| Sejarah Kongregasi OMI |
| Kongregasi - Kongregasi OMI | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Friday, 07 November 2008 14:09 | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Dari Perancis OMI tersebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Di tahun 1972, para Oblat - panggilan untuk para Imam OMI - yang berasal dari Provinsi Australia mulai berkarya di Keuskupan Purwokerto. Sejak tahun 1975, mereka mulai berkarya di Keuskupan Agung Jakarta, yakni di wilayah Cengkareng. Para Oblat Provinsi Perancis dan Provinsi Italia juga mulai berkarya di Indonesia sejak tahun 1977. Mereka adalah para Imam yang terusir dari Laos karena rezim Komunis. Oblat asal Perancis berkarya di Keuskupan Sintang, sedangkan Oblat asal Italia berkarya di Keuskupan Samarinda. Setelah 15 tahun berkarya di Indonesia, para Oblat dari 3 Provinsi terpisah ini merasakan adanya dorongan untuk lebih mengembangkan karya-karya mereka dan memantapkan kesatuan OMI di Indonesia. Untuk itu mereka sepakat untuk mulai merintis kelahiran OMI Provinsi Indonesia. Lewat serangkaian pertemuan dan rapat, akhirnya OMI Provinsi Indonesia lahir pada 21 Mei 1993, dengan Provinsial pertamanya Romo Mario Bertolli, OMI (alm). Inilah karya-karya OMI Provinsi Indonesia: Rumah Formasi: Novisiat Beato Joseph Gerard dan Seminari Tinggi OMI di Yogyakarta. Sejak diterimanya calon-calon Oblat asli Indonesia oleh para Oblat asal Australia di tahun 1974 hingga sekarang, tercatat telah ditahbiskan 29 Oblat asli Indonesia. Romo Gregorius Basir Karimanto, OMI yang pernah bertugas di Paroki Cengkareng sebagai Kepala Paroki dan Ketua DP/PGDP 2002-2005 adalah Imam OMI pertama asal Indonesia yang ditahbiskan di tahun 1987. Karya Parokial: Pulau Jawa (Jakarta, Purwokerto, Banyumas, dan Cilacap); Kalimantan Barat (Sepauk dan Dankan Silat); dan Kalimantan Timur (Tarakan, Malinau, Pulau Sapi, Balikpapan, dan Penajam). Karya Kemasyarakatan lewat Yayasan Sosial Bina Sejahtera yang berkedudukan di Cilacap berupa program padat karya, bank perkreditan rakyat, balai pengobatan, Kelompok Swadaya Perempuan (Cilacap), dan Kelompok Swadaya Wanita (Yogyakarta), serta menyelenggarakan sekolah tingkat TK/SD/SMP/SMA/ SMK, LPK, dan Akademi Maritim. Karya Devosional: Rumah Retret Santa Maria Imakulata dan Gua Maria di Kaliori, Jawa Tengahl; Gua Maria Metogog di Tarakan; dan Rumah Wisata Rohani Bintang Laut di Pangandaran Kehadiran OMI di Cengkareng dimulai pada bulan November 1974, saat Keuskupan Agung Jakarta menyerahkan Stasi Cengkareng kepada Tarekat OMI untuk ditingkatkan menjadi Paroki. Pada Februari 1975, hadir Oblat pertama di Cengkareng, Romo Patrick Moroney, OMI. Sejak saat itu hingga kini, Paroki Cengkareng digembalakan oleh para Oblat yang silih berganti hadir untuk berkarya dan berjalan bersama seluruh umat Cengkareng. Hidup dan karya para OMI dapat berjalan dengan baik di Cengkareng tentulah berkat dukungan dan kerjasama dengan umat yang digembalakan. Gereja yang hidup adalah Gereja yang mampu menunjukkan persatuan dan kerjasama yang baik antara Imam dan umatnya. Keterlibatan umat Cengkareng sungguh sangat beraneka bentuknya: menjadi Pengurus Dewan Paroki, Wilayah, atau Lingkungan; terlibat dalam karya sosial, pelayanan kesehatan, pelayanan sekolah, mendukung karya perutusan para Oblat lewat doa-doa dan penggalangan dana pendidikan bagi para calon OMI. Peranserta kaum awam dalam karya-karya para Oblat dirasakan sungguh penting, karena karya pelayanan Kerajaan Allah adalah bukan melulu tugas para Imam, melainkan juga tugas kaum awam dengan berbagai macam profesinya. Awam dan Imam adalah rekan sekerja dalam melanjutkan karya perutusan Yesus Kristus di dunia ini. Pelayanan bagi kaum muda mendapat perhatian lebih dari para Oblat. Bukan hanya karena di pundak merekalah masa depan Gereja dan bangsa berada, tetapi pelayanan kaum muda memang merupakan misi awal yang digariskan oleh Bapa Pendiri OMI, St Eugenius de Mazenod. Dalam zaman yang serba maju seperti sekarang ini, pendampingan bagi kaum muda menjadi sungguh penting, teristimewa dalam membantu mereka untuk menemukan panggilan hidupnya secara benar dan siap menghadapi tantangan zaman yang semakin berat. Tak dapat dipungkiri, Gereja senantiasa membutuhkan seorang Imam untuk menjadi gembalanya. "Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih", mungkin ungkapan ini merupakan bagian dari misteri Panggilan Imamat. Semua diberi kesempatan dan tawaran, tetapi Dia yang Empunya pekerjaan yang akan memilih siapa saja yang tepat untuk melakukan tugas perutusanNya. OMI Provinsi Indonesia dengan tangan terbuka selalu menanti kaum muda yang merasakan Panggilan Khusus dariNya untuk bergabung ke dalam Komunitas OMI. Semoga banyak orang muda Katolik dari Cengkareng yang semakin membuka diri pada Panggilan KhususNya. Harapan kami adalah ditahbiskannya seorang Oblat asli Cengkareng di suatu saat nanti. Mari kita terus berkarya dan berjalan bersama dalam terang tuntunan Allah Tritunggal Mahakudus. (Sumber: Sabitah Edisi 48, Mei-Juni 2011) Untuk informasi lebih lanjut mengenai Tarekat OMI, silahkan hubungi alamat berikut ini: PROVINSIALAT OMI & RUMAH RETRET "MARIA IMAKULATA" KALIORI PERSONALIA OMI PROVINSI INDONESIA
MENGENAL OMI DAN PENDIDIKAN CALON OMI LEBIH JAUH Apa itu OMI? (Romo Henricus Asodo, OMI, Rektor Seminari Tinggi OMI; Sumber: Majalah Sabitah Edisi 33, Mei-Juni 2008) ***************************************** PADA SEBUAH JUMAT AGUNG 1807 (Pengalaman rohani St. Eugenius de Mazenod pada hari Jumat Agung 1807. Pengalaman ini baru dicatatnya pada tahun 1814 dalam sebuah retret) Aku mencari kebahagiaan di luar Allah dan setelah sekian lama, yang kutemukan hanyalah penderitaan. Betapa sering di masa lalu, hatiku tercabik, tersiksa, memohon bantuan kepada Allah yang telah kutinggalkan. Dapatkah aku melupakan airmata kesedihan yang mengalir saat aku memandang Salib pada hari Jumat Agung itu? Memang air mata itu mengalir dari dasar lubuk hatiku dan tidak ada yang dapat mencegahnya. Airmata itu terlalu banyak untuk bisa kusembunyikan dari orang lain yang juga hadir dalam perayaan yang mengharukan itu. Aku dalam keadaan berdosa berat dan inilah yang membuat hatiku amat sedih. Kemudian, di lain kesempatan, aku dapat merasakan perbedaannya. Belum pernah jiwaku merasa lebih berbahagia. Ini semua hanya karena di sela-sela banjir airmata - meskipun sedih, atau lebih tepatnya, berkat kesedihanku, jiwaku melompat sampai pada tujuan akhirnya, yaitu Allah, satu-satunya tujuan yang bila sampai hilang akan amat terasa. Untuk apa bercerita lebih banyak lagi? Memang, aku tak akan pernah mampu mengungkapkan dengan tepat apa yang aku alami pada saat itu. Hanya dengan mengingatnya saja, hatiku selalu diliputi dengan penghiburan rohani yang manis. Aku mencari kebahagiaan di luar Allah, dan di luar Dia, yang kutemukan hanyalah derita dan kemalangan. Tetapi senangnya, seribu kali lebih senangnya bahwa Bapa yang baik - meski ketidaklayakanku - menghujaniku dengan kekayaan belas kasihNya. Satu hal yang sekurang-kurangnya dapat kulakukan sekarang adalah menebus waktu-waktu yang telah hilang percuma itu dan menggandakan cintaku kepadaNya. Biarlah seluruh perbuatanku, pikiranku, dan lain-lainnya diarahkan pada tujuan itu. Adakah penyerahan yang lebih besar daripada di dalam segala-galanya dan untuk segala-galanya? Hidup hanya untuk Tuhan, mencintai Dia di atas segala-galanya. Mencintai Dia secara lebih, karena aku telah amat terlambat mencintaiNya. Ya, kebahagiaan surga di mulai di sini, di dunia. Marilah kita memilihnya sekarang! (Romo F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI, Magister Novis, blogspot Oblat Indonesia) *********************************************************** CITA-CITA SEORANG OBLAT Yang ingin menjadi anggota kita harus mempunyai hasrat yang menyala-nyala untuk menjadi sempurna, harus mempunyai cinta kasih yang berapi-api kepada Tuhan kita Yesus Kristus dan GerejaNya, mempunyai semangat yang berkobar-kobar akan keselamatan jiwa-jiwa. Ia harus melepaskan hatinya dari segala kelekatan tak teratur pada barang-barang duniawi dan dari kelekatan berlebih-lebihan pada orangtuanya dan pada tempat kelahirannya; Ia harus melepaskan keinginan akan keuntungan, ia harus memandang kekayaan sebagai sampah, agar tidak mencari perolehan lain kecuali Yesus Kristus; berkeinginan untuk mempersembahkan diri kepada satu-satunya pelayanan kepada Allah dan GerejaNya baik di daerah-daerah Misi maupun dalam pelayanan-pelayanan Lembaha Hidup Bakti yang lain. Akhirnya, ia harus berkemauan untuk menetap sampai mati dengan setia dan taat kepada Aturan-Aturan Lembaga. (St. Eugenius de Mazenod, Bapa Pendiri OMI, 1853) ***************************************************** MENJADI KRISTUS-KRISTUS YANG LAIN Sejauh kelemahan-kelemahan kodrat manusia memungkinkan, para misionaris harus meniru dalam segalanya teladan-teladan Tuhan kita Yesus Kristus, Pendiri Utama Lembaga, dan teladan-teladan pada Rasul, Bapa-Bapa kita yang pertama. Meneladan contoh-contoh agung itu, sebagian hidup para misionaris akan diperuntukkan bagi doa, perenungan diri, dan kontemplasi dalam kesunyian rumah Allah, tempat mereka akan tinggal bersama-sama. Sebagian hidupnya yang lain akan dipersembahkan seluruhnya bagi karya-karya lahiriah yang memerlukan keaktifan yang besar seperti tugas-tugas misi, berkhotbah, mendengarkan pengakuan dosa, berkatekese, membimbing kaum muda, mengunjungi orang sakit, mengunjungi para tahanan, memberikan retret-retret rohani dan karya-karya sejenis lainnya. Tetapi, baik sedang bertugas misi maupun selagi berada di rumah, kepentingan utama mereka adalah mencapai kemajuan hidup di jalan kesempurnaan gerejani dan religius; lebih-lebih mereka akan melatih diri dalam kerendahan hati, ketaatan, kemiskinan, pengingkaran diri, semangat matiraga, semangat iman, niat murni, dan lain-lainnya. Pendek kata, mereka akan berusaha untuk menjadi Kristus yang lain, dengan menyebarkan ke mana-mana keharuman keutamaan-keutamaan yang menawan hati. (St. Eugenius de Mazenod, Bapa Pendiri OMI, 1818) ******************************************************** KEMISKINAN SEPERTI YESUS Kita berjalan mengikuti jejak-jejak seorang Guru yang menjadikan diriNya miskin demi kita. Menjawab panggilanNya, "Jika engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, kemudian datanglah kemari dan ikutilah Aku." (Mat 19:21). Kita memilih kemiskinan Injili untuk menjawab panggilanNya. (Konstitusi OMI No. 19)
Pilihan kita untuk hidup miskin mendorong kita untuk masuk dalam persekutuan yang lebih erat dengan Kristus dan orang-orang miskin; dengan demikian pilihan itu menentang ekses-ekses dari kekuasaan dan kekayaan serta memaklumkan datangnya dunia baru, yang bebas dari egoisme dan terbuka untuk berbagi rasa. Menghadapi tuntutan-tuntutan karya perutusan kita dan keperluan-keperluan yang harus dipenuhi, kita kadang-kadang merasa lemah dan tak berdaya. Pada saat itulah kita dapat belajar banyak dari orang-orang miskin, terutama kesabaran, pengharapan, dan kesetiakawanan. (Konstitusi OMI No. 20)
|
Trinitas Facebook Fan Page
Join us so and get updates from our official fan page.
Gereja Trinitas on Twitter
Follow us on twitter so you will get updates from us!
Wapita
Download selebaran wapita dalam format PDF.
Kongregasi (atau Tarekat) Oblat Maria Imakulata (OMI) adalah tarekat tingkat kepausan yang anggotanya tersebar di sekitar 74 negara di dunia. Tarekat ini berawal dari sekelompok kecil imam-imam yang dirintis oleh St. Eugenius de Mazenod di Aix-en-Provence, Perancis pada 25 Januari 1816 . Kemudian, kelompok yang dikenal dengan nama "Misionaris dari Provence" ini disahkan oleh Paus Leo XII dengan persetujuan resmi atas Konstitusi dan Aturan Tarekat pada 17 Februari 1826 dengan nama "Misionaris Oblat Maria Imakulata" (OMI). Pilihan khusus OMI adalah melayani kaum miskin dan menjangkau daerah yang sulit/terlantar.
.








