|
"There were time when i look at my life and think that i can't do this and i can't do that. And you keep on concentrating on the things on the things that you wish you had, and the things you wish you didn't have. And suddenly you forget what you do have...."

Tentunya kita pasti pernah jatuh dalam depresi, kesedihan yang mendalam, kekecewaan pada diri sendiri, menyalahkan diri dengan apa yang tidak kita miliki atau bahkan berharap tidak memiliki kekurangan yang tidak kita miliki saat ini. Tapi sadarkah kita, bahwa setiap saat kita justru berfokus pada segala hal yang kita harapkan kita miliki, dan kita harap kita punya atau tidak punya, justru kita lupa pada apa yang kita miliki. Kita lupa bersyukur, dan lupa berterima kasih pada Tuhan.
|
|
Pada tanggal 15 Agustus 2010, hari minggu, diadakan acara Lomba membuat miniatur Gereja Stasi Santa Maria Imakulata. Peserta lomba adalah perwakilan dari masing-masing wilayah. Acara lomba berlangsung dari pukul 10.30 sampai 12.30 WIB. Yang menarik adalah dalam membuat miniatur ini, peserta lomba diharuskan menggunakan bahan-bahan unik seperti Lilin mainan (daugh)/malam untuk kategori SD, dan untuk SMP/SMA menggunakan bahan dari barang-barang bekas seperti kaleng softdrink, kotak korek api, kotak rokok, botol air mineral, stereoform, kardus bekas, dll.
|
|
1. Ada waktu-waktu tertentu saat satu-satunya yang kita perlukan ialah BERDOA. 2. Berdoa dengan seluruh tenaga, lahir dan batin. Kekuatan batin sangat bertambah. Jiwa dan roh kita sempat merekah dan menjadi sangat indah. 3. Ada doa yang muncul spontan bagaikan kenangan-kenangan masa silam. Biasanya itu semua adalah doa-doa kesayangan kita. 4. Doa-doa lama yang datang kembali ini, biasanya berdering manis dan bening. Begitu beningnya hingga mengubah suasana batin yang muram menjadi terang temaram.
|
|
"Menjadi tua itu pasti, menjadi bijaksana itu pilihan." Kalimat ini menegaskan bahwa menjadi tua tidak otomatis menjadi bijaksana. Ketika putaran waktu semakin cepat dan tanpa terasa kita mulai masuk ke dalam kelompok lansia, kesadaran itu (untuk menjadi bijaksana), harus selalu ada dalam benak kita. Untuk itu, berikut 6 kiat menjadi bijaksana di hari tua, sekaligus untuk menggapai hidup bahagia bersama anak cucu.
Pertama, menerima diri dan kenyataan. Sambil menerima diri dan kenyataan, termasuk mimpi-mimpi indah masa muda yang belum terwujud, hendaknya kita selalu luangkan waktu untuk mengendapkan seluruh pengalaman kita. Hal-hal mengesan, menyenangkan, atau menyesakkan, hendaknya kita terima bersama perubahan fisik yang kita alami. Kulit tak lagi mulus, postur rubuh tak lagi ideal, rambut mulai memutih dan kekuatan semakin berkurang. Menerima kenyataan adalah awal mejnadi bijaksana. Maka kita menjadi tahu, sampai di mana kita melangkah dan dari titik itu kita mulai perjalanan baru yang penuh kebahagiaan, bukan penyesalan. Sebagaimana ajaran St. Paulus, hendaknya seluruh pikiran, sikap, dan perilaku kita diwarnai belas kasih, kemurahan dan kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran (bdk. Kol 3:12). Hal penting lain, berapa pun usia kita, penampilan harus tetap diperhatikan. Wanita setua apa pun harus tetap mengatur rapih rambutnya, berdandan dan mengenakan pakaian dalam batas-batas kewajaran. Pria, berapa pun cucunya, tetap perlu mengenakan pakaian elegan. Menghargai diri sendiri adalah ciri pikiran sehat dan syarat pertama untuk mendapat penghargaan dari orang lain.
|
|

Romo Yohanes Damianus, OMI dikirim Kongregasinya ke tanah Pakistan sebagai Misionaris sejak 5 tahun yang lalu. Pada 25 Mei 2010 yang lalu, Romo Dami mengalami peristiwa penembakan yang dilakukan oleh sekelompok orang – entah mereka itu perampok atau militan. Hal ini mengakibatkan luka cukup serius. Romo Dami lalu dikirim pulang ke Indonesia untuk menjalani serangkaian proses operasi dan pengobatan lebih lanjut. Beruntung Sabitah dapat menemui Romo Dami yang masih dalam pemulihan paska operasi pertamanya di Pasturan Paroki Cengkareng.
Hikmah dari peristiwa penembakan ini?
“Sebagai seorang Misionaris, kami harus siap menghadapi segala bentuk malapetaka, termasuk juga penembakan. Jadi hikmah yang paling mendasar dari peristiwa ini adalah bahwa bekerja bersama Yesus harus berani menanggung resiko. Saya menyadari betul bahwa tugas perutusan sebagai Misionaris ini bukan hanya karena saya diutus oleh Romo Provinsial atau Romo Jenderal – mereka hanyalah sarana untuk menyampaikan perutusan pada saya - tetapi inilah perutusan Tuhan Yesus sendiri kepada saya dengan segala resikonya. Bukan hanya saya saja yang mengalami peristiwa tak menyenangkan ini, banyak Romo yang ditembak mati, ada yang disekap, diculik, dan macam-macam lagi, bahkan ada Romo yang istilahnya “balik tinggal nama”. Itulah resiko dari sebuah misi. Jadi saya tidak akan melihat peristiwa ini hanya semata sebagai kejadian manusiawi, tetapi hal itu adalah resiko dari misi, seperti Tuhan Yesus sendiri yang menjalankan misiNya hingga beresiko Dia terbunuh. Resiko seorang Misionaris itu di mana saja di dunia ini selalu ada - resiko-resiko yang kerap kali tak tertanggungkan. Saya mencoba mengambil bagian dalam penderitaan Kristus dengan ikut mengambil penderitaan kemanusiaan di dunia ini. Tidak hanya saya yang ditembak, ada begitu banyak orang yang ditembak, saya kebetulan lolos, yang lain tidak lolos.”
|
|
“Saya ingin di sebalah sini ada ruang sholat. Tidak perlu besar,” begitu pesan salah seorang klien saya ketika mendesain rumahnya. Saya tidak merasa sesutu yang aneh lagi kalau ada orang yang menginginkan ruang sholat di rumahnya. Saya sering melihat ruang sholat di dalam rumah kalau sedang berkunjung ke tempat kerabat. Di dalam ruang kosong, hanya ada hamparan karpet dan sajadah. Di situlah mereka biasanya melakukan sholat 5 waktu. Baik sendirian maupun berjemaah bersama keluarga.
Pengalaman lain lagi ketika saya mempunyai kesempatan mendesain rumah teman yang beragama Buddha. Dia juga minta disediakan ruang sembahyang. “Di sini saya akan menempatkan meja sembahyang. Tidak perlu terlihat dari luar,” pesannya. Ketika pertama kali bertemu untuk membahas desain rumahnya, saya lupa menempatkan ruang sembahyang. Benar-benar lupa. Dia tiba-tiba bertanya, ”Ruang sembahyangnya mana? Jangan dilupakan, ya, karena dari situ rejeki saya berasal.”
|
|
1. Lihatlah Tubuhku - Deshi Ramadhani, SJ (Penerbit Kanisius)
2. Roh & Kehidupan - Scott Hahn (Penerbit Dioma)
3. Power Bible Comic 1 (Dari Kejadian Dunia sampai Kisah Yusuf) - Kim Shin-Joong (Penerbit Elex Media)
4. Power Bible Comic 2 (Musa, Pemimpin Bangsa Israel) - Kim Shin-Joong (Penerbit Elex Media)
5. Power Bible Comic 3 (Tanah Terjanji) - Kim Shin-Joong (Penerbit Elex Media)
6. Power Bible Comic 4 (Daud, Raja Israel yang Agung) - Kim Shin-Joong (Penerbit Elex Media)
7. Power Bible Comic 7 (Kelahiran Yesus) - Kim Shin-Joong (Penerbit Elex Media)
|
|
Pada Minggu, 18 Juli 2010, berbarengan dengan acara yang diadakan oleh Pengembang Perumahan CitraGarden City 6, umat Gereja Katolik Paroki Trinitas, Cengkareng turut meramaikan dengan bersepeda bersama yang disebut "Funbike". Acara "Funbike" ini memang tidak sampai memecahkan rekor MURI, namun tetap ramai diikuti oleh banyak partisipan yang kebanyakan adalah umat Gereja Katolik Paroki Trinitas, Cengkareng. Para peserta Funbike pun berasal dari berbagai kalangan usia, ada yang tua, muda, bahkan anak-anak. Terlihat seorang anak kecil yang kelelahan, sehingga ia menumpangi motor sementara setelah cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan, ia kembali mengayuh sepedanya dengan bersemangat. Acara Funbike ini diadakan untuk memperingati ulang tahun ke-32 tahun Gereja Katolik Paroki Trinitas, Cengkareng.
|
|
|