Saudara saudara senang bertemu kalian semua di internet di Web site Paroki. Luar biasa sekarang semua bisa bertemu dan mencari informasi dan cerita mengenai paroki ini. Saya pakai Don’t Give up ! lagu dari Josh Groban sebagai semangat untuk kita yang baru masuk Tahun Baru! Memang kita harus menjadi siap Tahun ini. Kita sudah yakin tentang Cinta kasih Allah maka kita benar benar mengetahui dan merasakan Cinta Kasih Allah setiap hari.
Maka YOU ARE LOVED! Puji Tuhan ! Marilah maju dengan keyakinan itu supaya kita semua maju dan berkembang dalam iman harapan dan cintakasih tahun 2009 ini. Semoga melalui internet and website ini juga kita akan lebih sering bertemu di sini dan saling mendoakan. Amin.
Siapa sangka, Susan Bachtiar, salah seorang selebriti nasional yang jarang tertimpa gosip adalah umat Paroki Cengkareng? Karir gemilang selama 10 tahun sebagai model ditinggalkannya untuk menjadi presenter acara kuis ilmiah “Galileo Galilei” yang ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta nasional di tahun 1998. Kini, duta produk kecantikan keluaran Jepang ini terus menekuni dunia presenter/MC, menjadi pembicara atau moderator dalam seminar-seminar, di samping juga bekerja sebagai seorang guru di salah satu sekolah Katolik di Jakarta. Apa pendapatnya tentang dunia mode sekarang ini?
Di temui di belakang panggung, Susan Bachtiar, umat Paroki Cengkareng yang belakangan ini kerap mengisi acara di Parokinya berkesan: “Acaranya bagus, seru, rame. Saya melihat adanya gabungan antara jalinan tali persaudaraan antar umat Paroki dan unjuk kebolehan dan kreativitas dari masing-masing Paroki. Umat terlihat sungguh kreatif, anak-anak mudanya pun lebih maju dan lebih baik.” Saat ditanya makna perayaan ini bagi Susan, ia berujar: “200 tahun bukanlah waktu yang sedikit, lama banget, kita harusnya berbangga dan bersyukur. Dalam kurun waktu yang tak sebentar itu, Gereja semakin matang, ada juga sedikit berpolitik, umat pun bertambah maju dan semakin banyak. Masalah-masalah bukannya tak ada, seperti misalnya gereja sebagai sarana beribadah yang kena gusur, atau umat ingin beribadah tapi tak punya tempat dan terpaksa harus menumpang. Semoga bukan perayaannya saja yang semarak, tapi bagaimana Gereja bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada seperti misalnya yang saya sebutkan tadi. Semoga umat pun semakin sadar dan tidak egois. Kita perlu membuka diri, mengenal orang-orang di lingkungan kita.”