Penulis:
Gordon Thomas
Penterjemah:
Harris Hermansyah Setiajid
Penerbit:
Kanisius, 2009
Tebal:
468 halaman
Sukses buku karangan Dan Brown “The Da Vinci Code” sepertinya mengilhami banyak orang untuk menerbitkan buku-buku sejenis. Tokoh sentral tetap sama, yakni Yesus. Selama 21 abad sejak kematianNya, tokoh dari Nazareth itu tak henti-hentinya dibicarakan. KerahasiaanNya dikuak, ke-ilahian-Nya dipertanyakan, sepak terjang karyaNya yang teramat singkat dicoba diutak-atik. Para pakar dari berbagai disiplin ilmu seperti berlomba-lomba untuk menyingkap tabir rahasia yang mengungkung tokoh tiada tandingan tersebut.
Dari kebangkitanNya yang spektakuler, makamNya yang kosong, kain kafanNya yang misterius, sampai wanita-wanita yang paling dekat dalam hidupNya; semua ditelusuri dan diungkit-ungkit. Dalam beberapa buku yang menguak sosok Maria Magdalena, nama Yesus tak bisa dipisahkan. Kedekatan perempuan dari Magdala dengan lelaki dari Nazareth itu jika diramu dengan baik bisa jadi konsumsi publik yang layak jual.
Untuk menyalakan kobaran api, haruslah ada sepercik api yang menyulut. Dan percikan ini muncul dalam kisah kelahiranku. Ibuku mengalami kesulitan untuk melakukan persalinan. Butuh beberapa rumah sakit hingga akhirnya Bapaktuaku (alias Pakdhe) yang di tinggal Bogor mengambil inisiatif untuk membawa ibuku ke Bogor. Dan aku pun dilahirkan di RS PMI Bogor pada tanggal 17 Juli 1979 ke tengah-tengah keluarga M. Simbolon. Sejak saat itu, Bapaktua Bogor dengan kumis dan jenggotnya yang lebat selalu menjadi gambaran akan Allah yang penuh kasih, sebagaimana dikatakan pemazmur: “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.” (Mzm 139:13). Pengalaman kasih Allah bahkan sudah kurasakan sejak aku belum melihat dunia.
