:

Aku Belajar Dari Awam Dalam Menghayati Kaul Biara

Frater Oratus menceritakan bagaimana ia sekarang khusyuk berdoa pribadi dengan Yesus.  Ia mengakui bahwa ia belajar banyak dari seorang ibu dan bapak yang ia lihat di gereja tiap pagi.  Bapak dan ibu itu setelah Misa selalu masih berlutut di depan Sakramen Mahakudus.  Mereka sangat khusyuk berdoa.  Frater Oratus, yang tadinya kadang malas dalam doa pribadi, menjadi tertarik dan terpacu dengan melihat bapak dan ibu itu.  “Ternyata dorongan untuk tekun berdoa aku peroleh dari hidup doa sepasang awam.”

Suster Setiarini suatu hari mulai bosan di biara.  Banyak soal dialami, entah di komunitas, di perutusan, dan dalam hidup pribadi.  Ia mulai sedikit merasa kering.  Kadang terpikir dalam hati untuk mundur dari kongregasi.  Pada waktu ia mau memikirkan niatnya itu, ia tinggal di rumah orang tuanya yang sudah tua.  Selama seminggu di rumah, ia menimba banyak semangat dari kedua bapak ibunya, yang ternyata mereka saling setia.  Meski kadang banyak persoalan dialami, tetapi mereka tetap setia.  Pulang dari libur di rumah, Sr. Setiarini menjadi mantap untuk tetap setia dalam kongregasi.  Ia bersyukur atas teladan hidup orangtuanya.

Read more

Senyum Para Penjual Koran Perempatan

Hampir setiap pagi aku melewati dua perempatan, Ring Road dan Gejayan.  Kuperhatikan bapak-bapak menawarkan koran-koran yang diletakkan di tangan mereka, mulai dari Kompas, Kedaulatan Rakyat, dan beberapa yang lain.  Koran-koran itu tertata rapi di tangan mereka dengan memperlihatkan judul-judul koran paling atas.

Sebelum mendekat ke pengendara mobil dan motor, para penjual koran, dari jauh, sudah tersenyum.  Mereka mendekat dan memperlihatkan judul-judul koran yang mereka bawa, menawarkannya dengan harga yang bervariasi.  Meskipun korannya tidak dibeli sang pengendara atau bahkan senyuman pun tidak dibalas, mereka tetap tenang dan mampu tersenyum pada pengendara berikutnya.  Kulihat senyuman yang nyaris tanpa beban.

Read more

Peziarahan Umat Paroki Trinitas, Cengkareng

Di awal tahun 1971, Mgr. Leo Soekoto, SJ, Uskup Agung Jakarta, menyerahkan Stasi Cengkareng dan Stasi Kapuk kepada Paroki Tangerang. Saat itu, Paroki Tangerang memang  mempunyai banyak Stasi mengingat rentang wilayah pelayanannya yang meliputi Ciledug – Tigaraksa, Serpong – Tanjung Pasir/ Tanjung Kait. Sebelum Romo Anton Mulder, SJ yang mengepalai Paroki Tangerang diserahi tugas tersebut, kegiatan penggembalaan umat di areal kedua Stasi itu masih dilaksanakan oleh Romo H. Kemper, MSC, dari Paroki Grogol untuk Stasi Cengkareng dan Romo S. Sutopanitro, PR untuk Stasi Kapuk.

Dengan surat No. 352/B.Tjk/1972 dan No. 353/ B.Tjk/1972 bertanggal 10 Juli 1972, Mgr. Leo Soekoto, SJ menugasi Bapak R.Y. Prabowo (yang saat itu masih bertugas sebagai seorang perwira TNI-AD dan membantu di Sekretariat Paroki Tangerang) dan Bapak V.A. Adiwahyanto  (yang saat itu menjadi guru di SD Aloysius, Tangerang) untuk mengunjungi dan mendata umat di Stasi Cengkareng dan Kapuk guna mendapatkan data yang lebih rinci akan keberadaan mereka disamping juga untuk mengetahui jumlah umat di daerah ini serta kebutuhan akan sarana tempat beribadah.   Pendataan terus dijalani oleh kedua sukarelawan ini hingga akhir Oktober 1972, saat pendataan umat dianggap selesai dan hasilnya dilaporkan ke Keuskupan Agung Jakarta lewat Romo Anton Mulder, SJ.

Read more

Imam Yang Mencari Wajahnya: Eureka!

Archimedes, sekitar tahun 200 SM, dipanggil raja Yunani. Raja meminta Archimedes agar bisa membuktikan volume dan keaslian mahkota Raja. Suatu hari ia begitu bingung hingga mencemplungkan diri ke bak mandi yang penuh air. Waktu itu ilham pencerahan turun: bukankah volume air yang luber sama dengan volume tubuhku? Ia menemukan rumus ‘Berat Jenis’ guna menjawab tantangan Raja. Ia segera meloncat dari bak mandi dan berlari kegirangan sambil berteriak-teriak, ’Eureka, eureka, eureka!’ (sudah kutemukan!!).

Setiap orang dalam setiap komunitas kerap berhasrat ber-“eureka”: menemukan pelbagai ‘core values’, semacam nilai dasar bersama yang melandasi isi hati (core, cordis) setiap anggotanya. Core values, nilai-nilai dasar ini membimbing para anggotanya untuk memahami apa yang paling penting, bagaimana memperlakukan orang lain dan bagaimana cara bekerja bersama. Dengan kata lain: Values atau nilai-nilai dasar ini menjadi dasar budaya sebuah komunitas, juga komunitas para imam, karena bukankah para imam adalah alter Christi, tapi juga sekaligus seseorang yang terpenjara dalam kelemahan insaninya? (Ibrani 5:2). Di tengah maraknya budaya instan, sebagai akibat dari mudahnya orang untuk membuang segala – termasuk nilai-nilai (throw-away society) sekarang, bisa jadi menjadi imam adalah “a troubled commitment” – sebuah komitmen yang menggelisahkan.

Read more

Minggu H.R. Tritunggal Mahakudus, 19 Juni 2011

HR TRITUNGGAL MAHAKUDUS: Kel 34:4b-6.8-9; 2Kor 12:11-13; Yoh 3:16-18 “Setiap orang yang percaya kepadaNya tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup kekal” “Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu”, itulah peribahasa untuk menggambarkan bagaimana panjang, lebar, dalam dan luasnya hati orang yang sedang saling mengasihi satu sama lain. Orang yang sungguh saling mengasihi berarti sehati … Read more

Arah Dasar Pastoral Keuskupan Agung Jakarta Tahun 2011 – 2015

Gereja Keuskupan Agung Jakarta bercita-cita menjadi Umat Allah yang, atas dorongan dan tuntunan Roh Kudus, semakin memperdalam imannya akan Yesus Kristus, membangun persaudaraan sejati dan terlibat dalam pelayanan kasih di tengah masyarakat. Dilandasi oleh spiritualitas Gembala Baik dan pelayanan yang murah hati, ditopang oleh tata-penggembalaan partisipatif dan transformatif, seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta berkehendak untuk menyelenggarakan pelbagai kegiatan adlam rangka menghayati dan meneruskan nilai-nilai Injili, ajaran dan Tradisi Gereja Katolik dan melibatkan diri dalam berbagai permasalahan sosial, terutama kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup serta intoleransi dalam hidup bersama.

Read more

Terpilih Sudah!!! Anggota Dewan Paroki/Stasi Harian

Pada Rabu, 01 Juni 2011 telah dilaksanakan Rapat Dewan Paroki Pleno untuk memilih para anggota Dewan Paroki Harian Periode 2011-2014.  Seminggu kemudian, tepatnya pada Rabu, 08 Juni 2011 telah pula diselenggarakan Rapat Dewan Stasi Pleno untuk memilih para anggota Dewan Stasi Harian untuk Stasi Sta. Maria Imakulata, CitraGarden City 3, dan Stasi St. Vincentius Pallotti, Dadap.  Berikut adalah hasil dari Rapat tersebut di atas:

DEWAN PAROKI HARIAN TRINITAS: Terdiri dari 15 anggota dengan komposisi 7 wakil umat Trinitas, 7 wakil umat Stasi Sta. Maria Imakulata, 1 wakil umat Stasi St. Vincentius Pallotti, Dadap:

Read more

Berbagi Melalui Jalan Salib

Tidak seperti tema-tema APP tahun-tahun sebelumnya, tema APP 2011, “Mari Berbagi”, terkesan sederhana. Tema kali ini hanya terdiri dari 2 kata yang bahkan dapat dimengerti oleh anak kecil. Namun, semudah itukah makna dari tema tersebut dapat terungkap? Semua umat Katolik mengetahui bahwa APP (Aksi Puasa Pembangunan) merupakan sebuah sarana dari Gereja untuk mengamalkan setiap kebaikan yangterkandung dari setiap tema. Tema kali ini sangat mudah dimengerti karena berisi ajakan bagi kita untuk berbagi. Berbagi itu terkesan mudah, namun berbagi dalam arti yang sebenarnya tidak seperti membagikan kue pada teman baik kita. “Berbagi” yang terdapat dalam tema merupakan “berbagi” yang dapat diartikan secara multidimensi, tergantung pengetahuan dan iman orang yang mendengar atau membaca kalimat tersebut.

Read more

Kamis, 09 Juni 2011

“Kasih yang Engkau berikan kepadaKu ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka” (Kis 22:30; 23:6-11;Yoh 17:20-26) “ Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;  supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, … Read more