|
Renungan -
Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ
|
|
Friday, 26 April 2013 23:34 |
|
“Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan tidak melakukannya” (2Tim 4:1-8; Mat 7:21-27)
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” (Mat 7:21-27),demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Petrus Canisius hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Semangat atau sikap mental yang menjiwai pelayanan pastoral Petrus Canisius adalah ‘bekerja keras’ (persevere). Ia bekerja keras memulihkan penghayatan iman orang-orang Jerman, dan ia berhasil memperdalam dan memperbaharui iman banyak orang, lebih-lebih di Eropa Tengah. Ia menulis katekismus bagi umat guna mengajak dan memperingatkan umat agar hidup dan bertindak sesuai dengan firman atau sabda Tuhan, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Ia memperbaiki
hidup beriman/menggereja dari dalam meskipun untuk itu harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Petrus Canisius menjadi pelindung bagi karya pastoral pendidikan, dengan harapan para peserta didik meneladan semangat hidupnya, maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan para guru atau pelaksana karya pendidikan mendidik dan membina para peserta didik untuk meneladan semangat Petrus Canisius: membaktikan diri dengan segala kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan untuk mencerdaskan diri guna memperbaharui hidup beragama, beriman, menggereja maupun memasyarakat.
Marilah kita memperdalam dan memperkembangkan semangat ‘mendengarkan dan melaksanakan’ firman atau sabda Tuhan, agar hidup iman kita semakin mendalam dan handal, tahan menghadapi aneka rayuan kenikmatan duniawi yang marak pada saat ini. Kita semua diharapkan tumbuh berkembang sebagai orang/pribadi yang bijak, sehingga apa yang kita lakukan dan katakan sungguh membangun kehidupan beriman atau beragama. Kami berharap para pastor atau guru agama sungguh mengusahakan pembaharuan hidup beriman umat, sehingga kehidupan bersama semakin menarik, mempesona dan memikat.
• “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” (2Tim 4:7-8). Petrus Canisius kiranya telah menghayati apa yang dikatakan oleh Paulus ini, yaitu “mengakhiri pertandingan yang baik, mencapai garis akhir dan memelihara iman”. Hidup dan bekerja ini bagaikan pertandingan dalam olah raga. Olahraga yang kiranya baik menjadi contoh untuk kita jadikan bahan mawas diri mungkin sepakbola. Juara dunia sepakbola terakhir adalah persatuan sepakbola yang dijiwai bekerja keras dengan bermain sportif dan kerjasama. Maka sekiranya kita mendambakan sukses dalam tugas pengutusan dan pekerjaan hendaknya bekerja keras dengan bekerjasama dan sportif, entah apapun yang menjadi pekerjaan atau tugas pengutusan kita. Marilah kita ingat dan sadari bahwa masing-masing dari kita adalah buah atau hasil kerjasama atau gotong-royong, yaitu kerjasama bapak-ibu atau orangtua kita yang saling mengasihi dengan ditandai oleh kerjakeras dan pengorbanan serta perjuangan. Maka selayaknya dan seharusnya kita juga hidup dan bekerja dalam kerjsama, pengorbanan dan perjuangan. Kita semua juga diingatkan dan diajak untuk saling memelihara iman: memperkembangkan dan memperdalam iman kita, sehingga dalam kebersamaan kita juga dapat menangkal dan melawan aneka godaan dan rayuan yang berusaha merongrong kehidupan iman kita. Marilah apa pun yang kita miliki kita baktikan kepada Tuhan dalam hidup dan bekerja bersama dengan saudara-saudari
kita. Jangan menjadi kecil hati atau takut jika kita hanya memiliki keterampilan atau kecakapan kecil saja. “Hai Israel, percayalah kepada TUHAN! -- Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka. Hai kaum Harun, percayalah kepada TUHAN! -- Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka. Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN! -- Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka. TUHAN telah mengingat kita; Ia akan memberkati, memberkati kaum Israel, memberkati kaum Harun” (Mzm 115:9-12)
|
|
|
Renungan -
Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ
|
|
Friday, 26 April 2013 23:28 |
|
"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Kis 13:26-33; Yoh 14:1-6)
"Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Pada masa kini kiranya cukup banyak orang gelisah, misalnya sulit untuk tidur di waktu malam karena masih memikirkan sesuatu atau khawatir akan sesuatu. Orang yang demikian hemat saya hidup dan bertindak hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri, dan kurang atau tidak menjadikan Allah sebagai “jalan, kebenaran dan hidup”. Jika kita senantiasa hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri dan kurang atau tidak percaya kepada Allah maupun orang lain atau saudara-saudari kita, maka dengan mudah kita akan gelisah. Beriman berarti menjadikan cara berpikir Allah ‘jalan, kebenaran dan hidup’ kita, dan dengan demikian kita senantiasa berpikir sebagaimana dipikirkan oleh Allah. Allah senantiasa hanya memikirkan keselamatan dan kebahagiaan umat manusia dan untuk itu Ia hidup dan berkarya dalam diri orang yang beriman kepadaNya. Bukankah kita semua beriman kepadaNya, meskipun ada yang beriman dangkal atau mendalam. Berpikir sesuai dengan pikiran Allah berarti kita senantiasa berpikir bahwa Allah hidup dan berkarya dalam diri saudara-saudari kita dan lingkungan hidup kita. Maka dalam dalam keadaan dan kondisi apapun, kapan pun dan dimana pun kita tak akan merasa sendirian, sehingga tak akan mudah gelisah meskpun kita memiliki masalah atau beban tugas/ pekerjaan berat. Kami berharap kepada kita semua umat beriman untuk senantiasa berpikir sebagaimana dipikirkan oleh Allah, dan hendaknya ingat serta sadar bahwa apa yang sedang kita pikirkan itulah yang akan kita lakukan. Percaya kepada Allah berarti percaya kepada saudara-saudari kita, maka ketika kita pergi atau tidur hendaknya tidak gelisah akan apa yang kita tinggalkan, karena semuanya akan dikerjakan oleh saudara-saudari kita yang sungguh beriman. Nikmatilah apa yang sedang anda lakukan pada saat ini. • “Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita,telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini” (Kis 13:32-33). Apa yang dikatakan oleh rasul Yesus atau utusan Allah ini kiranya dapat menjadi teladan atau inspirasi bagi kita semua umat beriman, khususnya yang
beriman kepada Yesus Kristus. Marilah kita senantiasa ‘memberitakan kabar kesukaan’ kepada saudara-saudari kita, tanpa pandang bulu. Apa yang kita lakukan dan katakan diharapkan senantiasa membuat orang lain suka kepada kita, dan tentu saja juga suka kepada kehendak dan perintah Allah, artinya akhirnya suka berbuat baik kepada orang lain dimana pun dan kapan pun. Semua orang mendambakan hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, maka marilah kita bekerjasama dan saling membantu dalam usaha menjadi orang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Masing-masing dari kita kami harapkan tumbuh-berkembang menjadi pribadi yang semakin disukai oleh Allah dan semua orang, sebagaimana terjadi dalam diri Yesus, ketika kanak-kanak tumbuh berkembang semakin bijaksana, semakin disukai oleh Allah dan sesama manusia. Semoga kita disukai orang bukan karena penampilan fisik atau diluar yang kelihatan cantik, ganteng/tampan, pandai/cerdas, tetapi terutama karena baik hati dan berperilaku baik juga. Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita semua telah menerima kebaikan luar biasa dari Allah melalui sekian banyak saudara-saudari kita yang telah berbuat baik kepada kita, maka selayaknya kita senantiasa bersyukur dan berterima kasih, serta mewujudkan syukur dan terima kasih itu dengan senantiasa berbuat baik kepada orang lain, tanpa pandang bulu. "Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!"Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.” (Mzm 2:6-9)
|
|
Renungan -
Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ
|
|
Wednesday, 24 April 2013 23:51 |
|
“Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya”
(1Ptr 5:5b-14; Mrk 16:15-20)
“Lalu
Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah
Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan
diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda
ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir
setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang
baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum
racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan
tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sesudah Tuhan
Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu
duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke
segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan
tanda-tanda yang menyertainya” (Mrk 16:15-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi
atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Markus, Pengarang
Injil, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:
· Injil
adalah warta gembira atau kabar baik, maka memberitakan Injil berarti
senantiasa memberitakan apa yang baik dan menggembirakan. Kami berharap
kepada segenap umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus
untuk senantiasa memberitakan apa yang baik dan menggembirakan dalam
cara hidup dan cara bertindak setiap hari kapan pun dan dimana pun.
Memang sekali lagi diri kita pertama-tama harus senantiasa baik dan
gembira adanya, karena Allah senantiasa menyertai dan hidup serta
bekerja dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Karena Allah hidup dan
bekerja dalam diri kita maka dalam situasi dan kondisi apapun kita
senantiasa ceria, gembira, dinamis, bergairah, tak pernah menggerutu
atau mengeluh sedikitpun. Dengan cara hidup dan cara bertindak demikian
kita sudah dapat menjadi pemberita apa yang baik dan menggembirakan. Apa
yang kita lakukan dan katakan akan diwartakan atau diberitakan orang
lain kepada teman-temannya. Tantangan, masalah dan hambatan untuk
memberitakan apa yang baik dan menggembirakan rasanya pada masa kini
sungguh banyak dan berat, mengingat dan memperhatikan gaya hidup
kebanyakan orang masa kini begitu egois dan kurang social
alias kurang memperhatikan kepentingan orang lain, dan dengan demikian
acuh dan tak acuh terhadap apa yang baik dan menggembirakan yang kita
wartakan. Orang kurang mendengarkan apa yang terjadi di lingkungan
hidupnya, dan cara hidup serta cara bertindaknya lebih dipengaruhi oleh
apa yang dapat dilihat dengan mata atau indera fisik ini. Orang lebih
melihat dan mengedepankan apa yang ada di luar atau yang nampak, dan
kurang mampu melihat dan memperhatikan apa yang ada dalam hati dan
pikiran orang lain. Sikap mental materialistis memang berlawanan dengan
semangat Injil.
· "Allah
menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah
hati." Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat,
supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala
kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.Sadarlah dan
berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa
yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.Lawanlah dia
dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di
seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama” (1Ptr 5:5b-9). Iblis
atau setan memang berkeliling, berkeliaran kemana-mana untuk merayu
orang melakukan kejahatan. Gejala suara atau rayuan setan dapat sangat
lembut dan sangat kasar atau keras. Rayuan lembut itu misalnya dalam
aneka tawaran bentuk kenikmatan duniawi (makan, minum, seks dst..), yang
mendatangi kita melalui teman-teman atau saudara-saudari kita yang
setiap hari bertemu atau bekerja bersama kita. Rayuan kasar dan keras
misalnya berupa gertakan atau teriakan keras yang memekakkan telinga dan
menakutkan. Orang yang lemah atau rapuh imannya pada umumnya akan
menjadi korban empuk rayuan setan. Kita diingatkan untuk menghadapi
rayuan setan dengan iman yang teguh, yang berarti senantiasa
mengandalkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi, rahmat Allah. Bersama dan
bersatu dengan Allah kita akan mampu mengalahkan rayuan setan yang
lembut maupun kasar. Salah satu bentuk penghayatan iman dalam menghadapi
rayuan setan antara lain berdoa, maka ketika menghadapi rayuan setan
berdoalah dengan menatap atau mengenangkan Yesus yang tergantung di kayu
salib, atau dengan membuat tanda salib seraya berkata “Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”. Percayalah
dengan penuh khidmat membuat tanda salib anda akan menerima rahmat atau
kekuatan luar biasa dari Allah, maka anda akan mampu mengalahkan
rayuan-rayuan setan.
“Aku
hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak
memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih
setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti
langit” (Mzm 89:2-3)
|
|
Renungan -
Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ
|
|
Tuesday, 23 April 2013 00:00 |
|
“Aku datang bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya.”
(Kis 12:24-13:5a; Yoh 12:44-50)
“Tetapi
Yesus berseru kata-Nya: "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan
percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan
barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Aku
telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang
percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. Dan jikalau
seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak
menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia,
melainkan untuk menyelamatkannya. Barangsiapa menolak Aku, dan tidak
menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah
Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman. Sebab Aku
berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus
Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku
katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah
hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya
sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.” (Yoh 12:44-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Yesus adalah Penyelamat Dunia, maka Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia seisinya, seluruh ciptaan
yang ada di permukaan bumi atau di alam raya ini. Maka kita semua yang
beriman kepadaNya memiliki panggilan yang sama, yaitu untuk hidup
mendunia atau membumi guna menyelamatkan apa yang ada di permukaan bumi
ini yang tidak selamat. Memang untuk itu pertama-tama dan terutama diri
kita sendiri harus dalam keadaan selamat, agar dapat menyelamatkan yang
lain. Maka marilah jika ada sesuatu yang tidak selamat di
lingkungan hidup kita segera kita selamatkan: tempat yang kotor kita
bersihkan, yang tidak teratur segera kita atur, yang tidak disipilin
kita disiplinkan, dst.. Namun kiranya yang perlu kita utamakan adalah
manusia, misalnya yang bodoh kita ajar dengan tekun dan rendah hati agar
pandai atau cerdas, yang malas kita ingatkan untuk rajin, yang korup
kita tegor dan ingatkan untuk jujur dst.. Yang mendesak pada masa kini
hemat saya adalah para koruptor, dan untuk itu perlu ditertibkan para
peserta didik agar tidak menyontek baik dalam ulangan atau ujian, karena
menyontek hemat saya merupakan pelatihan untuk korupsi. Membiarkan
tindakan para peserta didik untuk menyontek berarti mendidik calon
koruptor. Tindakan korupsi merupakan tindakan pembusukan hidup bersama,
sehingga hidup bersama tidak enak dan tidak nikmat lagi. Marilah kita
berantas tindakan korupsi di bidang kehidupan atau
pelayanan apapun. Kami sungguh prihatin bahwa dua departemen, yaitu
departemen agama dan pendidikan, yang harus mendidik warganegara agar
hidup baik, justru di dalamnya sarat dengan tindakan-tindakan korupsi.
· “Oleh
karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia,
dan dari situ mereka berlayar ke Siprus. Setiba di Salamis mereka
memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi.”
(Kis 13:4-5a). Apa yang dilakukan oleh Barnabas dan Saulus kiranya
dapat menjadi teladan atau inspirasi bagi kita semua, yaitu hidup dan
bertindak sesuai dengan dorongan Roh Kudus guna mewartakan atau
memberitakan firman Allah. Kami berharap kita tidak hidup dan bertindak
hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi, melainkan senantiasa
hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan/suruhan Roh Kudus, yang
berarti senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan
firman Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Maka dalam Tahun
Iman ini kami harapkan kita semua giat memperbaharui dan memperdalam
iman kita dengan bantuan firman Allah sebagaimana tertulis di dalam
Kitab Suci. Hendaknya pembacaan dan permenungan firman Allah sebagaimana
tertulis di dalam Kitab Suci digiatkan dan didukung di
lingkungan-lingkungan umat maupun dalam keluarga-keluarga. Tentu saja
para pengkotbah di rumah-rumah atau tempat-tempat ibadat kami harapkan
menyampaikan kotbah bersumber dari Kitab Suci, maka hendaknya apa yang
tertulis didalam Kitab Suci direfleksikan secara mendalam, agar isi
kotbah mengena dan sesuai dengan kebutuhan umat Allah. Dengan kata lain
kebiasaan refleksi atas Kitab Suci kami harapkan menjadi kebiasaan para
pengkotbah maupun pewarta Kabar Baik atau para katekis di lingkungan
Gereja Katolik atau guru agama di masing-masing agamanya. Tanpa refleksi mendalam apa yang tertulis di dalam Kitab Suci akan kurang mengena bagi umat Allah.
“Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, supaya
jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala
bangsa.Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab
Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku
bangsa di atas bumi. “ (Mzm 67:2-3.5)
|
|
Renungan -
Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ
|
|
Monday, 22 April 2013 00:00 |
|
"Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan?”
(Kis 11:19-26; Yoh 10:22-30)
“Tidak
lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem;
ketika itu musim dingin. Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di
serambi Salomo. Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata
kepada-Nya: "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam
kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada
kami." Yesus menjawab mereka: "Aku telah mengatakannya kepada kamu,
tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama
Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu
tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku
mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,
dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak
akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut
mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih
besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka
dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:22-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Semakin
diragukan dan dipertanyakan oleh orang-orang Yahudi yang kurang percaya
kepadaNya, Yesus semakin menyatakan Jati DiriNya, yang berarti bagi
mereka yang tidak percaya akan semakin bimbang dan ragu-ragu, sedangkan
yang percaya semakin mendalam dan handal kepercayaan mereka kepada
Yesus, dan dengan demikian semakin bersatu dengan Yesus, semakin
dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. “Domba-dombaKu mendengarkan
suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka megikuti Aku, dan Aku
memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan
binasa sampai selama-lamanya”, demikian penyataan atau pewahyuan
Diri Yesus. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda semua
yang beriman kepada Yesus Kristus untuk senantiasa mengusahakan kesatuan
denganNya dan secara konkret menghayati kesatuan atau persaudaraan
sejati dengan rekan-rekan seiman. Hidup dalam persaudaraan sejati pada
masa kini hemat saya sungguh mendesak dan up to date untuk
dihayati dan disebarluaskan, mengingat dan memperhatikan aneka macam
bentuk permusuhan masih marak di sana-sini. Marilah kita hilangkan aneka
kebimbangan dan keraguan terhadap rekan-rekan seiman, karena bimbang
dan ragu dengan rekan-rekan seiman hemat saya berarti juga bimbang dan
ragu terhadap Tuhan Allah. Kami berharap persaudaraan sejati
pertama-tama dan terutama dihayati dalam keluarga kita masing-masing,
yang dibangun dan diperkembangkan dalam dan dengan cintakasih. Kita
dekati dengan rendah hati rekan-rekan kita yang mau menjauhkan atau
memisahkan diri, untuk diajak bersaudara dan bersahabat lagi.
· “Setelah
Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia
menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena
Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah
orang dibawa kepada Tuhan”
(Kis 11:23-24). Pengalaman Barnabas ini kiranya dapat menjadi inspirasi
atau teladan bagi kita semua umat beriman. Marilah kita saling melihat
kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepada saudara-saudari kita,
dengan kata lain melihat kesetiaan saudara-saudari kita terhadap
kehendak Allah. Kami percaya lebih banyak saudara-saudari kita yang
setia kepada kehendak Allah daripada yang tidak atau kurang setia kepada
kehendak Allah. Memang untuk itu kita senantiasa diharapkan berpikir
positif terhadap orang lain alias lebih melihat dan mengakui
kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri saudara-saudari kita daripada
kekurangan-kekurangan atau kejahatan-kejahatannya. Marilah kita saling
membawa satu sama lain kepada Allah, Tuhan, agar kita semua semakin
mendengarkan dan melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan. Ingatlah dan
sadari bahwa Yesus yang telah bangkit dari mati senantiasa berkarya dan
hadir dalam diri saudara-saudari kita yang berkehendak baik. Lebih
banyak saudara-saudari kita yang baik daripada yang jahat. Bukti
kesetiaan orang kepada Tuhan antara lain menjadi nyata atau dapat kita
saksikan dalam kesetiaannya pada panggilan dan tugas pengutusan. Sebagai
contoh imam, bruder, suster atau suami-isteri yang lansia,
bertahun-tahun lamanya menghayati panggilan dengan baik meskipun harus
menghadapi aneka tantangan dan hambatan. Masing-masing dari kita kiranya
dapat belajar dari orangtua kita masing-masing yang setia sebagai
suami-isteri sampai mati. Kepada generasi tua kami harapkan dengan besar
hati dan kerelaan tinggi bersedia membagikan pengalaman kesetiaannya
kepada generasi muda, dan kepada generasi muda kami harapkan dengan
rendah hati meneladan kesetiaan generasi tua.
“Di
gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya:TUHAN lebih
mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman
Yakub.Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.” (Mzm 87:1-3)
|
|
|