|
Ibu Suci memiliki seorang suami yang baik dan sepasang anak yang lucu-lucu berumur 4 dan 6 tahun. Di usia perkawinannya yang memasuki tahun ke-8, sebetulnya dia harus akui dia cukup bahagia. Suami bekerja dengan posisi lumayan. Belum manajer sih, tapi cukuplah. Mobil mereka punya, bukan merk yang mewah, tapi muat buat sekeluarga jalan-jalan. Rumah mereka masih dicicil setiap bulannya dan berada di satu kompleks yang cukup baik di kawasan Barat Jakarta. Segala sesuatu baik, anak-anak sehat dengan sedikit batuk dan pilek yang datang dan pergi seiring cuaca yang terus berubah. Masalah pasti ada, tetapi mereka setidaknya mampu mengatasinya. Semua seolah baik-baik saja. Sampai satu ketika, tetangga sebelah mereka mulai mendaki kesuksesan. Mereka pindah rumah, dapat mobil bagus, dapat fasilitas wah dan masih terus mengontak Ibu Suci dengan memberi ‘update’ kemajuan mereka. Tanpa sadar, perlahan, Ibu Suci mulai dirasuki pemikiran dan rasa iri hati. Sebetulnya wajar saja, jika iri itu bisa menyelinap diam-diam. Tetapi, ketika rasa itu berdiam terlalu lama dan menyebar menjadi racun yang memenuhi hati seseorang seperti hati Ibu Suci di saat ini, itu yang jadi masalah.
|
|
|
Tahukah Anda? Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Gereja Katolik Santa Maria Imakulata yang berlokasi di CitraGarden City sudah terbit pada 18 Januari 2010 yang lalu. Puji Syukur dan terima kasih kepada Allah Tritunggal Mahakudus dan Bunda Maria Imakulata yang berkenan mengabulkan segala doa permohonan kita selama ini.
Sesuai ketentuan yang ditetapkan dalam surat IMB tersebut, dalam 6 (enam) bulan ke depan kita harus sudah mulai melaksanakan pembangunan fisik gereja ini. Dalam masa-masa seperti sekarang ini, tentunya diperlukan dana yang cukup banyak untuk dapat menyelesaikan pembangunan tersebut. Kita bangga Tuhan memanggil kita untuk ikut ambil bagian dan terlibat dalam pendirian RumahNya, karena kita merupakan bagian dari Gereja itu sendiri.
Anda dapat menyalurkan sumbangan kasih Anda lewat rekening Panitia Pembangunan Gereja Santa Maria Imakulata: BCA Taman Kencana a/c 531-044-5900 a/n PGDP Gereja Trinitas.
Tuhan melimpahkan berkat dan kasihNya senantiasa pada kita sekalian. Mari bersama kita wujudkan Rumah Tuhan. Kalau bukan kita yang berperan, siapa lagi?
|
|
Maria Dea Natalia, siswi Sekolah Dian Harapan punya cara sendiri untuk ikut berperan serta dalam penggalangan dana pembangunan Gereja Santa Maria Imakulata. Dea – demikian gadis manis ini biasa disapa – memenangkan Kontes Spelling Bee. Hadiah yang berupa uang dan ditambah dengan sumbangan pribadi keluarganya sehingga menjadi total sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) disumbangkannya untuk pembangunan gereja. Senin, 14 Desember 2009, Dea yang ditemani salah seorang guru Sekolah Dian Harapan, menyerahkan sumbangannya langsung ke Romo A. Widiatmoko, OMI, Romo Stasi Sta. Maria Imakulata, yang disaksikan oleh Bpk. Julius Husen, Ketua Kolegial PPG Bidang Dana.
Ada banyak cara untuk ikut berpartisipasi dalam mengumpulkan dana pembangunan gereja idaman kita bersama ini. Dea telah menunjukkan salah satu ide kreatif tersebut.
|
Saudara-Saudariku yang terkasih dalam Kristus, betapa kita masih akan dapat mengatakan Tuhan tidak baik kepada kita? Lihatlah Allah tidak saja memberikan berbagai macam rahmat yang kita perlukan untuk menjalani hidup ini. Hidup itu sendiri sudah merupakan rahmat tersendiri bagi kita, belum lagi kesehatan, kehadiran orang-orang yang kita cintai dan yang mencintai kita, keluarga kita, pekerjaan kita, indahnya alam ciptaan di sekitar kita, dan masih banyak lagi. Kalau sekarang ini Dia memberikan kepada kita PuteraNya sendiri untuk penebusan dosa kita, tidakkah Allah memang sungguh-sungguh baik? Saudara-saudariku, TUHAN MEMANG SUNGGUH BAIK KEPADA KITA.... KasihNya sungguh tanpa syarat diberikan kepada kita. |
Nama lengkapnya Charles Patric Edwards Burrows, lahir di Seville Place, Dublin, Irlandia Selatan pada 08 April 1943. Di usia 19 tahun, Charlie – begitu Beliau biasa disapa – masuk Novisiat Oblat Maria Immaculata (OMI). Serangkaian formasi dan pendidikan sebagai seorang calon Imam OMI dilaluinya hingga Beliau meneguhkan panggilannya dalam Tahbisan Imamat di Piltown, sebuah desa kecil di selatan timur Irlandia pada 21 Desember 1969. Imam muda ini kemudian ikut dalam rombongan imigran Irlandia ke Australia di bulan September 1970 dan sempat berkarya beberapa waktu di Paroki Sefton, Sydney, Australia. Sejak 09 September 1973, Beliau dikirim ke Indonesia untuk berkarya di Paroki St. Stephanus, Cilacap, Jawa Tengah hingga sekarang. |
|
Menjadi seorang imam ternyata bukan hal yang mudah, apalagi untuk zaman sekarang ini. Begitu banyak godaan duniawi menghalang di jalan. Sulitnya, godaan di zaman yang serba maju ini mengalami transformasi bahkan reformasi, sehingga sangat amat sulit menentukan batas antara wajar dan tidak wajar, antara boleh dan tidak boleh, antara baik dan tidak baik.
|
|
Dalam menanggapi himbauan Bapa Uskup Agung Jakarta, Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ agar Gereja turut serta dalam mambantu umat yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dan agar jangan sampai ada umat yang tidak makan, maka dibentuklah suatu wadah yang dinamai “Tim Karya Sejahtera”. Kepengurusan Tim Karya Sejahtera terdiri dari para Pengurus Seksi dan Kelompok Kategorial yang ada di Paroki Trinitas - Cengkareng, yaitu antara lain Seksi PSE – Seksi Kerasulan Awam – WKRI – Koperasi Kredit Usaha Sejahtera, dll.
|
|
Seorang pria yang bertamu ke rumah seorang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja, mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, "Apa yang sedang Guru lakukan?" Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya." Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. |
Dua hari sebelum pindah dari Singapura ke Saigon…Seorang teman baik, memberikan saya salib. Bentuknya kecil, cukup mungil sehingga memudahkan saya untuk membawanya. Dia bilang, maksudnya untuk tetap mengingatkan saya agar tetap berdoa. Namun, saya memandangnya sebagai hal yang lain. Saya merasa diingatkan agar selalu setia pada salib yang saya pikul. Kesetiaan yang setidaknya mengacu kepada kesetiaan Yesus yang tetap setia sampai mati di kayu salib.
|
|
|