<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Gereja dan Paroki &#8211; Gereja Trinitas</title>
	<atom:link href="https://www.trinitas.or.id/kategori/pendalaman-iman/gereja-dan-paroki/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.trinitas.or.id</link>
	<description>Paroki Cengkareng</description>
	<lastBuildDate>Wed, 31 Jan 2024 05:16:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2024/01/cropped-logo@2x-32x32.png</url>
	<title>Gereja dan Paroki &#8211; Gereja Trinitas</title>
	<link>https://www.trinitas.or.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Apa Peristiwa Sentral Tahun Gereja?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/apa-peristiwa-sentral-tahun-gereja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 09:00:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gereja dan Paroki]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/apa-peristiwa-sentral-tahun-gereja/</guid>

					<description><![CDATA[Peristiwa sentral dari tahun Gereja adalah Trihari Suci.  Ini merupakan puncak masa puasa dan permulaan perayaan Paskah.  Ketiga hari itu: Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam Paskah, mengantar kita memasuki peristiwa-peristiwa keselamatan kita, mulai dengan Misa malam Kamis Putih, Perjamuan Terakhir, doa dan pengkhianatan di taman, penahanan, dan kematian Yesus. Selama masa ini, kita menghadapi ... <a title="Apa Peristiwa Sentral Tahun Gereja?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/apa-peristiwa-sentral-tahun-gereja/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Apa Peristiwa Sentral Tahun Gereja?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Peristiwa sentral dari tahun Gereja adalah Trihari Suci.  Ini merupakan puncak masa puasa dan permulaan perayaan Paskah.  Ketiga hari itu: Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam Paskah, mengantar kita memasuki peristiwa-peristiwa keselamatan kita, mulai dengan Misa malam Kamis Putih, Perjamuan Terakhir, doa dan pengkhianatan di taman, penahanan, dan kematian Yesus.</p>
<p>Selama masa ini, kita menghadapi <em>realitas (kenyataan)</em> penebusan Kristus yang mengantar kita kepada perayaan kebangkitan Yesus pada Malam Paskah.  Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam Paskah adalah &#8220;<em>satu hari menurut istilah liturgi</em>&#8220;, karena semua itu merupakan salah satu bagian dari karya penyelamatan, wafat, dan kebangkitan Yesus.</p>
<p>Masa Pra-Paskah hendaknya dipikirkan sebagai satu perayaan berkelanjutan dari satu misteri Paskah &#8211; kematian dan kebangkitan Kristus dan partisipasi kita dalam kematian dan kebangkitanNya.  Perayaan kita berlanjut dan berpuncak pada Pentakosta, hari kelima puluh sesudah Paskah.  Kita juga merayakan pesta Kenaikan Tuhan kita, sepuluh hari sebelum Pentakosta.</p>
<p>(Pendalaman Iman Katolik Jilid 2, Alfred McBride, O.Praem, Obor, Cetakan ke-4, 2008)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa Itu Tahun Liturgi dan Maknanya?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/apa-itu-tahun-liturgi-dan-maknanya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 08:55:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gereja dan Paroki]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/apa-itu-tahun-liturgi-dan-maknanya/</guid>

					<description><![CDATA[Tahun Liturgi adalah penghayatan tahunan Gereja atas peristiwa-peristiwa mulai dari hidup, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus.  Tahun itu dibagi ke dalam 2 masa besar: Adven/Natal dan Puasa/Paskah/Pentakosta, dengan Masa Biasa di antara kedua masa itu.  Masing-masing masa mempunyai waktu persiapan dan pelaksanaan perayaannya. Makna yang terkandung dalam Tahun Liturgi: Pesta-pesta Yesus disusun menurut urutan historis, ... <a title="Apa Itu Tahun Liturgi dan Maknanya?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/apa-itu-tahun-liturgi-dan-maknanya/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Apa Itu Tahun Liturgi dan Maknanya?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun Liturgi adalah penghayatan tahunan Gereja atas peristiwa-peristiwa mulai dari hidup, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus.  Tahun itu dibagi ke dalam 2 masa besar: Adven/Natal dan Puasa/Paskah/Pentakosta, dengan Masa Biasa di antara kedua masa itu.  Masing-masing masa mempunyai waktu persiapan dan pelaksanaan perayaannya.</p>
<p>Makna yang terkandung dalam Tahun Liturgi:</p>
<p>Pesta-pesta Yesus disusun menurut urutan historis, memberi kita kesempatan untuk menghayati kembali peristiwa-peristiwa besar dari hidupNya melalui sikap doa dan meditasi.  Yesus adalah PENEBUS sejak inkarnasiNya.  Maka dari itu, kita merayakan dan mengalami kuasa penebusanNya dalam setiap peristiwa yang disajikan tahun liturgi Gereja kepada kita.</p>
<p>Dengan memasukkan peristiwa-peristiwa ke dalam perayaan liturgis, Gereja membantu menghantar kuasa penebusan Kristus SECARA SAKRAMENTAL kepada kita.  Apa yang dulu pernah dilakukan Yesus dalam pelayanan historisNya, sekarang Ia lakukan (sebagai Tuhan yang bangkit, melalui Roh Kudus) dalam misteri-misteri liturgi.</p>
<p>(Pendalaman Iman Katolik 2, Alfred McBride, O.Praem, Obor, Cetakan ke-4, 2008)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa itu &#8220;Imam Ekskomunikasi&#8221;?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/apa-itu-qimam-ekskomunikasiq/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 13:19:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gereja dan Paroki]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/apa-itu-qimam-ekskomunikasiq/</guid>

					<description><![CDATA[Imam ekskomunikasi adalah seorang imam yang dijatuhi hukuman ekskomunikasi (dikeluarkan dari persekutuan) karena sebab-sebab tertentu, seperti pelaku/pendukung aborsi/pengguguran kandungan, mengajarkan ajaran sesat, dan juga alasan khusus lainnya yang dijatuhkan oleh Tahta Suci.     Biasanya, seorang imam ekskomunikasi itu: (1) dilarang menerima Komuni; (2) tidak dianggap sebagai anggota Gereja lagi.   Ada kasus yang terjadi ... <a title="Apa itu &#8220;Imam Ekskomunikasi&#8221;?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/apa-itu-qimam-ekskomunikasiq/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Apa itu &#8220;Imam Ekskomunikasi&#8221;?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>Imam ekskomunikasi adalah seorang imam yang dijatuhi hukuman ekskomunikasi (dikeluarkan dari persekutuan) karena sebab-sebab tertentu, seperti pelaku/pendukung aborsi/pengguguran kandungan, mengajarkan ajaran sesat, dan juga alasan khusus lainnya yang dijatuhkan oleh Tahta Suci.  </div>
<div> </div>
<div>Biasanya, seorang imam ekskomunikasi itu: (1) dilarang menerima Komuni; (2) tidak dianggap sebagai anggota Gereja lagi.</div>
<div> </div>
<div>Ada kasus yang terjadi di tahun 2001, seorang imam di Srilanka (yang kebetulan juga seorang OMI) dijatuhi hukuman ekskomunikasi karena dianggap sesat ketika berbicara tentang Maria dan penciptaan. Imam ini kembali diterima dalam Gereja Katolik setelah mengaku salah dan mengucapkan kembali Syahadat Iman Para Rasul.</div>
<div> </div>
<div><em>(Romo Henrikus Asodo, OMI, Rektor Seminari Tinggi OMI, Yogyakarta) </em></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Imam Harus Hidup Selibat?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/mengapa-imam-harus-hidup-selibat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 13:11:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gereja dan Paroki]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/mengapa-imam-harus-hidup-selibat/</guid>

					<description><![CDATA[Selibat berasal dari kata Latin “Caecibatus” yang berarti “hidup tidak menikah”.  Gereja Katolik Roma menuntut para imamnya untuk tidak menikah seumur hidup dan taat pada kemurnian pribadi dalam pikiran maupun dalam perbuatan.  Selibat bukan suatu pokok iman Katolik, melainkan tuntutan hukum Gereja yang mengatur cita-cita tentang hidup klerus Katolik.  Selibat harus dibedakan dari kaul para ... <a title="Mengapa Imam Harus Hidup Selibat?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/mengapa-imam-harus-hidup-selibat/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Mengapa Imam Harus Hidup Selibat?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify"><img decoding="async" class=" alignleft size-full wp-image-225" src="https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2009/05/priest.jpg" border="0" hspace="10" vspace="10" align="left" width="200" height="150" />Selibat berasal dari kata Latin “<em>Caecibatus</em>” yang berarti “hidup tidak menikah”.  Gereja Katolik Roma menuntut para imamnya untuk tidak menikah seumur hidup dan taat pada kemurnian pribadi dalam pikiran maupun dalam perbuatan.  Selibat bukan suatu pokok iman Katolik, melainkan tuntutan hukum Gereja yang mengatur cita-cita tentang hidup klerus Katolik.  Selibat harus dibedakan dari kaul para religius untuk tidak menikah.</p>
<p>Dalam semua Ritus Timur Gereja Katolik, para uskup wajib berselibat.  Tetapi dalam Ritus Katolik Byzantin, Koptik, Siria, Armenia, dan Rutenia, para imam biasanya berkeluarga sama seperti dalam Gereja Ortodoks.  Hal ini sesusai dengan keputusan Sinode Trullo pada tahun 692.<br />
<span id="more-226"></span>
</div>
<div align="justify">Bahwa pria beristri ditahbiskan juga bukan hanya aturan tata-tertib atau kemudahan hukum gerejani.  Inilah suatu keputusan rohani: Sakramentalitas Perkawinan dan Tahbisan saling melengkapi dalam pelayanan sebagai imam.  Demikian juga selibat bukan hanya hukum gerejani semata, melainkan keputusan rohani Ritus Roma, hanya orang yang dipanggil Allah pada kehidupan selibat ditahbiskan supaya dapat melayani umatNya dengan lebih leluasa.</div>
<div align="justify">Dalam Perjanjian Baru tampaknya terdapat 2 pandangan tentang perkawinan klerus: Di satu pihak, beberapa Rasul menikah (Mat 8:14; 1 Kor 9:5) dan Paulus menganjurkan para penilik jemaat untuk beristri (1 Tim 3:2).  Di lain pihak, nilai keperawanan ditekankan bagi mereka yang dipanggil untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada Kerajaan Allah.  Yesus mengajarkan bahwa ada orang yang dipanggil untuk mengabdikan diri seluruhnya hanya pada Allah.  Maka Yesus sendiri menganjurkan selibat kepada murid-muridNya.  Setelah mendengar ajaranNya tentang perkawinan yang tidak terceraikan, murid-muridNya mengatakan: “<em>Kalau demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin</em>.”  Lalu Yesus menjawab: “<em>Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin, karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri demi Kerajaan Surga.  Siapa yang sanggup mengerti, hendaklah ia mengerti!</em>” (Mat 19:11-12)</div>
<div align="justify">Menurut Santo Paulus, tidak menikah memungkinkan pengabdian diri seluruhnya kepada Allah.  Sebab orang yang tidak menikah, tidak terikat pada banyak tugas keluarga dan dapat mempersiapkan diri dengan lebih bebas akan kedatangan Kristus (1 Kor 7: 26-35).  Maka, sejak awal sejarah Gereja berkembang pendapat, bahwa status tidak menikah demi pengabdian kepada umat Allah lebih “tinggi” daripada hidup perkawinan.  Sejak abad ke-4, uskup-uskup di Yunani, Mesir dan Eropa Barat kebanyakan tidak menikah atau meninggalkan istri mereka sesudah ditahbiskan.  Tetapi pada zaman itu, para imam dan diakon di seluruh Gereja tetap boleh beristri dan tidak ada hukum yang melarang seorang imam menikah.</div>
<div align="justify">Tiga puluh tujuh orang paus pada abad-abad pertama menikah dan berumahtangga.  Paus Hormisdas (514-523)  misalnya, adalah ayah dari Paus Silverius (536-537).  Paus terakhir yang beristri ialah Paus Adrianus II (867-872).  Sesudah itu masih ada paus yang berkeluarga sebelum ditahbiskan menjadi imam, lalu sesudahnya hidup berselibat.  Kardinal Rodrigo Borgia (1431-1503) mempunyai 4 orang anak yang lahir sebelum ia ditahbiskan menjadi imam dan pada tahun 1492 ia terpilih menjadi Paus dengan nama Alexander VI.</p>
<p>Di bagian Timur, sejak abad ke-6 dan ke-7 hukum melarang uskup hidup bersama istrinya.  Jika sudah menikah sebelum ditahbiskan, ia harus menitipkan istrinya dengan persetujuannya ke suatu biara yang jauh.  Tetapi, para imam dan diakon tetap berkeluarga sampai kini.  Selibat imamat dalam Gereja bagian Barat baru mulai menjadi tuntutan kanonik sesudah berbagai sinode partikular menekankan selibat.  Dekrit pertama, yaitu Kanon 33 Sinode Elvira (sekitar tahun 350) di Spanyol berbunyi: “Kami menyatakan bahwa semua uskup, imam dan diakon – seluruh klerus yang terlibat dalam pelayanan – dilarang samasekali untuk hidup bersama dengan istrinya dan mengadakan anak.  Siapa saja yang melanggar, akan dipecat dari imamatnya.”  Tetapi, waktu Uskup Hosius dari Cordoba (sekitar tahun 256-357) mengusahakan supaya dekrit tersebut diundangkan oleh Konsili Ekumenis Nicea (tahun 325), ia tidak berhasil.  Namun Damasus I, Sirisius, Inosensius I dan Leo I menyuruh para imam untuk hidup berselibat.  Demikian juga sinode-sinode partikular di Afrika Utara, Perancis dan Italia berkali-kali menekankan selibat; suatu tanda bahwa selibat belum menjadi sesuatu yang lazim.</p>
<p>Pada abad ke-10 muncul gerakan untuk meninggalkan selibat imamat di Ritus Latin (Roma).  Tetapi dengan  adanya gerakan pembaharuan pada abad ke-11, semangat bermatiraga merasuki Gereja.  Gregorius VII (1020-1085) berjuang mati-matian untuk membaharui selibat imamat, antara lain untuk menghindari milik Gereja diwariskan kepada keturunan klerus.  Pada masa sesudahnya, masih terdapat jurang yang lebar antara cita-cita dan praktek.</p>
<p>Umat-umat Reformasi tidak menghargai hidup selibat.  Kalvin mengajarkan bahwa hidup selibat tidak boleh lebih dihargai daripada hidup menikah.  Selibat dicap sebagai usaha menyelamatkan diri.  Konsili Ekumenis Trento (1545-1563) meneguhkan kembali hukum mengenai selibat imam, tetapi menyatakan jelas-jelas juga bahwa selibat adalah hukum gerejani semata.  Konsili Vatikan II menyatakan bahwa semua orang beriman harus mengabdi Tuhan dengan hati yang tidak terbagi, dan ini lebih mudah dengan hidup berselibat (GS 42).  Walaupun selibat tidak dituntut oleh imamat an sich, namun sangat sesuai dengannya (HI 16).</p>
<p>Paulus VI mengharapkan bahwa pengertian mendalam tentang kaitan erat antara imamat dan tugas melanjutkan misi Kristus itu akan semakin memperlihatkan juga kesesuaian antara selibat dan imamat (<em>Sacerdotalis caelibatus</em>/Sc, 25).  Namun demikian, Paus bertanya, apakah tidak sebaiknya penerimaan ‘hukum selibat yang berat itu diserahkan kepada keputusan masing-masing imam’ (Sc 3), sehingga orang yang merasa terpanggil akan imamat, tetapi bukan akan selibat, dapat ditahbiskan juga (Sc 7).  Hal ini lazim dalam Ritus-Ritus Katolik Timur (Sc 38).  Namun Paus dan Sinode Sedunia 1971 menegaskan bahwa selibat para imam tidak/belum akan dilepaskan.  Walaupun demikian, selama masa pengabdian Paulus VI, puluhan ribu imam yang merasa tidak lagi dapat hidup membujang diberi dispensasi, sehingga dapat menerima Sakramen Perkawinan (dan tentu saja lebih dahulu meletakkan jabatan sebagai imam).</p>
<p>Pada masa sesudah Konsili Vatikan II, rupanya selibat dipertanyakan banyak orang.  Mungkin selibat terlalu disanjung, sehingga kekecewaan besar sekali tidak dapat dihindari bila kenyataan lain daripada cita-cita.  Selibat para imam hanya dapat menjadi tanda rahmat Ilahi, bila didukung doa dan sikap umat.  Supaya imam berkembang sebagai manusia – hal yang mendukung karya pastoralnya – ia perlu mengembangkan bakat-bakatnya, terutama yang kreatif (musik, baca, ilmu, seni, dll), cara pergaulan yang matang dan bermanfaat, keterbukaan pada yang indah dan budaya.  Ia memerlukan komunitas segar yang menjadi tempat pertukaran pikiran, kesulitan, dan keyakinan rohaninya.</p>
<p>Yohanes Paulus II mempersulit dispensasi dari hukum selibat dan jarang memberikannya. Sinode Uskup Sedunia 1990 meneguhkan hukum selibat dan demikian juga Surat Apostolik Pastores dabo vobis (no. 29) sesudah Sinode tersebut.  Di masa kini, Gereja Ritus Latin (Roma) menganggap selibat tetap sangat berguna dan cocok bagi klerusnya, karena membuat mereka lebih bebas untuk melayani umat Allah.  Tetapi Gereja juga menyatakan, bahwa kalau berkehendak, ia berhak membatalkan hukum itu, misalnya bia kekurangan imam berselibat, menganjurkan mentahbiskan viri probati, yakni “pria yang teruji” (dan berkeluarga).</p>
<p>Kini status hidup tetap tidak menikah dalam Gereja Katolik Roma merupakan persyaratan untuk ditahbiskan menjadi imam dan untuk tetap mengabdi sebagai imam.  Tujuannya adalah pengabdian menyeluruh terhadap umat beriman demi Kristus.  Selibat dijadikan persyaratan untuk menerima tahbisan oleh hukum Gereja (KHK Kan 1037), walaupun tidak ditetapkan Kristus.  Sejak abad ke-12 hukum Gereja memandang perkawinan klerus bukan hanya tidak boleh, melainkan juga tak sah.  Pandangan ini diteguhkan Konsili Lateran II (1139) dan rupanya menjadi undang-undang Gereja pertama yang menentukan, bahwa tahbisan merupakan penghalang untuk menikah dengan sah (bdk Kan 1087, dst).</p>
<p>Akhir-akhir ini dibuat beberapa pengecualian dari tata tertib ini.  Para pendeta Gereja Protestan dan Anglikan yang menjadi Katolik, sejak tahun 50-an abda ini diizinkan untuk tetap hidup beristri sesudah ditahbiskan imam.  Dan pria yang berusia 35 tahun lebih dapat ditahbiskan menjadi diakon tetap.</p>
<p>Yohanes Paulus II berusaha membaharui semangat selibat dengan mengajarkan bahwa semangat hidup berselibat, miskin, dan tata secara radikal merupakan sikap hidup Yesus sendiri yang seharusnya meresapi seluruh umat beriman.  Sekurang-kurangnya waktu meninggal, semua orang harus menempuh jalan terakhir tanpa teman hidup mana pun, meninggalkan segala miliknya dan menyerahkan diri seluruhnya kepada Allah.  Kenyataan eskatologis itu sudah tampak dalam hidup berselibat demi Kerajaan Allah, yang hanya dapat dimengerti dalam iman dan hanya meyakinkan jika diamalkan secara manusiawi di dalam umat.  Tidak terikat pada urusan dan kepentingan hidup berkeluarga, menyanggupkan orang untuk membuka diri pada aneka keperluan umat dan membantu sesama manusia untuk membuka diri pada panggilan Allah sesuai status hidup masing-masing.  Hidup berkeluarga Kristiani dan hidup berselibat adalah dua bentuk kesaksian akan cintakasih Allah.  Kedua bentuk itu saling memerlukan dan saling mendukung: mereka yang menikah perlu disadarkan, bahwa cintakasih akan Allah melampaui cinta di antara anggota-anggota keluarga.  Mereka yang berselibat perlu disadarkan, bahwa cintakasih Allah menjadi konkret dalam cinta suami-istri yang tak ditarik kembali.  Kedua bentuk hidup ini memerlukan sikap sama yang diungkapkan secara berbeda, yakni kepekaan hati, kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama, saling memaafkan dan bersetia satu sama lain.</p>
<p>Menghargai selibat tidak berarti menganggap rendah pernikahan atau seksualitas manusia.  Tetapi, dalam lingkungan ‘budaya’ yang menganggap seksualitas sebagai sarana utama, bahkan satu-satunya untuk mengungkapkan perasaan dan mutlak diperlukan untuk mengekspresikan rasa erotis sejak umur muda, hidup berselibat sebagai ungkapan cintakasih manusiawi sukar dimengerti, apalagi dilaksanakan dengan konsekuen.  Kalau selibat tidak diamalkan sebagai suatu bentuk cintakasih, timbul bahaya orang merasa kesepian dan menjadi egosentrik dan aneh – perkembangan demikian tak asing juga pada banyak orang yang gagal membina hidup suami-istri yang diresapi cinta yang semakin dewasa.  Tidak menikah demi cita-cita keagamaan selamanya ditentang oleh orang yang berpandangan bahwa manusia memperoleh kebahagiaannya (hanya) di dunia ini.  Maka adanya saja orang yang hidup selibat sudah membingungkan, bahkan kadang-kadang menjengkelkan mereka itu.</p>
<p>Karena selibat tidak termasuk hukum ilahi, maka terdapat alasan pro dan kontra untuk mempertahankan hukum itu, walaupun ideal hidup tidak menikah demi Kerajaan Allah tetap harus dipegang oleh orang beriman sebagai nasihat Yesus sendiri.  Dalam diskusi tentang selibat dikemukakan argumen-argumen seperti berikut ini:</p>
<p>1. kalau benar – namun belum terbukti – bahwa jumlah imam untuk melayani umat dengan Sakramen-Sakramen, terutama Ekaristi, sangat tidak memadai karena hukum selibat, maka hukum ini seharusnya diubah demi menjamin pelayanan umat.</p></div>
<div align="justify">2. Alasan bahwa imam berkeluarga lebih kompeten untuk membimbing umat, kurang memperhatikan bahwa imam berselibat lebih mudah dapat mengikuti panggilan untuk melayani umat di mana saja, karena ia lebih bebas (1 Kor 7:32 dst).</div>
<div align="justify">3. Alasan bahwa hidup berisitri atau pengamalan seksualitas mengganggu berdoa, bermeditasi dan pengarahan perhatian pada yang rohani, melupakan bahwa seksualitas yang difrustasikan karena tidak disublimasikan ke dalam kepribadian orang yang terdorong cintakasih untuk mengabdikan diri seluruhnya kepada Kerajaan Allah, sangat menggangu juga.</div>
<div align="justify">4. Alasan historis mengatakan bahwa hukum selibat imam praja diadakan akibat pengaruh cita-cita hidup membiara.  Alasan lain adalah menyelamatkan milik Gereja.  Argumen-arguman yang tidak meyakinkan (lagi) ini, tidak begitu saja dapat dipakai sebagai penilaian baik/tidaknya hukum Gereja sekarang.  Nasihat Yesus untuk ‘tidak menikah demi Kerajaan Allah’ (= demi Kristus, Mat 19:12) memang lebih luas artinya, dapat ‘tidak menikah supaya lebih bebas melayani umat’ (segi manfaat).  Namun demikian, nasihan Yesus tersebut berhubungan dengan tugas para Rasul dan pengikut-pengikut mereka untuk melayani umat  argumen eskatologis (petunjuk pada kefanaan dunia ini) yang memandang selibat sebagai permulaan cara hidup di akhirat (tanpa perkawinan – bdk Mat 22:30) harus memperhatikan bahwa selibat dalam arti ini merupakan karisma dan bukan prasyarat imamat jabatan <em>an sich</em>.</p>
<p>Segala argumen pro dan kontra selibat tidak dapat meyakinkan 100% bahwa hukum selibat harus ditiadakan dan tidak juga bahwa selibat mati-matian harus dipertahankan.  Segala argumen bercorak ‘sebaiknya, sepantasnya’ dan rasa iman akhirnya harus mengambil keputusan, karena hanya ‘<em>mereka yang diberi rahmat pengertian, akan menangkapny</em>a’ (bdk Mat 19:12).</p>
<p><u><strong>Beberapa segi selibat</strong></u>:</p>
<p><strong>Segi kristologis</strong>: Seluruh hidup dan perbuatan Yesus, ya, seluruh diriNya mengabdi pada tugas yang diterimakan Allah Bapa kepadaNya, sehingga tidak ada tempat untuk hidup berkeluarga bagiNya.  Maka Yesus menyerukan supaya orang yang ingin mengikutiNya bersedia meninggalkan apa saja, termasuk anak-istri mereka.</p>
<p><strong>Segi eklesial</strong>:  Hidup berselibat membebaskan orang dari aneka kewajiban dan keterikatan hidup berkeluarga, supaya dapat mencurahkan seluruh waktu, segala tenaga dan cintakasihnya pada pelayanan umat.</p>
<p><strong>Segi karismatis</strong>:  menjalankan selibat dengan setia mengandaikan panggilan dan rahkan khusus.  Maka hidup berselibat bukan prestasi orang yang bersangkutan, bukan pula ‘harga yang harus dibayar’ kalau mau menjadi imam.  Rahmat hidup berselibat harus didoakan oleh umat yang menginginkan imam mereka berselibat.</p>
<p><strong>Segi profetis</strong>:  Hidup menurut tiga Nasihat Injili merupakan suatu alternatif terhadap kecenderungan kodrati mencari kebahagiaan dalam hidup ini dan terhadap konsumerisme yang ingin menikmati apa yang dapat diperoleh sekarang ni dan sebanyak mungkin.</p>
<p><strong>Segi eskatologis</strong>:  orang yang hidup berselibat menaruh seluruh harapan pada Allah serta kehidupan di akhirat, waktu ‘Allah akan menjadi segalanya’ (1 Kor 15:28).  Inilah harta yang tidak dapat dicuri atau dimakan karat (Mat 6:19-21).</p>
<p><font face="times new roman,times"><em>Sumber:  Eksiklopedi Gereja IV, Adolf Heuken, SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 1994</em></font></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah kesimpulan rumusah KHK Kanon 225 tentang Kerasulan Awam itu?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/apakah-kesimpulan-rumusah-khk-kanon-225-tentang-kerasulan-awam-itu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 11:49:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gereja dan Paroki]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/apakah-kesimpulan-rumusah-khk-kanon-225-tentang-kerasulan-awam-itu/</guid>

					<description><![CDATA[Kesimpulannya adalah: &#8211; Tidak mungkin kita menjiwai dunia dengan semangat Kristiani kalau kita sendiri tidak penuh dengan semangat Kristiani. &#8211; Tugas kita berbeda-beda, tetapi tujuan kita sama. “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan” (1Kor 12:4). Maka perlu ada komunikasi antar kita. &#8211; Kerasulan awam tidak perlu berupa kegiatan ... <a title="Apakah kesimpulan rumusah KHK Kanon 225 tentang Kerasulan Awam itu?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/apakah-kesimpulan-rumusah-khk-kanon-225-tentang-kerasulan-awam-itu/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Apakah kesimpulan rumusah KHK Kanon 225 tentang Kerasulan Awam itu?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kesimpulannya adalah:</p>
<p align="justify">&#8211; Tidak mungkin kita menjiwai dunia dengan semangat Kristiani kalau kita sendiri tidak penuh dengan semangat Kristiani.</p>
<p align="justify">&#8211; Tugas kita berbeda-beda, tetapi tujuan kita sama. “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan” (1Kor 12:4). Maka perlu ada komunikasi antar kita.</p>
<p align="justify">&#8211; Kerasulan awam tidak perlu berupa kegiatan keagamaan, tetapi bisa juga berupa kegiatan keduniaan.</p>
<p align="justify">&#8211; Kerasulan awam tidak selalu hanya berupa kegiatan ekstra atau tugas tambahan, bisa juga merupakan tugas pokok.</p>
<p align="justify">&#8211; Kerasulan awam bisa dilakukan secara sendiri-sendiri maupun secara berkelompok.</p>
<p align="justify">&#8211; Hasil kerasulan awam tidak selalu berupa bertambahnya orang yang dibaptis menjadi Katolik. Yang terpenting adalah tertanamnya dan bertumbuhnya nilai-nilai Kristiani.  Misalnya orang saling mengasihi dan menghargai, perhatian terhadap orang kecil dan miskin, kerukunan, perdamaian, hak asasi manusia, kesejahteraan dan lain-lain.</p>
<p align="justify">&#8211; Tidak ada seorang pun yang merasa dirinya terlalu kecil atau tidak mampu untuk merasul. Sebab kemungkinan untuk merasul tidak ada batasnya. Bahkan kelemahan, sakit dan penderitaan pun bisa dijadikan alat kerasulan.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><font face="times new roman,times">Sumber: Buku Tanya Jawab Pengetahuan (minimum) Hidup Menggereja, disusun oleh Johanes K. Handoko, Ketua Panitia Perayaan 30 Tahun Gereja Katolik Trinitas, Paroki Cengkareng, 2008</font> </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tegasnya, apa sebenarnya tugas dalam kerasulan awam itu?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/tegasnya-apa-sebenarnya-tugas-dalam-kerasulan-awam-itu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 11:47:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gereja dan Paroki]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/tegasnya-apa-sebenarnya-tugas-dalam-kerasulan-awam-itu/</guid>

					<description><![CDATA[Menunjuk Kitab Hukum Kanonik dalam kanon 225, ditegaskan sebagai berikut:   § 1. Kaum awam yang seperti semua orang beriman Kristiani berdasarkan  Permandian dan Penguatan ditugaskan Allah untuk kerasulan, terikat kewajiban umum  dan mempunyai hak &#8211; baik sendiri-sendiri maupun tergabung dalam perserikatan &#8211; untuk berjuang agar warta Ilahi keselamatan dikenal dan diterima oleh semua orang ... <a title="Tegasnya, apa sebenarnya tugas dalam kerasulan awam itu?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/tegasnya-apa-sebenarnya-tugas-dalam-kerasulan-awam-itu/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Tegasnya, apa sebenarnya tugas dalam kerasulan awam itu?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menunjuk Kitab Hukum Kanonik dalam kanon 225, ditegaskan sebagai berikut:  </p>
<p>§ 1. Kaum awam yang seperti semua orang beriman Kristiani berdasarkan  Permandian dan Penguatan ditugaskan Allah untuk kerasulan, terikat kewajiban umum  dan mempunyai hak &#8211; baik sendiri-sendiri maupun tergabung dalam perserikatan &#8211; untuk berjuang agar warta Ilahi keselamatan dikenal dan diterima oleh semua orang di seluruh dunia; kewajiban itu semakin mendesak dalam keadaan-keadaan di mana Injil tak dapat didengarkan dan Kristus tak dapat dikenal orang lain lewat mereka.</p>
<p>§ 2. Mereka, setiap orang menurut kedudukan masing-masing, juga terikat kewajiban khas untuk meresapi dan menyempurnakan tata duniawi dengan semangat Injil, dan dengan demikian khususnya dalam menangani masalah masalah itu dan dalam memenuhi tugas-tugas keduniaan memberi kesaksian tentang Kristus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><font face="times new roman,times">Sumber: Buku Tanya Jawab Pengetahuan (minimum) Hidup Menggereja, disusun oleh Johanes K. Handoko, Ketua Panitia Perayaan 30 Tahun Gereja Katolik Trinitas, Paroki Cengkareng, 2008</font> </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa kerasulan awam begitu penting dalam perkembangan Gereja/Paroki?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/mengapa-kerasulan-awam-begitu-penting-dalam-perkembangan-gerejaparoki/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 11:45:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gereja dan Paroki]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/mengapa-kerasulan-awam-begitu-penting-dalam-perkembangan-gerejaparoki/</guid>

					<description><![CDATA[“Gereja belum benar-benar berakar, belum hidup sepenuhnya, belum pula menjadi tanda Kristus yang sempurna di antara manusia, apabila belum ada kaum awam sejati yang giat bekerjasama dengan Hierarki. Karena Injil tidak dapat diresapkan secara mendalam ke dalam budi, kehidupan dan karya sesuatu bangsa tanpa kehadiran awam yang aktif. Sebab itu sejak Gereja didirikan harus diperhatikan ... <a title="Mengapa kerasulan awam begitu penting dalam perkembangan Gereja/Paroki?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/mengapa-kerasulan-awam-begitu-penting-dalam-perkembangan-gerejaparoki/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Mengapa kerasulan awam begitu penting dalam perkembangan Gereja/Paroki?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">“Gereja belum benar-benar berakar, belum hidup sepenuhnya, belum pula menjadi tanda Kristus yang sempurna di antara manusia, apabila belum ada kaum awam sejati yang giat bekerjasama dengan Hierarki. Karena Injil tidak dapat diresapkan secara mendalam ke dalam budi, kehidupan dan karya sesuatu bangsa tanpa kehadiran awam yang aktif. Sebab itu sejak Gereja didirikan harus diperhatikan sekali pembentukan kaum awam yang dewasa” (Ad Gentes, dekrit Karya misioner Gereja, n.21)</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><font face="times new roman,times">Sumber: Buku Tanya Jawab Pengetahuan (minimum) Hidup Menggereja, disusun oleh Johanes K. Handoko, Ketua Panitia Perayaan 30 Tahun Gereja Katolik Trinitas, Paroki Cengkareng, 2008</font> </div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa masih banyak kaum awam yang enggan terlibat dalam hidup berparoki?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/mengapa-masih-banyak-kaum-awam-yang-enggan-terlibat-dalam-hidup-berparoki/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 11:42:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gereja dan Paroki]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/mengapa-masih-banyak-kaum-awam-yang-enggan-terlibat-dalam-hidup-berparoki/</guid>

					<description><![CDATA[Memang sekarang ini masih terdengar di mana-mana bahwa susah mencari anggota kaum awam untuk terlibat dalam hidup aktif berparoki. Banyak dari mereka lebih suka aktif berpartisipasi lewat jalur informal-personal. Alasan yang dikemukakan biasanya antara lain: &#8211;    Tidak pantas&#8211;    Tidak punya waktu&#8211;    Tidak mampu&#8211;    Tidak punya sarana&#8211;    Tidak cocok dengan pribadi tertentu&#8211;    Alasan kesehatan&#8211;    Alasan keluarga&#8211;    ... <a title="Mengapa masih banyak kaum awam yang enggan terlibat dalam hidup berparoki?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/mengapa-masih-banyak-kaum-awam-yang-enggan-terlibat-dalam-hidup-berparoki/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Mengapa masih banyak kaum awam yang enggan terlibat dalam hidup berparoki?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Memang sekarang ini masih terdengar di mana-mana bahwa susah mencari anggota kaum awam untuk terlibat dalam hidup aktif berparoki. Banyak dari mereka lebih suka aktif berpartisipasi lewat jalur informal-personal. Alasan yang dikemukakan biasanya antara lain:</div>
<div align="justify">&#8211;    Tidak pantas<br />&#8211;    Tidak punya waktu<br />&#8211;    Tidak mampu<br />&#8211;    Tidak punya sarana<br />&#8211;    Tidak cocok dengan pribadi tertentu<br />&#8211;    Alasan kesehatan<br />&#8211;    Alasan keluarga<br />&#8211;    Dan lain-lain<br />     <br />Akan tetapi, tidak adakah mekanisme tertentu, atau motivasi tertentu yang membuat alasan-alasan tersebut diatas tidak dimutlakkan? Itu berarti, disatu sisi tidak perlu menjadi momok karena menyita banyak waktu dan tenaga dengan rapat bertele-tele, atau tidak perlu menjadi kelompok para ahli atau para pemikir yang membuat “minder” anggota jemaat yang tingkat kemampuannya biasa-biasa saja. Caranya kemungkinan adalah &#8211; atau dengan kata lain &#8211; penampilan Dewan paroki harus diperbaharui sehingga bisa menarik partisipasi. Di samping anggota jemaat sendiri harus memiliki keyakinan diri bahwa ia bisa berbuat sesuatu bagi seluruh jemaat. Mungkin sekali bahwa ia hanya punya waktu sedikit atau sedikit kemampuan tertentu. Bukankah yang sedikit itu juga amat bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan pelayanan kita?  Apa yang kita miliki serba sedikit bisa berdampak luas di luar dugaan kita.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><font face="times new roman,times">Sumber: Buku Tanya Jawab Pengetahuan (minimum) Hidup Menggereja, disusun oleh Johanes K. Handoko, Ketua Panitia Perayaan 30 Tahun Gereja Katolik Trinitas, Paroki Cengkareng, 2008</font> </div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa yang menjadi cita-cita Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/apa-yang-menjadi-cita-cita-konsili-vatikan-ii-tentang-kerasulan-awam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 10:50:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gereja dan Paroki]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/apa-yang-menjadi-cita-cita-konsili-vatikan-ii-tentang-kerasulan-awam/</guid>

					<description><![CDATA[Penegasan oleh Konsili Vatikan II tentang peran kaum awam membawa semangat baru dan angin segar bagi kita, sehingga kita sebagai kaum awam tidak lagi ragu-ragu memahami makna kerasulan bagi Gereja. Konsili menegaskan: panggilan untuk merasul bagi kaum awam mengalir dari martabat kaum awam yang merupakan bagian integral dari Gereja.  Panggilan Kristiani yang dihayati oleh seluruh ... <a title="Apa yang menjadi cita-cita Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/apa-yang-menjadi-cita-cita-konsili-vatikan-ii-tentang-kerasulan-awam/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Apa yang menjadi cita-cita Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Penegasan oleh Konsili Vatikan II tentang peran kaum awam membawa semangat baru dan angin segar bagi kita, sehingga kita sebagai kaum awam tidak lagi ragu-ragu memahami makna kerasulan bagi Gereja. Konsili menegaskan: panggilan untuk merasul bagi kaum awam mengalir dari martabat kaum awam yang merupakan bagian integral dari Gereja.  Panggilan Kristiani yang dihayati oleh seluruh Tubuh Kristus (Gereja) pada hakekatnya adalah panggilan untuk aktif merasul.  Dengan demikian, kaum awam yang merupakan bagian dari Tubuh Kristus, bukanlah obyek kerasulan (Hierarki) Gereja tetapi mereka adalah subyeknya, pelakunya  yang yang aktif (AA 2). Dengan demikian kaum awam bukanlah warga Gereja “kelas 2” dalam hal panggilan Kristiani untuk merasul.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><font face="times new roman,times">Sumber: Buku Tanya Jawab Pengetahuan (minimum) Hidup Menggereja, disusun oleh Johanes K. Handoko, Ketua Panitia Perayaan 30 Tahun Gereja Katolik Trinitas, Paroki Cengkareng, 2008</font> </div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siapa saja yang dimaksud &#8220;umat Paroki&#8221; ?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/siapa-saja-yang-dimaksud-qumat-parokiq/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 10:48:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gereja dan Paroki]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/siapa-saja-yang-dimaksud-qumat-parokiq/</guid>

					<description><![CDATA[Yang pasti adalah umat yang sudah tinggal kurang lebih 3 (tiga) bulan di Paroki tertentu. Sebab setelah itu umat mempunyai kewajiban mendaftarkan diri kepada Ketua Lingkungannya. Jadi, bukan berdasarkan di mana mereka dibaptis, bukan juga karena setiap Minggu merayakan Ekaristi di gereja atau paroki lain. &#160; Sumber: Buku Tanya Jawab Pengetahuan (minimum) Hidup Menggereja, disusun ... <a title="Siapa saja yang dimaksud &#8220;umat Paroki&#8221; ?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/siapa-saja-yang-dimaksud-qumat-parokiq/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Siapa saja yang dimaksud &#8220;umat Paroki&#8221; ?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Yang pasti adalah umat yang sudah tinggal kurang lebih 3 (tiga) bulan di Paroki tertentu. Sebab setelah itu umat mempunyai kewajiban mendaftarkan diri kepada Ketua Lingkungannya. Jadi, bukan berdasarkan di mana mereka dibaptis, bukan juga karena setiap Minggu merayakan Ekaristi di gereja atau paroki lain. </p>
<p>&nbsp;</p>
<p><font face="times new roman,times">Sumber: Buku Tanya Jawab Pengetahuan (minimum) Hidup Menggereja, disusun oleh Johanes K. Handoko, Ketua Panitia Perayaan 30 Tahun Gereja Katolik Trinitas, Paroki Cengkareng, 2008</font> </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
