|
Maria Imakulata -
Maria Imakulata
|
|
Thursday, 11 April 2013 08:49 |
|

Ada yang menarik saat menjejakkan kaki di pelataran Gereja Sta. Maria Imakulata. Mata kita akan langsung tertuju pada dekorasi Paskah Hijau yang dibuat oleh Panitia Paskah Stasi Sta. Maria Imakulata yang berupa Bukit Golgota, 4 dekorasi hasil karya anak-anak Bina Iman dari Wilayah-Wilayah Panitia Paskah, dan lukisan Tuhan Yesus. Apa istimewanya dekorasi Paskah ini? Dekorasi Paskah di Gereja Stasi Sta. Maria Imakulata mengambil tema Paskah Keuskupan Agung Jakarta 2013: “Memperbaiki Tata Kehidupan dengan Kekuatan Paskah Kristus.” |
|
Read more...
|
|
Artikel -
Umat Berbagi
|
|
Tuesday, 02 April 2013 19:21 |
|
Sebut saja aku Tere, seorang ibu dengan 3 orang anak berusia sekitar 40 tahunan, umat Paroki Trinitas. Aku tinggal di kompleks pemulung di bilangan Bambu Larangan, karena suamiku adalah seorang pemulung. Aku berasal dari pulau seberang, datang ke Jakarta saat usiaku masih muda dengan pikiran ingin mengadu untung di Ibukota. Masih lekat dalam benakku saat aku ikut temanku naik kapal laut menuju Jakarta. Sesampai di Kota Metropolitan ini, aku diterima bekerja sebagai perawat orang lanjut usia. Aku pernah juga bekerja sebagai buruh pabrik dan pembantu rumah tangga lepas waktu. Pernikahan pertamaku kandas saat aku mengandung anak pertama kami. Sejak menikah dengan suamiku yang sekarang di tahun 2004, aku mulai menghuni kompleks pemulung ini.
Suamiku memang bukan bekerja sebagai pemulung saja, tetapi juga kerja-kerja apa pun yang dapat ia lakukan. Semuanya tentu demi mendapatkan nafkah hidup kami sekeluarga. Ingin rasanya aku ikut membantu mencari penghasilan untuk menopang biaya keluarga kami, tetapi anak-anak kami masih terlalu kecil untuk ditinggalkan. Aku hanya dapat membantu sekedarnya dengan ikut menjadi pemulung, mencari paku atau tutup botol air kemasan. Syukur kalau kami masih bisa makan tiap hari meski sangat sederhana, juga berjuang keras untuk mengumpulkan Rp 200.000,- setiap bulannya guna mengontrak satu kamar di rumah yang kami tempati sekarang.
|
|
Read more...
|
|
Artikel -
Romo Menyapa
|
|
Tuesday, 02 April 2013 19:13 |
|
Belarasa - kiranya adalah suatu kata yang tidak asing lagi di telinga kita, karena sekarang ini hampir di setiap Misa Kudus kita menyanyikan “Mars Berbela Rasa”. Arah Dasar (Ardas) Paroki Trinitas tahun 2013 juga mengambil bagian dari Ardas KAJ: “Makin Beriman, Makin Bersaudara, Makin Berbelarasa”. Suatu pernyataan yang isinya saling terkait dan makin menunjukkan intensitas kedalamannya, bahkan kata yang paling ujung yakni “belarasa” merupakan ukuran apakah kita benar-benar layak disebut sebagai “Orang Kristiani”.
Dasar Semangat Belarasa: Allah adalah Kasih
Allah yang kita imani adalah Allah yang kita kenal dalam diri pribadi Yesus Kristus Tuhan kita. Demikianlah diungkapkan dalam 1 Yoh 4:7-8.16b, “Allah adalah Kasih. Marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia”. Dari kesaksian Injil, kita melihat bagaimana Yesus berbelarasa terhadap perempuan yang sakit pendarahan (Markus 5:25-34), terhadap lima ribu orang yang lapar (Markus 6:34), terhadap perempuan Siro-Fenesia yang anaknya sakit (Markus 7:24-30), terhadap janda Nain yang anaknya meninggal (Lukas 7:13) dan masih banyak lagi. Puncak belarasaNya ialah ketika Tuhan Yesus memberikan hidupNya di atas kayu salib demi keselamatan kita semua.
Benar! Allah telah mengasihi kita, dan ketika orang mengalami kasih, semestinya orang tersebut akan bertanggungjawab dan memberikan kesaksian akan kasih Allah itu. Oleh karena itu, kalau kita ingin semakin beriman seperti terungkap dalam Ardas Paroki kita, tentunya kita ingin makin mengasihi dan mengambil sikap belarasa, seperti yang telah Yesus berikan untuk kita.
|
|
Read more...
|
|
Artikel -
Lingkungan Hidup
|
|
Saturday, 23 March 2013 13:16 |
|
Pengantar
Acara tahunan Earth Hour yang digagas WWF (World Wildlife Fund) adalah sebuah kegiatan bersama warga dunia yang prihatin atas makin rusaknya bumi ini. Simbolnya sederhana, yaitu mematikan listrik selama satu jam saja. Yang dituju bukan hanya jumlah energi yang bisa dihemat manusia, tetapi terbangunnya kesadaran dan kepedulian terhadap nasib bumi seisinya. Karena umat Katolik adalah juga penghuni bumi, dan bahkan dipanggil Sang Pencipta untuk memeliharanya, sudah sewa-jarnya umat Katolik berpartisipasi dalam Earth Hour ini.
Lebih jauh, pada waktu listrik dan lampu mati, kita bisa memakai kesempatan ini untuk berkumpul, merenung dan berdoa bersama untuk dunia. Salah satu bentuk kegiatannya adalah berdoa rosario bersama, yang di dalamnya diisi dengan renungan iman dalam kaitan dengan nasib bumi ini. Mengingat makin parahnya kehancuran bumi dan masih belum adanya kepedulian manusia, dipilih peristiwa sedih dalam rosario ini. Karena itu pula, tema rosario ini adalah “Bersama Maria, berdoa untuk dunia.”
Renungan dibuat agak panjang karena kita punya waktu cukup panjang, dan tentu akan lebih bagus kalau disertai dengan saat hening untuk merenung secara pribadi, yang bisa saja disertai dengan musik instrumental.
Sementara itu, untuk lagu selingan, silakan pilih sendiri, yang bisa diisi oleh peserta yang ingin mengajak bernyanyi, entah dengan gitar atau alat akustik yang lain. Dengan itu pula, partisipasi bisa menjadi lebih luas dan acara menjadi sungguh bermakna.
|
|
Read more...
|
|
Artikel -
Lingkungan Hidup
|
|
Saturday, 23 March 2013 13:09 |
|
Pada Sabtu, 23 Maret 2013, pkl. 20.30-21.30, kita diharapkan untuk ikut ambil bagian dalam JAM BUMI, yaitu dengan mematikan lampu dan perangkat elektronik berbasis listrik yang tidak sedang digunakan. Tentu, kegiatan ini bisa terus kita lakukan dan jadikan kebiasaan dalam hidup kita sehari-hari, sehingga selain kita menghemat biaya pemakaian listrik yang harus kita bayar, kita juga memberikan sumbangsih keprihatinan kita akan pemanasan global.
Bagaimana cara menghemat listrik sehari-harinya?
1. Matikan lampu yang tidak diperlukan. Biasanya, di malam hari kita cukup banyak menyalakan lampu untuk menjadi penerang baik di dalam maupun di luar rumah. Cobalah untuk kembali mengevaluasi kegunaan nyala lampu-lampu di malam hari. Matikan yang tidak diperlukan.
2. Matikan pendingin ruangan jika kita tidak ada di dalam ruangan. Dapat juga ditempuh cara menyalakan pendingin ruangan beberapa saat sebelum ruangan kita gunakan.
3. Bagi yang bekerja di kantor, kita dapat mematikan lampu dan pendingin ruangan sebelum kita meninggalkan ruang kerja. Jangan biarkan lampu dan pendingin ruangan menyala terus untuk akhirnya baru dimatikan oleh petugas kebersihan atau petugas jaga kantor.
|
|
Read more...
|
|
|