<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tahun Imam/Seputar Panggilan &#8211; Gereja Trinitas</title>
	<atom:link href="https://www.trinitas.or.id/kategori/pendalaman-iman/tahun-imamseputar-panggilan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.trinitas.or.id</link>
	<description>Paroki Cengkareng</description>
	<lastBuildDate>Wed, 31 Jan 2024 05:16:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2024/01/cropped-logo@2x-32x32.png</url>
	<title>Tahun Imam/Seputar Panggilan &#8211; Gereja Trinitas</title>
	<link>https://www.trinitas.or.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Surat Cinta Untuk Anakku</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/surat-cinta-untuk-anakku/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 07:13:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tahun Imam/Seputar Panggilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/surat-cinta-untuk-anakku/</guid>

					<description><![CDATA[Romoku Terkasih – Anakku, Hari ini dengan segala sukacitaku sebagai ibumu, aku menghantarmu menuju Altar Tuhan untuk menerima tahbisanmu menjadi Imam Kristus. Rasa haru dan bangga sekaligus takut terus bermain silih berganti dalam hatiku. Haru, karena engkau dengan segala tekadmu dapat mewujudkan impianmu untuk menjadi seorang Pastor.&#160; Bangga, karena engkau berani mengambil keputusan penting yang ... <a title="Surat Cinta Untuk Anakku" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/surat-cinta-untuk-anakku/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Surat Cinta Untuk Anakku">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Romoku Terkasih – Anakku,</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Hari ini dengan segala sukacitaku sebagai ibumu, aku menghantarmu menuju Altar Tuhan untuk menerima tahbisanmu menjadi Imam Kristus. Rasa haru dan bangga sekaligus takut terus bermain silih berganti dalam hatiku. Haru, karena engkau dengan segala tekadmu dapat mewujudkan impianmu untuk menjadi seorang Pastor.&nbsp; Bangga, karena engkau berani mengambil keputusan penting yang tidak main-main yang akan engkau jalani sampai akhir hidupmu mulai dari sekarang.&nbsp; Takut, karena aku sangat amat tahu bahwa engkau akan masuk ke dalam dunia serba modern yang penuh dengan godaan dan tantangan berimamat.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Anakku, aku mengenalmu sejak engkau masih kukandung. Aku masih ingat gerakan-gerakan nakalmu di dalam rahimku.&nbsp; Aku masih ingat segala pola tingkahmu yang lucu saat engkau merangkak, mulai berjalan, dan akhirnya pandai berlari. Aku masih ingat tawa ceriamu saat engkau mulai masuk sekolah.&nbsp; Aku masih ingat juga saat engkau malam-malam meminta Ayahmu dan aku supaya duduk tenang guna mendengarkan suaramu memohon izin dari kami – orangtuamu- untuk masuk ke Seminari.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">
<p><span id="more-779"></span></p>
<p>Sepuluh tahun kau gunakan untuk mengasah dan membentuk diri, mempertajam dan meyakinkan diri akan panggilan kudusmu. Begitu banyak persiapan yang engkau jalani supaya layak menjadi sepekerja dengan Yesus Kristus, untuk mampu memaklumkan Dia yang tersalib kepada lebih banyak lagi umat manusia, untuk dapat membawa penderitaan-penderitaan Kristus dalam tubuhmu sendiri.</p>
</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Anakku, sebagai seorang Oblat, engkau dituntut secara radikal untuk selalu mengikuti teladan Kristus yang telah hidup murni dan miskin, yang telah menebus dunia dengan ketaatanNya.&nbsp; Engkau dituntut untuk selalu hidup dengan cara hidup menurut nasihat-nasihat Injil.&nbsp; Engkau harus mampu hidup dalam Komunitas Oblat &#8211; bersama orang-orang lain yang kini kau sebut “saudara-saudara sekomunitas” &#8211; yang memiliki cara pandang dan pilihan hidup yang sama seperti dirimu.&nbsp; Engkau mengikat dirimu dalam kaul-kaul yang menawan: Kemurnian, Kemiskinan, Ketaatan, dan Kemantapan.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Dunia sekarang ini sungguh amat maju dalam segala hal. Kemajuan ini pun tak menutup kemungkinan akan memberikan dampak yang tak sedikit pada cara engkau menerapkan Kaul-Kaul Imamat yang telah kau ucapkan di hadapan Yesus Kristus. Seberapa engkau memahami dan mengambil sikap radikal pada penerapan Kaul-Kaul Imamat itu?</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Apakah engkau memahami sepenuhnya arti sebuah Kemurnian, Kekudusan, dan Kesucian diri?&nbsp; Bukan saja tubuhmu yang harus terus kau jaga untuk tetap murni, kudus, dan suci, tetapi juga hati, akal budi, dan pikiranmu perlu senantiasa kau arahkan untuk hal-hal demikian.&nbsp; Begitu juga dengan Kemiskinan yang engkau jalani. Miskin yang bagaimana?&nbsp; Karena aku memiliki pandangan bahwa Kemiskinan yang dituntut darimu adalah bukan saja kemiskinan harta benda, tetapi juga engkau harus miskin dalam penampilanmu, miskin dalam mengasihani dirimu sendiri, miskin dalam ketakutan untuk memerangi ketidak-adilan, miskin dalam ketidak-beranian mengatakan yang benar di atas ketidak-benaran, miskin hawa nafsu, miskin dalam bermegah dan berbangga diri.&nbsp; Ketaatan yang engkau emban di pundakmu bukan saja taat kepada Pemimpin-mu, melainkan justru yang utama adalah taat pada suara Roh Kudus yang bersemayam hatimu.&nbsp; Apakah engkau selalu mendengarkan Dia?&nbsp; Bagaimana engkau bisa mendengarkan Dia kalau engkau tidak selalu mengusahakan keadaan suci, murni dan kudus setiap saat?&nbsp; Kemantapan membawamu pada kesetiaan yang tak mudah goyah pada persatuan dengan saudara-saudaramu sekomunitas.&nbsp; Saling mendukung dan menopang dalam karya-karya kalian semua, saling menabur cinta dan belas kasih dalam hidup kalian.&nbsp; Saling mencintai dan menghormati, saling memberi dan mencontoh teladan ketaatan.&nbsp; Kekuatan persatuan kalian yang erat dan mantap akan membawa masing-masing dari kalian untuk mampu hidup setia walau banyak godaan dan masalah yang menerpa di perjalanan Imamat kalian.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Anakku, rendahkanlah dirimu selalu di hadapan Tuhan Yesus Kristus yang telah memilihmu untuk menjadi Kristus-Kristus yang lain.&nbsp; Kejarlah kesempurnaan sebagai seorang Oblat.&nbsp; Jangan pernah lupa untuk menemui Dia di setiap hari, &nbsp;seberapa pun sibuknya engkau. Usahakan untuk selalu duduk diam bersama Dia, mencari dan mengerti kehendakNya, menimba kekuatan dariNya, memohon ampun padaNya atas segala kekurangan dan kesalahan yang telah engkau perbuat, memohon kekuatan untuk lebih lagi dapat mengabdi Dia dengan baik.&nbsp; Ambil juga waktu untuk mau selalu masuk dalam rekoleksi dan kontemplasi batin, menyerahkan hatimu dan dirimu seutuhnya kepada Dia.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Salib Kristus yang besar tergantung megah di lehermu, terselip gagah di sabuk hitam pinggangmu, menjadi surat kepercayaan perutusanmu ke mana pun engkau ditugaskan pergi menjadi duta Tuhan Yesus Kristus.&nbsp; Jadilah laskar Kristus yang tangguh.&nbsp; Pandanglah dunia dengan mata Kristus yang tersalib, karena engkau pun telah menyalibkan dirimu bagi Dia yang telah menebusmu.&nbsp; Dengan semangat yang menyala-nyala, bergiatlah dalam menyelamatkan jiwa-jiwa, membawa mereka semua kepada kepenuhan penebusan Yesus Kristus.&nbsp; Jadilah nabi-nabi dunia baru, yang terus memberikan kesaksian keadilan dan kesucian Allah dengan menghadirkan Tuhan Yesus Kristus yang membebaskan karena kebangkitanNya di tengah-tengah mereka yang paling terlantar, miskin, dan tak terlayani. Tanggalkan dirimu, berikanlah hatimu seutuhnya demi kemuliaan Allah dan kebaikan Gereja.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Anakku, ibu hanya mampu mendampingimu dengan doa-doa yang lahir dari segala ketulusan dan kerendah-hatian ibumu, yang ibu bawa dan persembahkan di kaki Tuhan Yesus Kristus setiap harinya. Ibu hanya mampu berseru kepada Bunda Maria Imakulata untuk terus mendoakanmu, mendampingimu, memelukmu dalam rengkuhan kasihnya yang suci murni untukmu. Ibu selalu berharap agar engkau tak pernah habis-habisnya memiliki kemauan keras untuk terus setia dan taat kepada Konstitusi dan Aturan-Aturan Hidup komunitasmu. Jadilah seorang Oblat sejati hingga akhir hayatmu.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Teriring doaku selalu,</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Ibumu</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">(Kontribusi: S. Phanie Martino, Pecinta OMI Provinsi Indonesia)</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Dikutip dari: Majalah Caraka, Media Komunikasi Skolastikat OMI, Edisi November 2011 &#8211; Januari 2012 (www.omi-indonesia.org)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hidup Bersama, Bukan Sama-Sama Hidup</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/hidup-bersama-bukan-sama-sama-hidup/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 08:35:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tahun Imam/Seputar Panggilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/hidup-bersama-bukan-sama-sama-hidup/</guid>

					<description><![CDATA[Hakekat hidup membiara memberi tempat yang paling dasar pada Hidup Bersama (HB). Hidup bersama dalam membiara bukanlah sekedar hidup bersama sama dalam satu tempat, atau cuma sama sama hidup. Hidup bersama menyang-kut kesadaran akan suatu hidup yang dijalani bersama, demi satu tujuan bersama dan demi kebersamaan yang saling menghidupkan. Banyak hal yang telah kita bicarakan ... <a title="Hidup Bersama, Bukan Sama-Sama Hidup" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/hidup-bersama-bukan-sama-sama-hidup/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Hidup Bersama, Bukan Sama-Sama Hidup">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hakekat hidup membiara memberi tempat yang paling dasar pada Hidup  Bersama (HB). Hidup bersama dalam membiara bukanlah sekedar hidup  bersama sama dalam satu tempat, atau cuma sama sama hidup. Hidup bersama  menyang-kut kesadaran akan suatu hidup yang dijalani bersama, demi satu  tujuan bersama dan demi kebersamaan yang saling menghidupkan.</p>
<p><span id="more-729"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Banyak hal yang telah kita bicarakan sehubungan dengan HB ini. Akan  tetapi, rumusan yang kita kenal itu seringkali kandas dalam prakteknya.  Kita tetap mempunyai masalah dalam HB yang kita hidupi setiap hari. Kita  bahkan kehilangan akal untuk mewujudkan suatu HB yang sungguh  menyenangkan dan memberi semangat dalam membiara kita.</p>
<p style="text-align: justify;">HB menjadi kekuatan, semangat, gairah, motivasi, alasan bersyukur dan  sekaligus penerapan dari apa yang kita kejar dalam hidup nan suci yang  kita kejar. HB adalah pengungkapan paling awal dari segala rumusan suci  yang kita perjuangkan. HB bukanlah rumusan, melainkan praktek, latihan  dan akhirnya penghayatan. Kegagalan dalam HB berarti juga kegagalan di  tingkat yang paling dasar dalam Hidup Membiara kita.</p>
<p>Menangani HB berarti juga menangani Hidup membiara kita. Membenahi HB  berarti memperbaiki kualitas hidup kita sebagai biarawan baik secara  pribadi maupun secara komunal. Kesulitan dalam menangani HB biasanya  juga menjadi kesulitan dasar dalam Hidup Membiara, karena keduanya  sangat erat berkaitan. Menangani HB berarti juga menangani persoalan  psikologis dan social di antara kita. Kita mesti mengetahui apa yang  tesembunyi di dalam batin kita yang menjadi kekuatan dan kadang menjadi  kelemahan kita dalam mewujudkan HB yang baik di antara saudara setarekat  maupun di mana kita kita ditempatkan. </p>
<p> <strong>MENJADI BIARAWAN YANG SIAP HIDUP BERSAMA</strong> </p>
<p> Hidup dalam komunio merupakan jalan pertobatan yang memerlukan pilihan  terus menerus untuk berpegang pada identitas kita sebagai biarawan,  anggota Gereja. Dengan itu kita belajar saling mengampuni, mengasihi,  seperti Kristus mengasihi kita. Membangun persaudaraan, persahabatan,  menuntut banyak perjuangan. Latihan (askese) persahabatan pelan pelan,  jika ditekuni, akan membebaskan orang dari kekhawatiran akan diri  sendiri, hidup rohani sendiri, membawa kita pada kepenuhan sebagai  anak-anak Bapa.</p>
<p> </p>
<p style="text-align: justify;">Kita hidup untuk suatu cita-cita luhur menemukan kehendak Allah dalam  hidup kita. Kehendak Allah itu terjadi dalam pencarian bersama, dalam  ketekunan bersama dan dalam cara hidup tertentu yang dihayati bersama.  Dalam itu semua, saya menyediakan diri untuk dibentuk oleh pengalaman  sehari-hari bersama semua anggota yang lain yang menjadi anggota  setarekat dengan kita. Penemuan kehendak Allah bukanlah sesuatu yang  lain dari hidup senyatanya sehari-hari. Kita dibentuk Allah ketika kita  mempunyai masalah hubungan/relasi dengan saudari serumah. Kita mesti  membuat gerakan memperbaiki HB kita. <br /> Meskipun HB yang baik merupakan keharusan, tetapi memang harus diakui  sungguh amat tidak mudah menciptakannya. Kita tersandung pada  kepribadian kita masing-masing dan kepribadian teman-teman komunitas  kita. Sangat tidak mudah mengubah orang, tetapi mengubah diri sendiri  selalu mungkin.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, mulailah usaha memperbaiki HB dari diri sendiri. Ada hukum emas  yang dikatakan Yesus mengenai hal ini.”Kasihilah sesamamu seperti kamu  mengasihi dirimu sendiri..”(Mat.19:19). Kita harus menggunakan hukum  emas ini untuk mengatasi kelemahan dalam hidup bersama. Tuntutan yang  berlebihan pada orang lain sekomunitas seringkali bukanlah cara yang  tepat untuk memperbaiki hubungan. <br /> Mat.18:15-17</p>
<p style="text-align: justify;">18:15 &#8220;Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata.  Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">18:16  Jika ia tidak mende-ngarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi,  supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak  disangsikan.</p>
<p style="text-align: justify;">18:17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah  soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat,  pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang  pemungut cukai. </p>
<p> Rupa-rupanya, memberitahu, menasihati, memperingatkan juga menjadi  pemikiran Tuhan Yesus dan bahkan Ia memberikan juga caranya. Jangan  mempermalukan orang, berusahalah mengambil hatinya sampai ia menyadari  kesalahan dan memperbaiki sikapnya. Jika menemui kesulitan, mintalah  bantuan orang lain untuk menjadi penengah atau bahkan membantu  menyelesaikan masalah di antara kalian. Kalau tidak bisa diatasi, maka  kita perlu menyerahkannya kepada Tuhan, agar Ia sendiri yang mengatasi  kelemahan orang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai awal pertemuan, kita perlu melihat apakah yang dapat kita  lakukan untuk memperbaiki HB kita. Pertanyaannya harus dimulai dari diri  kita sendiri. Kita mesti insyaf bahwa kita juga pencipta masalah,  betapa pun kecilnya, dan harus mau memperbaiki diri. Beberapa pertanyaan  ini mungkin membantu kita: </p>
<p> 1. Apa persoalan pokok di dalam komunitas ku?</p>
<p style="text-align: justify;">2. Apakah aku sendiri menjadi penyebab kesulitan itu? Apa yang kulakukan atau kubuat sehingga menjadi masalah?</p>
<p style="text-align: justify;">3. Apakah aku merasa perlu memperbaiki diri, atau aku lebih sering menyalahkan orang lain?</p>
<p style="text-align: justify;">4. Siapa saja yang paling kurugikan dari sikap burukku itu? </p>
<p> <strong>KONSEKUENSI YANG TIDAK MUDAH</strong> </p>
<p> Yoh.13:10-11 <br /> Kata Yesus kepadanya: &#8220;Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh  diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya.  Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.&#8221;Sebab Ia tahu, siapa yang  akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: &#8220;Tidak semua kamu bersih.&#8221; </p>
<p> Pernyataan Yesus mendekati kisah sengsara-Nya amat penting bagi kita.  “Tidak semua kamu bersih”. Ini suatu pernyataan yang manusiawi dan amat  mendasar terjadi di antara kita semua. Tidak semua kita bersih, begitu  juga kita secara pribadi tidak seluruhnya baik. Teman-teman kita juga  tidak semua sudah jadi dan baik. Selalu ada kekurangan dalam satu  komunitas besar, seperti juga di dalam setiap pribadi ada kekurangan  itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Yesus tahu bahwa Yudas orang yang akan mengkhianati-Nya. Ia bukanlah  murid yang baik bagi-Nya. Yudas adalah wakil dari semua orang yang  mengingkari komunitasnya. Ia bukanlah orang yang setia dan menjadi musuh  dalam selimut bagi persatuan di antara mereka. Akan tetapi Yudas  bukanlah satu-satunya. Petrus juga mempunyai kelemahan yang cukup fatal:  Tidak berani mengakui keterlibatannya dengan Yesus di depan publik,  padahal hal itu penting bagi identitasnya. Yohanes juga mungkin sebagai  murid yang paling dikasihi Tuhan merupakan orang yang terlalu  melankolis, yang tidak cukup berani berkonflik dengan orang lain demi  imannya. Murid-murid yang lain pun pasti mempunyai kepentingan yang bisa  saling bertentangan satu sama lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi Yesus membiarkan komunitas-Nya tidak ideal. Ia tetap  memberikan teladan penerimaan luar biasa atas keadaan itu. Ia tahu bahwa  hal terpenting adalah membaiarkan para murid-Nya hidup dalam kelebihan  dan kekurangan sementara mereka belajar hidup baik dari-Nya yang  sempurna. Teladan kesempurnaan itu diawali dengan menerima para murid  dalam kasih dan pelayanan. Yesus membiarkan diri-Nya menjadi contoh  pelayan yang baik, tanpa pamrih, yang mengampuni, dan yang tanpa syarat  mengasihi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan para murid belajar itu dari Yesus. Dalam kekurangan mereka belajar  untuk hidup seperti Yesus. Mereka belajar menerapkan kebaikan Yesus  kendati mereka menemui kesulitan berkaitan dengan diri mereka  masing-masing. Yesus tidak meninggalkan dendam atau penilaian atas para  murid-Nya. Ia meninggalkan kenangan akan Guru yang Mahatahu, tetapi  Mahapengampun juga. Seorang yang tahu bagaimana membalas kejahatan atau  kelemahan dengan kasih tanpa syarat yang menyembuhkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mampukah kita menerapkan teladan ini? Berhadapan dengan para anggota  yang lain, mungkin semangat kita melulu mengubah orang lain agar semakin  seperti yang kita impikan. Kita ingin membangun komunitas ideal,  seperti yang kita idealkan, seperti yang kita impikan, tetapi tidak mau  tahu apakah orang lain siap untuk mengikuti semangat kita. Atau apakah  yang kita anggap baik itu sungguh-sungguh baik menurut kebanyakan orang.  Kelemahan pertama dari seorang anggota komunitas adalah merasa diri  paling benar dan menuntut kebanyakan orang untuk bertindak dan bersikap  seperti yang dia inginkan. <br /> Seorang biarawati mengeluh tentang komunitasnya yang tidak pernah  bersahabat dengan dia. Setiap kali ia mengeluh bahwa teman-temannya  tidak pernah mendukungnya. Mereka menginginkannya keluar dari panggilan  dan mereka menjelek-jelekkan namanya di belakangnya. Ia sangat sedih dan  merasa ditolak, padahal ia sudah selalu berusaha untuk menerima banyak  pekerjaan yang diberikan kepadanya. Ia tak habis mengerti mengapa orang  membencinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berhadapan dengan orang seperti ini, kita mesti melihat bagaimana sikap  hidupnya sendiri. Penting melihat bagaimana orang ini berbicara,  memutuskan, berpikir, menganalisa masalah, sampai mencari tahu mengapa  banyak orang tidak suka padanya. Biasanya kalau kebanyakan orang tidak  suka menunjukkan bahwa seseorang harus lebih dulu menganalisa dirinya.  Ia harus lebih dulu melakukan introspeksi diri. Hal yang pertama ini  wajib dilakukan sebelum menganalisa kesalahan komunitas atas diri orang  itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita berhadapan dengan konsekuensi hidup dalam biara. Hidup kita  dicampur dengan orang lain yang semula tidak kita inginkan, tidak kita  impikan, tidak kita pilih, berlatar belakang lain, tetapi harus dapat  bekerjasama dengan kita. Kita menghadapi konsekuensi membuat harmonisasi  diri dengan orang lain yang baru kita jumpai dalam keadaan “sudah jadi”  atau telah dewasa, bukan anak-anak yang bisa kita kuasai, pengaruhi  atau kendalikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap kerdil yang mau menang sendiri; mau mendahulukan kepentingan  sendiri; mau dimengerti, tetapi kurang mau mengerti orang lain; suka  merajuk; pendendam; suka menyendiri adalah tanda-tanda awal kekurangan  dalam kecakapan HB. Ingatlah, salah satu bentuk pertobatan kita yang  mahapenting adalah menjadi semakin cakap dalam bergaul dan bekerja sama.  Kita mesti berubah, mengenal dan mau bermatiraga untuk meraih  kesuksesan hidup membiara kita. </p>
<p> <strong>MENGUSAHAKANNYA SECARA PRIBADI</strong> </p>
<p> Usaha secara pribadi hanya akan berhasil bila komunitas pun mau membantu  seseorang untuk berkembang dan mengolah hidupnya. Hidup membiara selalu  menuntut siapapun yang berada di dalamnya untuk mau berubah dan  mengolah hidupnya. Dan untuk mengolah itu kita tidak hanya membutuhkan  usaha, dan kemauan pribadi saja. Kita membutuhkan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Hidup kita selalu sedang berubah dan dibentuk oleh Allah. Allah  membentuk lewat banyak hal, salah satu dan terbaik adalah melalui para  pendamping, pembimbing dan pemimpin kita. Kita selalu sedang belajar  untuk hidup lebih baik sebagai seorang religius, maka kebutuhan akan  bimbingan menjadi selalu “up to date” bagi kita, tanpa memperhatikan  posisi dan status kita. Pada dasarnya kita selalu membutuhkan orang lain  bukan hanya untuk bekerja sama dalam karya, melainkan juga dalam  pembentukan pribadi kita agar semakin sesuai dengan kehendak Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesulitan kita mempunyai dasar pada kebutuhan yang tanpa sadar selalu ingin kita penuhi dan selalu kita usahakan seperti:</p>
<p style="text-align: justify;">• Menuntut perhatian dan cinta dari orang lain <br /> • Perfeksionis pada diri sendiri (menuntut terlalu banyak diri sendiri) <br /> • Takut gagal (segala usaha diarahkan pada keberhasilan) <br /> • Dihantui sukses orang lain (semangat berkompetisi) <br /> • Menghindari tanggung jawab (tidak PD atau meremehkan) <br /> • Terlalu sensitive (peka berlebihan)</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mengatasinya, kita perlu mengadakan usaha: <br /> • Secara langsung berusaha mengadakan “agere contra” (mengatasi diri sendiri) <br /> • Substitusi, mengganti kebutuhan yang kurang sehat dengan yang lebih sehat <br /> • Menerima kekurangan diri dan mau dibentuk (membangun keterbukaan) <br /> • Mengingat sukses diri jika kita mengalami keputusasaan atau rendah diri berlebihan. </p>
<p> Pengenalan diri dan pengolahan secara berkala menjadi keharusan untuk  usaha menjadi anggota komunitas yang baik. Kelemahan kita masing-masing  berbeda seperti juga kekayaan kita. Maka perlulah mengenali keduanya,  supaya kita dapat memberikan yang terbaik bagi saudari serumah dan  kemudian sesama yang kita layani. Ingatlah kembali kemampuan kita  bergaul dan hidup bersama saudari serumah adalah miniatur yang akan  mengajar kita hidup baik juga di tengah umat yang kita layani. </p>
<p> • Beberapa hal yang perlu juga kita perhatikan adalah penghalang-penghalang pergaulan kita. Penghalang-penghalang itu adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Kurang tanggung jawab <br /> 2. Pembantah atau pendebat <br /> 3. Over – egois <br /> 4. Omong kasar <br /> 5. Sok dan sombong <br /> 6. Selalu ingin tahu dan turut campur urusan orang lain <br /> 7. Agresif </p>
<p> • Dan beberapa sifat di bawah ini membantu kita untuk menjadi anggota komunitas yang lebih baik, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Berpikir yang baik akan orang lain (positive thinking) <br /> 2. Berbicara yang baik <br /> 3. Rela mengulurkan tangan <br /> 4. Memperkaya diri dengan macam-macam minat bersama dengan orang lain <br /> 5. Pandai menyesuaikan diri <br /> 6. Bersikap wajar <br /> 7. Membangun ekspresi segar <br /> 8. Ramah dan peka pada kebutuhan orang lain. </p>
<p> <strong>• Refleksi:</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Apa yang menjadi masalahku yang utama dalam HB?</p>
<p style="text-align: justify;">2. Kemungkinan apa yang dapat aku capai untuk merubah cara hidupku agar semakin mendukung HB?</p>
<p style="text-align: justify;">3. Siapa yang dapat ku mintai tolong mengatasi kesulitan HB ku? </p>
<p> <strong>MENGUSAHAKANNYA BERSAMA-SAMA</strong></p>
<p style="text-align: justify;">HB yang baik diusahakan bersama-sama. HB yang baik adalah buah dari  kesungguhan setiap anggotanya untuk menciptakan suatu hidup yang  menyenangkan yang saling mengerti, menerima dan mengasihi. Kita adalah  saudara se-Bapa, bahkan sebelum kita berada dalam satu komunitas.  Persaudaraan hanya mungkin kalau pemahaman akan persaudaraan bersama ini  dimengerti bersama-sama. Persaudaraan hanya mungkin kalau kita  masing-masing dekat dengan Allah dalam hidup rohani yang terpelihara.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang bisa mengalami kesulitan dalam hidup komunitasnya. Akan tetapi,  kalau hidup rohaninya baik dan terpelihara, orang itu akan lebih mudah  dibentuk, diarahkan dan diubah menjadi lebih baik sebagai anggota  komunitasnya, atau secara lebih luas, sebagai anggota tarekatnya.  Kedekatan dengan Allah membuat orang menjadi lebih peka juga pada  sesamanya. Kedekatan ini membuat orang lebih mudah mengenali peristiwa  hidupnya, sehingga kalau pun ia jatuh, mudah untuk kembali atau  memperbaiki.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita mungkin sering menjumpai anggota komunitas yang menjadi “trouble  maker” atau pembuat masalah. Orang seperti ini biasanya ditandai juga  dengan hidup rohani yang tidak seimbang. Kalau pun ia hadir dalam setiap  acara rohani komunitas, kehadirannya sekedar ikut, sedangkan ia sendiri  secara pribadi mempunyai persoalan dengan keheningan, ketekunan, atau  mungkin malah dengan panggilannya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang awam di luar biara sering menduga bahwa hidup di dalam biara  adalah sesuatu yang mustahil dan penuh konflik. Sangat sulit  membayangkan hidup dalam satu keterikatan satu sama lain tanpa konflik,  tanpa masalah. Akan tetapi, sungguh bisa terjadi apa yang dibayangkan  oleh orang awam bahwa kehidupan kita mustahil diwujudkan, kalau kita  tidak mengusahakannya bersama-sama. Kita lah yang bertugas membuktikan  bahwa hidup religius dalam suatu komunitas itu masih relevan di dunia  yang penuh kompetisi dan individualitas ini. Kita tidak mengatakan  sesuatu yang lain dari yang kita hayati, atau kita cuma akan  ditertawakan orang karena mewartakan sesuatu yang sesungguhnya bagi kita  sendiri adalah lelucon atau kemustahilan.</p>
<p style="text-align: justify;">Harus ada suatu system yang terencana dan terstruktur untuk menciptakan  HB yang sehat dan selalu mau memperbaharui diri. Kita selalu sedang  berubah dan bertobat bersama-sama. Kita mesti menciptakan suasana yang  kondusif untuk perkembangan diri kita sebagai pribadi yang terpanggil  dan sebagai komunitas yang menjadi saksi kehadiran Allah di dunia  sekarang ini. Keengganan salah satu saja untuk membaharui hidupnya,  sudah cukup membuat seluruh komunitas mempunyai masalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sr. Corrina beberapa hari tidak mau berbicara dan dalam rekreasi bersama  menunjukkan sikap tidak bersahabat. Rekan sekomunitas tidak tahu  masalah sebenarnya. Hanya Sr.Hermina yang tahu masalah sebenarnya.  Sr.Corrina ingin memperoleh sepatu sandal yang baru, karena sepatu  lamanya sudah kusam dan dua kali dijahit. Ia ingin Sr.Hermina sebagai  Piko mengetahui hal ini. Mestinya ia ingin tidak usah mengatakan, tetapi  Piko yang mengerti. Latar belakang keluarga yang tidak mampu membuatnya  malu meminta. Ia tidak ingin di cap peminta atau penuntut. Akan tetapi,  ia kesal ketika tahu bahwa tak kunjung muncul tawaran untuk sepatu baru  itu. Maka ia memilih diam.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu ini cara seorang yang belum dewasa. Cara yang kekanak-kanakan ini  bermula dari persoalan kecil, tetapi akan menjadi besar kalau tidak  ditangani. Bukan peristiwa atau kasusnya, melainkan sikap dasar suster  itu. Ketidakdewasa-an seperti ini bukan hanya merongrong HB, tetapi  sebetulnya merongrong kesetiaan orang dalam panggilannya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka perlulah system pengolahan bersama itu dilakukan secara kontiniu.  Masalah seorang mesti menjadi pemikiran bersama, tanpa prasangka, tanpa  keinginan menjatuhkan atau menyingkirkan, sentimen pribadi. Ingatlah  bahwa dalam satu komunitas, satu tarekat, nama kita dibangun  bersama-sama. Kebaikan kita adalah kebaikan setiap anggota masing-masing  yang menciptakannya. Nama baik tidak dibangun sendiri melainkan  tanggung jawab bersama. Kalau kita membicarakan kejelekkan saudari  serumah, kita seperti sedang mengoyak diri kita sendiri. Sebagai anggota  tarekat, kita tidak bisa merasa baik sendiri. Kejelekan satu orang  bukanlah bahan omongan yang baik untuk mempertahankan nama baik diri  sendiri, karena nama kita juga sudah termasuk dalam bagian komunitas  yang lebih besar yaitu tarekat kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Pupuklah tanggung jawab itu di dalam diri kita bersama-sama.  Berusaha-lah menciptakan komunikasi yang sehat di antara kita.  Komunikasi seperti ini hanya mungkin kalau orang saling percaya,  menghormati, dan mencintai satu sama lain. Jangan putus asa, percaya lah  bahwa kita mampu melakukannya bersama-sama, atau sekali lagi hidup  membiara kita tingga ideal yang tak pernah relevan dengan hidup sekarang  ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di akhir bagian ini, mungkin baik juga kita sejenak mengingat keberadaan  kita sebagai laki laki. Kita mempunyai karakteristik yang unik dalam  bergaul dan bekerjasama. Kita hidup dalam kerinduan akan kehangatan,  kemesraan relasi, perhatian, perasaan diterima dan didengarkan.  Kebutuhan ini meskipun besar tetap menjadi sesuatu yang tidak mudah kita  ekspresikan. Meskipun demikian, segala sesuatu menjadi lebih  menyenangkan kalau kita mendapati komunitas kita mencukupi kita dengan  kebutuhan-kebutuhan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi juga harus diingat kebutuhan kita untuk menjadi diri  sendiri. Ke-manusia-an kita menuntut untuk hidup dalam keserasian dengan  semua orang. Kita ingin agar relasi kita beres-beres saja. Akan tetapi  keinginan ini kurang realistis. Salah satu kebutuhan yang harus kita  perhatikan juga adalah menjadi diri sendiri dan menyumbangkan kekayaan  kita yang sejati. Kita tidak perlu bermimpi semua orang menyukai kita.  Cukuplah kalau kita dapat bergaul dan bekerja sama dengan kebanyakan  anggota komunitas kita. Jika terjadi kebalikannya, barulah kita coba  melihat apa yang perlu kita benahi. </p>
<p> <strong>Refleksi:</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Apa masalah dalam komunitas kita berkaitan dengan komunikasi di antara kita?</p>
<p style="text-align: justify;">2. Bagaimana usaha yang sudah kita buat bersama untuk menciptakan pembaharuan yang baik bersama-sama?</p>
<p style="text-align: justify;"> <em>Catatan : artikel ini disampaikan oleh Romo Alexander Erwin Santoso, MSF saat pertemuan Bruder muda FIC di Semarang 17 November 2007.</em></p>
<p style="text-align: justify;">(Sumber: Situs Bruder FIC &#8211; www.bruderfic.or.id)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aku Belajar Dari Awam Dalam Menghayati Kaul Biara</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/aku-belajar-dari-awam-dalam-menghayati-kaul-biara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 08:46:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tahun Imam/Seputar Panggilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/aku-belajar-dari-awam-dalam-menghayati-kaul-biara/</guid>

					<description><![CDATA[Frater Oratus menceritakan bagaimana ia sekarang khusyuk berdoa pribadi dengan Yesus.  Ia mengakui bahwa ia belajar banyak dari seorang ibu dan bapak yang ia lihat di gereja tiap pagi.  Bapak dan ibu itu setelah Misa selalu masih berlutut di depan Sakramen Mahakudus.  Mereka sangat khusyuk berdoa.  Frater Oratus, yang tadinya kadang malas dalam doa pribadi, ... <a title="Aku Belajar Dari Awam Dalam Menghayati Kaul Biara" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/aku-belajar-dari-awam-dalam-menghayati-kaul-biara/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Aku Belajar Dari Awam Dalam Menghayati Kaul Biara">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Frater Oratus menceritakan bagaimana ia sekarang khusyuk berdoa pribadi dengan Yesus.  Ia mengakui bahwa ia belajar banyak dari seorang ibu dan bapak yang ia lihat di gereja tiap pagi.  Bapak dan ibu itu setelah Misa selalu masih berlutut di depan Sakramen Mahakudus.  Mereka sangat khusyuk berdoa.  Frater Oratus, yang tadinya kadang malas dalam doa pribadi, menjadi tertarik dan terpacu dengan melihat bapak dan ibu itu.  &#8220;Ternyata dorongan untuk tekun berdoa aku peroleh dari hidup doa sepasang awam.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Suster Setiarini suatu hari mulai bosan di biara.  Banyak soal dialami, entah di komunitas, di perutusan, dan dalam hidup pribadi.  Ia mulai sedikit merasa kering.  Kadang terpikir dalam hati untuk mundur dari kongregasi.  Pada waktu ia mau memikirkan niatnya itu, ia tinggal di rumah orang tuanya yang sudah tua.  Selama seminggu di rumah, ia menimba banyak semangat dari kedua bapak ibunya, yang ternyata mereka saling setia.  Meski kadang banyak persoalan dialami, tetapi mereka tetap setia.  Pulang dari libur di rumah, Sr. Setiarini menjadi mantap untuk tetap setia dalam kongregasi.  Ia bersyukur atas teladan hidup orangtuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><span id="more-703"></span></p>
<p>Bruder Pauperius mengungkapkan bagaimana ia belajar hidup sederhana di kongregasi dari kakaknya yang berkeluarga.  Kakaknya adalah seorang guru SMP.  Kakak dan istrinya adalah pekerja giat.  Yang menarik bagi Bruder adalah bahwa kedua kakaknya hidup sederhana.  Rumahnya biasa.  Meski mereka dapat berpesta-pesta, tetapi mereka tidak membuatnya.  Meskipun dapat membeli macam-macam barang, mereka tidak melakukannya.  Prinsip mereka adalah, bila suatu barang itu tidak berguna bagi kehidupan mereka, meski itu baik, mereka tidak mau membelinya.  Dengan prinsip itu ternyata mereka sekeluarga lebih gembira dan tenang.  Semangat hidup sederhana yang real itu sangat mempengaruhi bruder, sehingga bruder semakin dapat menghayati kaul kesederhanaan dengan lebih mantap dan gembira.</p>
<p style="text-align: justify;">Pastor Dermawansa sangat heran dengan sikap Bapak Jefri, seorang anggota Dewan Paroki yang sangat dermawan.  Pak Jefri orangnya mudah menolong siapa pun di paroki itu.  Setiap ada kematian umat Lingkungannya, ia datang membantu, setiap ada orang membutuhkan bantuan dia menolong dengan penuh semangat.  Ia dengan mudah juga meminjamkan kendaraan dan beberapa peralatan yang dipunyai untuk kepentingan Gereja dan kegiatan Mudika.  Meski sebenarnya sibuk dengan perusahaannya, ia selalu hadir dalam rapat Dewan dan idenya sangat banyak untuk mengembangkan kehidupan Gereja, terutama generasi muda.  Bila dimintai pertolongan, ia selalu menyisihkan waktu untuk membantu.  Ia tidak kikir dengan waktu dan dana bagi kepentingan umat Paroki.  Pastor Dermawansa yang masih muda melihat Pak Jefri menjadi tertarik dan kagum.  Dan bukan hanya tertarik, tetapi kemurahan hati Pak Jefri bagi kehidupan Gereja itu mempengaruhi sikapnya.  Pastor Dermawansa belajar lebih memberikan diri bagi kehidupan umat lewat teladan Pak Jefri.</p>
<p style="text-align: justify;">Frater Taatius pernah mengalami rasa berat karena harus taat kepada pembesarnya.  Menjadi sangat berat karena ia merasa benar dan mempunyai ide cemerlang, sedangkan ide pemimpinnya tidak cemerlang.  &#8220;Bagaimana aku dapat menaati pembesarku yang kurang benar?&#8221; demikian suatu hari ia mengeluh.  Suatu hari ia bertemu dengan mantan temannya di SMP dulu yang sekarang menjadi militer.  Dalam pembicaraan sekitar 2 jam yang relax, ia akhirnya dapat mengerti bahwa di militer ternyata ketaatan itu menjadi unsur sangat penting.  Temannya harus taat pada pemimpinnya meski ide pimpinan kadang juga kurang hebat dibandingkan idenya.  Frater juga pernah bertemu dengan temannya yang bekerja di perusahaan swasta, ternyata di sana ia dituntut ketaatan yang besar juga.  Sejak itu ia lebih mudah untuk menaati pimpinannya apa pun yang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Suster Tabahita mempunyai pengalaman yang sungguh meneguhkan panggilannya, yaitu waktu live in di suatu keluarga di desa.  Keluarga itu masih keluarga muda, tidak kaya, dengan 2 anak.  Yang menarik bagi suster adalah keluarga ini begitu tabah menghadapi banyak cobaan dan tantangan hidup.  Mereka menghadapi suami di PHK dari perusahaan karena bangkrut, anaknya yang kecil sakit leukemia yang sepertinya sulit disembuhkan.  Semua ini menjadi beban tersendiri yang harus dipikul.  Namun mereka kelihatan tabah, pegangannya adalah pada Tuhan sendiri, yang selalu mereka mintai tolong dan kekuatan tiap hari.  Dari live in Sr. Tabahita menjadi semakin kuat, dan tidak mudah cengeng bila mengalami tantangan dalam hidup maupun perutusan.  &#8220;Ada banyak orang yang hidupnya lebih berat dari aku, dan mereka tabah, maka aku juga harus kuat,&#8221; demikian refleksinya.</p>
<p style="text-align: justify;">BELAJAR HIDUP DARI AWAM</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa teman kita di atas mempunyai pengalaman belajar hidup dan menghayati hidup membiara dari teman-teman awam, entah dari orang tua, saudara, teman, dan orang lain.  Nampak peran awam sangat besar dalam membantu mereka mengembangkan dan meneguhkan hidup panggilan mereka, terlebih dalam situasi yang tidak mudah.  Hidup awam yang sungguh baik dan bersemangat Kristus memberikan kekuatan dan juga peneguhan bagi mereka yang tadinya belum mantap dalam hidup membiara mereka.  Ada yang belajar berdoa khusyuk, ada yang belajar hidup setia, hidup sederhana, belajar memberi secara tuntas, belajar taat, dan belajar mencinta sungguh-sungguh dari rekan awam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pengalaman kita semua kiranya kita dapat mengiyakan bahwa kita dapat hidup membiara seperti sekarang dan menjadi lebih kuat, tidak lepas dari peran rekan awam selama proses formasi sampai kita berkarya sekarang ini.  Kiranya jelas bahwa sebagai sesama umat Allah dalam Gereja, kita dapat saling belajar untuk meneguhkan panggilan kita masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">BANTUAN AWAM DALAM FORMASI</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pengalaman di atas, kiranya dalam formasi, kita dapat melibatkan awam dalam pembentukan semangat kaum biarawan-biarawati.  Untuk itu meman perlu dibuat langkah-langkah yang nyata, dalam hal apa kita minta bantuan awam dan dalam hal apa mereka dapat dilibatkan.  Beberapa hal kiranya dapat dipikirkan antar lain:</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pembentukan kedewasaan manusiawi: Proses formasi yang awal adalah membantu calon untuk mengembangkan kedewasaan manusiawi mereka.  Mereka perlu dibantu untuk menjadi orang dewasa secara manusiawi.  Hal ini meliputi kedewasaan fisik, psikologis, sosial, afeksi, kognitif, dll.  Dalam proses pelatihan dan pengembangan kedewasaan ini kiranya banyak awam dapat dilibatkan untuk mebantu.  Di luar biara sekarang ini banyak pusat atau pelatihan untuk menantang kedewasaan orang muda. Kiranya kita dapat mempertimbangkan untuk juga meminta bantuan profesional dalam hal ini, sehingga calon kita dapat dibantu lebih mantap dan terarah dalam pembentukan kedewasaan pribadi manusia.  Beberapa awam ahli psikologi, ahli pendampingan kelompok sosial, ahli pelatihan outbound, ahli pengaturan manajemen diri, dapat dipertimbangkan untuk membantu kita.  Apalagi tenaga formasi kita biasanya tidak banyak dan juga ketrampilan dan keahliannya terbatas.  Jasa ahli awam kiranya dapat digunakan.  Kebutuhan live in di masyarakat, kebutuhan live in di keluarga, pelatihan hidup sederhana dan pelatihan daya tahan, dapat meminta bantuan rekan awam.  Dari pengalaman lapangan, rekan awam biasanya dengan senang hati membantu kebutuhan formasi bagi calon biarawan dan pastor.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebutuhan peningkatan keahlian non-teologis/rohani:  Mengingat kebutuhan hidup dan karya, banyak dari kita harus meningkatkan ketrampilan dan keahlian dalam berbagai bidang yang dibutuhkan seperti keahlian mengajar, keahlian manajemen, keahlian keuangan, keahlian kesehatan, dan lain-lain.  Sangat jelas kita tidak akan dapat memenuhi dan melatih hal itu sendirian.  Kita harus mintabantuan ahli-ahli awam yang memang banyak berkecimpung dan menangani hal-hal di atas.  Maka kita pun harus terbuka untuk minta bantuan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sharing hidup keluarga dengan nilai-nilai Kristianinya:  Di dalam formasi awal (novisiat dan postulat), kadang sangat dibutuhkan pengertian yang realistik dan juga sharing hidup berkeluarga dari orang yang memang menjalankannya dengan baik.  Bagaimana hidup berkeluarga, persoalan-persoalan yang dihadapi, nilai-nilai kesetiaan dan Kristiani keluarga, diperlukan agar calon memang memahami hidup berkeluarga secara baik dan tepat. Dengan pemahaman itu mereka dapat membandingkan dan mensejajarkan hidup panggilan mereka dengan panggilan hidup keluarga.  Dari berbagai pengalaman, calon dapat diperkuat tentang panggilannya justru karena dapat menerima dan menghargai panggilan hidup berkeluarga.  Apalagi bila yang ber-sharing dapat juga mengungkap nilai-nilai kesetiaan, kasih, kesederhanaan, ketaatan, kedewasaan, tanggungjawab, dan kesucian dalam keluarga yang juga ada di biara, akan sangat membantu mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">BAGAIMANA MEMILIH FORMATOR AWAM</p>
<p style="text-align: justify;">Persoalan yang kiranya perlu dipertimbangkan matang oleh para formator dan kongregasi adalah bagaimana memilih awam yang ingin dilibatkan dalam proses formasi?  Kriteria apa yang akan kita gunakan untuk memilih mereka, sehingga bantuannya sungguh dapat meningkatkan hidup dan panggilan calon.  Menurut saya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:</p>
<p style="text-align: justify;">1.  Bila yang diminta adalah personal: Beberapa awam kita minta untuk membantu formasi secara pribadi bukan sebagai kelompok institusi.  Mereka kita minta karena mempunyai kompetensi, keahlian, ketrampilan yang dapat membantu proses formasi calon kita.  Untuk bantuan yang lebih personal ini perlu diperhatikan antara lain:</p>
<p style="text-align: justify;">a.  Kompetensi awam: Apakah mereka mempunyai kompetensi yang kita butuhkan?  Apakah mereka ini mempunyai keahlian khusus, ketrampilan khusus, yang memang kita butuhkan bagi perkembangan calon.  Misalnya, ahli musik yang akan melatih calon; ahli bahasa Inggris yang dibutuhkan calon; psikolog yang dimintai mengetes karakter dan daya tahan calon; dokter atau perawat yang akan membantu menjelaskan tentang kesehatan atau seksualitas secara medis; ahli pidato yang akan mengajari berpidato di depan orang banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">b.  Hidup dan karakternya baik: Oleh karena ini bantuan untuk formasi yang kadang sangat memerlukan keteladanan hidup, maka perlu juga dipertimbangkan kehidupan dan karakter awam yang kita mintai tolong.  Apakah secara umum hidupnyab aik, tidak banyak skandal, tidak menjadi soal di masyarakat?  Bila dia Katolik, minimal menghidupi kekatolikannya secara baik.  Kadang memang orangnya ahli, tetapi karena hidupnya kurang bersih di masyarakat, lalu dapat berdampak jelek bagi calon karena calon kita kadang belum sangat kritis.</p>
<p style="text-align: justify;">c.  Menghargai hidup membiara:  Ada baiknya juga bila awam yang kita mintai tolong itu memang juga punya penghargaan pada hidup membiara.  Hal ini penting karena mereka kita mintai bantuan untuk ikut mendidik dan mengembangkan calon yang mau hidup membiara.  Bila dia anti hidup membiara atau terlalu sinis, dampaknya akan lebih jelek bagi calon.  Salah-salah ia tidak menyemangati calon untuk setia dalam biara, tetapi malah membakar untuk keluar semua!</p>
<p style="text-align: justify;">2.  Bila yang diminta adalah institusi/badan: Kadang kita tidak minta sebagai pribadi tetapi sebagai institusi atau kita menitipkan calon kita dalam institusi tersebut.  Misalnya calon kita kuliahkan di institusi itu, atau dikursuskan dalam institusi tersebut. Untuk ini perlu diperhatikan beberapa hal antara lain:</p>
<p style="text-align: justify;">a.  Institusi dan programnya bermutu.  Kita perlu melihat dan memilih institusi yang bermutu yang memang dapat membantu kebutuhan peningkatan calon kita.  Institusi bermutu berarti pengelolaannya baik, programnya yang ingin kita ambil juga baik.  Bila itu institusi sekolah penting kita lihat apakah terakreditasi baik atau tidak; diakui oleh pengguna lulusan atau tidak.  Kadang ada kongregasi yang asal menitipkan calonnya untuk kuliah di suatu institusi, yang ternyata di situ tidak ada proses belajar mengajar karena hanya merupakan institusi pencetak sertifikat dan ijazah aspal.  Maka calon tidak akan mendapatkan tambahan pengetahuan dan ketrampilan, sehingga setelah lulur tidak dapat melakukan apa-apa juga.  Maka kongregasi dirugikan.</p>
<p style="text-align: justify;">b.  Ada tempat dan dukungan untuk mengembangkan hidup biara: Yang tidak kalah penting adalah apakah di situ dan di sekitarnya ada tempat atau suasana yang juga mendukung hidup membiara calon.  Hal ini penting agar calon tetap kuat panggilannya meski belajar atau kursus di tempat itu.  Kadang kongregasi harus berani memutuskan yang terbaik bagi calon.  Dapat terjadi bahwa institusinya bermutu, tetapi di sekitar itu tidak ada dukungan untuk hidup membiara; maka perlu dipilih institusi lain yang mungkin rankingnya kedua, tetapi situasinya mendukung untuk panggilan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jelas kita dapat saling belajar dari kaum awam, baik dalam hal kompetensi dan nilai-nilai kehidupan.  Kita dapat bahkan menjadi semakin kuat dalam hidup membiara, karena dukungan dan bantuan kaum awam.  Maka penting bila kita terbuka untuk kerjasama itu, terutama kerjasama dalam meningkatkan mutu panggilan masing-masing.  Dan dalam hal formasi, proses kerjasama ini pun sudah dapat dimulai, dengan melibatkan beberapa awam untuk membantu proses formasi. (Paul Suparno, SJ)</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: Majalah Rohani No. 06, Tahun Ke-58, Juni 2011</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untuk Siapakah Aku Memakai Jubah?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/untuk-siapakah-aku-memakai-jubah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 04:52:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tahun Imam/Seputar Panggilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/untuk-siapakah-aku-memakai-jubah/</guid>

					<description><![CDATA[UNTUK SIAPAKAH AKU MEMAKAI JUBAH? (perlu dibaca oleh seorang imam &#8211; tak ada salahnya direnungkan oleh semua umat) “Sekarang kami memanggilmu, Romo Bargowo&#8230;,” begitulah sahabat, kenalan dan tetangga serta keluarga memanggil Bargowo, si anak bungsu yang tampan, pintar nan lincah itu. Upacara pentahbisan imam untuk Bargowo baru saja usai. Segenap keluarga dan handai taulan tampak ... <a title="Untuk Siapakah Aku Memakai Jubah?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/untuk-siapakah-aku-memakai-jubah/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Untuk Siapakah Aku Memakai Jubah?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">UNTUK SIAPAKAH AKU MEMAKAI JUBAH?</p>
<p style="text-align: left;">(perlu dibaca oleh seorang imam &#8211; tak ada salahnya direnungkan oleh semua umat)</p>
<p style="text-align: left;">“Sekarang kami memanggilmu, Romo Bargowo&#8230;,” begitulah sahabat, kenalan dan tetangga serta keluarga memanggil Bargowo, si anak bungsu yang tampan, pintar nan lincah itu. Upacara pentahbisan imam untuk Bargowo baru saja usai. Segenap keluarga dan handai taulan tampak begitu bergembira. Tak henti-hentinya orangtua Romo Bargowo menerima ucapan selamat atas pentahbisan anaknya yang sungguh membuat bangga keluarga itu. Semua orang memuji-muji orangtua Romo Bargowo yang telah berhasil mendidik dan mempersembahkan anaknya bagi Gereja.</p>
<p style="text-align: left;">Upacara pentahbisan telah usai. Hari-hari sibuk dijalani oleh Romo Bargowo dengan sederet “Safari Misa Perdana” di mana-mana, mulai dari sekolah TK-nya dulu sampai Paroki tempat Romo Bargowo melayani terakhir kali sebagai Diakon. Sungguh luar biasa sambutan yang diberikan oleh seluruh sahabat dan umat. Romo Bargowo selalu menjadi pusat perhatian, serasa menjadi seorang selebriti. Semua orang senang, semua orang bangga, semua orang bersorak-sorai bahagia.</p>
<p style="text-align: left;">Satu bulan kemudian, Romo Bargowo memulai tugas pelayanannya di sebuah Paroki. Pelayanan dijalani dengan penuh semangat. Romo Bargowo sangat populer di tengah umat dengan khotbahnya yang memukau, perhatiannya yang besar kepada kaum muda, dan kepintarannya bergaul dengan semua lapisan umat. Sungguh, kehadirannya serasa bagai rahmat yang mengagumkan. Pengalaman demi pengalaman dialaminya. Sembilan setengah bulan kemudian, di tengah-tengah keheningan, tiba-tiba terdengar berita mengejutkan: “Romo Bargowo terserang penyakit MUNTABER&#8230;..” Semua umat kaget dan terpana:  “Hah?!&#8230;.. Romo Bargowo MUNdur TAnpa  BERita???”</p>
<p style="text-align: left;">Memang benarlah bahwa Romo Bargowo melepas jubah imamnya untuk memakai pakaian yang lainnya. Kabar itu terdengar sampai seantero dunia di sekitarnya. Orangtua Romo Bargowo terkejut, lemas dan tidak tahu harus ke mana untuk menyembunyikan muka mereka. Kecewa, sedih, marah, dan caci-maki bercampur bersama, menjadi masakan yang tak enak dicicipi. Berkat menjadi kutuk, rahmat menjadi petaka. Dua bulan kemudian, salah satu dari orangtua mantan Romo Bargowo menghadap Bapa di surga dengan membawa kesedihan dan kekecewaan yang mendalam akan anak yang selama ini jadi kebanggaan mereka.</p>
<p style="text-align: left;"> </p>
<hr id="system-readmore" style="text-align: left;" />
<p style="text-align: left;">Sebuah pertanyaan untuk kita</p>
<p style="text-align: left;">Kisah di atas bukan sebuah kisah nyata, bukan pula cerita kosong. Cerita ini adalah khayalan yang bisa muncul dalam mimpi seorang imam.  Adalah sesuatu yang berharga kalau seorang imam mau meluangkan waktu sejenak untuk menatap dirinya dalam jalan panggilan sucinya. Secara jujur dan otentik, seorang imam diharapkan mampu menggali isi hatinya sendiri. Dengan model pakaian/jubahnya masing-masing, seorang imam boleh bertanya: “Sebenarnya, untuk siapakah aku menapaki jalan panggilan suci ini?”  Pilihan jawaban yang diberikan adalah: (A) Yesus &amp; Gereja; (B) Keluarga; (C) Diri sendiri; (D) A &amp; B benar; (E) Semua jawaban benar; (F) &#8230;. (bisa diisi sesuai kepercayaan masing-masing).</p>
<p style="text-align: left;">Sekiranya tergugah, seorang imam boleh kembali membayangkan saat-saat duduk di bangku SMA – saat ia pernah mengalami ujian dengan model <em>multiple-choice. </em>Mari  bersama kita coba mendalami pertanyaan di atas dan temukan jawabannya secara bersama pula &#8211; tentu saja tanpa menyontek jawaban orang lain.  Tetapi, sekiranya seorang imam sudah merasa cukup tahu jawabannya, tak ada salahnya kalau ia juga ikut mengambil waktu yang ada dan mendalami lagi jawabannya itu.  Siapa tahu, jawabannya menjadi berubah atau malah makin tegas dan mantap dalam pilihan jawabannya.</p>
<p style="text-align: left;">Sebuah kenyataan dalam hidup kita</p>
<p style="text-align: left;">Membahagiakan orangtua adalah impian setiap anak. Membahagiakan diri sendiri adalah kebutuhan dasar semua orang. Dan, membahagiakan pribadi yang kita kasihi adalah “naluri” hampir semua mahluk hidup. Binatang pun memiliki insting yang sama dalam tarafnya masing-masing. Sebagai mahluk pribadi dan sosial, seorang imam juga ada dalam situasi itu. Oleh sebab itu, tanpa ia sadari, tindakan dan perilaku seorang imam juga dipengaruhi oleh naluri, kebutuhan dan impian yang bersemayam dalam dirinya. Itulah kenyataan dalam hidup seorang imam.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu, bagaimana dengan keputusan seorang imam dalam panggilan suci ini? Untuk siapakah ia memutuskan menjadi imam? Hanya ia sendiri yang tahu persis tentang apa yang menjadi dasar pertimbangannya, dan hanya ia sendiri yang dapat menimbang pilihan jawaban mana yang paling sesuai untuk pertanyaan di awal tulisan ini: A, B, C, D, E atau F.</p>
<p style="text-align: left;">Jawaban ”A” adalah jawaban <em>par excellence</em> untuk semua orang yang berada dalam jalan panggilan mulia ini. Ajaran Gereja, Regula dan Konstitusi serta semua Pemimpin Ordo/Kongregasi/Tarekat mengajarkan dan mengharapkan jawaban itu. Barangsiapa tidak menjawab “A” tentu tidak akan berumur panjang dalam komunitas religius/imam, apalagi masih dalam rumah formasi. Hal ini memang menyangkut yang hakiki dan dasariah dalam jalan panggilan imamat ini. Yesus Kristus dan Gereja adalah alasan dan tujuan yang mempersatukan para imam. Rasa cinta dan bakti yang tinggi kepada Tuhan  dan Gereja memang mesti ada dalam diri seorang imam. Maka jawaban “A” &#8211; tidak boleh tidak, harus dipilih!</p>
<p style="text-align: left;">Namun, ujian belum selesai. Masih ada pilihan jawaban yang lain. Mumpung masih ada waktu, mari bersama kita periksa sejenak relung hati yang paling dalam. Dari sudut hati yang mulai terjepit lipatan-lipatan lemak, ada yang berteriak: “Jawaban ‘B’ yang paling benar&#8230;.”  Benarkah seorang imam memutuskan untuk menjalani panggilan khususnya ini demi keluarganya? Demi nama baik orangtua dan status keluarganya? Dengan keputusannya untuk tetap “mantap seumur hidup” dalam panggilan ini, maka orangtuanya akan bangga dan<em> insya</em> <em>Allah</em>, tidak terjadi apa yang dialami oleh orangtua mantan Romo Bargowo dan juga tidak akan dinilai sebagai perusak nama baik keluarga. Peribahasa “karena nila setitik, rusak susu sebelanga” tidak akan menimpa keluarganya. Mungkin bukan hanya menyenangkan orangtua dan keluarga secara batiniah, tetapi juga sedikit-sedikit secara lahiriah &#8211; dengan caranya masing-masing, sesuai tingkat kecerdasan dan kecerdikan seorang imam. Semua ini serba mungkin! Lebih dari itu, boleh disadari juga bahwa membahagiakan keluarga adalah bagian dari impian seorang imam. Bisa jadi ia tetap bertahan dalam panggilan demi orangtua dan keluarganya. Kemudian, memang masuk akal kalau terdengar ungkapan: “Jelek tak masalah, yang penting tidak keluar.”   Jadi, jawaban ‘B’ bisa dipilih juga &#8211; tanpa harus melirik dan membandingkan dengan jawaban teman imam lainnya.</p>
<p style="text-align: left;">Ada terdengar lagi suara dari sisi lain hati seorang imam yang sudah mulai terserang kanker: “<em>Nggak</em>, jawaban ‘C’ yang paling benar!”  Benarkah bahwa seorang imam memutuskan setia dalam panggilan ini karena demi kepentingan dirinya sendiri? Adakah kebutuhan-kebutuhannya yang tersembunyi yang dapat dipenuhi secara melimpah dalam jalan panggilan ini? Boleh diakui dengan jujur bahwa untuk masyarakat kita, jalan panggilan imamat ini adalah jalan yang dipandang sangat mulus dan nyaman. Orang Ateis bilang: “<em>It is a good job</em>!”  Maka benarlah apa yang dikatakan Yesus tentang upah mengikuti Dia:<em> &#8220;Barangsiapa meninggalkan saudara/i, ibu/bapak, anak dan ladangnya demi Aku, akan mendapatkan 100x lipat pada masa ini dan hidup yang kekal di masa yang akan datang.</em>” (bdk.Mark 10:28-30 atau paralelnya.) Sungguh benar kata-kata Tuhan itu dan sungguh nyata hal itu dalam hidup seorang imam. Segalanya mudah didapat, baik itu yang duniawi maupun yang surgawi. Seorang Misionaris tua yang sudah puluhan tahun hidup di pedalaman berucap: “Tak pernah terdengar ada anggota kita yang mati kelaparan, tetapi yang mati kekenyangan memang sudah banyak!” Maka jawaban ‘C’ juga bisa menjadi pilihan.</p>
<p style="text-align: left;">Memang mesti diakui bahwa kebutuhan dasar duniawi (lahiriah dan batiniah)  seorang imam dapat terpenuhi dalam jalan panggilan ini. Entah ia punya sikap lepas bebas atau tidak, <em>de facto,</em> situasinya memang lebih dari mencukupi. Segalanya telah tersedia untuk seorang imam.   Ia tidak perlu mengalami nasib sama seperti orang miskin yang dilayaninya, atau punya beban berat memikirkan kesejahteraan hidupnya.  Kehidupan seorang imam boleh dikatakan jauh lebih baik dan lebih layak. Hal ini kadang menjadi dorongan yang amat kuat untuk seorang imam mampu memegang teguh dan setia dalam menapaki jalan panggilannya. Maka sungguh masuk di akal kalau ada yang berkata: “Sebenarnya aku tidak tahan, tapi mau gimana lagi, sudah terlanjur tua, nikmati aja, di luar malah lebih susah&#8230;.” Ungkapan batin ini seringkali dengan gamblang dapat dilihat dalam sikap dan perilaku sehari-hari dalam hidup komunitas seorang imam, dan tentu tidak enak sekali untuk didengar, apalagi oleh Pemimpin Kongregasi.</p>
<p style="text-align: left;">Sebuah Panggilan untuk kita</p>
<p style="text-align: left;">Semua di atas hanyalah “kontemplasi” akan ujian SMA dulu. Mungkin benar, mungkin salah, mungkin semua benar dan mungkin pula semua salah. Tetapi kalau hal itu sampai muncul dalam benak seornag imam, setidaknya berarti hal itu pernah pula hinggap pada diri seorang imam dan  pernah pula menjadi bahan renungannya. Ada kutipan kata-kata yang menggugah dari Romo Herbert Alphonso, SJ, seorang pakar spiritualitas. Beliau menuliskan: “Sungguh menyedihkan, kita sering memahami kata “panggilan”  yang hanya dipakai untuk menyebut panggilan khusus Imam, Suster, Bruder, atau malah hidup berkeluarga saja. “Panggilan” dalam arti biblis adalah sebuah ‘arah hidup atau perutusan’ dari Tuhan dalam hidup pribadi masing-masing dari kita.” (The Personal Vocation, CIS, Roma, 1990).</p>
<p style="text-align: left;">Maka, pantaslah kalau seorang imam bertanya kembali: “Sebenarnya untuk siapa aku menjalani panggilan suci ini? Seberapa bebaskah aku menjalani panggilan ini?” Sekiranya seorang imam mau membebaskan dirinya dari keluarga, kebutuhan pribadinya, dan hanya bekerja penuh untuk Tuhan dan GerejaNya,  maka indah dan mulia-lah keputusannya untuk memilih hidup di jalan panggilan imamat yang suci ini. Jika seorang imam membaktikan seluruh waktu, kemampuan, dan tenaganya untuk Tuhan dan GerejaNya saja, maka ia akan menjadi lebih bebas, merdeka dan berbuah limpah dalam setiap pelayanannya. Hatinya lepas dan bebas untuk memuliakan Dia, menolong dan mencintai sesamanya. Itulah panggilan suci seorang imam, itulah perutusan seorang imam.  <em>(Bagi pengalaman dan pemikiran seperti yang ditulis oleh  seorang Imam, identitas lengkap ada pada Redaksi.)</em></p>
<p style="text-align: left;">Sumber: Majalah Sabitah Edisi 44, Juli-Agustus 2010</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjaga Panggilan Suster Cantik dan Frater Cakep</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/menjaga-panggilan-suster-cantik-dan-frater-cakep/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 06:11:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tahun Imam/Seputar Panggilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/menjaga-panggilan-suster-cantik-dan-frater-cakep/</guid>

					<description><![CDATA[Seorang pemimpin kongregasi berkisah bagaimana ia dengan serius dan khawatir menjaga panggilan beberapa suster yang cantik.  Pimpinan itu khawatir bahwa suster-suster cantik itu akan dibawa lari oleh para cowok yang tertarik.  Dari pengalamannya, memang suster yang cantik banyak menarik terutama para cowok, termasuk frater dan pastor.  Oleh karena banyak yang tertarik, pimpinan takut bahwa beberapa ... <a title="Menjaga Panggilan Suster Cantik dan Frater Cakep" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/menjaga-panggilan-suster-cantik-dan-frater-cakep/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Menjaga Panggilan Suster Cantik dan Frater Cakep">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img fetchpriority="high" decoding="async" class=" alignleft size-full wp-image-489" src="https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2010/03/suster-cantik.jpg" border="0" style="float: left; margin-left: 10px; margin-right: 10px;" width="300" height="170" />Seorang pemimpin kongregasi berkisah bagaimana ia dengan serius dan khawatir menjaga panggilan beberapa suster yang cantik.  Pimpinan itu khawatir bahwa suster-suster cantik itu akan dibawa lari oleh para cowok yang tertarik.  Dari pengalamannya, memang suster yang cantik banyak menarik terutama para cowok, termasuk frater dan pastor.  Oleh karena banyak yang tertarik, pimpinan takut bahwa beberapa dari mereka ada yang ingin membawa lari si cantik.  Tentu saja suster yang lain pun bisa dibawa lari, tapi probabilitasnya barangkali lebih kecil, demikian menurut kesaksian pimpinan tersebut. Suster Cantika memang sungguh cantik, bahkan dapat dikatakan tercantik di kongregasi tersebut.  Beberapa frater, pastor, cowok, dan bahkan bapak-bapak tertarik kepadanya.  Pernah beberapa cowok memandang dia lama karena memang tertarik.  Beberapa sopir biara mengungkapkan sangat senang bila berkesempatan mengantar Suster Cantika berbelanja atau rapat.  Bahkan beberapa sopir berpikir alangkah bahagianya bila dapat mempersunting Suster tersebut.  Maka tidak mustahil pimpinan kongregasi khawatir dan banyak berdoa agar Suster Cantika tersebut setia dalam panggilan.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p><span id="more-490"></span></p>
<p>Bapak dan Ibu Ahmad suatu hari menceritakan bagaimana mereka selalu khawatir akan anaknya, yaitu Frater Cakepius.  Mereka khawatir bahwa Frater Cakepius banyak digoda dewek dan keluar dari kongregasi.  Bapak Ibu Ahmad tiap hari berdoa kepada Tuhan agar anaknya dpat setia dalam panggilannya.  Mengapa Bapak Ibu Ahmad khawatir?  Karena memang Frater Cakepius orangnya cakep, merupakan pria ideal, dan penampilannya memang seperti bintang film Hollywood.  Dan memang secara obyektif frater tersebut banyak disukai cewek-cewek, bahkan ibu-ibu saja sangat senang bila frater sedang praktek khotbah di gereja.  Yang lebih mengkhawatirkan Bapak Ibu Ahmad adalah bila frater pulang libur dengan membawa beberapa cewek ke rumah.  Ibu Ahmad pernah bilang, &#8220;Memang susah mempunyai anak menjadi frater atau pastor yang cakep.  Godaan banyak, maka orangtua perlu berdoa banyak.&#8221;</p>
<p> </p>
<p style="text-align: justify;">KECANTIKAN SEBAGAI RAHMAT</p>
<p style="text-align: justify;">Kecantikan dan kecakepan sebenarnya adalah rahmat.  Kecantikan bagi seorang suster dan kecakepan bagi seorang bruder, frater, dan imam, adalah pemberian Tuhan yang baik dan perlu disyukuri.  Dengan kecantikan dan kecakepan kita dapat lebih menarik banyak orang, terutama bila kecantikan dan kecakepan wajah juga disertai dengan kecantikan dan kecakepan batin.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila kita memang dianugerahi wajah dan potongan tubuh yang cantik dan cakep, kita dapat lebih menarik banyak orang dalam karya perutusan kita.  Talenta ini dapat digunakan dalam menarik orang, sehingga tugas perutusan dapat lebih berhasil.  Tentu kecantikan dan kecakepan saja tidak cukup, karena harus diisi dan syukurlah bila hati dan otak juga encer dan bermutu.  Seorang suster yang cantik dan hatinya baik, penuh kasih, serta otaknya encer, jelas dapat mengajar di sekolah dengan lebih menarik.  Ia dapat membantu anak didik tertarik dan maju, baik dalam ilmu maupun hidup mereka.  Demikian juga seorang imam yang memang cakep, dan ditambah hatinya penuh kasih, supel, jujur, pandai, dan dapat mendekati umat dengan baik, pasti akan lebih berdampak.  Baru keluar ke altar untuk memimpin Perayaan Ekaristi saja umat sudah senang, apalagi bila dia juga dapat berkhotbah dengan menarik, dn melayani umat dengan sangat baik.  Ia akan dapat membantu banyak umat semakin beriman.  Tidak ketinggalan seorang bruder yang cakep dan sekaligus baik hati, akan dapat membantu orang lain lebih mudah.  Maka kalau kita memang diberi karunia wajah dan tubuh yang cantik dan cakep, kita tidak usah kecewa, tidak usah bingung, tetapi hanya perlu mensyukuri karunia itu.  Pertanyaan berikut adalah karunia itu akan kita gunakan untuk apa?  Apakah akan kita gunakan untuk lebih memuji Tuhan dan mengembangkankarya perutusan kita?  Ataukah akan kita gunakan justru untuk merusak panggilan kita?</p>
<p style="text-align: justify;">TANTANGAN BAGI YANG CANTIK DAN CAKEP</p>
<p style="text-align: justify;">Meski kecantikan dan kecakepan dapat sangat membantu menarik orang, namun kita perlu sadar bahwa hal itu memang dapat merupakan tantangan tersendiri.  Bahkan untuk beberapa orang dapat merupakan bahaya bagi panggilan mereka.  Mengapa demikian?</p>
<p style="text-align: justify;">Akan banyak lawan jenis tertarik dan kagum.  Kalau kita tidak hati-hati dan rendah hati, karena banyak yang tertarik dna kagum pada rupa dan tubuh kita, kita dapat salah tingkah.  Bahkan dapat terjadi orang menjadi sombong, dan karena senang dikagumi, lalu dapat menjadi gila hormat dan gila kagum.  Bila suatu hari tidak ada orang yang mengagumi lagi, orang dapat kecewa dan sedih.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena banyak lawan jenis memperhatikan dan kagum, dapat terjadi kita sangat menikmati kekaguman itu.  Orang yang sangat dikagumi kadang menjadi sulit konsentrasi karena merasa diperhatikan orang lain terus menerus.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa lawan jenis yang tertarik, mungkin ingin memiliki kita.  Orang zaman ini kadang begitu kuat dan mengejar kalau senang.  Maka dengan segala cara, yang mungkin kita tidak tahu, mereka berusaha memiliki kita dan bahkan dengan tipu daya.  Maka kalau kita tidak hati-hati, kita dapat dibawa lari oleh mereka.  Dan memang dari pengalaman, hal ini pernah terjadi!</p>
<p style="text-align: justify;">Dari banyak orang yang menyukai, kadang kita mudah menemukan salah satu yang cintanya kita rasakan sangat besar.  Keadaan ini bila tidak dikritisi dapat memudahkan kita memutuskan keluar dari hidup membiara karena merasa cinta yang besar dan nyata dari lawan jenis.</p>
<p style="text-align: justify;">MENJAGA PANGGILAN</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah sang cantik dan sang cakep harus dijaga panggilannya?  Kalau ya, siapa yang harus menjaga dan bagaimana menjaganya?  Dari segi bahaya dan tantangan yang memang tidak sedikit, nampaknya memang panggilan mereka perlu dijaga agar mereka dapat lebih setia.  Lalu siapa yang harus menjaga?</p>
<p style="text-align: justify;">DARI DIRI SENDIRI: Penjaga panggilan yang utama adalah diri sendiri.  Kalau memang kita ingin setia dalam panggilan, maka kita sendiri yang harus menjaga.  Menjaga terutama dengan cara menebalkan semangat kasih kita kepada Tuhan yang memanggil, dengan kehati-hatian sikap kita terutama dalam menghadapi lawan jenis yang sangat menyukai kita.  Menjaga juga berarti kita sendiri lebih sering DISCERNMENT dan refleksi tentang apa pun yang kita lakukan dan rasakan dalam bergaul dengan lawan jenis.  Dengan lebih setia pada cara hidup kongregasi, dengan semakin mendekatkan diri dengan Tuhan yang memanggil, dan dengan refleksi, kita diharapkan bila mau ambil keputusan untuk keluar, memikirkan secara matang, sehingga tidak keliru dalam mengambil keputusan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang juga penting dalam hal ini adalah melihat secara mendalam bagaimana rasa, gerak serta gelombang seksualitas kita bila menghadapi lawan jenis yang menyenangi kita dan mengagumi kita.  Ini penting agar kita dalam bersikap dan menanggapi mereka lebih bijak dan tidak hanya dipengaruhi oleh perasaan sesaat.  Kejujuran pada gerak batin, rasa htai serta emosi diri sendiri sangat diperlukan bila kita ingin maju dalam merefleksikan relasi kita dengan lawan jenis yang menyukai kita.  Lewat radar batin yang peka itulah kita dapat menilai apakah sikap dan relasi kita dengan lawan jenis yang menyenangi kita, masih baik atau sudah merugikan panggilan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">DARI KOMUNITAS/KONGREGASI: Komunitas dan kongregasi memang juga perlu membantu saudara/saudari itu agar dapat lebih kuat dalam menghidupi panggilannya.  Tentu tidak tepat bila komunitas lalu membentengi saudara-saudari tersebut agar tidak bergaul dengan lawan jenis.  Biarlah mereka tetap bergaul biasa, dan melayani siapa pun seperti perutusan kongregasi, tetapi yang dapat dibantukan adalah dengan memberikan dukungan akan panggilannya.  Komunitas dan kongregasi dapat juga mengingatkan dengan penuh kasih bila melihat bahwa si cantik dan si cakep kurang bijak dalam bertingkah terutama dalam hal kedekatan dengan lawan jenis.  Kita dapat membantu orang tersebut berefleksi akan panggilannya.  Membantu doa agar Tuhan melindunginya dari bahaya yang ada kiranya juga baik kita lakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa pimpinan kongregasi memang kadang khawatir terhadap anaknya yang cakep menjadi imam.  Mereka khawatir karena melihat potensi bahaya yang ada.  Namun kekhawatiran itu kiranya tidak perlu dikembangkan, tetapi diwujudkan dengan dukungan dan doa bagi anggota yang cantik dan cakep itu.  Sering menyapa dan memperhatikan sangat penting bagi perkembangan si cantik dan cakep.  Dengan merasa mendapatkan perhatian dan kasih dari keluarga dan kongregasi, akan membantu mereka lebih bijak dalam mengambil keputusan.  Dengan diperhatikan, mereka akan merasa tidak sendirian dalam perjalanan panggilan, sehingga dapat merasa dikuatkan, didukung oleh komunitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Tindakan yang sangat penting adalah komunitas memberikan dukungan dan menerima mereka dengan hati terbuka.  Sedangkan sikap curiga, terlalu khawatir sehingga terlalu menjaga, sering malah kontraproduktif.  Dari banyak pengalaman, semakin mereka ini menemukan banyak sahabat yang dekat dalam kongregasinya, akan lebih krasan, lebih kuat dalam panggilan.  Maka mereka juga tidak mudah begitu saja lari dengan orang yang menyukainya.</p>
<p style="text-align: justify;">DARI KELUARGA: Dari pengalaman Bapak Ibu Ahmad, terlihat bahwa dukungan dan kekuatan dari keluarga terhadap anggota keluarganya yang menjadi suster, bruder, frater, imam yang memang cantik dan cakep sangat diperlukan.  Dukungan dan cinta seluruh keluarga dapat memberikan kekuatan dan daya tahan dalam menghayati panggilan hidup membiara mereka.  Doa-doa, penerimaan, dan kasih keluarga dari banyak pengalaman sungguh menguatkan dan meneguhkan hidup para biarawan-biarawati tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">DARI UMAT, TERUTAMA LAWAN JENIS: Barangkali yang juga dapat membantu kesetiaan panggilan adalah para lawan jenis yang sangat tertarik kepada si cantik atau si cakep tersebut.  Para umat ini dapat membantu dengan membiarkan si cantik dan si cakep meneruskan dan mengembangkan panggilan mereka.  Para lawan jenis, bila mereka umat Kristiani, dapat disadarkan untuk tidak egois dengan ingin memiliki si cantik atau si cakep bagi dirinya sendiri.  Biarlah si cantik dan si cakep menjadi milik Tuhan, milik Gereja, dan milik jemaat bersama.  Dengan membiarkan mereka ini mengembangkan panggilan mereka dalam Tuhan, mereka tetap dapat merasa memilikinya, meski tidak sebagai milik sendiri, melainkan sebagai milik bersama.  Barangkali bila para pecinta si cantik dan si cakep tidak mau memilikinya bagi dirinya sendiri, si cantik dan si cakep dapat lebih setia.</p>
<p style="text-align: justify;">PENUTUP</p>
<p style="text-align: justify;">Kita bersyukur bila ada anggota-anggota kongregasi kita yang memang cantik dan cakep. Talenta mereka yang berwujud kesempurnaan fisik dapat membantu mereka dalam pelayanan dan perutusan mereka.  Namun perlu ditekankan bahwa kesempurnaan fisik harus diimbangi dengan mutu dari hidup, kerohanian, kepandaian, ketrampilan yang sungguh dapat membantu orang lain secara lebih baik.  Dengan demikian maka perutusannya akan jauh lebih berdampak.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun kita juga sadar bahwa talenta itu dapat menimbulkan tantangan tersendiri karena ada kemungkinan banyak lawan jenis menyukai, menyenangi, dan bahkan ingin memilikinya.  Maka mereka perlu dibantu untuk lebih meningkatkan semangat panggilannya, kesatuan dengan Tuhan, kesatuan dengan kongregasi.  Mereka juga perlu dibantu untuk dapat selalu ber-discernment dan berefleksi akan apa pun yang mereka lakukan dalam berhubungan dengan lawan jenis.  Semoga si cantik dan si cakep semakin mengembangkan kongregasi kasih Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">(oleh: Romo Paul Suparno, SJ; Dari Rubrik Kaul Biara, Majalah Rohani No. 03, Tahun ke-57, Maret 2010)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hari Ibu di Tahun Imam : Curhat dan Harapan Bunda Seorang Imam</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/hari-ibu-di-tahun-imam-curhat-dan-harapan-bunda-seorang-imam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 10:30:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tahun Imam/Seputar Panggilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/hari-ibu-di-tahun-imam-curhat-dan-harapan-bunda-seorang-imam/</guid>

					<description><![CDATA[Menjadi seorang imam ternyata bukan hal yang mudah, apalagi untuk zaman sekarang ini.  Begitu banyak godaan duniawi menghalang di jalan.  Sulitnya, godaan di zaman yang serba maju ini mengalami transformasi bahkan reformasi, sehingga sangat amat sulit menentukan batas antara wajar dan tidak wajar, antara boleh dan tidak boleh, antara baik dan tidak baik. Menyambut Hari ... <a title="Hari Ibu di Tahun Imam : Curhat dan Harapan Bunda Seorang Imam" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/hari-ibu-di-tahun-imam-curhat-dan-harapan-bunda-seorang-imam/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Hari Ibu di Tahun Imam : Curhat dan Harapan Bunda Seorang Imam">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Menjadi seorang imam ternyata bukan hal yang mudah, apalagi untuk zaman sekarang ini.  Begitu banyak godaan duniawi menghalang di jalan.  Sulitnya, godaan di zaman yang serba maju ini mengalami transformasi bahkan reformasi, sehingga sangat amat sulit menentukan batas antara wajar dan tidak wajar, antara boleh dan tidak boleh, antara baik dan tidak baik.<br />
<span id="more-443"></span><br />
<br />Menyambut Hari Ibu yang selalu kita rayakan di bulan Desember, dan mengambil momen Tahun Imam yang dicanangkan oleh Bapa Paus Benediktus XVI, Sabitah mencoba berbincang-bincang dengan Ibunda dari para Imam yang bermukim di Paroki Trinitas – Cengkareng.  <strong>Mereka adalah Ibunda Romo Theodora Treka Permonosidi, Pr, Ibunda Romo Cornelius Adi Parditya, OFM Conv, Ibunda Romo Herybertus Managamtua Simbolon, SJ, dan Ibunda Romo Andre Delimarta, SDB.</strong></p>
<p><em><strong>Mengenai kegembiraan, kekuatiran dan rasa yakin mereka:</strong></em><br />“Saya bersyukur sekali anak saya dipercaya Tuhan menjadi imamNya.  Tidak mudah dan tidak semua orang yang mampu melewati tahap-tahap persiapannya.  Tentu saya punya kekuatiran, karena di zaman sekarang ini, jubah bukan lagi menjadi tanda identitas atau jati diri seorang imam jika berada di tempat umum.  Para Romo boleh berpakaian layaknya awam di luar ritual keagamaan.  Jadi, sulit kan bagi awam dan masyarakat umum untuk mengetahui bahwa dia itu seorang Imam Kristus.”</div>
<div align="justify">“Godaan-godaan duniawi semakin banyak saja.  Tapi saya percaya bahwa anak saya dapat membawa diri dengan baik dan pada tempatnya.  Saya hanya bisa berdoa dan berdoa setiap harinya.  Saya selalu menyerahkan anak saya kepada Tuhan.  Selain itu, saya juga banyak berkomunikasi dengan anak saya.  Romo itu juga manusia biasa, hanya Tahbisan Imamatnya yang membedakan dia dari umat Tuhan lainnya, jadi Romo juga bisa ‘jatuh’.”</p>
<p>“Karena keterbatasan waktu bertemu, anak saya jarang curhat.  Biasanya, kalau ada sesuatu yang menjadi keluh-kesahnya, maka orang yang dipercaya anak saya, yang diceritakan itu, akan menghubungi saya.  Kalau ada yang dikeluhkan anak saya, maka saya akan membawa keluhan itu ke hadapan Tuhan.”</p>
<p>“Anak saya suka curhat ke saya tentang apa yang dihadapinya.  Kegembiraannya juga kekecewaan dan kesulitan yang dihadapinya sebagai Romo.  Kalau sudah mendengar begitu, saya hanya bisa mengajaknya lebih berserah dan berjalan bersama Tuhan Yang Maha Segalanya.  Jangan dikira hidup sebagai Romo tidak menghadapi konflik, lho.  Suatu waktu, ada juga terjadi konflik terjadi antar sesama Romo yang bertugas di Paroki yang sama.”</p>
<p>“Terkadang saya suka merasa sedih kalau mengetahui anak saya sedang sakit, tetapi saya sebagai ibunya tidak dapat menolong meringankan penderitaannya.”</p>
<p>“Kalau melihat anak saya sedang banyak tugas, kecapekan, kurang tidur, sebagai seorang ibu saya sering sedih dan kasihan.  Tetapi biasanya anak saya yang akan menghibur saya.”</p>
<p>“Saya bersyukur, anak saya tidak terlalu mementingkan materi.  Bagi dia, asal apa yang dibutuhkan sudah tersedia, ya, sudah.”</p>
<p>“Saya sering bertanya pada anak saya kalau saya melihat ada yang terlalu dekat dengannya.  Biasanya saya juga akan mewanti-wanti dia, agar dia tetap menjaga jarak yang wajar.”  </p>
<p>“Saya tahu, menjadi Romo itu menghadapi banyak godaan.  Senjata saya adalah berdoa setiap hari.  Saya juga rajin mengunjungi gua-gua Maria, memanjatkan permohonan saya supaya Bunda Maria selalu melindungi dan mendoakan anak saya.”</p>
<p>“Untuk mengusir kekuatiran saya, biasanya saya banyak berbagi dengan para Romo dan Suster yang sudah senior.  Saya juga banyak membaca untuk memperkaya diri supaya terus mendapat pencerahan.  Saya hanya bisa berpasrah pada Tuhan, karena hanya dengan berbuat demikianlah maka saya tidak merasa kuatir akan anak saya yang menjadi Romo.”</p>
<p>“Sekarang handphone sudah menjadi barang yang tidak mewah lagi.  Salah satu keistimewaan handphone adalah SMS.  Terkadang saya kesal juga kalau melihat anak saya sibuk SMS-an dengan &#8230; – mungkin umatnya, ya&#8230; – yang kadang-kadang bisa sampai senyum-senyum sendiri.  Nah, kalau sudah demikian, saya akan bertanya, ‘SMS dari siapa itu?  Koq, jadi senyum-senyum sendiri?’  Anak saya tidak menutupi, tapi menerangkan sehingga saya tidak curigaan.”</p>
<p>“Saya sering sedih kalau mendengar cerita anak saya tentang umat yang berani menegur Romonya dengan makian.  Sedih, karena sebagai orangtuanya saja, saya tidak pernah memaki anak saya.  Cobalah kita berpikir begini: bagaimana kalau kita yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba didatangi seseorang dan langsung dimaki dan didamprat.  Selain bingung, pasti hati kita sedih bahkan bisa jadi terluka.  Kalau Romo ada salah, kenapa umat tidak bisa menegur Romo secara baik-baik, sopan dan penuh persahabatan? Romo juga manusia biasa kan&#8230;.”   </p>
<p>“Saya sungguh percaya bahwa Tuhan yang telah memilih anak saya, Tuhan juga yang akan berjuang untuk anak saya.  Tuhan selalu menolong tepat waktu, jadi kalau ada sesuatu masalah yang sedang dihadapi anak saya, maka saya serahkan saja ke Tuhan.”</p>
<p><strong><em>Harapan mereka untuk para Romo:</em></strong><br />“Kalau mendengar atau mengetahui tingkah laku Romo yang aneh-aneh, hati saya menangis.  Sekarang zaman maju, tahu internet, main facebook, punya handphone adalah bukan sesuatu yang tidak diperbolehkan.  Boleh saja, tapi tetap Romo harus tahu batas dalam mempergunakannya.”</p>
<p>“Semoga Romo selalu mau melayani umat tanpa membeda-bedakan.  Semua dilayani dengan baik.”</p>
<p>“Jangan takut untuk terus maju.  Jangan juga ambil pusing akan apa yang dikatakan umat.  Jangan takut juga mendengar gosip umat tentang Romo.  Hadapi gosip dengan perbuatan, dengan keteladanan.  Hanya dengan demikian umat akan sadar bahwa itu hanyalah gosip, bukan sungguhan.”</p>
<p>“Romo perlu punya batas dan jarak yang pasti.  Akrab dengan umat itu bagus, tapi kalau sampai terlalu akrab, terlalu perhatian&#8230; malah menjadi tidak baik lagi.  Sesuatu yang ‘terlalu’ memang menjadi kurang baik, karena dari yang ‘terlalu’ itulah godaan-godaan akan muncul.”</p>
<p>“Kalau saya kuatir akan anak saya, maka anak saya akan katakan: ‘Ma, Tuhan Yesus saja mengalami banyak pencobaan, apalagi kita yang manusia biasa&#8230;’  Bagi saya, jawaban anak saya mencerminkan keteguhan dan kemantapan pilihan hidupnya.  Semoga semangat demikian selalu ada dalam diri setiap Romo.”</p>
<p>“Dengarkanlah khotbah Romo.  Jangan selalu mengatakan tidak berisi, membuat ngantuk, dll.  Dengarkan dengan baik dan penuh konsentrasi, pasti ada sesuatu yang Tuhan taruh di dalamnya untuk kita.”</p>
<p>“Terhadap kemajuan teknologi, Romo harus dapat menentukan batasnya sendiri. Dunia ini luas dan tidak terbatas, hanya diri kita sendiri yang mampu menarik garis batas.  Disiplin diri, sampai sejauh mana hal ini berguna bagi Romo, dan sampai sejauh mana hal itu tidak bermanfaat bagi Romo.”</p>
<p>“Romo harus dapat menjaga, mengusahakan, dan berjuang untuk kesucian dan kemurnian dirinya sendiri.  Romo harus mampu untuk berkata ‘tidak’ dan menolak tawaran umat yang berlebihan.”</p>
<p>“Tetap setia pada panggilan khusus ini, karena tidak semua orang punya kesempatan untuk mendapat Sakramen Imamat.  Pandai-pandai menjaga diri, kalau banyak godaan datang, ingatlah bagaimana Romo berjuang untuk sampai pada hari pentahbisan.  Jubah yang Romo kenakan adalah sebuah kebanggaan.  Bertahanlah untuk dapat selalu mengenakan jubah itu.”</p>
<p>“Jangan melupakan jam-jam khusus untuk berdoa dan menyelidiki diri sendiri.  Buatlah komitmen pribadi untuk selalu tidak melupakan persekutuan dengan Tuhan.  Boleh nonton TV, boleh main handphone (SMS maksudnya? – red) atau ngobrol di telepon, tapi semuanya punya batas, dan semuanya harus distop, harus memberi porsi besar untuk selalu berhubungan dengan Tuhan.”</p>
<p>“Semoga Romo bisa lebih kuat, lebih tabah lagi.  Jangan sampai mudah tergoda dan mudah melupakan janji suci di hadapan Tuhan.  Sedih sekali kalau mendengar seorang Romo yang gagal.  Saya saja sebagai orangtua Romo akan sangat terpukul kalau mendengar ada Romo yang gagal, apalagi Tuhan.” </p>
<p><strong><em>Harapan mereka untuk para umat:</em></strong><br />“Umat sekarang menuntut banyak dari Romonya.  Harus pintar khotbah, harus dekat dengan umat, harus ini, harus itu&#8230;.  Tetapi, saya ingin bertanya kepada umat: apakah umat mendoakan Romonya setiap hari?  Satu kali Salam Maria saja setiap hari, khusus dipersembahkan untuk Romo?  Jadi Romo itu tidak mudah, boleh saya katakan sangat berat.”</p>
<p>“Umat seharusnya mendoakan Romo, bukan menggodanya. Saya sering trenyuh kalau mendengar seorang Romo yang jatuh dan melepaskan Imamatnya hanya karena tergoda lawan jenisnya.  Umat seharusnya menjaga hidup Imamat Romonya dengan mendoakan, karena doa akan memberikan kekuatan kepada Romo.”</p>
<p>“Jangan memanjakan Romo.  Bukan saja memanjakan materi atau perhatian, tapi juga makanan.  Romo hanya punya satu perut, tapi terkadang saya melihat umat memberikan makanan yang melimpah-ruah.  Syukur kalau makanan-makanan itu dapat disalurkan ke yang membutuhkan, seperti misalnya panti asuhan.”</p>
<p>“Ada umat yang sangat amat memperhatikan Romonya untuk suatu tujuan khusus – ada pamrihnya.  Mungkin ingin lebih diperhatikan Romo, ingin lebih dekat dan mungkin juga ingin memiliki Romo untuk dirinya sendiri.”</p>
<p>“Saya seorang wanita, tapi saya bingung kalau menerima telepon dari seorang wanita yang mencari anak saya yang Romo di Parokinya.  Jam 5 pagi sudah telepon, dikatakan Romo tidak ada di rumah, malah marah-marah dan mencaci-maki.  Lalu jam 10 pagi orang yang sama menelepon lagi.  Dikatakan keluar rumah, kembali dia marah-marah.  Jam 2 siang, kembali ia menelepon lagi.  Apa maksudnya?  Bolehkah saya katakan orang yang demikian sebagai ‘penggoda’?”</p>
<p>“Romo adalah Imam kita.  Dalam pergaulan, umat sering terlihat akrab banget, main pukul, cubit, colak-colek&#8230; Saya sering risih melihatnya &#8211; atau saya yang ketinggalan zaman?  Berteman dengan Romo boleh-boleh saja, tapi tetap harus ingat rambu-rambu pembatasnya.  Kalau seorang Romo jatuh, sulit untuk bangkit lagi.  Pada akhirnya, yang rugi juga kita – Gereja – karena sudah mengeluarkan banyak tenaga dan dana untuk melahirkan seorang Romo. Itu semua harus ditebus dengan rusaknya Romo karena ulah umatnya sendiri&#8230;”</p>
<p>“Umat menuntut Romonya untuk selalu bersih dan suci, tetapi Romo itu juga manusia biasa.  Kalau mau Romo selalu suci dan bersih, bagaimana dengan umat sendiri?  Menghadiri Misa Kudus saja dengan berpakaian ‘serba kelihatan’, seperti mau ke mal atau malah ke pasar saja&#8230;.”</p>
<p>“Romo dituntut sempurna, tapi bagaimana dengan umat?  Rasanya timpang kalau hanya Romo yang sempurna sedangkan umatnya bertindak semau gue.  Harus ada timbal baliknya dong.  Romo sempurna, umat pun perlu bertindak dan berlaku sempurna.”</p>
<p>“Pesan keras ini khusus untuk para gadis dan, maaf, para janda.  Stop menggoda Romo.  Masih banyak pria lain, pilihlah satu dari antara mereka, jangan Romo.  Gereja sungguh berkorban banyak untuk dapat menghadirkan seorang Romo.  Ingatlah akan hal itu.  Jangan membuat Gereja menangis, jangan juga membuat Tuhan menangis&#8230;”</p>
<p>“Ibu-ibu muda tolong juga tahu posisinya.  Jangan berpikir sudah menikah, jadi merasa ‘aman’.  Banyak ibu muda yang jatuh, lebih memilih Romo daripada suami yang dinikahinya di depan Altar Tuhan juga.  Betapa menyedihkan&#8230;..”</p>
<p>“Umat berdoa agar banyak yang terpanggil untuk menjadi Romo, tetapi ‘semoga yang dipanggil Tuhan itu bukan anak saya’.  Atau, ‘Tuhan, Engkau boleh mengambil anakku untuk menjadi Romo, tapi jangan yang sulung, yang nomor 3 saja&#8230;.’ atau ‘Jangan yang paling pintar, pilihlah yang kurang cerdas&#8230;’  Kasihan sekali Tuhan&#8230;.”</p>
<p>“Para wanita perlu selalu sadar, Romo adalah Imam Kristus, milik Kristus.  Beliau adalah panutan kita, bukan buat dicandai atau digoda.  Terkadang saya risih melihat canda umat yang menurut saya telah kelewat batas.”</p>
<p>“Doakan Romo, tak perlu doa yang muluk-muluk.  Cukup berdoa agar Romo selalu gembira, teguh dan kuat menjalani panggilannya.  </p>
<p>“Semoga umat yang senang menebar gosip tentang Romo menjadi sadar bahwa hal itu tidak baik dan tidak tepat.  Gosip itu belum tentu kebenarannya, kenapa kita mau merusak Romo kita dengan hal-hal yang belum tentu benar-benar terjadi demikian?”</p>
<p>“Umat jangan sampai ingin memiliki Romo hanya untuk dirinya sendiri.  Jangan sampai tergiur dan ingin menikah dengan Romo.  Ingatlah, Romo itu milik Tuhan.  Sama halnya dengan pernikahan, Romo ‘menikah’ dengan Tuhan lewat Sakramen Imamat.  Sebetulnya, kalau Romo melepaskan Imamatnya, secara rohani ia tetap terikat ‘menikah’ dengan Tuhan.  Gereja kita tidak mengenal perceraian, ”</p>
<p>“Berdoalah untuk Romo.  Doa-doa kita akan sangat menguatkan Romo dalam menjalani hidup Imamatnya.  Banyak kesaksian dari para Romo sendiri bahwa dalam situasi sulit, para Romo dapat terus bertahan dan mengambil keputusan untuk terus menjadi Romo hanya karena doa-doa umat bagi mereka.”</p>
<p>“Mari kita jaga kehidupan Imamat Romo kita.  Kalau banyak Romo yang keluar, yang repot kita juga, bukan?  Bagaimana Gereja masa depan kalau Romo semakin hari semakin sedikit jumlahnya?” (<font face="book antiqua,palatino"><em>disusun berdasarkan wawancara khusus/smartis)</em></font></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Sumber: Majalah Sabitah Edisi 41, Januari-Februari 2010 </div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berdoalah Untuk Para Imam</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/berdoalah-untuk-para-imam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 07:25:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tahun Imam/Seputar Panggilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/berdoalah-untuk-para-imam/</guid>

					<description><![CDATA[Sejak bulan Juni lalu, Paus Benediktus XVI memaklumkan tahun 2009/2010 sebagai &#8220;Tahun Imam&#8221;.  Paus mengharapkan, hendaknya sepanjang tahun tersebut para imam memperbaharui hidup batinnya, agar mereka dapat makin memberikan dirinya sebagai saksi bagi Injil. Tahun Imam tersebut dirayakan bertepatan dengan pesta 150 tahun kelahiran Santo Yohanes Maria Vianney.  Paus menganjurkan agar para imam sudi meneladan ... <a title="Berdoalah Untuk Para Imam" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/berdoalah-untuk-para-imam/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Berdoalah Untuk Para Imam">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak bulan Juni lalu, Paus Benediktus XVI memaklumkan tahun 2009/2010 sebagai &#8220;Tahun Imam&#8221;.  Paus mengharapkan, hendaknya sepanjang tahun tersebut para imam memperbaharui hidup batinnya, agar mereka dapat makin memberikan dirinya sebagai saksi bagi Injil.</p>
<p>Tahun Imam tersebut dirayakan bertepatan dengan pesta 150 tahun kelahiran Santo Yohanes Maria Vianney.  Paus menganjurkan agar para imam sudi meneladan orang kudus tersebut.</p>
<p><span id="more-407"></span></p>
<p>Yohanes Maria Vianney (1786-1859), lahir di Dardilly, sebuah desa kecil dekat kota Lyons, Perancis.  ia anak petani sederhana.  Bakatnya amat terbatas.  Dengan segala kesulitan, akhirnya ia dapat menamatkan pendidikan seminari, dan ditahbiskan menjadi imam tahun 1815.  Setelah 3 tahun bertugas sebagai pastor pembantu di Ecully, ia ditunjuk menjadi pastor di Ars.  Ars adalah sebuah desa terpencil.  Namun, karena hidup dan pemberian diri Pastor Vianney, Ars menjadi terkenal di seluruh Perancis.  Itulah sebabnya Pastor Vianney juga dikenal sebagai Pastor Ars.</p>
<p>Orang berbondong-bondong datang ke Ars untuk mengaku dosa atau meminta nasihat rohani.  Tahun 1855 pernah terhitung ada 20.000 jiwa datang ke Ars.  Dan di hari-hari akhirnya, Pastor Ars bisa duduk di kamar pengakuan selama 16-18 jam.  Memang sejak kedatangannya di desa terpencil itu, Pastor Ars menganggap gereja sebagai rumahnya.  Ia masuk ke gereja sebelum fajar, dan tak meninggalkannya sampai berbunyi lonceng doa Malaikat Allah di petang hari.</p>
<p>Pastor Ars sangat mencintai imamatnya.  Katanya, &#8220;Imamat adalah cinta dari hati Yesus sendiri.&#8221;  Menurut pastor yang suci ini, seorang gembala yang baik adalah harta terbesar, anugerah kerahiman ilahi, yang dianugerahkan Tuhan pada suatu paroki.  Tuhan sendiri seakan taat dan mengalah pada imamnya.  Bayangkan, seorang imam memanggil Tuhan dengan kata-katanya, dan Tuhan segera turun dari surga karena kata-kata tersebut, lalu sudi tinggal di antara umatnya.</p>
<p>Kata Pastor Ars lagi, tanpa Sakramen Tahbisan, kita tak akan mengalami Tuhan dengan begitu dekat.  Siapakah yang meletakkan Tuhan dalam Tabernakel?  Imam.  Siapakah yang mengantar jiwa manusia kepada Tuhan, begitu manusia mengawali hidupnya di dunia?  Imam.  Siapakah yang membantu memberi makanan pada jiwa-jiwa, dan menguatkan jiwa-jiwa itu dalam perjalanannya di dunia?  Imam.  Siapa yang mempersiapkan jiwa-jiwa itu dalam perjalanannya di dunia?  Imam.  Siapa yang mempersiapkan jiwa-jiwa itu untuk menghadap Tuhan pada saat akhir hidupnya?  Lagi-lagi Imam.  Ya, betapa luhur anugerah tahbisan imam itu.</p>
<p>Menurut Pastor Ars, baru kelak di surga, seorang imam dapat merasakan dan mengalami secara penuh siapa dia sesungguhnya, sampai ia dikaruniai anugerah seluhur itu.  Di dunia ini ia belum bisa memahami hal tersebut sepenuh-penuhnya.  Andaikan di dunia ia dapat memahaminya sepenuh-penuhnya, ia akan mati, bukan karena takut, tapi karena cinta.</p>
<p>Paus Benediktus XVI mengetengahkan lagi kata-kata dan keyakinan Pastor Ars tersebut dalam suratnya untuk menyambut Tahun Imam (18 Juni 2009).  Terutama para imam hendaknya mencamkan kata-kata Pastor Ars itu dalam-dalam untuk membarui hidup imamatnya.</p>
<p>Paus memuji, betapa banyak iamm gereja yang benar-benar membaktikan hidupnya untuk tugas pastoral yang dipercayakan pada mereka.  Juga betapa banyak imam yang rela untuk menanggung salib karena tugas perutusannya.  Untuk itu, kita patut mensyukurinya.  Namun Paus juga mengingatkan, banyak juga imam yang tidak sanggup lagi untuk setia pada panggilannya.  Karena ketidak-setiaan mereka, gereja, dan umat jadi ikut menderita dan menanggung akibatnya.</p>
<p>Karena itu Paus meminta agar umat tak berhenti berdoa untuk para imam.  Hendaknya umat ikut berprihatin dan berdoa, agar Tuhan menganugerahkan rahmat kesetiaan kepada para imam, sehingga mereka tetap teguh menjalani panggilannya.  Doa para umat itu amat dibutuhkan oleh para imam, lebih-lebih di zaman ini, di mana tantangan dan godaan selalu menghadang hidup dan panggilan mereka.</p>
<p>Maka Tahun Imam bukan hanya untuk para imam, tapi juga untuk kaum awam.  Di sini Paus meminta, agar baik para imam maupun kaum awam selalu berusaha untuk memperdalam hidup doanya, dan memperbarui pertobatannya.  Untuk itu, Paus kembali mengingatkan kita semua, agar kita mau menghidup lagi ajaran Pastor Ars.</p>
<p>Menurut Pastor Ars, berdoa adalah hal yang sederhana.  Tak perlu kita banyak berkata-kata.  Cukup bila kita membuka hati kita dan memandang Yesus.  Itu terutama bisa kita kerjakan, bila kita menghadap Sakramen Mahakudus.  &#8220;Kita tahu, bahwa Yesus berada di dalam Tabernakel.  Marilah kita membuka hati kita dan menikmati kegembiraan dalam kehadiranNya.  Itulah doa yang terbaik,&#8221; kata Pastor Ars.</p>
<p>Pastor Ars juga mengajari kita untuk menghayati perlunya Ekaristi bagi hidup kita.  Katanya, Perayaan Ekaristi adalah karya Tuhan, yang lain dengan karya manusia.  Maka, betapa pun banyak pengorbanan yang kita lakukan sebagai manusia, itu tak sebanding dengan pengorbanan Tuhan yang kita rayakan dalam Ekaristi.  &#8220;Karena itu saudara-saudari, datanglah pada Yesus.  Memang, kamu semua tidak layak untukNya, tapi kamu membutuhkanNya,&#8221; ajak Pastor Ars pada umatnya.</p>
<p>Bagi Pastor Ars, selain doa dan Ekaristi, pengakuan dosa adlaah pilar ketiga yang harus dihayati dengan tulus oleh umat Kristiani.  Tak bosan-bosannya ia mengajak umat untuk mau mengaku dosa.  Ajakannya tak sia-sia.  Dari seluruh pelosok Perancis, orang-orang datang untuk mengaku dosa padanya.  Tuhan memohon pengampunan.  Tapi Tuhan yang mengejar-ngejar pendosa dan mengajaknya kembali kepadaNya.  Penebus Yang Mahabaik itu demikian dipenuhi dengan cinta, sampai Ia mencari kita di mana-mana,&#8221; kata Pastor Ars. </p>
<p>Pastor Ars sendiri dikenal sebagai imam yang banyak melakukan matiraga.  Dan matiraga itu dibuatnya demi bertobatnya orang-orang yang berdosa.  Kendati ia keras terhadap dirinya, toh ia sangat lemah lembut terhadap umatnya.  Ia rela menanggung beban sesamanya, demi pertobatannya.  Sering ia memberi penitensi yang amat ringan pada orang yang mengaku dosa padanya.</p>
<p>&#8220;Saya memberi denda yang ringan pada orang yang mengaku dosa, dan saya menggantikan dia untuk menanggung sisa-sisa denda yang seharusnya ditanggungnya,&#8221; kata Pastor Ars.  Untuk menanggung &#8220;sisa-sisa denda&#8221; umatnya yang berdosa itulah, Pastor Ars banyak berdoa dan bermatiraga.  Karena dosa-dosa, kita seharunya menangis, tapi ternyata kita tak mampu menangis.  &#8220;Saya menangis, sebab kamu tidak menangis,&#8221; itulah kata-katanya yang indah tentang penyelasan dan pengampunan dosa.</p>
<p>Itulah pokok-pokok keutamaan Santo Yohanes Maria Vianney alias Pastor Ars, yang dikemukakan oleh Paus Benediktus XVI bagi Tahun Imam ini.  Paus mengharapm agar hidup dan teladan Pastor Ars benar-benar kita hidupi.  Dengan begitu, warga Gereja, terutama kaum awam, akan sadar, mengapa tahun ini mereka diminta untuk mendoakan para imam. (Romo G.P. Sindhunata, SJ)</p>
<p>Sumber: Majalah Utusan No. 11/Thn 59, November 2009 </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Litani Serba Salah Romo</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/litani-serba-salah-romo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 09:09:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tahun Imam/Seputar Panggilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/litani-serba-salah-romo/</guid>

					<description><![CDATA[Kalau romonya muda, dibilang masih bloon.Kalau romonya tua, sebaiknya pensiun saja. Kalau khotbah terlalu panjang, dibilang menjengkelkan.Tapi kalau cepat, “koq kayak kereta ekspres&#8230;” Kalau mulai misa tepat waktu, katanya kaku.Kalau terlambat, “Idiih&#8230; romonya malas&#8230;..” Kalau di kamar pengakuan menasihati, katanya banyak omong.Kalau sebaliknya, dibilang tidak tanggap. Kalau mengikuti pendapat umat, dibilang tak punya pendirian.Kalau pakai ... <a title="Litani Serba Salah Romo" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/litani-serba-salah-romo/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Litani Serba Salah Romo">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau romonya muda, dibilang masih bloon.<br />Kalau romonya tua, sebaiknya pensiun saja.</p>
<p>Kalau khotbah terlalu panjang, dibilang menjengkelkan.<br />Tapi kalau cepat, “koq kayak kereta ekspres&#8230;”</p>
<p>Kalau mulai misa tepat waktu, katanya kaku.<br />Kalau terlambat, “Idiih&#8230; romonya malas&#8230;..”</p>
<p>Kalau di kamar pengakuan menasihati, katanya banyak omong.<br />Kalau sebaliknya, dibilang tidak tanggap.</p>
<p>Kalau mengikuti pendapat umat, dibilang tak punya pendirian.<br />Kalau pakai pendapat sendiri, dicap diktator.</p>
<p>Kalau keuangan paroki mepet, katanya romo tak pintar usaha.<br />Kalau ngomong soal uang, dibilang mata duitan.</p>
<p>Kalau mengadakan misa lingkungan, katanya tak pernah kunjungan keluarga.<br />Kalau mengunjungi keluarga, “Kapan sih, romonya misa lingkungan?”</p>
<p>Kalau romo tak ada di pasturan, dicap tukang ngeluyur.<br />Tapi kalau ada, “Romo koq nggak pernah pergi-pergi&#8230;?”</p>
<p>Kalau memperhatikan anak-anak, dibilang “Masa kecil kurang bahagia&#8230;”<br />Kalau memperhatikan mudika, giliran orangtua ngegosip.</p>
<p>Kalau nonton tv, dibilang enak-enakan.<br />Kalau tidak, dibilang enggak ngikuti zaman.</p>
<p>Tapi&#8230;&#8230;.<br />Kalau romonya mati, siapa yang mau ganti?</p>
<p>(dari buku Litani Serba Salah Romo &#8211; 100 Cerita Bijak, Yustinus Sumantri Hp., SJ, Kanisius, 2001)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dikobarkan dan Dimantapkan oleh KasihNya</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/dikobarkan-dan-dimantapkan-oleh-kasihnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 08:05:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tahun Imam/Seputar Panggilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/dikobarkan-dan-dimantapkan-oleh-kasihnya/</guid>

					<description><![CDATA[Mau jadi imam/biarawan/biarawati tapi merasa umur sudah melampaui usia para Seminaris?  Jangan takut dan serta-merta mengubur dalam-dalam keinginan hati yang timbul.  Apalagi jika keinginan ini telah pula dimantapkan dengan serangkaian bisikan panggilan dari Tuhan.   Mau contoh?  Silahkan baca perjalanan Imamat Romo Hadrian Handy Lenggawa, SJ, yang ditahbiskan pada 29 Juli 2009, di Kotabaru, Yogyakarta.  ... <a title="Dikobarkan dan Dimantapkan oleh KasihNya" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/dikobarkan-dan-dimantapkan-oleh-kasihnya/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Dikobarkan dan Dimantapkan oleh KasihNya">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify"><img decoding="async" class=" alignleft size-full wp-image-347" src="https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2009/08/romo-handy.jpg" border="0" hspace="10" align="left" width="110" height="166" />Mau jadi imam/biarawan/biarawati tapi merasa umur sudah melampaui usia para Seminaris?  Jangan takut dan serta-merta mengubur dalam-dalam keinginan hati yang timbul.  Apalagi jika keinginan ini telah pula dimantapkan dengan serangkaian bisikan panggilan dari Tuhan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Mau contoh? </div>
<div align="justify">Silahkan baca perjalanan Imamat Romo Hadrian Handy Lenggawa, SJ, yang ditahbiskan pada 29 Juli 2009, di Kotabaru, Yogyakarta.  Saat menerima Tahbisan Imamatnya, Romo Hadrian berusia 51 tahun.  Proficiat kepada Romo Hadrian yang berani menjawab panggilanNya tanpa ragu!  Selamat berkarya demi kemuliaan nama Tuhan! </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">
<span id="more-348"></span><br />
 </div>
<div align="justify">*****</div>
<div align="justify">Saya, Hadrian Handy Lenggawa, lahir tanggal 12 Oktober 1958 di kota kecamatan Tanjung, kabupaten Brebes – Jawa Tengah. Saya dibesarkan dalam lingkungan yang cukup kuat dengan tradisi Cina &#8211; Jawanya. Di kota itu saya menjalani pendidikan awal di SDN III, yang bisa saya selesaikan di Desember 1970. Lalu, saya melanjutkan ke SMPN di kota itu juga dan lulus pada tahun 1973. Karena di kota saya waktu itu belum ada SMA, maka saya hijrah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan saya di SMA St. Aloysius dari tahun 1974 sampai dengan 1976.<br /> <br />Di SMA inilah, melalui pelajaran agama dan seorang teman yang rajin mengajak saya ke Gereja, saya mulai mengenal agama Katolik, tetapi saya belum berani masuk lebih jauh. Saya baru bisa mengagumi biarawan dari Asisi, yang rela meninggalkan segalanya, hanya untuk mengabdi pada Sang tokoh dari Nazaret, yang memang luar biasa menurut saya.<br /> <br />Di tahun 1977, setelah lulus SMA, saya kuliah Teknik Sipil di Universitas Parahyangan. Namun, keinginan yang begitu kuat untuk mempelajari ilmu elektro-telekomunikasi mendorong saya meninggalkan kota Bandung. Akhirnya di tahun 1978, saya pun mendarat di Negara Jerman dan tinggal di kota Aachen selama 10 tahun. Di kota ini lah, pada bulan November 1981, saya memberanikan diri untuk menjadi orang Katolik, setelah 3 tahun terlibat aktif dalam sebuah organisasi mahasiswa Katolik, yang bernama Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia. Lulus dari FH – Aachen di bulan Maret 1988, saya mengungsi ke kota Amberg – Jerman untuk bekerja selama 1 tahun di Siemens AG. Setelah itu, di bulan April 1989, karena perjanjian saya dengan CDG (Carl Duisberg Stiftung) – yayasan yang memberi saya beasiswa selama 3 tahun pada masa akhir studi saya – saya pun kembali ke Indonesia.<br /> <br />Di Tanah Air tercinta ini, saya kemudian merintis karir kerja, yang saya awali dengan menjadi programmer di perusahaan Software House bernama PT. Sigma Cipta Caraka. Sekitar 2 tahun bekerja di situ, saya terjangkit penyakit kutu loncat. Lalu, saya pun hinggap di PT. Lakop Raya – Holding Company dari Bank Mashill. Di situ, saya hanya bertahan 2 ½ tahun sebagai wakil kepala EDP – Electronic Data Processing. Kemudian saya melompat lagi ke Bank Tiara Asia dan bertengger di situ selama 5 tahun sebagai kepala IT – Information Technology.<br /> <br />Saya jatuh cinta pada perusahaan ini. Saya merasakan bahwa di situ hidup saya menjadi seimbang. Saya memang masih meluangkan banyak waktu bagi perusahaan, namun saya masih bisa mempunyai waktu bagi diri saya sendiri. Saya punya waktu untuk berdialog dengan Tuhan terutama tentang arah dan makna hidup saya. Saya juga pernah berencana menikahi seorang putri yang telah menjadi pacar saya selama 2 tahun. Namun, beberapa hari sebelum orang tua saya melamarnya, saya membatalkan rencana itu, karena berkat doa novena saya menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak saya temukan di dalam diri mantan pacar saya.<br /> <br />Entah kata-kata mana yang boleh saya gunakan, ”Sayang sekali” atau ”Penyelengaraan Ilahi” bahwa peristiwa itu boleh terjadi dan bahwa 2 tahun kemudian Bank Tiara terkena imbas dari krisis ekonomi yang terjadi di tahun 1997. Sebab, kedua peristiwa itu, ditambah dengan derita para korban kerusuhan Mei 1998, menyalakan api dalam diri saya. Api yang memberanikan saya untuk memilih panggilan hidup sebagai seorang Jesuit.<br /> <br />Akhirnya di bulan Mei 1999, setelah hampir 1 tahun bersama beberapa teman dan pemilik PT. Sigma Cipta Caraka membangun perusahaan, yang dinamai Data Center, mendaratlah saya di sebuah perusahaan milik Tuhan, yang bernama SERIKAT YESUS. Selama menjalani masa pendidikan sebagai frater Jesuit, terlebih di masa pelatihan pelayanan di beberapa tempat, saya merasakan kasih dan karya Allah, yang Ia berikan begitu luar biasa pada saya. Ini mengobarkan nyala api dalam diri saya. Langkah kaki saya pun semakin mantap mengikuti panggilan-Nya.<br /> <br />Jakarta, 5 Juli 2009<br />Hadrian Handy Lenggawa, SJ</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><font face="times new roman,times">Sumber: Situs Serikat Yesus Provinsi Indonesia </font></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimanakah Seorang Gembala Yang Baik?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/bagaimanakah-seorang-gembala-yang-baik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 07:46:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tahun Imam/Seputar Panggilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/bagaimanakah-seorang-gembala-yang-baik/</guid>

					<description><![CDATA[Jika saya boleh mengemukakan sedikit pendapat dari sudut pandang saya sebagai seorang imam (ini tidak mewakili pandangan semua imam), maka bagi saya: Pastor yang baik adalah pastor yang berani menerima dirinya apa adanya. Beberapa teman seimamat (saya sebut confrater) menjadi aneh dalam pandangan kami, sebab tidak berani menerima keluarganya. Maklum, tidak jarang confrater berasal dari ... <a title="Bagaimanakah Seorang Gembala Yang Baik?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/bagaimanakah-seorang-gembala-yang-baik/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Bagaimanakah Seorang Gembala Yang Baik?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Jika saya boleh mengemukakan sedikit pendapat dari sudut pandang saya sebagai seorang imam (ini tidak mewakili pandangan semua imam), maka bagi saya:</p>
<p>Pastor yang baik adalah pastor yang berani menerima dirinya apa adanya. Beberapa teman seimamat (saya sebut confrater) menjadi aneh dalam pandangan kami, sebab tidak berani menerima keluarganya. Maklum, tidak jarang confrater berasal dari keluarga miskin. Ketika menjadi pastor dia mengalami lonjakan status sosial dengan aneka bentuk hal yang mengikutinya: punya mobil (meski milik paroki), didengarkan orang jika berbicara (orang miskin sering kali terbungkam), punya kekuasaan (orang miskin tidak mempunyai kuasa kecuali atas dirinya sendiri, inipun masih sering tidak dimiliki), dan sebagainya. Nah, semuanya itu sekarang dia peroleh, sehingga dia lupa akan akar hidupnya. Akibatnya, akan kelihatan &#8220;aneh&#8221;.</p>
<p>Pastor yang baik adalah pastor yang menjadi dirinya sendiri. Semua gelar, status, kepemilikan itu bukan miliknya; dirinya tetap seperti dulu ketika belum jadi pastor. Akan repot jadinya, kalau pastor ingin menjadi seseorang seperti yang diinginkan orang. Akibatnya dia menggunakan topeng. Padahal ini capek kan? Nah, ketika dia tidak tahan lagi memakai topeng, dia bisa meledak. Makanya saya berusaha menjadi diri saya sendiri. Kalau umat tidak setuju dengan diri saya, ya udah.. itu hak umat, sebab saya juga harus berani menerima umat apa adanya. Jadi, harus ada timbal balik dong&#8230; Karenanya, saya tidak membedakan bergaul dengan anak-anak sampai orang tua. Saya tidak berusaha menjadi pastor ideal, sebab itu akan membuat saya aneh saja.</p>
<p>Pastor yang baik adalah pastor yang dapat menjadi saluran rahmat Allah. Karenanya, umat diminta mendoakan. Bukan agar dia kudus, melainkan agar saluran itu tidak bocor atau tersumbat, sehingga rahmat Allah tetap lancar. Bayangkan saja seperti talang (saluran air hujan) di rumah. Kalau talang penuh dengan sampah atau bocor, kan airnya akan habis ketika sampai di ujung. Nah, siapa yang merawat talang air itu? Ya umat dan diri pastor itu sendiri. Repotnya, umat sering tidak mampu. Jujur saja, banyak confrater dikelilingi oleh orang kaya dan cantik, sebab orang miskin dan jelek tidak berani datang ke pastor kecuali minta bantuan. Nah, ke mana orang kaya membawa para pastornya? Ke rumah makan, taman rekreasi, luar negeri (katanya ziarah, tapi 90% hanya keliling Eropa). Bagaimana kebersihan talang bisa terjamin kalau diisi dengan aneka hal macam itu? Jarang sekali umat mengajak pastor doa, retret, menyepi dll, kecuali umat meminta pastor untuk memberi retret, memimpin doa lingkungan, dll. Ini kan sama saja umat menimba air dari sumur pastor. Nah, kalau sumur itu terus ditimba, apakah akhirnya tidak akan kering? Umat memang mengandaikan bahwa pastor punya jadwal doa, tapi apakah sungguh dilaksanakan? Banyak confrater tidak berdoa lagi.</p>
<p>Pastor yang baik adalah pastor yang punya visi pengabdian pada orang lain, artinya orang yang melakukan karya kerasulan yang nyata. Meski sering pulang malam, bahkan dini hari, saya tidak pernah diprotes umat, sebab mereka tahu ke mana saya pergi, yaitu ke tempat yang mereka hindari. Mereka bisa melihat aktifitas saya. Maka, meski saya goncengan dengan gadis pun mereka tidak protes, sebab mereka melihat apa yang saya kerjakan, mereka melihat teman-teman saya yang kumuh dan jorok, teman-teman preman dan aktifis. Coba kalau yang saya goncengkan gadis-gadis manis terus menerus, pasti sebentar saja akan terjadi isu heboh. Ini sudah kejadian di tempat saya. Saya sering goncengan dengan seorang gadis ke tempat aktifitas selama bertahun-tahun tidak ada isu, eh ada confrater suka belanja ke makro dengan seorang ibu, padahal naik mobil, isu berkembang pesat sampai ada penyidangan dari Dewan Paroki segala. Nah, perbedaannya adalah saya pergi untuk kerasulan sedang yang lain pergi untuk makan dan belanja.</p>
<p>Pastor yang baik adalah pastor yang bisa &#8220;mancalo putra mancalo putri&#8221; artinya bisa beradaptasi dengan siapa saja dia bergaul: bisa dengan orang kaya maupun miskin, dengan laki maupun perempuan, tua maupun muda.</p>
<p>Wah, repot ya jadi pastor itu. Akan tetapi, sebenarnya itu semua ringan kok kalau dijalani dengan cinta. Kalau saya sih berharap agar umat bisa menempatkan pastor secara seimbang, artinya saya tidak suka kalau pastor ditempatkan pada posisi yang sangat tinggi, misalnya di Atambua, pastor itu dipanggil Amo (manusia setengah dewa). Wah, ini konyol.. sebab dengan demikian dia akan membawa sebutan itu dengan berat atau sebaliknya sewenang-wenang. Jadi, perlakukan pastor secara wajar, artinya sebagai sahabat, saudara&#8230; Sayangnya, kita masih menjadikan saudara dengan syarat, misalnya &#8220;saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus&#8221;. Lha kalau tidak dalam Kristus kan bukan yang terkasih ha..ha&#8230; (ini hanya guyonan kok..)</div>
<p>Ditulis oleh: Romo Yohanes Gani Sukarsono, CM</p>
<p>Sumber: Situs  www.indocell.net/yesaya</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
