Frater Oratus menceritakan bagaimana ia sekarang khusyuk berdoa pribadi dengan Yesus. Ia mengakui bahwa ia belajar banyak dari seorang ibu dan bapak yang ia lihat di gereja tiap pagi. Bapak dan ibu itu setelah Misa selalu masih berlutut di depan Sakramen Mahakudus. Mereka sangat khusyuk berdoa. Frater Oratus, yang tadinya kadang malas dalam doa pribadi, menjadi tertarik dan terpacu dengan melihat bapak dan ibu itu. “Ternyata dorongan untuk tekun berdoa aku peroleh dari hidup doa sepasang awam.”
Suster Setiarini suatu hari mulai bosan di biara. Banyak soal dialami, entah di komunitas, di perutusan, dan dalam hidup pribadi. Ia mulai sedikit merasa kering. Kadang terpikir dalam hati untuk mundur dari kongregasi. Pada waktu ia mau memikirkan niatnya itu, ia tinggal di rumah orang tuanya yang sudah tua. Selama seminggu di rumah, ia menimba banyak semangat dari kedua bapak ibunya, yang ternyata mereka saling setia. Meski kadang banyak persoalan dialami, tetapi mereka tetap setia. Pulang dari libur di rumah, Sr. Setiarini menjadi mantap untuk tetap setia dalam kongregasi. Ia bersyukur atas teladan hidup orangtuanya.

