:

Workshop Basic Photography

Tidak lama setelah kita memperingati hari raya Paskah, seminggu kemudian tim Komsos Trinitas disibukkan dengan acara Workshop Basic Photograpy. Acara ini dipersiapkan jauh sebelum hari raya paskah. Acara Workshop yang digelar pada hari Minggu, tanggal 11 April 2010, dibuka dengan doa yang dipimpin oleh Teddy, Mantan Ketua Komsos Trinitas.

Dengan dipimpin oleh Yolanda dan Yohanes Vigar, acara Workshop Basic Photography ini berjalan dengan luar biasa. Para peserta juga sengaja tidak ditargetkan terlalu banyak. Hanya tersedia 20 kursi untuk peserta workshop ini. Dengan mengundang seorang photographer profesional yang banyak bergelut di bidang Wedding dan Pre Wedding Photography, yaitu Bintang Listyonatal (dborganizer.net) maka para peserta berhasil mendapatkan begitu banyak ilmu baru seputar dasar penggunaan kamera dan hal-hal yang terkait dengan photography. Tidak hanya teori, namun para peserta workshop juga mendapatkan kesempatan untuk uji praktek, tentunya dengan bantuan para model yang kebetulan juga merupakan umat paroki gereja trinitas juga, yaitu Vincy, Ivonne, Vero, dan Michelle. Praktek photography dilaksanakan dengan mengambil setting seputar lingkungan gereja.

Read more

Klo Gw Ngetop One Day

‘Gw’ sering liat acara karbitan yang membuat orang ngetop. Karbitan, karena proses ngetopnya singkat ‘banget’. Dari awal ‘American Idol’, hanya perlu waktu kurang dari enam bulan untuk jadi idola dunia. Walopun ‘gw’ yakin proses buat jadi ngetop itu sendiri dimulai jauh-jauh hari… Sebelum mereka audisi, mereka sudah latihan dari sekian tahun sebelumnya, mungkin dari kecil sudah hobby nyanyi. Mereka sudah sering manggung dari satu kota ke kota lainnya, mereka sering memenuhi acara mandi di kamar mandi mereka dengan teriakan-teriakan ‘rock’-nya. Kalopun proses terkenalnya yang seolah instan, ‘gw’ sadar koq, di luar itu mereka juga ‘udah’ usaha keras.

Read more

Bicara Seputar Domba

(menyambut Minggu Kerahiman Allah, Minggu Paskah II, 11 April 2010)

Tak Kau lupakan diriku, Kau ingat ku adalah debu.  Tetapi Kau meninggikannya di hadapan malaikatMu.  Kau hapuskan lemahku dari kitab kehidupanMu.  Kau tak mau mengakuinya di hadapan Bapa.  Kau Allah yang tiada mengingat lagi, segala kesalahanku yang telah Engkau ampuni.  Walau dosaku merah bak kain kesumba, Engkau menjadikanku putih, seputih bulu domba…”

Domba adalah semacam binatang mamalia berbulu, yang banyak terdapat di Australia dan Selandia Baru.  Saking banyakny, jumlah domba di negara tetangga kita itu lebih banyak daripada jumlah penduduknya.

Di beberapa negara, ada tradisi yang berkaitan dengan domba.  Setiap Juni, peternak Cuzco di Peru mendadani domba mereka dan membawanya ke gereja untuk merayakan festival San Juan (Santo Yohanes).  Di Selandia Baru, setiap Maret, diadakan kontes pencukuran domba terbesar di dunia.  Sedangkan di Rumania, ada festival Sambra Oilor yang diadakan penduduk desa untuk merayakan turunnya kawanan domba dari gunung.  Domba-domba yang ikutan festival ini dihias dengan cat warna warni untuk menarik perhatian pengunjung.

Read more

Doa Kepada St. Agustinus

St. Agustinus (354-430) pada masa mudanya adalah seorang yang kafir dan banyak berbuat dosa.  Berkat ketabahan dan doa dari ibunya, Sta. Monika, akhirnya Agustinus bertemu dengan Uskup Ambrosius yang membuka pikirannya dan membuat dia melihat kebenaran sejati, yaitu wahyu Ilahi yang dibawa oleh Yesus Kristus.  Ia dibaptis pada usia 32 tahun dan pada usia 41 … Read more

Selamat Paskah

Bagaimana rasanya kalau perasaan kita tak karuan setiap saat?

Bagaimana rasanya saat harapan-harapan kita terpecah menjadi potongan-potongan kecil – hancur dan hilang begitu saja?

Para murid Yesus merasakan goresan keputus-asaan yang sangat dalam saat mereka melihat Gurunya tergantung di kayu salib, sama seperti kita yang begitu terbawa arus situasi tragis yang terjadi dalam hidup kita.  Para murid mengalami keputus-asaan yang amat sangat karena mereka melihat harapan mereka mati bersama dengan kematian Yesus Kristus di kayu salib.  Mereka kehilangan arah, terbius sakitnya hati melihat tubuh tanpa hidup dari Yesus Kristus yang terpaku di salib.

 

Read more

Kisah Penjual Tempe

Adalah seorang ibu setengah baya yang sehari-harinya berjualan tempe buatan sendiri di desanya.  Suatu hari, seperti biasanya, pada saat ia akan pergi ke pasar untuk menjual tempenya, ternyata pagi itu tempe yang terbuat dari kacang kedele masih belum menjadi tempe alias masih setengah jadi. Ibu ini sangat sedih hatinya, sebab jika tempe tersebut tidak jadi berarti ia tidak akan mendapatkan uang karena tempe yang belum jadi tentunya tidak laku dijual.  Padahal mata pencaharian si ibu satu-satunya hanyalah dari menjual tempe saja  untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.  Dalam suasana hatinya yang sedih, si ibu teringat akan Tuhan yang menyatakan bahwa Tuhan dapat melakukan perkara-perkara ajaib, bahwa bagi Tuhan tiada yang mustahil.

Lalu ia pun  menumpangkan tangannya di atas tumpukan beberapa batangan kedele yang masih  dibungkus dengan daun pisang tersebut.”Tuhan, aku mohon kepadaMu agar kedele ini menjadi tempe, Amin.”  Demikian doa singkat si Ibu yang dipanjatkannya dengan sepenuh hati. Ia yakin dan percaya pasti Tuhan menjawab doanya.  Lalu, dengan tenang ia menekan-nekan bungkusan bakal tempe tersebut dengan ujung jarinya. Dengan hati yang deg-deg-an, Ia mulai membuka sedikit bungkusannya untuk melihat mukjizat kedele jadi tempe terjadi.  Namun apa yang terjadi? Dengan kaget dia mendapati bahwa kedele tersebut masih tetap kedele! Si  Ibu tidak kecewa.  Ia berpikir bahwa  mungkin doanya kurang jelas didengar Tuhan. Lalu kembali ia menumpangkan tangan di atas batangan kedele tersebut.  “Tuhan, aku tahu bahwa bagiMu tiada yang mustahil. Tolonglah aku supaya hari ini aku bisa  berdagang tempe karena itulah mata pencaharianku. Aku mohon jadilah ini menjadi  tempe, Amin.” Dengan Iman, ia pun kembali membuka sedikit bungkusan tersebut. Lalu apa yang terjadi? Dengan  kaget ia melihat bahwa kacang kedele tersebut……………masih tetap tidak berubah menjadi tempe!

Read more

Maukah Kau Berbagi?

Seorang anak mendekati.

Bukan, dua orang anak kecil mendekati. Sambil mengulurkan tangannya, memohon belas kasihan. Bahasa universal yang tak perlu ucapan kata, mereka hanya butuh sedikit recehan saja. Muka dioret sedikit arang hitam. Ditimpa panas yang menyengat. Siang hari di distrik tujuh – Ho Chi Minh City, tiga puluh tiga derajad Celcius.

Seorang anak mendekati.

Bukan, tepatnya seorang anak yang digendong oleh seorang wanita yang berjalan mendekati. Siang hari. Beda situasi dan kondisi. Di Pasar Ben Thanh, di jantung kota Ho Chi Minh City. Berjuang demi sesuap nasi. Berkata dalam Bahasa Inggris yang tak fasih, “ Baby hungry.”

Read more