Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantuku mengayuh pedal sepeda.
Maria Dalam Gereja
Penulis:
A. Eddy Kristiyanto, OFM
Penerbit:
Kanisius, Yogyakarta, 1987
Tebal:
137 halaman
Rome Sweet Home
Penulis:
Scott dan Kimberly Hahn
Penerbit:
Dioma, Malang
Tebal:
299 halaman
Everything happens for a reason. Kira-kira 2 minggu sebelum mendengar tentang seminar ini, temanku dan pasangannya yang juga temanku, sempat berbeda pendapat tentang perbedaan agama mereka (Katolik dan Kristen), yang akhirnya sampai pada topik apa yang harus dilakukan jika mereka menikah nantinya. Aku, dengan kekuranganku dalam iman Katolik, berusaha menjadi penengah di antara mereka. Pada akhirnya, aku hanya berhasil menjadi pendengar yang baik. Banyak sekali pertanyaan dan pernyataan dari temanku yang Kristen yang hanya kutelan mentah-mentah sambil berharap aku akan menemukan jawaban dan penjelasan dalam waktu dekat.
Dalam seminar “Buat Apa Jadi Katolik”, aku merasa menemukan banyak penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan teman Kristen-ku itu. Aku banyak menggarisbawahi ucapan-ucapan Romo Mardiatmadja dan Romo Heru Susanto yang kupikir sangat ingin kujelaskan kepada temanku tadi. Seiring dengan berakhirnya seminar ini, berakhir pula keinginanku untuk menjelaskan dan menjawab semua pertanyaan temanku, karena aku kembali diingatkan bahwa misteri Katolik adalah misteri iman, yang hanya dapat dipercayai dan diimani oleh iman kita sendiri.
Retret Prodiakon 2009

“Peningkatan Kualitas Dan Semangat Pelayanan”, itulah tema yang diambil oleh Panitia Retret Prodiakon yang diadakan tanggal 15–17 Mei 2009. Kegiatan retret yang diikuti oleh 48 peserta mengambil tempat di Rumah Retret Canossa, Bintaro, dan dibimbing oleh Romo Antonius Rajabana, OMI (Romo Bono), yang saat ini menjabat sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Tanjung Selor, Kalimantan Timur.
Dalam kegiatan retret ini, Romo Bono mengajak seluruh bapak ibu prodiakon agar mencontoh Yesus selain sebagai Gembala yang baik, sekaligus juga sebagai Pemimpin yang berani dan tidak ragu-ragu atau takut dalam memimpin dan mengambil suatu keputusan. Salah satu caranya adalah kita harus senantiasa dengan rajin mengasah kepekaan diri masing-masing agar dapat mendengarkan “suara hati” yang paling dalam.
Romo Bono juga menambahkan, selain mengasah kepekaan mendengarkan “suara hati”, yang terpenting setiap tugas pelayanan harus didasarkan sebagai ungkapan terima kasih dan balasan kita atas Cinta Kasih Allah yang begitu besar dengan memberikan nyawaNya kepada para sahabatNya – inilah salah satu resep yang mujarab untuk menghilangkan rasa takut, ragu-ragu, malas dalam setiap pelayanan kepada umatNya.
Intisari Homili Minggu Biasa XV
MELIHAT DALAM DIRI MASING-MASING
Oleh: Romo Petrus J. McLaughlin, OMI
Bagi saya, jika saya ingin mempelajari sesuatu hal yang baru, maka saya akan mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan baru tersebut, berusaha mentaati hal-hal yang berlaku di tempat itu, dan tidak mengkritik. Sebagai contoh, saya dikirim belajar ke seminari di Roma, Italia. Suasana seminari internasional memang berbeda, saya perlu banyak menyesuaikan diri. Tetapi ada saja teman-teman dari mancanegara yang mengeluh, seperti di seminari tidak boleh merokok, padahal di seminari di negaranya, merokok tidak dilarang. Itu salah satu contoh. Bagi saya, jika mau hal-hal atau kebiasaan lama terus dipegang, ya, baliklah ke tempat lama kita. Tapi kalau mau mempelajari sesuatu yang baru, kita perlu penyesuaian diri dan mentaati peraturan yang berlaku.
Sehati Sejiwa Melayani Sesama, Rekoleksi SPSE Paroki Trinitas
{tpbox2 type={image} target={images/stories/artikel/2009/07/Rekoleksi-PSE-2009-01.jpg} title={Rekoleksi Seksi PSE 2009} group={a}}
{/tpbox2}Pada Minggu I dan Minggu II bulan Juni 2009, di Ciawi tepatnya di St Monica II Resort, diadakan rekoleksi SPSE Paroki Trinitas – Cengkareng. Rekoleksi ini diikuti oleh para Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan dan para pengurus Seksi Sosial Lingkungan (SSL). Mengingat jumlah peserta banyak, maka rekoleksi ini diadakan dalam dua gelombang. Gelombang I pada tanggal 6-7 Juni 2009 dan Gelombang II pada tanggal 13-14 Juni 2009.
Gelombang pertama diikuti oleh Wilayah 1 s.d 9 dan Wilayah 23 dengan jumlah peserta sebanyak 111 orang dan Gelombang ke II diikuti oleh wilayah 21 s.d 32 dikurangi Wilayah 23 dengan jumlah peserta sebanyak 109 orang.
Pilihan yang Minus Malum

Di mata masyarakat, tiga pasang capres-cawapres pilpres 2009 mempunyai kekuatan sekaligus kelemahan. Semua pasangan berkampanye dengannama yang sama dalam visi: hendak menyejahterakan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia.
Profil Capres dan Cawapres Pilpres 2009
Berdasarkan Peraturan KPU no. 32 Tahun 2009, pemilihan presiden (pilpres) putaran pertama diselenggarakan pada Rabu, 8 Juli 2009.
Apabila pada putaran pertama ini tidak ada pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang memperoleh suara di atas 50% dari suara sah, akan dilakukan pilpres putaran kedua pada Selasa, 8 September 2009. Pilpres putaran kedua hanya diikuti 2 pasangan capres/cawapres yang memperoleh suara terbanyak 1 dan 2.

