" vspace="5" align="left" />Elizabeth Deny Retno Putri atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Lisa A. Riyanto adalah artis penyanyi ibukota yang tak asing lagi.  Lahir 6 September 1975 sebgai anak bungsu A. Riyanto &#8211; pencipta lagu dan pentolan grup band The Favourite&#8217;s yang berjaya di Nusantara di tahun 1970-an &#8211; Lisa memang kental mewarisi bakat seni ayahnya.  Buktinya adalah 5 album lagu yang dihasilkan ibu muda berputera satu ini yang cukup mendapat sambutan penggemarnya.  Belakangan, Lisa terkesan meninggalkan dunia selebriti yang menjanjikan dan malahan aktif melayani di jalur rohani.  Mengapa demikian?<br />
<span id="more-98"></span>
</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">&#8220;Pertama-tama, saya menyanyi memang bukan untuk mengejar penghasilan, tetapi karena darah seni kental mengalir dalam keluarga saya.  Kalau ditanya awal mula saya terjun di jalur rohani, itu adalah di tahun 1995, saat saya diminta untuk mengisi penutupan acara kaum muda di Kalimantan.  Waktu itu, Panitia menghubungi saya karena mengetahui saya seorang Katolik.  Sejak itulah saya mulai melayani di jalur rohani.  Saya pun terus mengikuti arah tuntunan Tuhan untuk terus berkiprah di jalur rohani.  Terus terang, hingga sekarang saya belum bisa berbuat banyak untuk berterima kasih pada kemurahanNya pada saya, dan saya pikir inilah salah satu bentuk rasa syukur saya pada Tuhan,&#8221; terang Lisa yang ditemui di sela-sela waktunya menanti giliran naik panggung menghibur pengunjung Expo Panggilan di Paroki Cengkareng.</div>
<div align="justify">Lisa, pelantun lagu &#8220;Ave Maria&#8221; ciptaan Pance Pondag di album rohani Lisa &#8220;Ave Maria&#8221;, menilai bahwa panggilan khusus itu adalah dorongan yang kuat sekali yang memang asalnya dari Tuhan yang terus menuntun untuk melangkah ke arah yang ditentukanNya.  &#8220;Memang tidak semua orang mendapat panggilan khusus, karena hal itu adalah suatu anugerah yang luar biasa.&#8221;  Di matanya, panggilan Tuhan itu bukan hanya menjadi seorang biarawan/biarawati, tetapi juga dapat berupa menjadi seorang dokter, pekerja kantoran, atau juga hidup berkeluarga.  &#8220;Kalau memang kita merasakan panggilan itu berasal dari Tuhan, maka kita akan dengan sukacita menjalaninya.  Kita tak mudah mengeluh dan mudah untuk bangkit kembali saat jatuh, karena kita tahu itu semua berasal dari Tuhan,&#8221; terangnya lagi.</p>
<p>Ternyata, Lisa yang mengaku tidak terlalu aktif di Parokinya tetapi masih setia ikut acara Doa Rosario di Lingkungannya ini pernah pula mempunyai keinginan untuk menjadi seorang biarawati.  &#8220;Dulu, sewaktu saya kecil, saya memang pernah bercita-cita menjadi Suster, selain pernah juga mengutarakan ingin jadi dokter atau guru.  Suatu kali, saya menonton di TV yang mengupas kehidupan membiara di Jawa Tengah.  Rasanya enak sekali &#8211; hidup tenang, kegiatannya macam-macam, tak banyak pikiran, ada kerja sosialnya, banyak waktu berdoa dan punya kebun olahan sendiri.  Pokoknya, enak banget!  Belakangan, memang keinginan menjadi Suster itu tak terlaksana, tapi walau sebagai awam, saya berkeyakinan saya pun tetap melayani Tuhan dan sesama, terutama di lingkungan keluarga saya.&#8221;</p>
<p>Pengalaman mengisi acara-acara rohani sudah tentu membawa Lisa kenal dan mengerti akan kehidupan para imam, baik yang muda maupun yang senior.  Apa harapannya pada mereka?  &#8220;Saya melihat semua imam menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati.  Saya pun melihat sering ada gap (jurang pemisah &#8211; red) antara para imam muda dan seniornya atau yang jauh lebih tua umurnya.  Sering-seringnya, hal ini mengakibatkan kurang adanya persatuan di antar mereka dan cenderung menimbulkan persaingan.  Saya sangat menyayangkan hal ini, karena sebetulnya mereka mungkin kurang berkomunikasi atau ada beda pendapat yang tak diselesaikan.  Biasanya, para imam muda lebih maju, sedangkan seniornya atau yang jauh lebih tua umurnya kurang setuju.  Mungkin bisa dicoba dicarikan cara agar komunikasi menjadi lancar, karena semuanya kan untuk kebaikan kita bersama juga &#8211; baik buat para imam, baik juga buat umatnya.  Kalau semuanya aktif, para imam dan suster bersatu dalam pelayanan, tentu semangat kekeluargaannya pun makin akrab,&#8221; pesannya menutup perbincangan kami.</div>
<p><em>(Sumber: Sabitah no. 10, tahun 2004)</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Susan Bachtiar: &#8220;Tergantung Pribadi Masing-Masing&#8230;&#8221;</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/susan-bachtiar-qtergantung-pribadi-masing-masingq/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 08:50:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Selebriti Bicara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/susan-bachtiar-qtergantung-pribadi-masing-masingq/</guid>

					<description><![CDATA[  Siapa sangka, Susan Bachtiar, salah seorang selebriti nasional yang jarang tertimpa gosip adalah umat Paroki Cengkareng?  Karir gemilang selama 10 tahun sebagai model ditinggalkannya untuk menjadi presenter acara kuis ilmiah &#8220;Galileo Galilei&#8221; yang ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta nasional di tahun 1998.  Kini, duta produk kecantikan keluaran Jepang ini terus menekuni dunia ... <a title="Susan Bachtiar: &#8220;Tergantung Pribadi Masing-Masing&#8230;&#8221;" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/susan-bachtiar-qtergantung-pribadi-masing-masingq/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Susan Bachtiar: &#8220;Tergantung Pribadi Masing-Masing&#8230;&#8221;">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div> </div>
<div><img loading="lazy" decoding="async" src="images/stories/artikel/susan-bachtiar.jpg" border="0" hspace="10" width="97" height="147" align="left" />Siapa sangka, Susan Bachtiar, salah seorang selebriti nasional yang jarang tertimpa gosip adalah umat Paroki Cengkareng?  Karir gemilang selama 10 tahun sebagai model ditinggalkannya untuk menjadi presenter acara kuis ilmiah &#8220;Galileo Galilei&#8221; yang ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta nasional di tahun 1998.  Kini, duta produk kecantikan keluaran Jepang ini terus menekuni dunia presenter/MC, menjadi pembicara atau moderator dalam seminar-seminar, di samping juga bekerja sebagai seorang guru di salah satu sekolah Katolik di Jakarta.  Apa pendapatnya tentang dunia mode sekarang ini?<br />
<span id="more-91"></span><br />
<br />&#8220;Tren mode sekarang saya kira masih dalam batas sopan. Untuk saya, model-model baju yang ada di pasaran tidak menimbulkan suatu masalah karena masih dalam batas-batas adat timur.  Tetapi, tentunya semua tergantung orang yang memakainya,&#8221; kata sarjana lulusan Jurusan Bahasa Inggris dari Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Katolik Atmajaya ini.  &#8220;Memang banyak mode baru yang ditawarkan seperti jeans dengan potongan pinggul atau tank top tak berlengan atau bertali satu.  Kembali, semuanya berpulang pada pribadi masing-masing, karena cara berpakaian kita bisa dijadikan cerminan dari diri atau pribadi kita.&#8221;</div>
<div align="justify"> </div>
<p><strong>Bagaimana kalau pakaian yang demikian itu dipakai ke gereja?</strong></p>
<div align="justify">&#8220;Memakai jeans bukan merupakan suatu masalah, asal dikenakan pada situasi yang tepat.  Kalau ke gereja, kita semua tentu sudah tahu maksud dan tujuan kita pergi ke sana.  Ada baiknya, kalau ke gereja, pakailah baju yang sesopan mungkin &#8211; tapi bukan berarti yang tertutup sekali.  Satu hal lagi, janganlah memilih bahan yang transparan, karena biarpun modelnya tertutup, tetap saja tidak bagus dipandang orang.  Begitu juga kalau mengenakan baju putih, kita harus pula menyesuaikan warna pakaian dalam kita.  Ke gereja lain dengan ke tempat umum, jadi kita perlu membawa diri dengan cara berpakaian yang pantas.&#8221;</div>
<p><strong>Kalau ke gereja, boleh merias wajah dan rambut?</strong></p>
<div align="justify">&#8220;Masing-masing kita punya hak untuk mendandani diri kita sendiri.  Menurut saya, selama PD &#8211; percaya diri &#8211; kenapa tidak?  Mungkin orang lain berpendapat dandanannya terlalu menor, tapi kalau menurutnya tidak, ya, saya rasa tidak menjadi masalah.  Cuma, sekali lagi, kita harus tahu tempatnya.  Berdandan ke gereja sah-sah saja, tapi, ya, yang wajarlah, kecuali kalau memang tujuan kita adalah mau menjadi pusat perhatian.  Semuanya kembali tergantung pada pribadi masing-masing.&#8221;</div>
<p></p>
<div align="justify">Sambil tertawa, Susan membagi pengalamannya: &#8220;Di gereja saya pernah melihat seorang tante gemuk yang memakai baju ketat berwarna menor yang menampilkan juga barisan lemak di tubuhnya.  Kelihatannya si tente seorang yang PD banget dan cuek saja dengan perhatian sekelilingnya.  Saya sendiri sempat berpikir, apa si tante gak ngaca di rumah ya?  Melihat umur, seharusnya si tante tahu diri.  Saya saja yang masih muda tidak punya keberanian untuk pakai baju seperti itu.  Juga sering saya jumpai anak-anak ABG atau remaja yang memakai tank top tak berlengan atau blus putih dengan pakaian dalam berwarna merah atau hitam.  Kadang-kadang saya gemes juga melihatnya dan berpikir, di mana sih sebenarnya kami ini berada sekarang?&#8221;</div>
<p></p>
<div align="justify">Lalu bagaimana Susan biasanya tampil?  Sebagai seorang selebriti, ia tidak mau terjebak oleh statusnya itu.  &#8220;Saya selalu berusaha untuk menjadi diri saya sendiri.  Kebetulan saya suka sekali memakai jeans, maka saya akan melihat acara dan tempatnya.  Saya akan memilih jeans untuk ke gereja atau sekolah, kalau acara di sana adalah acara santai, bukan formal.&#8221;</div>
<p><em>(Sumber: Sabitah no 22 tahun 2006)</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Abah&#8221; Adi Kurdi: &#8220;Saya Ini Artis Kalau Lagi Syuting Saja&#8230;&#8221;</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/qabahq-adi-kurdi-qsaya-ini-artis-kalau-lagi-syuting-sajaq/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 08:45:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Selebriti Bicara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/qabahq-adi-kurdi-qsaya-ini-artis-kalau-lagi-syuting-sajaq/</guid>

					<description><![CDATA[Siapa yang tidak kenal dengan &#8220;Abah&#8221; Adi Kurdi, dalam sinetron &#8220;Keluarga Cemara&#8221;?  Berbekal pendidikan public relations selama 2 tahun di New York University, ia mendirikan Studio 3, yang salah satu kursusnya adalah melatih cara berbicara dengan baik.  Ia juga berpengalaman merapihkan gaya bicara 2 orang menteri di Kabinet Gus Dur, yakni Menteri Pariwisata Marzuki Usman, ... <a title="&#8220;Abah&#8221; Adi Kurdi: &#8220;Saya Ini Artis Kalau Lagi Syuting Saja&#8230;&#8221;" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/qabahq-adi-kurdi-qsaya-ini-artis-kalau-lagi-syuting-sajaq/" aria-label="Baca selengkapnya tentang &#8220;Abah&#8221; Adi Kurdi: &#8220;Saya Ini Artis Kalau Lagi Syuting Saja&#8230;&#8221;">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Siapa yang tidak kenal dengan &#8220;Abah&#8221; Adi Kurdi, dalam sinetron &#8220;Keluarga Cemara&#8221;?  Berbekal pendidikan public relations selama 2 tahun di New York University, ia mendirikan Studio 3, yang salah satu kursusnya adalah melatih cara berbicara dengan baik.  Ia juga berpengalaman merapihkan gaya bicara 2 orang menteri di Kabinet Gus Dur, yakni Menteri Pariwisata Marzuki Usman, dan Menteri Keuangan Bambang Sudibyo.</div>
<div align="justify">Berikut ini adalah hasil wawancara Sabitah dengan Adi Kurdi, sehubungan dengan perannya selaku Ketua Komisi Kerasulan Awam di Keuskupan Bogor, dan juga sebagai salah satu pembicara dalam Seminar Kerasulan Awam yang diselenggarakan oleh Paroki Cengkareng.<br />
<span id="more-90"></span>
</div>
<p><strong>Apa peranan dan tugas Bapak di dalam Kerawam Bogor?</strong></p>
<div align="justify">Saya adalah Ketua Komisi Kerawam di Bogor.  Tugasnya berkeliling ke paroki-paroki lain, termasuk Paroki Cengkareng, untuk membangkitkan motivasi umat di paroki yang bersangkutan mengenai hidup sebagai kerawam dan prakteknya di dalam hidup bermasyarakat.</div>
<p><strong>Bagaimana kesannya mengenai umat di Cengkareng yang ikut seminar ini?</strong></p>
<div align="justify">Saya senang, walau di sini termasuk Gereja yang masih terbilang muda, namun umatnya antusias untuk datang.  Begini, peranan umat Katolik sudah diperhitungkan sekali dalam lingkup nasional di mana Indonesia dianggap termasuk negara Islam terbesar di dunia.  Jadi, hendaknya umat Katolik terlibat dalam kerawam yang dapat juga membantu peranan dalam negara.  Beberapa waktu yang lalu, delegasi perdamaian dari Indonesia yang dipimpin oleh Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ, dan diikuti oleh sejumlah pemuka agama di Indonesia beraudiensi dengan Bapa Paus Yohanes Paulus II untuk mencegah terjadinya perang AS-Irak, dengan berusaha mempengaruhi Amerika Serikat melalui Paus agar tidak terjadi perang namun ditempuh penyelesaian secara damai.</div>
<p><strong>Bagaimana dengan pengaruh keartisan Bapak dalam hidup kerawam ini?</strong></p>
<div align="justify">Itu kan profesi.  Saya ini artis kalau lagi syuting saja.  Karena itu memang tanggungjawab pekerjaan.  Seperti halnya seorang direktur perusahaan, di kantor ia sebagai atasan, tetapi kalau di rumah, ia ayah bagi anak-anaknya dan suami bagi istrinya.  Saya bukan sebagai artis ketika memberikan pelayanan saya di Kerawam.</div>
<p><strong>Harapan Bapak untuk kaum muda mengenai kerawam ini?</strong></p>
<div align="justify">Kaum muda bisa merintis hidup kerawam dengan mulai terlibat dalam kegiatan-kegiatan di Gereja.  Mulailah dari lingkup yang kecil, dari keluarga, Lingkungan, Gereja, dan masyarakat.  Yang tua membimbing kaum muda dengan pengalaman-pengalamannya.  Dengan adanya dialog dan komunikasi antara yang tua dengan yang muda untuk saling berbagi dan bekerjasama dalam kerawam ini, akan membantu Gereja dalam menyebarkan ajaran Gereja dan peranan yang bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.</div>
<p><strong>Tetapi biasanya kaum muda jarang diajak berdialog?</strong></p>
<p>Justru itu.  Dengan berkegiatan, mereka diberi kesempatan untuk berdialog.  Berdialog juga bisa diawali dari keluarga.  Kalau dari keluarga saja kaum muda sudah tidak bisa berdialog, bagaimana mereka akan berdialog nantinya di dalam masyarakat?!</p>
<p><em>(Sumber: Sabitah no. 4, tahun 2003)</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Selebriti Pun Bersyukur</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/selebriti-pun-bersyukur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 08:40:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Selebriti Bicara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/selebriti-pun-bersyukur/</guid>

					<description><![CDATA[Ada selebriti di Puncak Perayaan Syukur 200 tahun Gereja Katolik di Jakarta Tingkat Dekenat Barat II.  Siapa mereka?  Tak lain dan tak bukan adalah pasangan pembawa acara Susan Bachtiar dan Edwin Manangsang, serta juara Indonesian Idol yang pertama, Delon. Di temui di belakang panggung, Susan Bachtiar, umat Paroki Cengkareng yang belakangan ini kerap mengisi acara ... <a title="Selebriti Pun Bersyukur" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/selebriti-pun-bersyukur/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Selebriti Pun Bersyukur">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Ada selebriti di Puncak Perayaan Syukur 200 tahun Gereja Katolik di Jakarta Tingkat Dekenat Barat II.  Siapa mereka?  Tak lain dan tak bukan adalah pasangan pembawa acara Susan Bachtiar dan Edwin Manangsang, serta juara Indonesian Idol yang pertama, Delon.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" src="images/stories/artikel/susan-bachtiar-2.jpg" border="0" hspace="10" width="113" height="157" align="left" />Di temui di belakang panggung, <strong>Susan Bachtiar</strong>, umat Paroki Cengkareng yang belakangan ini kerap mengisi acara di Parokinya berkesan: &#8220;Acaranya bagus, seru, rame.  Saya melihat adanya gabungan antara jalinan tali persaudaraan antar umat Paroki dan unjuk kebolehan dan kreativitas dari masing-masing Paroki.  Umat terlihat sungguh kreatif, anak-anak mudanya pun lebih maju dan lebih baik.&#8221;  Saat ditanya makna perayaan ini bagi Susan, ia berujar: &#8220;200 tahun bukanlah waktu yang sedikit, lama banget, kita harusnya berbangga dan bersyukur.  Dalam kurun waktu yang tak sebentar itu, Gereja semakin matang, ada juga sedikit berpolitik, umat pun bertambah maju dan semakin banyak.  Masalah-masalah bukannya tak ada, seperti misalnya gereja sebagai sarana beribadah yang kena gusur, atau umat ingin beribadah tapi tak punya tempat dan terpaksa harus menumpang.  Semoga bukan perayaannya saja yang semarak, tapi bagaimana Gereja bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada seperti misalnya yang saya sebutkan tadi.  Semoga umat pun semakin sadar dan tidak egois.  Kita perlu membuka diri, mengenal orang-orang di lingkungan kita.&#8221;<br />
<span id="more-89"></span><br />
<br /><strong>Edwin Manangsang</strong>, pentolan Trio Libels yang sekarang lebih memfokuskan diri sebagai presenter acara-acara televisi dan sering menjadi pasangan MC Susan Bachtiar berujar: &#8220;Perkembangan Gereja Katolik sangat pesat.  Pertumbuhannya di Jakarta sendiri 200 kali lipat.  Kita pantas bersyukur atas perkembangan umat Kristiani di Indonesia.  Walau tak dipungkiri ada halangannya, tetapi kita mau berusaha agar perkembangan umat Kristiani ini lebih bagus lagi, seperti yang ternyata sekarang ini.  Ke depannya, saya berharap agar perkembangan umat yang sudah cukup menggembirakan ini dapat disyukuri oleh umat Kristiani sendiri dengan lebih dapat memberikan sumbangsihnya untuk bangsa dan negara Indonesia.  Biar kita minoritas, tapi kita harus menunjukkan bahwa kita bisa juga memberikan yang terbaik untuk negara yang kita cintai ini.&#8221;  Saat dimintai komentar tentang acara yang dipandunya ini, Edwin berkata: &#8220;Wah&#8230; acaranya meriah sekali.  Saya senang, apalagi melihat para pengisi acara adalah wakil dari Paroki-Paroki.  Saya gak nyangka, umat Dekenat Barat II ini punya kemampuan seni yang luar biasa!&#8221;</p>
<p>Tak ayal lagi, yang ditunggu-tunggu umat tentulah si bintang Indonesian Idol, <strong>Delon</strong>.  Tampil dipenghujung acara, Delon yang membawakan 3 lagu ini sempat pula berduet dengan Sari, pemenang Sathora Idol.  Apa makna perayaan ini bagi Delon? &#8220;Saya bersyukur bahwa ternyata Gereja Katolik sudah bisa diterima dan diakui oleh masyarakat Indonesia.  Keberadaannya selama 200 tahun menjawab hal itu.  Ungkapan syukur ini tentu harus bisa kita tanggapi dengan saling membagi kasih, seperti yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri.  Saya berharap semoga ke depannya Gereja Katolik dapat lebih membuka diri terhadap perkembangan zaman.&#8221;</div>
<p><em>(Sumber: Sabitah no. 27 tahun 2007)</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kris Biantoro : “Identitas Bukan Dari Tanda Salib &#8230;”</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/selebriti-bicara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 03:47:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Selebriti Bicara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/selebriti-bicara/</guid>

					<description><![CDATA[  Christophorus Soebiantoro yang akrab dikenal masyarakat bangsa Indonesia sebagai Kris Biantoro muncul di Paroki Cengkareng.  Bersama Orkes Simfoni Jakarta, Beliau menyokong penggalangan dana pembangunan gereja St. Yohanes Maria Vianney, Paroki Cilangkap.  Siapa yang tak kenal Kris Biantoro?  Artis nasional – bahkan di kenal secara internasional – yang mempunyai filosofi hidup O Kuni No Tame ... <a title="Kris Biantoro : “Identitas Bukan Dari Tanda Salib &#8230;”" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/selebriti-bicara/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Kris Biantoro : “Identitas Bukan Dari Tanda Salib &#8230;”">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div> </div>
<div><img decoding="async" src="images/stories/artikel/kris-biantoro.jpg" border="0" hspace="10" align="left" />Christophorus Soebiantoro yang akrab dikenal masyarakat bangsa Indonesia sebagai Kris Biantoro muncul di Paroki Cengkareng.  Bersama Orkes Simfoni Jakarta, Beliau menyokong penggalangan dana pembangunan gereja St. Yohanes Maria Vianney, Paroki Cilangkap.  Siapa yang tak kenal Kris Biantoro?  Artis nasional – bahkan di kenal secara internasional – yang mempunyai filosofi hidup O Kuni No Tame Ni – Semangat, Kesatria, Demi Tanah Air – lahir di kaki Gunung Merbabu, Karesidenan Kedu, Jawa Tengah.  Anak ke-8 dari 11 bersaudara putera-puteri Bapak Warsid Sastrowiardjo dan Ibu Soekarsih lahir di era perjuangan kemerdekaan Indonesia.  Maka tak heran kalau Kris Biantoro punya rasa nasionalisme yang tinggi, punya semangat terus berjuang pantang menyerah menembus segala rintangan hidup.  Kerasnya zaman penjajahan, kekejaman perang, kesulitan ekonomi dalam melanjutkan pendidikan dan bertahan hidup di negeri orang, Australia, hingga penghinaan, prasangka, dan perlakuan tidak adil silih berganti Beliau alami, tetapi itu semua tidak membuatnya gentar dan mundur dalam berkarya di jalur seni.  <br />
<span id="more-86"></span>
</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Dikenal secara luas tidak menjadikan Beliau sombong dan lupa jati diri.  Dari zaman stasiun televisi Indonesia hanya satu, TVRI,  hingga tumbuh puluhan stasiun swasta seperti sekarang ini, Kris Biantoro dikenal lewat acara-acara TVRI yang bergengsi seperti Kuis Berseri Mengukir Prestasi dan Rona Pelangi Pertiwi.   Itu hanya beberapa dari mata acara yang tak terhitung lagi banyaknya yang dipersembahkan Kris Biantoro untuk bangsa Indonesia.  Beliau sukses sebagai penyanyi, membintangi film-film perjuangan, menjadi MC, dan bintang iklan yang membuatnya menerima berbagai penghargaan baik dari Pemerintah Indonesia maupun industri musik/perfileman.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">4 tahun yang lalu, Kris Biantoro meluncurkan buku otobiografinya yang telah mengalami cetak ulang “<strong>Manisnya Ditolak</strong>” yang Beliau bawa ke Paroki Cengkareng bersama dengan album kumpulan lagu-lagu nostalgia yang diterbitkannya saat merayakan ulangtahunnya ke-70 baru-baru ini.  Kris Biantoro hidup bahagia bersama istri tercintanya, Maria Nguyen Kim Dung, 2 putera dan 2 menantu, serta 3 orang cucu.  Kris Biantoro pernah berujar: “Menjadi artis tidak hanya sekedar menyanyi atau mahir tampil di atas panggung.  Artis juga punya tanggungjawab untuk memberi contoh positif pada masyarakat dan tidak terjebak dalam kehidupan hedonis seperti yang sekarang muncul di televisi.&#8221;</div>
<div align="justify"><strong>Kenapa mau terlibat dalam penggalangan dana pembangunan gereja?</strong></p>
<p>Kenapa mau?  Pertanyaannya koq aneh?!  Sebagai orang Katolik yang setia pada ajaran Gereja, bukan ditanya mau atau tidak mau, tapi bagi saya ini merupakan suatu kebahagiaan, karena saya boleh bekerja di ladang Tuhan. (<em>Romo Anto, Pr, Romo Paroki Cilangkap mengumumkan dari mimbar bahwa Kris Biantoro adalah umat Paroki Cilangkap yang menyumbangkan seluruh hasil penjualan buku otobiografi dan album lagu-lagu kenangannya untuk pembangunan gereja Cilangkap. – red.</em>)</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><strong>Sebagai seorang artis Katolik, ada godaan dan tantangan dalam mempertahankan iman?</strong></p>
<p>Kalau ditanya soal godaan, wah&#8230; bukan saja godaan yang saya terima – bacalah buku saya “Manisnya Ditolak” di sana saya ceritakan semuanya.  Saya mendapat penolakkan dan penjegalan kalau saya diketahui sebagai Katolik.  Lapangan kerja sebagai artis tidak mudah untuk ditembus dengan predikat “Katolik” saya.  Ancaman seperti “kalau berani muncul, kamu akan mati” itu sudah seringkali saya dapatkan.  Tapi saya selalu yakin dan percaya bahwa Tuhan memilih umatnya pasti bukan tanpa rencana.  </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Dalam lingkungan sesama artis, tentu banyak tantangannya.  Ada yang mengatakan menjadi Muslim itu enak, karena Muslim itu mayoritas – 98%- di negara ini.  Yang begitu itu janganlah sekali-kali kita risaukan.  Kesalahan di negeri ini adalah, kalau sudah berbau ‘Arab’, pakai Bahasa Arab, itu pasti Islam.  Suatu ketika saya pernah tanya pada teman-teman artis, coba tolong katakan pada saya, ini ayat apa&#8230; (Kris Biantoro melafalkan Doa Bapa Kami dalam Bahasa Arab dengan fasih – red) Teman-teman bingung dan mulai menerka-nerka, ayat ini, ayat itu&#8230;  Tapi saya katakan: bukan.  Ini doa Bapa Kami dalam Bahasa Arab.  Memang, orang seperti saya ini – artis – harus selalu siap dengan berbagai jurus.  Ditabok, ya, harus bisa menjawab.  <br />        </div>
<div align="justify">Judul buku saya, “Manisnya Ditolak” adalah hasil permenungan saya akan Injil Lukas 4:16-30 (<em>Yesus ditolak di Nazaret – red</em>)  Orang yang ditolak itu rasanya tidak enak, tapi karena seringnya ditolak, saya renungkan itu semua sebagai sesuatu yang manis.  Sama seperti yang terjadi sekarang ini, seseorang kuliah kedokteran, ikut ujian semester, tahu-tahu gagal, terus ngambek, tidak mau diteruskan lagi, ganti kuliah di jurusan lain&#8230;..  Kita belum sadar bahwa Tuhan itu bukan sinterklas, minta ini lalu langsung diberi.  Tuhan itu Maha Bijak, Tuhan akan melihat jika Dia izinkan permintaan seseorang, apakah orang itu akan menggunakannya sesuai dengan kehendakNya?  Apakah permintaan itu adalah bagian dari rencana perutusanNya?  <br />        </div>
<div align="justify">Kita ini diutus dalam 3 kelompok: menyebarkan kebenaran; menyebarkan kebaikan; dan menyebarkan keindahan.  Konon saya diutus ke bagian yang ke-3 itu, menyebarkan keindahan.  Saya bisa menari, membuat film, menyanyi, berbicara, menulis&#8230;. itu semua datangnya dari Tuhan.  Jadi, kalau menjadi artis hanya untuk membuktikan diri ini mampu, bisa kawin cerai, bisa terkenal&#8230;. pasti bukan itu maunya Tuhan.  Menjadi artis terkenal sebenarnya bisa menjadi bagian yang ampuh dalam menyebarkan Kerajaan Tuhan.  Kita tak cukup hanya berdoa saja, Ora et Labora – kalau hanya berdoa saja, tidak ada artinya, berbuatlah sesuatu!  <br />        </div>
<div align="justify">Saya sering mengatakan, tidak salah jadi artis, tapi jangan ngartis – jadilah MC, tapi jangan ngemsi – jadilah Katolik tapi jangan ngatolik.  Artinya apa?  Adanya kedalaman dari suatu profesi, kedalaman penghayatan dari suatu iman yang dilakukan untuk suatu waktu yang panjang.  Terkadang, kalau saya memberikan kesaksian, ada yang hadir menanyakan, “Mas Kris, agamanya apa?”  Astaga!  Saya Katolik bukan karena kerusuhan Mei, lho!  Sejak saya kecil, belum tahu apa-apa, saya sudah Katolik.  Saya dibaptis Katolik di usia 10 tahun.  Saat itu ayah belum Katolik tetapi memberi izin dengan catatan saya harus sungguh-sungguh menjalankan ajaran Katolik. – pada akhirnya, orangtua saya ikut menjadi Katolik karena melihat anak-anaknya hidup baik.<br />        </div>
<div align="justify">Menjadi jelas bagi saya, bahwa pemahaman tentang perutusan, tentang indahnya hidup yang Tuhan arahkan, tidak bisa instan dirasakan.  Saya mengalami jatuh bangun, bagaimana seorang Kris Biantoro itu sering sekali mendapat teror, ganjalan, segala macam&#8230;., tapi sekarang, di usia 70 tahun, apakah saya kelihatan tua?  Apakah saya memelas dan batuk-batuk?  Karena ada suatu ketenangan hati, ketenangan jiwa yang sulit diceritakan.  <br />        </div>
<div align="justify">Bagi saya sekarang ini adalah kebahagiaan bisa menikmati usia senja dan masih dipercaya Tuhan untuk bekerja di ladangNya.  Saya pun tidak pusing memikirkan materi.  Tanpa pergulatan, iman tidak ada artinya.  Benar sekali yang Tuhan Yesus katakan: Jangan kuatir, yang ikut Aku akan Kugenapi.  Saya pernah “hilang” ke luar negeri, pulang ke Indonesia saya harus mulai dari nol lagi.  Saat itu saya berusia 30 tahunan.  Saya bingung, mau jadi apa saya ini, nanti tua makan apa?  Tapi tanpa sadar saya sekarang sudah berusia 70 tahun, saya hidup tenang dengan istri, anak, menantu dan cucu.  Anak-anak pun boleh dikatakan ‘jadi.’  Coba lihatlah, berapa artis yang di masa tuanya kena sakit, tapi tidak punya uang untuk berobat sehingga terpaksa ke sana ke mari untuk mencari bantuan?  <br />        </div>
<div align="justify">Saya juga bersyukur bahwa saya punya istri yang setia dan sabar, bisa menerima suaminya yang milik semua orang ini, yang harus berkarya sedemikian rupa.  Tanpa kasih sayang istri, saya kira hidup saya akan tidak karuan jadinya.  Dalam rumah tangga, suami istri itu harus sinergi, suami menghasilkan, istri yang mengelola.  Kalau  saya yang mengelola, tak tahu apa yang terjadi.  Mungkin saya sudah kawin lagi, sudah foya-foya&#8230;..    Maka, tidak boleh tidak, saya harus percaya pada ajaran Yesus yang maha fantastis, karena telah mengarahkan hidup saya dari nothing menjadi something.  Maka doa saya sekarang adalah, “Tuhan, jamahlah diri saya ini, selama masih boleh Kau utus ke mana pun, aku akan pergi.”  </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><strong>Tentang pembangunan gereja yang terhambat karena ketidak setujuan sementara pihak?</strong></p>
<p>Sebelum kita membangun gereja, kita harus merasul dulu, merakyat dulu.  Datangi RT, RW, dan Lurah setempat.  Adakan pendekatan, jangan mentang-mentang punya duit, kita langsung datang ke lokasi dan membuat patok.  Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa kita ini golongan minoritas, golongan kecil.  Kepahaman umat kita akan Kerajaan Tuhan dan merasul pun belum sedalam yang diharapkan.  Inilah perjuangan.  <br />        </div>
<div align="justify">Kita dekati mereka, kesusahan daerah itu apa, kita harus ikut pula memikulnya. Caranya mudah saja, tak perlu yang muluk-muluk, pendekatan kita bisa berupa memperbaiki got yang rusak, ikut menyumbang sapi kurban.  Tak perlu bilang-bilang kita ini Katolik, tapi kita benahi dulu tali silaturahmi, adakan hubungan langsung dengan rakyat.  Tak perlu meneriakkan Injil keras-keras, seolah-olah kita ini yang paling suci.  Sebab susahnya dunia ini kan karena semua orang keras.  Kita katakan kalau tidak ikut Yesus maka tak bisa masuk surga.  Kita orang Katolik atau Kristen memang meyakini demikian, tapi apakah yang Muslim, yang Buddha, masuk neraka semua?  Apakah itu berarti kita ini sudah sebegitu sucinya?  Sebaliknya, kalau mereka mengatakan kita kafir, apakah itu berarti mereka yang masuk surga dan kita masuk neraka?  Surga dan neraka jangan kita tafsirkan seperti itu.  Kita yang dikatakan lebih terpelajar, lebih mengerti, ususnya harus lebih panjang.  Artinya, jangan terlalu gampang naik darah seperti mereka – sedikit-sedikit sweeping, tak ada salahnya mengalah. Teladani Tuhan Yesus.  Kalau Dia mau, saat disiksa dan didera, Dia bisa melawan, armadaNya kan banyak.  Tapi ada suatu keyakinan padaNya bahwa Dia harus melakukan semua itu demi untuk menggenapi rencana Bapa.<br />        </div>
<div align="justify">Sekarang ada teori kemakmuran.  Ada yang mengatakan bahwa menjadi anak Allah itu harus kaya.  Saya kadang-kadang bingung, kalau memang itu pengertiannya, bahwa anak-anak Allah harus kaya dan hidup mewah, itu berarti Yesus sudah membuat kesalahan.  Kenapa Dia turun ke dunia lewat tubuh Maria, istri seorang tukang kayu? Lha bisa saja kan Dia masuk ke tubuh istri Herodes, jadi anak raja, jadi orang kaya raya.  Tapi ajaran tentang cinta kasih, kesederhanaan, kepeduliaan, saling mengasihi menjadi tidak pas, tidak ketemu.  Maka Dia masuk ke kandang yang paling hina </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><strong>Tentang generasi muda Gereja?</strong><em><br /></em><br />Merosotnya akhlak dan kehidupan remaja sekarang ini bukan hanya terjadi di Indoneisa, tetapi di Jepang, Belanda, Jerman, Inggris, dan negara lainnya juga sama.  Orang yang tidak mengalami perang inginnya hidup senang.  Tetapi di negara lain, kalau ada hal-hal yang merugikan atau membahayakan kerukunan atau identitas bangsa, maka akan cepat-cepat diatasi.  Di Indonesia hal ini selalu terlambat.  Maka sikap saya adalah jangan menyalahkan anak muda zaman sekarang, karena kalau saya ini anak muda, saya pun akan berlaku seperti itu.  Berarti, dalam mengelola bangsa ini ada yang keliru.  Sekarang orang lanjut usia masih ada, tapi seringnya dibuat olok-olok ‘jadul’ – janganlah demikian.  Menjadi tua itu sebuah prestasi, karena banyak orang yang belum sampai tua sudah mengalami stroke, darah tinggi, bahkan mati, atau rumah tangga gonjang-ganjing&#8230;.. maka menjadi tua itu prestasi kehidupan.  Orangtua yang hidup pernikahannya langgeng itu bisa didengarkan ceritanya, sehingga anak muda yang merasa diri sebagai generasi penerus bisa punya ide sendiri, punya alasan sendiri, apa yang mereka renungkan, apa yang mereka inginkan.  Album kenangan yang saya bawa di sini juga berisi lagu-lagu tempo dulu yang saya beri catatan seperti pada waktu lagu itu terkenal, negara kita itu dalam keadaan seperti apa.  Itu bagian dari merasul, menjadi garam dan terang.  Orang seperti saya ini bukan tidak mau menyanyikan lagu-lagu rohani, tapi bagian saya adalah seperti apa yang telah saya kerjakan.  Tak perlu saya teriak-teriak saya orang Katolik, tapi biarlah mereka tahu sendiri.</div>
<div align="justify"><strong><br />30 tahun Paroki Cengkareng, apa pesan bagi umat?</strong></p>
<p>Kita harus menjadi bagian dari masyarakat umum.  Jangan hanya ora saja, labora-nya apa?  Kalau Paroki ini dikenal di sekitarnya sebagai tempat yang paling mewah, jangan kita menikmatinya sendirian.  Mudika bisa memulainya, seperti saat ulangtahun Proklamasi Kemerdekaan, bisa mengadakan gerakan sosial.  Tak perlu macam-macam, membersihkan lingkungan, mengecat bagian-bagian yang kotor.  Jangan kita hidup mengelompok.  Saya sudah diterima di semua lini, saya seorang nasionalis, saya seorang Katolik.  Kesalahan kita adalah kita sering berteriak-teriak “alleluya”, gak karu-karuan seperti di mal. Orang non-Kristen kita doakan supaya masuk Kristen.  Itu menantang namanya.  Janganlah demikian.  Berlakulah bijak.  Di sekitar sini, apa yang menjadi persoalan bersama?  Apa yang bisa didukung dan dikerjakan bersama-sama?  Menjadi garam dan terang dunia bukan hanya sekedar diucapkan, tetapi dijalankan.  Secara nasional orang mengenal saya, saya diterima oleh semua etnis karena keindonesiaannya.  Saya tak pernah membawa-bawa agama saya, tapi mereka tahu saya seorang Katolik.  Identitas Katolik bukan hanya dari membuat tanda salib, tetapi dari apa yang kita kerjakan.  </p></div>
<div align="justify">
<p><em>(Sumber: Majalah Sabitah no. 33 tahun 2008)</em></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
