|
Artikel -
Keluarga
|
|
Sunday, 07 April 2013 19:45 |
|
Beberapa waktu yang lalu, kita sebagai umat Paroki dikejutkan dengan kabar adanya seorang remaja yang membunuh ayah dari sahabatnya hanya karena sang ayah mencoba melerai perkelahian antara si remaja dengan sahabatnya itu. Juga kita mendengar ada seorang remaja - umat Paroki kita juga - yang bunuh diri lantaran satu dan lain masalah yang dirasakannya sudah tak dapat lagi ia pecahkan. Dalam 2 kasus ini, kita tentu bertanya-tanya: “Mengapa bisa terjadi demikian?”
Kesibukan orangtua di luar rumah memang sering meninggalkan masalah tersendiri: anak-anak menjadi lebih banyak ditinggalkan di rumah. Memang ada orang-orang yang kita percayai untuk menjaga dan mengasuh anak-anak, tetapi bukankah anak-anak akan lebih merasa aman dan nyaman bersama orangtua mereka?
Bentuk kebersamaan keluarga bisa bermacam-macam. Tidak harus semuanya dilakukan di luar rumah dan menelan biaya ekstra. Kita bisa menciptakan suasana akrab kekeluargaan justru di dalam rumah kita sendiri, misalnya: Makan bersama di satu meja makan dengan sajian masakan ibu, ayah atau bahkan anak-anak yang sudah mulai beranjak besar; Nonton tivi bersama; Mengerjakan tugas-tugas rumah tangga bersama; Bermain bersama dengan permainan yang disesuaikan dengan usia anak-anak; Baca buku bersama; Menelusuri internet bersama; Membantu anak memecahkan soal-soal pekerjaan rumahnya, dan lain sebagainya.
Kebersamaan bukan saja menciptakan rasa saling mengasihi di antara anggota keluarga, tetapi juga rasa saling memiliki, saling memperhatikan, dan saling merindukan. Kebersamaan pada akhirnya mampu merekatkan hati anggota keluarga satu dengan yang lainnya, bahkan dapat menjadi ajang pembelajaran toleransi, saling berbagi, beriman, bersaudara dan berbelarasa.
|
|
Read more...
|
|
|
Artikel -
Keluarga
|
|
Sunday, 13 January 2013 22:40 |
|
"Demikianlah mereka bukan lagi dua melainkan satu, karena itu apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia." (Mat 19:6). Demikian penggalan Kitab Suci dari Injil Matius yang disebutkan dengan lantang oleh seorang ibu yang terlahir dengan nama Maria Carmila Suwahyo. Wanita kelahiran Jombang, 14 Agustus 1937 ini telah 52 tahun mendampingi kekasih hatinya, Yohanes Suwahyo Hadikusumo. Ketika ditanya suka duka mengarungi bahtera rumah tangga, ibu dari 11 anak dan nenek dari 13 cucu ini menjawab dengan santun dan sederhana: "Saya hanya nggugemi Gusti, hanya belajar untuk setia setiap hari pada bapak dan anak-anak, dan itu artinya saya belajar untuk selalu setia pada Sakramen Perkawinan yang pernah saya ucapkan di Gereja Santa Theresia Sedayu, 19 April 1960, 52 tahun yang lalu," demikian Ibu Wahyo, begitu panggilan Beliau, yang sungguh adalah ibu yang selalu setia mendampingi suami tercinta di masa-masa tua. Hidup sebagai seorang ibu dari 11 anak, tentulah tidak mudah, apalagi Ibu Wahyo hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sehari-harinya hanya berada di rumah untuk mengurus putera-puterinya. Sementara Pak Wahyo hanyalah seorang Guru SMP Kanisius Wonosari yang harus menghidupi istri dan ke-11 anaknya. Beliau bekerja sebagai Guru Kanisius sampai pensiun. Kesulitan dalam rumah tangga yang paling dirasakan Ibu Wahyo adalah kesulitan ekonomi karena harus memenuhi kebutuhan sandang, pangan juga papan untuk kelangsungan hidup mereka. Dapat dibayangkan berapa penghasilan seorang guru SMP yang harus menghidupi satu istri dan 11 anak. Untungnya, Ibu Wahyo adalah ibu yang tidak pernah mengeluh seberapa besar penghasilan Pak Wahyo yang diberikan kepadanya untuk mengelola rumah tangga mereka. Setiap hari Ibu Wahyo harus berpikir keras untuk mengelola keuangan sehingga semua kebutuhan dapat tercukupi dalam satu bulan, setidaknya soal yang paling sederhana, yaitu makan setiap hari, sambil menunggu Pak Wahyo gajian bulan berikutnya. "Bagi saya, yang paling penting bapak dan anak-anak kenyang dulu, baru kemudian saya," demikian ujar Ibu Wahyo.
|
|
Read more...
|
|
Artikel -
Keluarga
|
|
Thursday, 22 November 2012 00:00 |
|
Keluarga sekarang punya kecenderungan tidak memiliki waktu untuk makan malam bersama di rumah. Mungkin ayah dan atau ibu yang bekerja belum tiba di rumah dari kantornya – entah harus lembur atau mungkin terkena macet. Terkadang anak-anak memiliki jadwal tambahan pelajaran yang ketat, sehingga pulang ke rumah sudah lewat dari jam makan malam dan harus cepat-cepat tidur karena besok pagi sudah harus pergi ke sekolah lagi. Pilihan keluarga akhirnya jatuh pada seminggu sekali atau sesekali makan malam bersama di rumah makan atau pujasera.
Makan malam bersama sekeluarga di rumah sebenarnya memiliki nilai-nilai positif. Selain mampu menjadi sarana berkomunikasi antar anggota keluarga, makan malam bersama ternyata bisa menjadi tempat melatih anak-anak untuk belajar mencintai sayur-mayur. Makan malam bersama di rumah, dengan masakan yang disiapkan di rumah, sudah tentu lebih menjamin kebersihan dan kandungan gizi yang baik untuk seluruh anggota keluarga. Makan makanan sehat membuat anggota keluarga terhindar dari ancaman kegemukan dan sakit-penyakit.
Ajang makan malam bersama juga dapat dipakai untuk memperkenalkan jenis makanan yang baru, sehingga anak-anak dapat mencobanya dan menjadi suka. Dengan demikian, varitas pilihan jenis makanan anak-anak menjadi bertambah, anak tidak menjadi bosan dengan sajian makanan yang itu, itu lagi, yang sering membuat mereka tak mau makan karena bosan.
Dengan makan malam bersama, orangtua dapat mengontrol porsi makan anak-anaknya. Mereka akan makan dengan takaran porsi tepat dan cenderung tidak berlebihan. Hidangan di restoran biasanya mempunyai tingkat kalori dan porsi yang besar, yang mau tak mau harus dihabiskan sehingga mudah memicu datangnya kelebihan makanan dan kelebihan berat badan.
|
|
Read more...
|
|
Artikel -
Keluarga
|
|
Saturday, 30 June 2012 20:47 |
|
Melihat kangguru dan anak di kantungnya
Kita diingatkan, bahwa kebaikan lahir di dekat hati
Rasa aman diberikan melalui kesediaan melindungi
Dan persatuan dijamin dalam lelah bersama
Anak-anak adalah masa depan milik dunia
Sekarang ini, mereka bersekolah bersama kita
Buatlah mereka damai di dalam genggamanmu
Lahirkan pribadi mencintai, karena sapaan lembutmu
Tanpa dibatasi waktu..hanya kegembiraan
bersama..
KELUARGA KELUARGA YANG TERKASIH
Suatu kegembiraan karena akhirnya masa liburan tiba bagi anak-anak kita. Anak-anak mempunyai lebih banyak kesempatan bersama sama kita. Dalam beberapa minggu, mereka menjadi sepenuhnya anak-anak kita, karena seluruh acara mereka sekarang menjadi acara bersama kita, orang tuanya, dan saudara-saudarinya. Mau di bawa kemana anak-anak kita itu dalam liburan dari tugas belajar?
|
|
Read more...
|
|
Artikel -
Keluarga
|
|
Tuesday, 01 May 2012 11:26 |
|
Siapa saja pasti sudah sering mendengar kata 'autis'. Lewat tulisan ini saya ingin membagikan pengalaman tentang apa dan bagaimana saya memahami para penderita autis. Namun sebelumnya, saya akan memberi gambaran teoritis tentang apa itu autis sehingga muncul kesamaan persepsi tentang autis. Kadang karena kurang memahami apa dan siapa penderita autis, kita mendengar orang berkata "dasar autis" dengan maksud bercanda. Autis berasal dari Bahasa Yunani "autos" yang berarti "diri" (self). Pengertian autis adalah gangguan pada perkembangan otak dan sistem syaraf sehingga anak berpola tingkah laku hiperaktif. Anak-anak autis mengalami gangguan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial, dan gangguan aktivitas imajinasi. Ciri-ciri penderita autis adalah anak cenderung menyendiri, berforkus pada diri, dan bermain dengan dunianya sendiri. Anak sulit berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas atau tidak fokus. Penderita autis juga sensitif terhadap makanan yang baunya tajam dan menyengat, mereka sensitif terhadap cahaya, suara ramai dan keras. Anak-anak autis kadang memiliki kemampuan yang cukup tinggi di bidang-bidang tertentu, walaupun di sisi lain ada juga yang mengalami keterbelakangan mental. Mereka membutuhkan pendampingan ekstra dari orangtua dan orang-orang di sekitarnya agar dapat tumbuh berkembang seperti halnya anak-anak lainnya.
|
|
Read more...
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 Next > End >>
|
|
Page 1 of 6 |