|
Renungan -
Mari Merenung
|
|
Sunday, 24 June 2012 18:40 |
|
Apakah ada sosok pemimpin yang bisa memuaskan semua orang? Tentu saja ada. Tapi, sosok seperti itu mungkin hanya bisa dihitung dengan jari. Selalu saja ada yang tidak puas dengan kepemimpinannya. Menyatukan banyak "ide dalam kepala" ke dalam satu visi dan misi bersama bukanlah pekerjaan yang mudah bagi pemimpin. Karena itulah, menjadi pemimpin seperti itu perlu bersiap-siap untuk menerima ketidap-puasan dalam bentuk kritikan maupun gerutuan. Rupanya, problem yang dialami oleh sebagian pemimpin - tidak harus provinsial atau pimpinan komunitas, tetapi bisa juga ketua forum atau panitia - juga dialami oleh salah satu tokoh besar dalam Alkitab, yaitu Musa. Musa adalah nabi besar (bdk. Ul 34:10-11), sekaligus bapa pendiri dan pemimpin besar bangsa Israel. Ia dikenal sebagai seorang yang sangat lembut hatinya (bdk. Bil 12:3). Ia sangat terkenal akan kedekatannya dengan Tuhan: "Dan Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya." (Kel 33:11)
|
|
Read more...
|
|
|
Renungan -
Mari Merenung
|
|
Sunday, 27 May 2012 21:56 |
|
Dalam Syahadat Iman yang diakui oleh Gereja Katolik sedunia, terdapat sebuah penggalan kalimat, “Aku percaya akan Roh Kudus”. Disinilah Gereja mengajak kita untuk benar-benar meyakini adanya Roh Kudus.
Roh Kudus sendiri dalam pengertian dan pengartian Perjanjian Lama kerap mempunyai tiga arti. Pertama: (qadosy) yang berarti 'bersifat kudus atau khusus' (Keluaran 29:31).
Kedua, (ruakh elohim), yang berarti 'Roh Allah, nafas Allah, angin Allah’.
Ketiga, (ruakh qadosy), yang berarti 'Roh Kudus' (Kejadian 1:2; Yehezkiel 37:1-14; Yunus 1:4; Zakharia 4:6).
Menegaskan keyakinan ini, St. Ambrosius dalam De mysteriis pernah mengajarkan, “Karena itu, engkau harus ingat bahwa engkau telah menerima pemeteraian oleh Roh: roh kebijaksanaan dan pengetahuan, roh nasihat dan kekuatan, roh pengertian dan kesalehan, roh takut akan Allah; dan peliharalah apa yang telah engkau terima. Allah Bapa telah memeteraikan engkau, Kristus Tuhan telah menguatkan engkau dan memberikan jaminan Roh dalam hatimu” (7,42).
|
|
Read more...
|
|
Renungan -
Mari Merenung
|
|
Sunday, 19 June 2011 12:18 |
|
Hampir setiap pagi aku melewati dua perempatan, Ring Road dan Gejayan. Kuperhatikan bapak-bapak menawarkan koran-koran yang diletakkan di tangan mereka, mulai dari Kompas, Kedaulatan Rakyat, dan beberapa yang lain. Koran-koran itu tertata rapi di tangan mereka dengan memperlihatkan judul-judul koran paling atas.
Sebelum mendekat ke pengendara mobil dan motor, para penjual koran, dari jauh, sudah tersenyum. Mereka mendekat dan memperlihatkan judul-judul koran yang mereka bawa, menawarkannya dengan harga yang bervariasi. Meskipun korannya tidak dibeli sang pengendara atau bahkan senyuman pun tidak dibalas, mereka tetap tenang dan mampu tersenyum pada pengendara berikutnya. Kulihat senyuman yang nyaris tanpa beban.
|
|
Read more...
|
|
Renungan -
Mari Merenung
|
|
Tuesday, 07 June 2011 19:33 |
|
Pada suatu hari, 3 orang Cina yang bersahabat sejak kanak-kanak bertemu. Salah seorang dari mereka kini menjadi seorang pejabat negara. Yang seorang lagi menjadi seorang guru besar di sebuah universitas. Yang seorang lainnya lagi adalah seorang petani sederhana. Sambil duduk santai, mereka bercakap-cakap tentang apa yang masih mereka inginkan untuk dimiliki di hari esok.
Sang pejabat negara menyatakan bahwa ada 2 hal yang paling ia inginkan, yaitu memiliki sebuah cangkir porselin antik untuk minum teh dan seekor kuda yang tinggi untuk mengantarnya bersafari keliling pelosok negeri.
Sementara itu sang guru besar menyatakan bahwa 2 hal yang paling ia inginkan adalah selalu tersedia baginya secangkir cokelat manis yang hangat dan sepasang mata yang selalu sehat sehingga ia bisa memuaskan hobinya untuk membaca buku.
Sedangkan sang petani hanya menginginkan hal-hal yang biasa terjadi setiap hari, seperti terbitnya matahari, burung-burung yang berkicau di atas pohon di kebun buahnya dan sungai yang tidak pernah kering.
|
|
Read more...
|
|
Renungan -
Mari Merenung
|
|
Tuesday, 24 August 2010 11:50 |
|
1. Ada waktu-waktu tertentu saat satu-satunya yang kita perlukan ialah BERDOA. 2. Berdoa dengan seluruh tenaga, lahir dan batin. Kekuatan batin sangat bertambah. Jiwa dan roh kita sempat merekah dan menjadi sangat indah. 3. Ada doa yang muncul spontan bagaikan kenangan-kenangan masa silam. Biasanya itu semua adalah doa-doa kesayangan kita. 4. Doa-doa lama yang datang kembali ini, biasanya berdering manis dan bening. Begitu beningnya hingga mengubah suasana batin yang muram menjadi terang temaram.
|
|
Read more...
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next > End >>
|
|
Page 1 of 7 |