<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Iman &#8211; Gereja Trinitas</title>
	<atom:link href="https://www.trinitas.or.id/kategori/pendalaman-iman/iman/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.trinitas.or.id</link>
	<description>Paroki Cengkareng</description>
	<lastBuildDate>Wed, 31 Jan 2024 05:16:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2024/01/cropped-logo@2x-32x32.png</url>
	<title>Iman &#8211; Gereja Trinitas</title>
	<link>https://www.trinitas.or.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>7 Sakramen dalam Gereja Katolik</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/7-sakramen-dalam-gereja-katolik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Jul 2012 11:33:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/7-sakramen-dalam-gereja-katolik/</guid>

					<description><![CDATA[Mengapa dalam Gereja Katolik ada 7 Sakramen?&#160; Angka 7 lambang apa?&#160; Adakah dalam Kitab Suci yang menyatakan 7 Sakramen?&#160; Apakah ketujuh Sakramen wajib diterima oleh orang Katolik? (Inez, Yogyakarta) Jawaban dari Romo B.A. Rukiyanto, SJ, Redaktur Pelaksana Majalah Rohani: Sebelumnya, baik kalau kita pahami dahulu apa itu Sakramen.&#160; Sakramen adalah tanda dan sarana yang ditetapkan ... <a title="7 Sakramen dalam Gereja Katolik" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/7-sakramen-dalam-gereja-katolik/" aria-label="Baca selengkapnya tentang 7 Sakramen dalam Gereja Katolik">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa dalam Gereja Katolik ada 7 Sakramen?&nbsp; Angka 7 lambang apa?&nbsp; Adakah dalam Kitab Suci yang menyatakan 7 Sakramen?&nbsp; Apakah ketujuh Sakramen wajib diterima oleh orang Katolik? (Inez, Yogyakarta)</p>
<p>Jawaban dari Romo B.A. Rukiyanto, SJ, Redaktur Pelaksana Majalah Rohani:</p>
<p>Sebelumnya, baik kalau kita pahami dahulu apa itu Sakramen.&nbsp; Sakramen adalah tanda dan sarana yang ditetapkan Kristus (entah secara langsung atau tidak langsung, yaitu tersirat dalam peletakan dasar Gereja oleh Kristus) untuk mendatangkan rahmat yang dikhususkan bagi tiap-tiap situasi kehidupan manusia, dan dengan demikian melanjutkan karya penyelamatan Alalh melalui Kristus dalam Roh Kudus di dalam diri setiap orang.&nbsp; Singkatnya, Sakramen adalah tanda keselamatan (rahmat) dan kehadiran Tuhan dalam hidup kita.</p>
<p>Sakramen Asal adalah Yesus sendiri sebagai Pengantara antara Allah dan manusia.&nbsp; Di dalam diri Yesus Kristus, dalam kepenuhan Roh Kudus, kita dapat melihat Allah sendiri.&nbsp; Dari Yesus semua Sakramen berasal.&nbsp; Sedangkan Gereja adalah Sakramen Dasar, dijiwai Roh Kudus menjadi Sakramen Kesatuan (Sacroosanctum Concilium 26) dan Sakramen Keselamatan Allah (Lumen Gentium 1, 9).&nbsp; Gereja melakukan apa yang diperintahkan Kristus, menjadi Sakramen Dasar dalam Kristus.&nbsp; Sakramen-Sakramen merupakan perayaan kehadiran Kristus dalam GerejaNya.&nbsp; Sakramen-Sakramen sekaligus menjadi pengungkapan dan pelaksanaan diri Gereja.&nbsp; Setiap perayaan Sakramen membangun dan membentuk Gereja.&nbsp; </p>
<p>
<span id="more-866"></span><br />
Di dalam Gereja Katolik ada 7 Sakramen: Sakramen Baptis, Sakramen Ekaristi, Sakramen Penguatan, Sakramen Tobat, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit.&nbsp; Setiap Sakramen memmberikan rahmat sakramental.</p>
<p>Sejak semula 7 Sakramen itu sudah menjadi tradisi di dalam Gereja, meskipun belum disadari sebagai satu kelompok tersendiri.&nbsp; Baru pada abad ke-12 para teolog mulai mengadakan refleksi tentang praktik pastoral Gereja ini dan menyadari bahwa ke-7 Sakramen ini membentuk kelompok khusus, yang semakin dibedakan dari sakramentali (tanda-tanda suci yang menandakan kurnia-kurnia, bersifat rohani dan diperoleh berkat doa permohonan Gereja, jumlahnya banyak sekali), karena ditetapkan Kristus sendiri.&nbsp; Jumlah 7 ditetapkan secara resmi dalam Konsili Lyon (1274), Konsili Firenze 91439), dan Konsili Trente (1547).&nbsp; Konsili Trente menegaskan bahwa Sakramen memberi rahmat yang ditandai berkat upacara itu sendiri, sejauh si penerima tidak berada dalam halangan atau dosa berat.&nbsp; Artinya, diperlukan persiapan hati untuk menerima Sakramen, dan orang perlu menerima Sakramen Tobat terlebih dahulu ketika dia berdosa berat.</p>
<p>Angka 7 dalam Kitab Suci melambangkan kesempurnaan.&nbsp; Namun dalam Kitab Suci tidak pernah disebutkan istilah 7 Sakramen.&nbsp; Meskupun demikian, semua Sakramen itu dapat dikembalikan kepada Yesus sendiri, secara langsung, yaitu ketika Yesus mengadakan Sakramen Ekaristi dalam perjamuan akhir (Mat 26:26-28) dan Sakramen Baptis sebelum naik ke surga (Mat 28:19); Sakramen Tobat (Yoh 20:21-23), Sakramen Imamat (Mrk 3:13-19), dan Sakramen Perkawinan (Mat 19:3-6); atau tidak langsung dalam Sakramen Penguatan (KIS *:14-17) dan Pengurapan Orang Sakit (Yak 5:14-16).</p>
<p>Ketujuh Sakramen itu tidak wajib diterimakan semua oleh orang Katolik.&nbsp; Pada dasarnya tidak mungkin 7 Sakramen diterima oleh satu orang, karena orang harus memilih untuk hidup berkeluarga (Perkawinan) atau menjadi imam (Imamat).&nbsp; Sakramen Baptis, Sakramen Penguatan, dan Sakramen Imamat diterimakan satu kali, sedangkan Sakramen Ekaristi, Tobat, Pengurapan Orang Sakit, dan Perkawinan dapat diterimakan lebih dari satu kali (Sakramen Perkawinan dapat diterimakan lagi ketika suami atau istri meninggal).</p>
<p>(Sumber: Majalah Rohani No. 06, Tahun ke-59, Juni 2012)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membungkuk di Bagian Syahadat Iman &#8211; Gerak Baru?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/membungkuk-di-bagian-syahadat-iman-gerak-baru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Jun 2012 10:45:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/membungkuk-di-bagian-syahadat-iman-gerak-baru/</guid>

					<description><![CDATA[Ajakan membungkuk ketika mengucapkan ”yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria” dalam Syahadat Para Rasul sempat menimbulkan pertanyaan. Apakah ini tata gerak baru dalam liturgi Gereja? Apa pula maksudnya? Sikap tubuh membungkuk itu sudah lama ada dalam tradisi liturgis. Ketika melakukan gerakan itu, kita sedang menghormati misteri inkarnasi: Allah menjelma menjadi manusia dalam ... <a title="Membungkuk di Bagian Syahadat Iman &#8211; Gerak Baru?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/membungkuk-di-bagian-syahadat-iman-gerak-baru/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Membungkuk di Bagian Syahadat Iman &#8211; Gerak Baru?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Ajakan membungkuk ketika mengucapkan ”yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria” dalam Syahadat Para Rasul sempat menimbulkan pertanyaan. Apakah ini tata gerak baru dalam liturgi Gereja? Apa pula maksudnya?</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Sikap tubuh membungkuk itu sudah lama ada dalam tradisi liturgis. Ketika melakukan gerakan itu, kita sedang menghormati misteri inkarnasi: Allah menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus, melalui Maria yang telah mengandung dari Roh Kudus. Untuk Misa Hari Raya Kabar Gembira dan Natal, cara membungkuk itu diganti dengan berlutut, sebagai bentuk penghormatan yang lebih dalam karena bertepatan dengan waktu perayaan yang berkaitan dengan misteri itu. Ini hanyalah salah satu unsur pada bagian Syahadat.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">
<span id="more-831"></span>
</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Menyatakan iman</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Setelah disegarkan oleh Sabda Allah dan dicerahkan melalui pengajaran, umat mengungkapkan kembali iman mereka. Ritus ini disebut dengan beberapa nama: Symbolum, Pernyataan Iman (Professio fidei), Aku Percaya (Credo), atau Syahadat. Tradisi yang amat kuno ini bersumber dari liturgi pembaptisan orang Kristiani.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Maksud Syahadat adalah: ”agar seluruh umat yang berhimpun dapat menanggapi Sabda Allah yang dimaklumkan dari Kitab Suci dan dijelaskan dalam homili. Dengan melafalkan kebenaran-kebenaran iman lewat rumus yang disahkan untuk penggunaan liturgis, umat mengingat kembali dan mengakui pokok-pokok misteri iman…” (PUMR 67).</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Gereja telah mengesahkan dua rumus Syahadat untuk digunakan dalam Misa Nikea-Konstantinopel dan Para Rasul. Rumus Syahadat Nikea-Konstantinopel lebih panjang dan lengkap daripada Para Rasul. Meskipun lebih dianjurkan menggunakan rumus pertama itu, banyak imam lebih suka memilih rumus kedua yang lebih pendek. Syahadat Para Rasul atau ikrar pembaptisan Gereja Roma itu digunakan terutama dalam Misa selama Masa Prapaskah dan Paskah.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Sebagai sebuah ikrar, Syahadat ini lebih cocok diucapkan bersama-sama oleh imam dan umat dari awal. Tapi, tidak dilarang untuk dilagukan. PUMR 68 juga memberi caranya: ”Pernyataan Iman itu dilagukan atau diucapkan oleh imam bersama dengan umat pada Hari Minggu dan Hari Raya. … dapat diucapkan juga pada perayaan-perayaan khusus yang meriah.”</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Lebih lanjut dijelaskan: ”Kalau dilagukan, Syahadat diangkat oleh imam atau, lebih serasi, oleh solis atau kor. Selanjutnya… dilagukan entah oleh seluruh umat bersama-sama, entah silih berganti antara umat dan kor. Kalau tidak dilagukan, …dibuka oleh imam, selanjutnya didaras oleh seluruh umat bersama-sama atau silih berganti antara dua kelompok jemaat.” Semua peraya yang hadir melakukan ritus ini dengan berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Mengakui Trinitas</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Sebenarnya masih ada satu lagi jenis ikrar pembaptisan, yakni yang digunakan dalam Misa Malam Paskah, bagian dari Pembaruan Janji Baptis. Rumus ini berupa tanya jawab. Imam bertanya dan umat menjawab: ”Saya percaya.” Maka, dalam Misa Romawi berlaku tiga rumus ikrar pembaptisan resmi. Rumus lain di luar tiga itu tidak boleh digunakan.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Ketiga rumus Pernyataan Iman itu mengandung unsur trinitaris. Ada tiga struktur yang masing-masing merangkum penjelasan tentang apa yang kita imani akan Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus, serta relasi mereka satu sama lain. Dari ketiga pribadi itu, yang tentang Allah Putra adalah yang terbanyak dijelaskan.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Percaya akan Allah Tritunggal atau Trinitas adalah percaya akan tiga pribadi Allah, percaya akan hidup ilahi yang dinyatakan melalui wafat dan kebangkitan Yesus, pribadi kedua. Inilah yang diwartakan dan diakui Gereja sejak zaman para Rasul. Kita juga dapat memahami misteri Trinitas melalui komunitas gerejawi. Pengakuan akan Allah Trinitas adalah juga pengakuan akan Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik. Gereja menjadi tempat kehidupan ilahi yang bisa dirasakan juga oleh para anggotanya.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">(Christophorus H. Suryanugraha OSC, Ketua Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia)</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Sumber: www.hidupkatolik.com</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa Dasar Ajaran Maria Imakulata?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/apa-dasar-ajaran-maria-imakulata/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2010 03:13:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/apa-dasar-ajaran-maria-imakulata/</guid>

					<description><![CDATA[Maria Imakulata atau Maria Dikandung Tanpa Noda ini berarti Maria, tidak seperti mahluk insani lain mana pun, dikandung tanpa noda dosa asal.  Kata Inggris &#8220;Immaculate&#8221; berasal dari kata Latin &#8220;Immaculata&#8221; yang berarti &#8220;Tanpa Noda&#8221;.  Seperti kita tahu, dosa asal yang dilakukan Adam dan Hawa mempengaruhi semua keturunan mereka, sehingga setiap orang dikandung dalam keadaan dosa ... <a title="Apa Dasar Ajaran Maria Imakulata?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/apa-dasar-ajaran-maria-imakulata/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Apa Dasar Ajaran Maria Imakulata?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Maria Imakulata atau Maria Dikandung Tanpa Noda ini berarti Maria, tidak seperti mahluk insani lain mana pun, dikandung tanpa noda dosa asal.  Kata Inggris &#8220;Immaculate&#8221; berasal dari kata Latin &#8220;Immaculata&#8221; yang berarti &#8220;Tanpa Noda&#8221;.  Seperti kita tahu, dosa asal yang dilakukan Adam dan Hawa mempengaruhi semua keturunan mereka, sehingga setiap orang dikandung dalam keadaan dosa asal.  Pada dasarnya, dosa asal ini menimpa setiap jiwa, dan dengan demikian setiap jiwa kehilangan rahmat pengudus; artinya, kehilangan hak untu ambil bagian dalam kehidupan dan kodrat Allah sendiri.  Untuk memulihkan keadaan rahmat pengudus inilah kita dibaptis.</p>
<p><span id="more-587"></span></p>
<p>Dengan mengatakan bahwa Maria Dikandung Tanpa Noda, kita mau mengatakan bahwa berkat rahmat khusus Allah, Maria dibebaskan dari dosa asal sejak saat ia dikandung dalam rahim ibunya.</p>
<p>Apa yang menjadi dasar kepercayaan ini?  Suatu acuan implisit dapat ditemukan dalam Kitab Suci, yakni dalam salam malaikat kepada Maria pada waktu malaikat itu menyampaikan kabar sukacita, &#8220;Salam, Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu.&#8221;  (Luk 1:28)  Ungkapan &#8220;penuh rahmat&#8221; adalah suatu terjemahan dari kata Ibrani &#8220;kecharitomene&#8221;, yang berarti &#8220;yang sudah dipenuhi dengan rahmat&#8221; atau &#8220;sepenuhnya dirahmati.&#8221;  Kenyataan bahwa Maria dipenuhi dengan rahmat merupakan sesuatu yang terjadi pada masa yagn lalu dengan pengaruh yang lestari.  Artinya, Maria sudah penuh rahmat ketika malaikat menampakkan dir kepadanya, dan ia tetap demikian sepanjang hidupnya.</p>
<p>Memang tidak ada acuan eksplisit untuk pengandungan tanpa noda dalam Kitab Suci, tetapi kepercayaan akan tradisi ini sudah sangat tua.  Mengutip Konsili Vatikan II, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, &#8220;Para Bapa Gereja Timur yang menyinggung pengandungan tak bernoda adalah Santo Efrem, pujangga Gereja abad ke-4.  Ia menulis, &#8220;Hanya Engkau dan BundaMu yang sungguh indah dan pantas dihormati, sebab dalam Dikau, ya Tuhan, tidak ada noda, dan dalam diri bundaMu tidak ada cela.&#8221; (Carm. Nisib. 27)</p>
<p>Suatu masalah teologis yang terkait dengan kepercayaan bahwa Maria dikandung tanpa noda muncul dari kata-kata Maria dalam Magnificat: &#8220;Hatiku bersukacita karena Allah, Juruselamatku&#8221; (Luk 1:47).  Ada kesan bahwa Maria pun dikandung dalam dosa asal dan membutuhkan seorang Juruselamat.  Masalah ini diperkuat oleh tulisan Santo Paulus kepada Jemaat di Roma bahwa &#8220;semua orang telah berdosa,&#8221; (Rm 3:23, 5:12) frasa ini menyiratkan bahwa semua mahluk insani, termasuk Maria, ditaklukkan kepada dosa dan memerlukan seorang Penebus.  Ayat-ayat ini mendorong bahkan teolog-teolog besar seperti Santo Bonaventura dan Santo Thomas Aquino untuk menolak ajaran mengenai Maria dikandung tanpa noda.</p>
<p>Seorang Fransiskan kelahiran Skotlandia-lah yang memecahkan masalah ini, yakni Duns Scotus (+1308).  Ia mengajarkan bahwa Maria pun ditebus oleh Yesus, tetapi ia sudah menerima buah penebusan itu sebelum peristiwa penebusan itu sendiri terjadi, persis pada saat Maria mulai dikandung, sekitar 50 tahun sebelum Yesus mati di salib untuk menebus umat manusia.</p>
<p>Ada satu ulasan yang sudah digunakan selama berabad-abad untuk menjelaskan kebenaran ini: Seorang yang jatuh ke dalam sebuah lubang, dan kemudian ditarik ke luar dari lubang itu dikatakan bahwa ia telah diselamatkan dari lubang.  Demikian pula seorang yang dijaga sehingga tidak pernah jatuh ke dalam lubang juga dikatakan telah diselamatkan dari lubang.  Nah, Maria diselamatkan dari dosa asal seperti dalam contoh kedua.</p>
<p>Suatu pesta Maria dikandung tanpa noda sudah dirayakan di Timur pada abag ke-7 dan pesta yang sama dirayakan di Inggris pada abad ke-11.  Pesta Maria dikandung tanpa noda sudah dirayakan secara universal sejak abad ke-15.</p>
<p>Dogma Maria Imakulata dimaklumkan Paus Pius IX pada 08 Desember 1854 dalam Bulla Ineffabilis Deus.  Menanggapi banyak permintaan dan sesudah berkonsultasi dengan para Uskup di seluruh dunia, Paus mengajarkan, &#8220;Berkat rahmat yang unik dan karunia istimewa dari Allah yang Mahakuasa, dan mengingat pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, Perawan Maria yang teramat kudus sudah dibebaskan dari segala noda dosa asal sejak saat ia mulai dikandung.&#8221;</p>
<p>(Sumber: Ketika Iman Membutuhkan Jawaban 1, Romo John Fladder, Dioma, 2010)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Berdoa Rosario?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/mengapa-berdoa-rosario/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 May 2010 01:54:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/mengapa-berdoa-rosario/</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Berdoalah Rosario setiap hari agar kalian memperoleh perdamaian untuk dunia dan berakhirnya peperangan,&#8221; demikian kata Bunda Perawan Maria kepada ketiga anak muda pada tanggal 13 Mei 1917.  Dalam penampakannya, Bunda Allah juga selalu menegaskan permintaannya itu, &#8220;Aku ingin kalian berdoa Rosario setiap hari.&#8221;  Memang, inilah salah satu inti pesan penting Bunda Maria pada penampakan di ... <a title="Mengapa Berdoa Rosario?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/mengapa-berdoa-rosario/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Mengapa Berdoa Rosario?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img fetchpriority="high" decoding="async" class=" alignleft size-full wp-image-519" src="https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2010/05/rosario.jpg" border="0" style="float: left; margin-left: 10px; margin-right: 10px;" width="300" height="170" />&#8220;Berdoalah Rosario setiap hari agar kalian memperoleh perdamaian untuk dunia dan berakhirnya peperangan,&#8221; demikian kata Bunda Perawan Maria kepada ketiga anak muda pada tanggal 13 Mei 1917.  Dalam penampakannya, Bunda Allah juga selalu menegaskan permintaannya itu, &#8220;Aku ingin kalian berdoa Rosario setiap hari.&#8221;  Memang, inilah salah satu inti pesan penting Bunda Maria pada penampakan di Lourdes dan Fatima, yakni supaya berdoa Rosario untuk pertobatan orang-orang berdosa.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jika umat manusia tidak bertobat dan memperbaiki hidupnya, Bapa akan mengirimkan hukuman yang dahsyat terhadap umat manusia.  Hukuman ini akan lebih dahsyat dari air bah.  Api akan turun dari langit dan akan memusnahkan sebagian besar umat manusia.  Maka mintalah, mintalah dengan tekun, dan berdoalah Rosario untuk pemurnian setiap Sabtu Pertama.&#8221; (Pesan Fatima, yang dituliskan kembali di Akita, Jepang, 1973-1981).</p>
<p><span id="more-520"></span></p>
<p>Santo Louis de Monfort menyatakan: &#8220;Rosraio suci yang didaraskan dengan hikmat berulang kali disertai tindakan pertobatan yang baik tidak akan pernah layu dan mati dan mawar merah kita itu akan tetap elok mempesona selama beribu-ribu tahun terhitung dari sekarang.  Dan, jika Anda setia mendaraskan Rosario Suci sampai mati, saya dapat memastikan kepada Anda bahwa betapa pun beratnya dosa-dosa Anda, Anda akan menerima suatu mahkota kemuliaan yang tak akan pernah pudar dan hilang,&#8221; demiikian meminjam kata-kata Beato Alan de la Roche bahwa Rosario Suci merupakan akar dan gudang berkat yang tak terhitung jumlahnya karena melalui doa Rosario Suci, orang-orang berdosa bertobat dan diampuni, jiwa-jiwa yang dahaga disegarkan, mereka yang terbelenggu akan dilepaskan ikatannya, mereka yang menangis menemukan kebahagiaan, mereka yang dicobai menemukan kedamaian, mereka yang miskin mendapat bantuan, hidup beragama diperbaharui, mereka yang bodoh diajar, manusia belajar mengatasi keangkuhannya serta orang mati dihapus penderitaannya.</p>
<p> </p>
<p style="text-align: justify;">Paus Pius XI mengatakan, &#8220;Doa Rosario adalah senjata amat efektif untuk mengusir setan, untuk memelihara kesucian hati, untuk mendapatkan keutamaan dengan lebih mudah atau dengan kata lain untuk menganjurkan pertobatan dan menegakkan perdamaian di antara umat manusia.  Doa Rosario tidak hanya mengalahkan merek ayang menghina Allah dan musuh-musuh agama, tetapi juga melatih diri kita untuk memperoleh keutamaan-keutamaan Injil yang kita butuhkan..&#8221; (Ensiklik Ingravescentibus Malis, 29 September 1973).</p>
<p style="text-align: justify;">Doa Rosario, jika direnungkan dengan kesalehan akan membawa kita kepada pengenalan penuh akan Yesus Kristus, membersihkan jiwa kita dari dosa-dosa, menganugerahkan kepada kita kemenangan atas semua musuh kita, mempermudah kita untuk melatih keutamaan-keutamaan kristiani, memperkaya kita dengan rahmat dan karunia Allah, menjadi sarana yang ampuh untuk melakukan silih atas segala dosa kesalahan kita pada Allah dan sesama serta membantu kita memperoleh segala macam rahmat dari Allah berkat daya kuasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu juga diingat bahwa yang paling inti dari doa Rosario ialah bahwa setiap sepuluh doa Salam Maria dirangkai oleh sebuah doa Bapa Kami dan sebuah doa Kemuliaan serta sekaligus diantar dengan renungan akan peristiwa misteri kehidupan Tuhan Yesus dan Bunda Maria.  Terdapat 6 kekayaan Rosario, antara lain:</p>
<p style="text-align: justify;">1.  Berdoa bersama Maria menjadi sarana menjalin hubungan personal dengan Maria.</p>
<p style="text-align: justify;">2.  Berdoa bersama Maria yang ditujukan kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">3.  Berdoa bersama Santa Bernadette Soubirous. (yang mendapat penampakan Bunda Maria di Lourdes &#8211; red)</p>
<p style="text-align: justify;">4.  Bercorak repetisi sehingga menekankan sifat meditatif.</p>
<p style="text-align: justify;">5.  Masuk dalam titik-titik penting seluruh karya penyelamatan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">6.  Memuat seluruh isi iman Gereja.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah keseibukan dan rutinitas harian kita, sudakah kita berdoa Rosario juga bagi keluarga kita sendiri?</p>
<p style="text-align: justify;">(Enam Kekayaan Rosario, Rm. Jost. Kokoh, Pr, Tanda &#8211; Kata, Angka, dan Nada, Kanisius, 2009)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puasa dan Pantang Katolik</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/puasa-dan-pantang-katolik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 17:33:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/puasa-dan-pantang-katolik/</guid>

					<description><![CDATA[Seorang umat bertanya, seperti apa sebenarnya cara orang Katolik berpuasa dan berpantang? Adakah aturan resminya? Dapatkah puasa dan pantang menjadi bentuk penyesalan atas dosa-dosa kita? Aturan Gereja untuk puasa dan pantang adalah pada saat Prapaskah.  Umat Katolik wajib  berpuasa dan berpantang pada Rabu Abu dan Jumat Agung, dan setiap Jumat dalam rentang waktu Prapaskah, umat ... <a title="Puasa dan Pantang Katolik" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/puasa-dan-pantang-katolik/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Puasa dan Pantang Katolik">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang umat bertanya, seperti apa sebenarnya cara orang Katolik berpuasa dan berpantang?</p>
<p>Adakah aturan resminya?</p>
<p>Dapatkah puasa dan pantang menjadi bentuk penyesalan atas dosa-dosa kita?</p>
<p>Aturan Gereja untuk puasa dan pantang adalah pada saat Prapaskah.  Umat Katolik wajib  berpuasa dan berpantang pada Rabu Abu dan Jumat Agung, dan setiap Jumat dalam rentang waktu Prapaskah, umat Katolik diwajibkan pantang sesuai dengan yang berlaku di Keuskupan masing-masing.</p>
<p>Puasa dan pantang sebagai bentuk penyesalan atas dosa-dosa sangat boleh.  Puasa menjadi bagian dari silih atas dosa-dosa itu sendiri. Setelah mengaku dosa, kita bisa berbuat silih dengan puasa dan pantang, selain cara silih lainnya dengan berbuat amal dan kebajikan.</p>
<p>(Romo Henricus Asodo, OMI, Rektor Seminari Tinggi OMI, Condong Catur, Yogyakarta)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Mengaku Dosa Lewat Telepon?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/bolehkah-mengaku-dosa-lewat-telepon/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 12:54:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/bolehkah-mengaku-dosa-lewat-telepon/</guid>

					<description><![CDATA[Boleh?! Tapi nanti kalau minta Sakramen Perminyakan, juga akan diberikan lewat telepon, atau malah di-SMS saja.  Maukah demikian? Sakramen adalah rahmat yang disediakan untuk &#8220;kesejahteraan&#8221; umat. Kalau umat tidak serius dalam menerima Sakramen, maka rahmat yang disediakan Tuhan itu tidak akan datang kepadanya. Maka, dalam menerima Sakramen apa pun, termasuk Sakramen Ekaristi, umat diharapkan untuk serius dan bersungguh-sungguh dalam ... <a title="Bolehkah Mengaku Dosa Lewat Telepon?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/bolehkah-mengaku-dosa-lewat-telepon/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Bolehkah Mengaku Dosa Lewat Telepon?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Boleh?! Tapi nanti kalau minta Sakramen Perminyakan, juga akan diberikan lewat telepon, atau malah di-SMS saja.  Maukah demikian?</p>
<p align="justify">Sakramen adalah rahmat yang disediakan untuk &#8220;kesejahteraan&#8221; umat. Kalau umat tidak serius dalam menerima Sakramen, maka rahmat yang disediakan Tuhan itu tidak akan datang kepadanya.</p>
<p align="justify">Maka, dalam menerima Sakramen apa pun, termasuk Sakramen Ekaristi, umat diharapkan untuk serius dan bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan diri dan juga dalam menyambut Sakramen itu sendiri.</p>
<p align="justify"><em>(Romo Henricus Asodo, OMI, Rektor Seminari Tinggi OMI, Condong Catur, Yogyakarta)</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengaku Dosakah Imam?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/mengaku-dosakah-imam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 12:44:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/mengaku-dosakah-imam/</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan:  Umat mengaku dosa kepada imam, imam mengaku dosa kepada siapa?  Bagaimana dengan Bapa Uskup dan Bapa Suci Paus? Jawab: Umat mengaku dosa kepada imam, imam mengaku dosa kepada imam lain/uskup.  Uskup mengaku dosa kepada imam/uskup lain.  Kardinal mengaku dosa kepada imam/uskup/kardinal lain. Bapa Suci?  Beliau mengaku dosa kepada imam/uskup/kardinal. Intinya adalah: Mendengarkan pengakuan dosa adalah hak ... <a title="Mengaku Dosakah Imam?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/mengaku-dosakah-imam/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Mengaku Dosakah Imam?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pertanyaan:  Umat mengaku dosa kepada imam, imam mengaku dosa kepada siapa?  Bagaimana dengan Bapa Uskup dan Bapa Suci Paus?</p>
<p align="justify">Jawab: Umat mengaku dosa kepada imam, imam mengaku dosa kepada imam lain/uskup.  Uskup mengaku dosa kepada imam/uskup lain.  Kardinal mengaku dosa kepada imam/uskup/kardinal lain. Bapa Suci?  Beliau mengaku dosa kepada imam/uskup/kardinal.</p>
<p align="justify">Intinya adalah: </p>
<p align="justify">Mendengarkan pengakuan dosa adalah hak seseorang yang menerima Tahbisan Imamat. <br />Siapa saja yang sudah ditahbiskan menjadi Imam bisa mendengarkan pengakuan dosa &#8211; kecuali Imam yang terkena suspensi atau eks-komunikasi.</p>
<p align="justify"><em>(Romo Henricus Asodo, OMI, Rektor Seminari Tinggi OMI, Condong Catur, Yogyakarta)</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bolehkah menjadi Katolik lagi?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/bolehkan-menjadi-katolik-lagi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 04:45:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/bolehkan-menjadi-katolik-lagi/</guid>

					<description><![CDATA[Gereja Katolik tidak pernah melarang “mantan” Katolik untuk kembali menjadi Katolik.  Sebaliknya, Gereja Katolik selalu terbuka kepada siapa pun yang pernah mengingkari kekatolikan, lalu ingin  memeluknya kembali.  Ia pasti akan disambut gembira oleh Gereja bila mau balik lagi ke rumahnya.  Ia idak akan ditolak.  Sebaliknya, Gereja akan membantunya, menuntunnya untuk melakukan proses  rekonsiliasi.  Ia akan ... <a title="Bolehkah menjadi Katolik lagi?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/bolehkan-menjadi-katolik-lagi/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Bolehkah menjadi Katolik lagi?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img decoding="async" src="images/stories/artikel/2010/01/kembali-menjadi-katolik.jpg" border="0" hspace="10" align="left" />Gereja Katolik tidak pernah melarang “mantan” Katolik untuk kembali menjadi Katolik.  Sebaliknya, Gereja Katolik selalu terbuka kepada siapa pun yang pernah mengingkari kekatolikan, lalu ingin  memeluknya kembali.  Ia pasti akan disambut gembira oleh Gereja bila mau balik lagi ke rumahnya.  Ia idak akan ditolak.  Sebaliknya, Gereja akan membantunya, menuntunnya untuk melakukan proses  rekonsiliasi.  Ia akan mendapatkan pelayanan semestinya dari Gereja.  Karena itu, para mantan Katolik idak perlu ragu atau takut bila mau kembali ke Gereja Katolik.</p>
<p align="justify">Namun, ia tidak bisa begitu saja masuk lagi ke Katolik.  Tidak otomatis bagi mereka untuk bisa menerima hak dan kewajiban sebagaimana lazimnya umat Katolik.  Ia tidak bisa langsung menerima Komuni  suci, meminta pelayanan Sakramen-Sakramen Gerejani (misalnya Sakramen Perkawinan), atau mengambil bagian dalam kegiatan gerejani (contohnya menjadi pengurus Gereja).  Ada hal-hal yang harus ia bereskan terlebih dahulu, terutama hal-hal yang menyangkut kesucian/pertobatan pribadi dan hal-hal  yang bisa menjadi batu sandungan bagi umat.  Setelah hal-hal ini dibereskan, ia diperkenankan kembali ke Gereja Katolik.</p>
<p><span id="more-452"></span></p>
<p align="justify">Apa yang harus dibereskan?  </p>
<p align="justify">Pertama-tama, ia harus beres secara batin/rohani.  Ia harus menunjukkan pertobatan.  Ia mau menyadari kesalahan yang telah dilakukannya, yakni dengan keluar dari Gereja Katolik yang berarti ia telah mengingkari Kristus dan Gereja.  Kesadaran bahwa ia telah ingkar janji untuk setia mengikuti Kristus dan menjadi anggota umatNya (Gereja) saat dibaptis akan mendorongnya memiliki niat yang suci.  Niat untuk kembali ke Rumah Bapa lewat jalan kekatolikan.</p>
<p align="justify">Kesadaran akan kekeliruan masa lampau itu hendaknya ditunjukkan dengan tindakan konkret.  Ia menyesal, lalu berbuat baik.  Dalam rangka pemberesan dari “dosa-dosa” ini, biasanya Imam Paroki akan membantu mereka.  Para gembala Gereja sangat terbuka baginya untuk berkonsultasi pribadi, pelayanan Sakramen Tobat, dan pembaruan janji baptis (dan perkawinan).</p>
<p align="justify">Berikutnya, ia harus memiliki niat yang tulus dan motivasi yang kuat.  Ia memiliki alasan jelas dan mantap mengapa mau kembali lagi ke pangkuan Gereja Katolik.  Kesungguhan hati dan keseriusan ini sangat penting karena kekatolikan bukan agama untuk coba-coba, main-main dengan agama atau sekedar pegangan (daripada tidak beragama).  Menjadi Katolik membutuhkan komitmen, bukan sekedar komat-kamit. Motivasi dan kesungguhan hati tersebut bisa ia gali bersama dengan umat Katolik dan Imam Parokinya.  </p>
<p>Karena itu, sangat dianjurkan agar para mantan Katolik mendekatkan diri lagi dengan umat Katolik, terutama mereka yang bisa menemui Imam Paroki.  Lewat kedekatan dengan umat, komunio yang dahulu pernah dirusak akan dibangun kembali.  Sementara audiensi dengan Imam Paroki memudahkannya untuk mengetahui hal atau tindakan apa saja yang harus dipersiapkan untuk menjadi Katolik lagi.  Biasanya, Imam Paroki akan menggali latar belakang mengapa dahulu ia keluar dari Katolik dan mengapa sekarang mau kembali lagi menjadi Katolik.  Imam Paroki juga akan memberikan petunjuk-petunjuk praktis yang diperlukan.</p>
<p align="justify">Apakah mantan Katolik akan dibaptis ulang?  </p>
<p align="justify">Tidak.  Baptisan Katolik hanya terjadi satu kali dalam hidup seseorang.  Hal ini dilandasi oleh hakikat Sakramen Baptis yang bersifat materai, tak terbatalkan.  Maka, baptisan akan tetap melekat sekalipun mereka keluar dari Gereja Katolik.  Karena itu, mantan Katolik yang mau jadi Katolik lagi tidak akan dibaptis ulang.  Hanya biasanya ia akan melakukan pembaruan janji baptis pada saat upacara penerimaan kembali ke dalam Gereja Katolik.</p>
<p align="justify">Apakah ada pelajaran agama Katolik lagi?</p>
<p align="justify">Tentu saja bagi mantan Katolik tidak perlu belajar agama lagi seperti dahulu ketika ia menjadi Katekumen.  Paket pelajaran calon baptis tidak akan diajarkan lagi.  Dengan demikian, ia juga tidak usah menunggu waktu hingga setahun untuk menjadi Katolik lagi.  Namun, ada pembekalan atau penyegaran iman yang akan diperoleh agar jiwa dan semangat kekatolikan mereka hidup kembali.  Paket “pelajaran agamanya” akan disesuaikan dengan keperluan.  Jika ia memiliki hal-hal yang harus dibereskan (misalnya soap perkawinan), hal itu akan diurus terlebih dahulu.  Intinya, imannya akan tetap dibina sehingga benar-benar siap dan pantas menjadi Katolik lagi.</p>
<p align="justify">Setelah membereskan hal-hal yang diperlukan dan dianggap siap/layak menjadi Katolik lagi, barulah ia akan diterima kembali ke dalam Gereja Katolik.  Biasanya, ia akan diterima ke dalam Gereja Katolik dalam sebuah upacara penerimaan.  Penerimaan itu sendiri bisa dilakukan dalam Ekaristi umat.  Setelah Homili, ia akan berdiri di depan altar, lalu bersama-sama dengan umat, ia mengungkapkan iman kepercayaan Katolik (Janji Baptis dan Syahadar Para Rasul).</p>
<p align="justify">Apa “efek” dari upacara penerimaan itu?</p>
<p align="justify">Setelah diterima kembali dalam Gereja Katolik dalam sebuah upacara penerimaan, secara resmi ia menjadi umat Katolik lagi.  Artinya, ia memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti umat Katolik yang lain.  Ia terikat kembali dengan tanggungjawab sebagai umat Katolik dan berhak menerima kekayaan iman Katolik.  Hal ini tampak, misalnya, dalam partisipasi mereka dalam kegiatan hidup menggereja dan dalam penerimaan Sakramen-Sakramen.  Mereka bisa menerima Komuni Kudus, Sakramen-Sakramen Gereja, dan pelayanan gerejani non-sakramental (pemberkatan rumah, kunjungan, pemakaman).  Dan bila keadaan memungkinkan, ia juga bisa berpartisipasi dalam kegiatan gerejani atau menjadi aktivis Gereja.</p>
<p align="justify">Apakah ada biaya?</p>
<p align="justify">Tidak ada biaya.  Gereja Katolik tidak memungut biaya bila para mantan Katolik kembali lagi ke Gereja Katolik.  Ia bisa memperoleh pelayanan gerejani dengan cuma-cuma.  Semua berkat berasal dan tercurah dari Allah secara cuma-cuma.  Karena itu, hal ini akan diberikan lagi dengan cuma-cuma kepada mereka yang membutuhkan pelayanan Gereja.  Maka, hendaknya yang cuma-cuma itu tidak kita buat percuma.  Sebaliknya, menjadi berkat bagi yang lain. Gereja Katolik sebagai institusi, dalam rangka menyelamatkan umatnya, berperan sebagai &#8220;guru&#8221; dan &#8220;ibu/bapa&#8221;.  </p>
<p align="justify">Pertama, sebagai guru, Gereja tak henti-hentinya mewartakan kebenaran iman sesuai dengan contoh dan ajaran Yesus sendiri.  Gereja terus mengartikan norma-norma moral dan mewartakannya kepada siapa pun yang berkehendak baik.  Gereja terus berupaya supaya umat Kristiani bisa menghayati iman yang benar hingga sampai pada keselamatan yang Allah janjikan.<br />Begitu juga terhadap para mantan Katolik yang mau kembali.  Gereja akan menyampaikan kebenaran dan mengupayakan agar norma-norma dan nilai-nilai kekatolikan bisa mereka hayati kembali.  Mereka berhak menerima pengetahuan, pemahaman, dan ajaran Katolik demi perkembangan iman mereka.</p>
<p align="justify">Kedua, sebagai &#8220;ibu/bapa&#8221;, Gereja senantiasa mendekati mereka yang berada dalam kesulitan.  Sesuai dengan teladan dan kerendahan hati Yesus, Gereja tidak akan meninggalkan mereka yang berada dalam kesulitan.  Sebaliknya, Gereja mendekati, merangkul, dan melayani mereka.  Dengan kesabaran, semangat persaudaraan, dan kasih sayang, saudara-saudari kita yang kesulitan akan Gereja berdayakan.  Gereja akan mengasihi, mencintai, dan berjalan bersama mereka seperti seorang ibu/bapa yang menyayangi anak-anaknya. Relasi cinta seorang ibu/bapa terhadap anaknya itu tampak dalam keterbukaan Gereja menerima para mantan Katolik yang ingin kembali ke pangkuan Gereja Katolik.  Ia akan disongsong oleh Gereja, diperbaharui lagi ikatan perjanjiannya yang telah rusak, dan digabungkan kembali dalam sukacita bersama seluruh umat.  Mereka akan ditempatkan kembali pada posisi yang sama dengan sesama umat.  </p>
<p>Tidak ada cemoohan atau ejekan bagi mereka.  Tidak ada pula sindiran atau cap &#8220;murtad&#8221; bagi mereka.  Gereja menyadari bahwa semua orang bisa jatuh dalam kesalahan dan dosa, tetapi sedikit saja yang bisa bangkit dari dosa-dosanya.  Maka, Gereja akan menyambut dan menerima para mantan Katolik ini dengan gembira.Kasus pindah agama merupakan peristiwa biasa dan lumrah, tetapi menarik untuk dibicarakan.  Biasa dan lumrah karena pindah agama sudah terjadi sejak lama, sejak manusia ada dan institusi agama itu lahir.  Hingga saat ini, peristiwa pindah agama itu tetap berlangsung, dan terus berlangsung hingga masa yang akan datang.  Menarik karena dalam sebagian besar masyarakat dan lingkungan sosial kita, pindah agama merupakan peristiwa luar biasa, bahkan bisa menjadi aib yang harus disembunyikan.</p>
<p align="justify">Namun, kita harus memahami bahwa adalah hal biasa jika seseorang berpindah dari satu agama ke agama lain.  Adalah wajar suatu agama kehilangan umat, sedangkan agama lain kedatangan umat baru.  Karena itu, kita harus memahami bahwa pindah agama itu merupakan fakta tak terelakkan dalam masyarakat kita.  Keragaman agama dan keyakinan serta kebebasan berkeyakinan di Indonesia yang dijamin oleh Undang Undang Dasar 1945 memungkinkan peristiwa seseorang berpindah dari satu agama ke agama lain terus berlangsung.  Sulit sekali bagi satu agama untuk membendung dan menghalangi hal ini, apalagi menghentikannya.  Demikian pula bagi agama Katolik.  Walau demikian, langkah-langkah pastoral antisipatif dan solutif untuk meminimalisasi kasus pindah agama ini harus selalu diupayakan.</p>
<p align="justify">Kita harus tahu kenapa peristiwa pindah agama ini terjadi.  Kita harus memahami bahwa kondisi personal dan sosial ikut memberi andil seseorang berpindah agama.  Hak dan kebebasan individu untuk beragama dan menghayatinya sesuai dengan kepercayaannya juga telah membuka peluang tiap orang untuk memilih agama yang pas bagi dirinya, tanpa intervensi pribadi lain.  Hal ini diperkuat dengan keragaman agama di Indonesia yang memungkinkan seseorang untuk berpindah dari satu agama ke agama yang lain.</p>
<p align="justify">Pada dasarnya, semua agama itu bukan untuk main-main.  Walaupun kita memiliki hak dan kebebasan beradama, halini tidak berarti kita boleh berganti-ganti agama atau mencoba dari satu agama ke agama yang lain.  Hidup keagamaan membutuhkan komitmen, bukan coba-coba dan mana suka.  Memilih agama juga bukan soal perasaan suka dan tidak suka, melainkan panggilan Tuhan.  Suka-duka dalam menjalani kekatolikan harus dialami dan ditempatkan dalam keangka iman.  Sukacita yang kita alami harus kita bawa sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas berkatNya.  Sebaliknya, dukacita harus ktia hayati sebagai partisipasi kita dalam penderitaan Kristus agar kita bisa bangkit bersamaNya.  Barangsiapa mau mengikuti Kristus harus siap memanggul salib dan menyangkal dirinya.  Kurang bijak jika kita mau menjadi Katolik hanya kalau ada daya tarik dan sukacita semata, lalu menolak hal-hal yang tidak mengenakkan.  Menjadi Katolik (dan juga agama lainnya) harus siap dengan segala konsekuensinya.  Jika demikian, kita bisa menjadi umat Katolik yang taat yang berprinsip: &#8220;Sekali Katolik, Tetap Katolik.&#8221;</p>
<p>(Sumber: Catholic Forever &#8211; Mempertahankan Iman Katolik di Tengah Badai Zaman, Anfonsus Sutarno, Pr, <br />Fidei Press, 2009) </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Roti Suci (Padre Pio) &#8211; Apa Tanggapan Gereja?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/roti-suci-padre-pio-apa-tanggapan-gereja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 02:04:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/roti-suci-padre-pio-apa-tanggapan-gereja/</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan dari seorang umat: Bagaimana tanggapan Gereja mengenai roti suci dari Padre Pio yang katanya berasal dari Vatican.  Sekarang sedang marak beredar roti dan doa berantainya.  Apakah ini benar atau hanya perbuatan iseng orang-orang?   Jawaban yang diberikan oleh Romo: Satu hal pertama yang mesti diingat: Yesus, Tuhan kita adalah satu-satunya Sang Penyelamat bagi kita. ... <a title="Roti Suci (Padre Pio) &#8211; Apa Tanggapan Gereja?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/roti-suci-padre-pio-apa-tanggapan-gereja/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Roti Suci (Padre Pio) &#8211; Apa Tanggapan Gereja?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pertanyaan dari seorang umat: Bagaimana tanggapan Gereja mengenai roti suci dari Padre Pio yang katanya berasal dari Vatican.  Sekarang sedang marak beredar roti dan doa berantainya.  Apakah ini benar atau hanya perbuatan iseng orang-orang?  </p>
<p align="justify">Jawaban yang diberikan oleh Romo:</p>
<div align="justify">Satu hal pertama yang mesti diingat: Yesus, Tuhan kita adalah satu-satunya  Sang Penyelamat bagi kita. Tidak ada makhluk lain yang bisa  menjanjikan keselamatan kecuali Dia. Ini mesti dipegang teguh. Untuk itu,  hal-hal yang lain janganlah sampai mengaburkan iman kita itu. Hal yang tidak  berkait langsung dengan Yesus biasanya tidak merupakan yang pokok, maka tidak  wajib diimani.</div>
<div align="justify"> </div>
<p> </p>
<div align="justify"> </div>
<p>Roti Padre Pio adalah salah satu yang tidak pokok. </p>
<div align="justify"> </div>
<p>Itu adalah bentuk devosional dan bisa jadi bersifat lokal (hanya merupakan  kebiasaan setempat saja), untuk kalangan orang-orang Eropa dengan cara dan budaya hidup yang  lain dari kita di Indonesia.  Tentu hal itu tidak akan mengganggu, namun bagi kita, kadang  atau sering malah mengacaukan iman kita.</p>
<div align="justify"> </div>
<p> </p>
<div align="justify"> </div>
<p>Untuk itu, saya mengusulkan untuk tidak terlalu pusing dengan roti itu.  Seandainya Anda mengimani akan mendapat berkat, namun sekiranya Anda tidak  percaya, juga tidak akan mendapatkan celaka atau kutuk.</p>
<div align="justify"> </div>
<p> </p>
<div align="justify"> </div>
<p>Jadi, saya menegaskan bahwa roti itu (yang kadang sulit dipahami maknanya)  tidak usah memusingkan kita. Pertanyaan untuk kita semua adalah: &#8220;Apakah aku percaya? atau, aku  tidak percaya?&#8221;</p>
<div align="justify"> </div>
<p>Jawaban ada pada hati kita masing-masing&#8230; </p>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"> </div>
<p>Kejujuran hati kita membuat kita tenang dalam beriman.</p>
<p><em>(Romo Henricus Asodo, OMI &#8211; Rektor Seminari Tinggi OMI, Yogyakarta) </em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengaku Dosa, Mengapa?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/mengaku-dosa-mengapa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 10:31:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/mengaku-dosa-mengapa/</guid>

					<description><![CDATA[Ecclesia Semper Reformanda! – Gereja selalu diperbaharui!  Gereja tidak mandeg, Gereja tidak tanpa perubahan.  Untuk itulah setiap anggota Gereja juga mesti memperbaharui diri.  Tidak berhenti dan cukup dengan sudah ada, tetapi terus-menerus berkembang.  Berkembang mengandaikan adanya sikap evaluasi dan introspeksi diri.  Dengan lain kata: mesti ada pertobatan!  Umat beriman mesti mau bertobat: mau melihat dirinya, ... <a title="Mengaku Dosa, Mengapa?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/mengaku-dosa-mengapa/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Mengaku Dosa, Mengapa?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ecclesia Semper Reformanda!</em> – Gereja selalu diperbaharui!  Gereja tidak mandeg, Gereja tidak tanpa perubahan.  Untuk itulah setiap anggota Gereja juga mesti memperbaharui diri.  Tidak berhenti dan cukup dengan sudah ada, tetapi terus-menerus berkembang.  Berkembang mengandaikan adanya sikap evaluasi dan introspeksi diri.  Dengan lain kata: mesti ada pertobatan!  Umat beriman mesti mau bertobat: mau melihat dirinya, mau mengakui dosa dan kesalahannya, menerima pengampunan dari Allah dan dipulihkan hubungannya dengan seluruh Gereja.  Gereja selalu berkembang, Gereja selalu bertobat.  Siap mengakui dosa, siap menerima pengampunan.</p>
<p>Namun, pertanyaannya: mengapa mesti mengakui dosanya?  Jawabnya: Karena orang berdosa itu sekaligus membuat 3 luka: luka pada Allah, luka pada diri sendiri, dan luka pada Gereja.  Oleh sebab itu, tobat juga sekaligus menyembuhkan 3 luka.  Seseorang dipulihkan dan disucikan kembali berkat pengampunan, berdamai lagi dengan Allah, dan diterima kembali ke dalam Gereja.  Itulah pemahaman dosa di antara kita sejak zaman Gereja awal.</p>
<p>Berkaitan dengan praktek pertobatan, di kalangan umat sekarang ini beredar beberapa istilah yang menunjuk pada Sakramen yang sama.  Ada yang menyebut: Sakramen Pengakuan Dosa, Sakramen Perdamaian, Sakramen Pengampunan Dosa, Sakramen Rekonsiliasi,  Sakramen Tobat, dan mungkin masih ada istilah yang lain lagi.  Istilah-istilah itu menunjuk pada penekanan yang berbeda-beda.  Ada yang menekankan pada pengakuan dosanya, ada yang menekankan pada pendamaian antara pendosa dengan Allah dan Gereja, ada yang menekankan pada niat pertobatan, dan seterusnya.  Hal ini sungguh tergantung pada “rasa” yang mau ditonjolkan oleh seseorang.</p>
<p>Namun demikian, istilah resmi yang dipakai Gereja, khususnya dalam Konsili Vatikan II adalah Sakramen Tobat.  Istilah ini ingin menonjolkan bahwa unsur yang terpenting adalah tobat dan “orang beriman yang bertobat” (Lumen Gentium 28).  Namun, hubungan dengan Gereja juga ditekankan.  “Mereka yang menerima Sakramen Tobat memperoleh pengampunan dari Allah dan sekaligus didamaikan dengan Gereja.” (Lumen Gentium 11).  Oleh karena itu, tidak semestinya orang beriman berpandangan bahwa dosa adalah urusan AKU dan TUHAN atau dosa adalah perkara empat mata!  Tidak demikian dalam padangan Gereja.  Orang berbuat dosa bukan hanya mengotori dirinya dan menyakiti Allah, teatpi sekaligus mencoreng kesucian Gereja.  Pada abad-abad awal, pandangan ini sangat terlihat jelas dalam praktek tobat.  Orang berdosa mengutarakan dosa-dosanya di depan seluruh umat.  Setelah itu ia melakukan penitensi (denda dosa) dengan mati raga atau puasa, atau bentuk-bentuk yang lain dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan “besar kecil” atau “berat ringan” nya dosa yang dilakukan.  Bahkan, kesempatan menerima Sakramen Tobat sangat terbatas, hanya 1 kali saja!  Kalau ia ditemukan melakukan dosa berat lagi, ia bisa dikucilkan (ekskomunikasi) dari persekutuan dan Perjamuan Ekaristi.  Namun demikian, dalam perkembangan waktu, praktek pertobatan dalam Gereja berubah dan bergeser.  Sakramen Tobat dilaksanakan tidak secara publik/umum, tetapi secara privat/pribadi di kamar pengakuan.  Penitensinya juga bergeser dari yang fisik/materil ke yang rohani.  Sakramen Tobat juga bisa diterima berulangkali.  Lebih sering, lebih baik!</p>
<p>Perubahan atau pergeseran praktek Sakramen Tobat yang terjadi dalam sejarah Gereja, bukan untuk melonggarkan makna Sakramen Tobat atau malah mengizinkan umat untuk berbuat dosa.  Perubahan yang ada menunjukkan perkembangan dan pembaruan yang terus-menerus.  Para Bapa Konsili Vatikan II merumuskan keyakinan bersama: “Gereja adalah suci, namun sekaligus harus selalu dibersihkan serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaruan.” (Lumen Gentium 8).  Itulah konteks utama mengapa orang mesti bertobat.  Kita semua adalah orang-orang suci.  Dengan dibaptis, kita diangkat kembali menjadi anak-anak Allah.  Namun demikian, kita sadar diri bahwa kita masih terus jatuh dalam dosa.  Maka, kita mesti melakukan pertobatan dan pembaruan diri.  Pertobatan dan pembaruan diri ini diungkapkan dengan datang dan menerima Sakramen Tobat sekurang-kurangnya pada menjelang Natal dan Paskah.  Logikanya, setiap orang yang sadar bahwa dirinya berdosa, mesti mengaku dosa!  </p>
<p>Anda merasa berdosa?  Datanglah kepada imam Gereja dan akuilah dosa Anda!  Terimalah pengampunanNya dan sambutlah hidup yang baru!  Rasakan bedanya ketika Anda keluar dari ruang pengakuan! </p>
<p><em>Ditulis oleh Romo Henricus Asodo, OMI<br />Sumber: Bedah Gereja Seri 6, Majalah Sabitah, Edisi Maret-April 2005</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
