Roh Moo-Hyun (mantan Presiden Korea Selatan):
I can’t imagine the countless agonies down the road. The rest of my life would only be a burden for others. I can’t do anything because I’m not healthy. I can’t read books, nor can I write. Don’t be too sad. Isn’t life and death all part of nature? Don’t be sorry. Don’t blame anybody. It’s fate. Please cremate me. And please leave a small tombstone near home. I’ve long thought about that. (catatan bunuh diri yang ditemukan di computer mantan Presiden Korea Selatan Roh Moo-Hyun – sumber: BBC News).
Akhir-akhir ini, berita meninggalnya beberapa orang ternama dengan jalan bunuh diri, membuat penulis prihatin. Di Korea, bahkan mantan presidennya, Roh Moo-Hyun, memilih jalan ini, karena pada awalnya Roh adalah Presiden yang terkenal bersih, bahkan berjanji untuk memberantas korupsi, malah ketahuan istrinya dan keluarganya menerima suap sebesar $ 6 Mn (6 juta). Dengan perasaan malu dan bersalah yang mendominasi, Roh akhirnya memilih bunuh diri dengan cara menjatuhkan dirinya ketika mendaki gunung di belakang rumahnya. Tragis dan ‘shocking’.
Santo Paulus “bersinar laksana bintang yang bercahaya di dalam sejarah Gereja, dan bukan hanya dalam kisah awalnya.” (Paus Benediktus XVI, dalam Audiensi pada 25 Oktober tahun 2006) Paulus bukan hanya penulis surat-surat yang kita warisi sekarang ini. Ia pertama-tama dan terutama adalah misionaris. Ia dikenal dengan sebutan Rasul Segala Bangsa dan seorang tokoh penting dalam Gereja, yang penuh warna dan lengkap. Pertemuannya dengan Kristus dalam perjalanan ke Damsyik adalah sumber dari segala pewartaan dan teologinya. Ketika ia melakukan perjalanan ke kawasan Laut Tengah, mengalami penganiayaan, bahaya yang mengancam dalam perjalanan, ia bekerja tak henti-hentinya. Itulah yang menjadi kebanggannya dalam hidup, yaitu mewartakan Injil di tempat-tempat di mana Injil belum pernah diwartakan.
Dalam aksara Cina, kata “sibuk” berarti “kematian hati” atau “hati yang mati”.
Berbicara tentang kebangkitan menyisakan sebuah pertanyaan apakah rahasia kebangkita bisa terkuak padahla kita belum emngalami kematian. Masuk dalam dunia kebangkita tidak harus mengalami kematian fisik. Bangkit mempunyai arti: perubahan dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Kurang bersemangat menjadi bersemangat. Kurang peduli menjadi lebih peduli. Mengapa Tuhan mengijinkan manusia berada dalam keadaan yang kurang baik? Mari kita simak injil Yohanes.
Banyak dari kita yang pasti mengenal penyanyi kondang Nusantara, Ebiet G. Ade. Di era 1980-an, Ebiet begitu dikenal luas dengan lagu-lagu buah penanya sendiri. Penampilannya yang sederhana dan selalu ditemani gitar, serta lirik-lirik lagunya yang tidak biasa semakin membuat Ebiet menjadi seorang penyanyi yang ‘lain daripada yang ada’ pada masanya.
Selibat berasal dari kata Latin “Caecibatus” yang berarti “hidup tidak menikah”. Gereja Katolik Roma menuntut para imamnya untuk tidak menikah seumur hidup dan taat pada kemurnian pribadi dalam pikiran maupun dalam perbuatan. Selibat bukan suatu pokok iman Katolik, melainkan tuntutan hukum Gereja yang mengatur cita-cita tentang hidup klerus Katolik. Selibat harus dibedakan dari kaul para religius untuk tidak menikah.
