<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kesehatan &#8211; Gereja Trinitas</title>
	<atom:link href="https://www.trinitas.or.id/kategori/artikel/kesehatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.trinitas.or.id</link>
	<description>Paroki Cengkareng</description>
	<lastBuildDate>Wed, 31 Jan 2024 05:17:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2024/01/cropped-logo@2x-32x32.png</url>
	<title>Kesehatan &#8211; Gereja Trinitas</title>
	<link>https://www.trinitas.or.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sembuh Itu Benar-Benar Ada</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/sembuh-itu-benar-benar-ada/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 07:16:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/sembuh-itu-benar-benar-ada/</guid>

					<description><![CDATA[Senja, 7 Oktober 2011, di dasar sebuah dam sedalam 5 meter, saya menelungkup di atas sebuah batu besar dalam kondisi basah kuyup.&#160; Kedua kaki saya tidak dapat digerakkan.&#160; Kekuatannya hilang hanya dalam hitungan detik sesaat setelah kedua kaki saya membentur lantai bendungan itu.&#160; Bahkan, saya hampir tidak merasakan sensasi apa pun pada kedua kaki ketika ... <a title="Sembuh Itu Benar-Benar Ada" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/sembuh-itu-benar-benar-ada/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Sembuh Itu Benar-Benar Ada">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Senja, 7 Oktober 2011, di dasar sebuah dam sedalam 5 meter, saya menelungkup di atas sebuah batu besar dalam kondisi basah kuyup.&nbsp; Kedua kaki saya tidak dapat digerakkan.&nbsp; Kekuatannya hilang hanya dalam hitungan detik sesaat setelah kedua kaki saya membentur lantai bendungan itu.&nbsp; Bahkan, saya hampir tidak merasakan sensasi apa pun pada kedua kaki ketika seorang teman melepaskan sepatu saya.</p>
<p>Ada pembengkakan di kedua pergelangan kaki, dan selain itu saya perkirakan kedua tulang tumit saya pecah setelah terjun bebas setinggi 5 meter tadi.&nbsp; Tetapi entah mengapa, saya tidak merasakan sakit sebagaimana seharusnya.&nbsp; Saya masih sempat mengisap sebatang rokok hingga habis sambil memikirkan apa yang harus saya lakukan.&nbsp; Saat itu yang saya pikirkan justru bagaimana caranya keluar dari dasar bendungan itu.</p>
<p>Proses evakuasi saya awali dengan merangkak menuju tangga bendungan sambil mengabaikan rasa perih di lutut.&nbsp; Kedua teman saya yang berada di sana sempat bingung harus berbuat apa, begitu pula kakak saya yang berada di atas, menjaga kamera yang berhasil mengabadikan adegan nekat itu.&nbsp; Istri saya yang berada di lereng menangkap firasat buruk.&nbsp; Ia merasa telah terjadi sesuatu pada pengambilan adegan tadi.&nbsp; Sementara di langit rembulan mulai muncul meneduhkan suasana.&nbsp; Itulah adegan nyata yang akan tampil dalam film The Lost Territory yang sedang saya garap bersama teman-teman komunitas.&nbsp; Berkat bantuan tenaga dari anak-anak asuh Suster-Suster PPYK yang tidak jauh dari lokasi, saya berhasil meninggalkan kawasan itu dan dilarikan ke rumah sakit.</p>
<p>
<span id="more-780"></span><br />
Benar, kedua tumit saya mengalami cedera.&nbsp; Pecah!&nbsp; Ketika perawat menawarkan obat penghilang rasa sakit, saya menolak karena benar-benar tidak merasakan sakit.&nbsp; Sumpah.&nbsp; Jam dinding di kamar rontgen RS Panti Rapih, Yogyakarta menunjuk pukul sembilan malam.&nbsp; Ibu dan adik saya tampak lega setelah mengetahui kondisi saya yang sesungguhnya tidak sesuai dengan kabar burung bahwa saya kecelakaan lalu lintas di Jalan Kaliurang, Yogyakarta.</p>
<p>Lima jam kemudian saya mulai merasakan sesuatu yang aneh namun menakutkan, rasa kesemutan di sekujur tubuh, menjalar dari telapak kaki hingga ke leher dengan rasa dingin yagn menyedot semua energi tubuh.&nbsp; Saya takut untuk memikirkan hal itu lebih lanjut, jadi saya berjuang untuk tetap sadar meski hanya dengan sisa-sisa napas yang ada dan pandangan mata yang mulai kabur.</p>
<p>Akhirnya, sifat keras kepala yang saya miliki berhasil mengembalikan saya pada kesadaran penuh.&nbsp; Sakit yang sesungguhnya pun secara penuh mulai terasa tak tertahankan.&nbsp; Suster menyuntik saya dengan obat sejenis pain killer, pembunuh rasa sakit.&nbsp; Keesokan harinya, Sabtu sore, 8 Oktober 2011, saya pulang dengan mengenakan sepasang sepatu putih terbuat dari gips.&nbsp; Pesan dokter: &#8220;Jangan dipakai untuk menapak selama enam minggu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini sepatu termahal yang terpaksa saya beli seharga 2 juta sepasang!&#8221; saya menyahut.</p>
<p>Keesokan harinya adalah hari Minggu.&nbsp; Entah siapa yang menyebar kabar, sepulang dari gereja, orang-orang datang menjenguk saya untuk menyampaikan belarasa.&nbsp; Minggu pertama saya tidak sempat beristirahat karena menerima banyak kunjungan dan doa.&nbsp; Sejak itulah saya menjalani hidup dan aktivitas sehari-hari dengan cara berbeda, berjalan dengan kedua lutut.&nbsp; Hanya sebatas itulah perubahan yang saya alami.&nbsp; Tuhan masih menjaga bagian tubuh saya yang lain, bagian lutut ke atas untuk melanjutkan hidup.</p>
<p>Bukan hanya itu saja yang saya syukuri.&nbsp; Tuhan memberi saya kesempatan untuk memanjakan kondisi saya dengan banyak aktivitas yang sebelumnya saya lakukan.&nbsp; Simbol penderitaan berupa sepasang gips harus segera saya ubah penampilannya dengan memberi banyak ornamen, gambar, dan kata-kata yang bertujuan menertawakan diri sendiri.&nbsp; Kepada teman-etman dekat saya larang untuk berdoa bagi kaki saya, &#8220;Eman-eman doane (sayang doanya)!&#8221;</p>
<p>Teman lain menggoda saya, &#8220;Dimintakan Sakramen Minyak Suci saja gimana?&#8221;</p>
<p>Jawab saya: &#8220;Ndak perlu, minyak itu terlalu suci untuk kaki saya, eman-eman minyaknya, mending sakramen minyak tawon saja kalau ada!&#8221;</p>
<p>Begitulah sikap saya pada awal masa pemasungan.&nbsp; Semua itu terjadi bukan salah siapa-siapa.&nbsp; Salah saya sendiri, yang kemudian saya tulis pada gips di kaki saya: NO FEAR, NING KEBABLASEN! kalimat campuran Inggris-Jawa itu rupanya ungkapan yang paling cocok untuk karakter saya, ingin membuktikan bahwa saya pemberani, tapi justru yang terbukti adalah bahwa saya sudah tidak muda lagi.&nbsp; Dulu, terjun seperti itu pernah saya lakukan saat saya berumur 22 tahun.&nbsp; Kini umur saya sudah 50 tahun.&nbsp; Lupa unurm lupa mengontrol rasa takut.</p>
<p>Ikhlas &#8211; Kunci Kesembuhan</p>
<p>Saat yang paling membahagiakan saya adalah ketika saya berada di antara mereka yang menggapai-gapai kesembuhan dalam sebuah terapi bara api.&nbsp; Pengalaman saya memang bukan pengalaman sebagai orang sakit, melainkan cedera karena sembrono.&nbsp; Dengan sepasang sepatu gips itu saya ingin membuktikan kepada mereka yang ingin sembuh bahwa saya orang biasa, bukan penyembuh.&nbsp; Saya juga bisa celaka, bisa mengalami sakit, namun saya semakin tahu bagaimana cara meraih kesembuhan.</p>
<p>Saya akui bahwa jalan menuju sembuh untuk mereka yang menderita sakit berat memang hanya berupa celah sempit.&nbsp; Celah sempit itu harus diperlebar dengan sebuah alat bernama IKHLAS menerima kenyataan.&nbsp; Ikhlas bagi saya berarti rela untuk tidak memikirkan apa yang sudah tidak pantas dipikirkan, misalnya saja tentang masa lalu yang berkaitan dengan riwayat sakit yang diderita.&nbsp; Barangkali saya akan cacat seumur hidup, tapi saya tidak menyesalinya.&nbsp; Saya cukup minta maaf kepada kedua tumit saya. </p>
<p>Salah satu peserta terapi saya ternyata menyimpan dendam terhadap dokternya yang menurutnya justru membuat kedua matanya mengalami glukoma.&nbsp; Secara khusus saya sering&nbsp; mengunjunginya untuk mengingatkan masalah bahaya dendam bagi orang sakit.&nbsp; Saya memberikan contoh adanya penyakit yang sudah ditangani para dokter spesialis, dengan obat-obat yang mahal, dengan peralatan canggih, namun tidak sembuh.&nbsp; Biasanya kita menyebutnya sebagai penyakit nonmedis.</p>
<p>Bisa dikatakan penyakit yang mengganggu itu adalah &#8220;kiriman seseorang&#8221; alias santet.&nbsp; Pantas bila dokter tidak bisa menanganinya secara medis.&nbsp; Begitu pula dengan pasien yang sangat lambat meraih kesembuhan karena dendam terhadap masa lalu yang merupakan riwayat penyakitnya itu, sama halnya dengan mengirim santet untuk diri sendiri.&nbsp; Kesembuhan akan lari dan pasien itu harus mengejarnya terus.&nbsp; dengan memaafkan masa lalu, maka kesembuhan tidak akan beranjak dari tempatnya, kita tinggal menghampirinya, hari demi hari, memperpendek jarak dengan kesembuhan, hingga kita secara nyata mampu menggandengnya.</p>
<p>Enam minggu sudah berlalu.&nbsp; Grand opening kaki saya berlangsung tanggal 19 November 2011, dengan kondisi awal tidak jauh berbeda dengan kondisi saya pada 7 Oktober 2011.&nbsp; Saya tidak bisa langsung berdiri dan berjalan normal.&nbsp; Hingga tulisan ini saya susun, saya masih menggunakan tongkat untuk menopang langkah saya.&nbsp; Sebelumnya saya duduk di kursi roda, berjalan dengan lutut, berdiri dengan penyangga besi seperti jemuran handuk, ganti kruk yang saya jepit di ketiak, dan pada malam tahun baru, saya sudah bisa berlari-lari kecil tanpa bantuan apa pun melintas bara api sepanjang 2 meter tanpa alas kaki.</p>
<p>Jika Anda adalah orang sakit, dan mampu membuang kenangan buruk yagn berkaitan dengan riwayat sakit yagn Anda derita, Anda berhak atas 50% modal kesembuhan, sisanya tinggal mengikuti petunjuk dokter dan berdoa.&nbsp; Suatu hari pada masa yang akan datang, Anda akan dinyatakan sembuh. (Ig. Bambang Shakuntala)</p>
<p>Sumber: Majalah Utusan No. 02, Tahun ke-62, Februari 2012</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Infeksi Hepatitis A Pada Anak</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/infeksi-hepatitis-a-pada-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Jan 2011 14:25:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/infeksi-hepatitis-a-pada-anak/</guid>

					<description><![CDATA[Seorang anak laki-laki, berusia 7 tahun, dirujuk ke rumah sakit karena perdarahan aktif di tungkai, punggung, dan gusi. Perdarahan tersebut dikeluhkan sejak 5 hari sebelum anak itu dirujuk, perdarahan awalnya hanya sedikit tetapi semakin lama semakin banyak.  Setelah ditelusuri lebih jauh lagi, pada anak tersebut menderita penyakit kuning sekitar 2 bulan yagn lalu yang disertai ... <a title="Infeksi Hepatitis A Pada Anak" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/infeksi-hepatitis-a-pada-anak/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Infeksi Hepatitis A Pada Anak">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class=" alignleft size-full wp-image-604" src="https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2011/01/infeksi-hepatitis-pada-anak.jpg" border="0" style="float: left; margin-left: 10px; margin-right: 10px;" width="400" height="248" srcset="https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2011/01/infeksi-hepatitis-pada-anak.jpg 400w, https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2011/01/infeksi-hepatitis-pada-anak-300x186.jpg 300w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Seorang anak laki-laki, berusia 7 tahun, dirujuk ke rumah sakit karena perdarahan aktif di tungkai, punggung, dan gusi. Perdarahan tersebut dikeluhkan sejak 5 hari sebelum anak itu dirujuk, perdarahan awalnya hanya sedikit tetapi semakin lama semakin banyak.  Setelah ditelusuri lebih jauh lagi, pada anak tersebut menderita penyakit kuning sekitar 2 bulan yagn lalu yang disertai dengan warna tinja yang berubah menjadi seperti dempul dan buang air kecil yang berwarna seperti teh.  Setelah melalui beberapa pemeriksaan, anak tersebut diketahui menderita Hepatitis A.</p>
<p><span id="more-605"></span></p>
<p> </p>
<p>Hepatitis adalah peradangan sel hati yang dapat disebabkan oleh berbagai keadaan.  Hepatitis A adalah peradangan sel hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis A (VHA).  Infeksi VHA terutama terjadi di negara berkembang dengan keadaan sanitasi lingkungan dan higiene perorangan yang buruk, termasuk Indonesia.  Resiko untuk terinfeksi VHA pada golongan sosial ekonomi rendah adalah 4,9 kali dibandingkan dengan golongan sosial ekonomi menengah ke atas.  Indonesia dikategorikan sebagai daerah endemis tinggi.</p>
<p>Masa inkubasi dapat berlangsung 18-50 hari dengan rata-rata 28 hari.  Gambaran klinis Hepatitis A pada anak dapat sangat beragam, ada yagn sama sekali tidak menunjukkan gejala (anak terlihat sehat seperti biasa) dan ada yang menunjukkan gejala.  Pada anak berusia kurang dari 6 tahun yang terinfeksi VHA, 60-90% tidak menunjukkan gejala, pada anak berusia 6-14 tahun, 50-60% tidak menunjukkan gejala, di atas 14 tahun 20-30% tidak menunjukkan gejala.  Angka kejadian infeksi VHA yang menujukkan gejala paling tinggi ditemukan pada anak berusia 6-14 tahun.  Gejala Hepatitis A pada anak biasanya lebih ringan dan lebih singkat dibandingkan pada dewasa.  Gejala pada anak yang terinfeksi Hepatitis A dapat disertai kulit dan mata yang terlihat kuning, dan dapat pula yang tidak terlihat kuning.  Gejala klinis Hepatitis A yang sering ditemukan pada anak antara lain kulit dan mata kuning (90%), demam (905), urin berwarna seperti teh (88%), mual (80%), tidak mau makan (13%), ilek (7%), diare (6%), tinja berwarna pucat seperti dempul (6%), badan terasa pegal-pegal (3%), dan batuk (2%).</p>
<p> </p>
<p>Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, tes fungsi hati (SGOT dan SGPT) dan bilirubin meningkat dan baru akan turun mencapai normal dalam waktu 4-6 minggu setelah gejala peratma pada sebagian besar penderita.  Resiko kematian akibat Hepatitis A bervariasi dan tergantung usia.  Bila infeksi Hepatitis A terjadi pada usia di atas 50 tahun dan pada anak di bawah 5 tahun, dapat terjadi komplikasi yang disebut dengan Hepatitis Fulminan, yagn dapat mengakibatkan kematian.</p>
<p>Komplikasi lain yang jarang terjadi adalah relaps (Hepatitis A berulang) dan Hepatitis yang berkepanjangan (prolonged Hepatitis atau Hepatitis Kolestasis).  Hepatitis A berulang biasanya terjadi pada penderita infeksi VHA yang berat dan terjadi sesudah 2-8 minggu setelah perbaikan atau hilangnya gejala dari infeksi Hepatitis A sebelumnya.  Angka kejadiannya bervariasi dari 3,8-20% dan dapat terjadi beberapa kali relaps serta berlangsung beberapa bulan, dan dapat sembuh sempurna.  Karakteristik dari Heaptitis kolestasis (prolonged Cholestasis) yaitu ikterus yang menetap lebih dari 8 minggu, bilirubin total serum &gt;10 mg/dL, tetapi tes fungsi hati (SGPT dan SGOT) dalam batas normal.  Angka kejadian pada anak jarang, kurang dari 10%  Pada Hepatitis Kolestasis mungkin terjadi pendarahan yang disebabkan oleh gagalnya sel hati membentuk faktor-faktor yagn diperlukan untuk pembekuan darah yang normal.  Pada anak yang diceritakan di atas, anak tersebut mengalami Hepatitis A tipe Kolestasis yang disertai dengan perdarahan aktif.</p>
<p>Masa penularan Hepatitis A adalah 2-3 minggu sebelum, sampai 8-19 hari sesudah timbulnya kuning.  Upaya pencegahan secara umum, mencakup upaya perbaikan sanitasi dan higiene yang tampak sederhana tetapi sangat efektif.  Perbaikan higiene makanan dan minuman dilakukan dengan memasak air dan makanan hingga mendidih, karena sifat VHA yang tahan panas tetapi menjadi tidak aktif pada suhu &gt;= 85 derajat Cel. serta mengupas kulit buah dan mencuci makanan tidak dimasak.  Alat makan yang dipakai penderita dicuci dengan sabun, direndam dengan air panas selama 30 menit atau direndam dengan formalin selama 30 menit.  Perbaikan sanitasi dan higiene antara lain dengan mencuci tangan (sesudah buang air besar, sebelum makan, atau menyiapkan makanan), memperhatikan kualitas air minum, serta sistem pembuangan sampah.  Isolasi penderita juga penting untuk dilakukan.  Anak dilarang ke sekolah atau taman tempat bermain sampai dengan 2 minggu sesudah timbul gejala, tetapi upaya ini sering tidak banyak menolong karena virus sudah menyebar sebelum gejala timbul.</p>
<p>Upaya pencegahan khusus untuk individu yang kontak erat dengan penderita adalah dengan pemberian Normal Human Immune Globulin (NHIG) atau vaksin Hepatitis A.  Bila kontak terjadi dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu, yang terbaik adalah NHIG.  Meskipun demikian, berdasarkan sautu penelitian dikatakan vaksin Hepatitis A mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan imunoglobulin, antara lain proteksi jangka panjang, dan merupakan pilihan yagn tepat dibandingkan dengan pemberian imunoglobulin untuk pemberian pasca paparan.  Pada bayi, vaksin Hepatitis A dapat diberikan mulai usia 12 bulan.  Vaksin Hepatitis A diberikan 2 kali, dengan interval waktu 6 bulan.  Insiden infeksi Hepatitis A menurun 82% pada era vaksinasi dibandingkan pada era belum ada vaksin Hepatitis A. (dr. Susilawati, Sp.A)</p>
<p>Sumber: Majalah Sabitah Edisi 46, Januari-Februari 2011</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tas Ransel Sekolah Tak Bagus Untuk Punggung</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/tas-ransel-sekolah-tak-bagus-untuk-punggung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 10:25:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/tas-ransel-sekolah-tak-bagus-untuk-punggung/</guid>

					<description><![CDATA[Asosiasi Kiropraktor Australia (Chiropractors&#8217; Association of Australia &#8211; CAA) mengatakan kepada para pendidik di Australia untuk berpikir ulang akan beban yang mereka taruh dalam tas ransel sekolah anak-anak didiknya.  Dr. Greg Marslen, Presiden CAA Western Australia mengatakan bahwa tas ransel sekolah yang berat yang dipanggul di punggung anak-anak murid akan memberi beban kepada tulang punggung ... <a title="Tas Ransel Sekolah Tak Bagus Untuk Punggung" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/tas-ransel-sekolah-tak-bagus-untuk-punggung/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Tas Ransel Sekolah Tak Bagus Untuk Punggung">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Asosiasi Kiropraktor Australia (Chiropractors&#8217; Association of Australia &#8211; CAA) mengatakan kepada para pendidik di Australia untuk berpikir ulang akan beban yang mereka taruh dalam tas ransel sekolah anak-anak didiknya.  Dr. Greg Marslen, Presiden CAA Western Australia mengatakan bahwa tas ransel sekolah yang berat yang dipanggul di punggung anak-anak murid akan memberi beban kepada tulang punggung yang sedang bertumbuh.  Hal ini akan menimbulkan sakit punggung jangka panjang.</p>
<p>&#8220;Berat beban tas ransel sekolah maksimal adalah 10% dari berat badan si anak,&#8221; kata Dr. Marslen.  &#8220;Survey CAA menunjukkan 1 dari 2 anak melebihi batas maksimal ini.&#8221;</p>
<p>Dr. Marslen merekomendasikan para orangtua untuk memilih tas ransel dengan tali beban berbusa di bagian pundaknya.  Lebih baik lagi adalah yang memiliki tali pinggang.  Orangtua juga dianjurkan untuk selalu mengingatkan anak-anaknya agar tidak memanggul tas ransel pada satu pundak saja. &#8220;Beban berat yang dipikul tulang belakang yang sedang bertumbuh akan menyebabkan masalah serius dan berkelanjutan pada masa dewasa anak-anak.  Jika anak-anak mengeluh sakit punggung, segeralah mencari pertolongan dokter atau ahli tulang belakang secepatnya,&#8221; katanya lagi.</p>
<p>(diterjemahkan secara bebas dari Buletin Kids in Perth &#8211; The Parents&#8217; Paper, April 2010/ts)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kawat Gigi &#8211; Perlukah?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/kawat-gigi-perlukah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 06:17:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/kawat-gigi-perlukah/</guid>

					<description><![CDATA[Belakangan ini, perawatan kecantikan gigi leat perawatan kawat gigi atau ortodonti menarik perhatian banyak orang.  Remaja, dewasa, sampai orangtua, datang ke klinik-klinik gigi untuk mencari informasi dan layanan perawatan ortodonti, terutama perawatan ortodonti cekat.  Perlukah memakai kawat gigi?  Bersama Drg. Fadli Jazaldi, Sp. Ort. mari bersama kita telaah lebih lanjut. Umumnya, mereka yang perlu kawat ... <a title="Kawat Gigi &#8211; Perlukah?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/kawat-gigi-perlukah/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Kawat Gigi &#8211; Perlukah?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan ini, perawatan kecantikan gigi leat perawatan kawat gigi atau ortodonti menarik perhatian banyak orang.  Remaja, dewasa, sampai orangtua, datang ke klinik-klinik gigi untuk mencari informasi dan layanan perawatan ortodonti, terutama perawatan ortodonti cekat.  Perlukah memakai kawat gigi?  Bersama Drg. Fadli Jazaldi, Sp. Ort. mari bersama kita telaah lebih lanjut.</p>
<p>Umumnya, mereka yang perlu kawat gigi adalah mereka yang memiliki masalah pad giginya, antara lain susunan geligi yang berjejal, tidak teratur, maju (tonggos) dan cakil.  Namun tidak jarang pula yang tidak ada masalah pun ikut-ikutan ingin &#8220;dipasangkan kawat gigi&#8221;.  Tujuannya beragam, mulai dari ingin memperbaiki susunan geligi menjadi teratur dan tertata baik, memperbaiki fungsi kunyah dan bicara, sampai pada keinginan meningkatkan penampilan, rasa percaya diri, dan status sosial.</p>
<p><span id="more-297"></span></p>
<p>Tujuan dan keinginan masyarakat untuk memiliki susunan geligi yang teratur dan tertata baik menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat terhadap kondisi dan kesehatan rongga mulut sebagai bagian dari kesehatan umum sudah sangat eningkat &#8211; terlepas dari alasan awal yang mungkin hanya memperhatikan nilai estetika belaka.  Selain itu, dengan memiliki susunan geligi yang teratur, kita akan bebas dari karies dan penyakit jaringan penyangga, memiliki fungsi kunyah yang baik, serta bebasa dari kemungkinan sakit pada sendi rahang dan kepala yang mungkin disebabkan karena ketidaksesuaian gigit.</p>
<p>Tonggak ilmu ortodonti modern berawal dengan dipublikasikannya penelitian Dr. Edward H. Angel (1890).  Beliau menggolongkan seluruh maloklusi (ketidak-sesuaian gigit) ke dalam 3 kelompok besar berdasarkan karakteristiknya, membuat suatu rumusan mengenai oklusi geligi yang normal, serta yang terpenting adalah Beliau merumuskan sistem perawatan ortodonti cekat yang disebut &#8220;Edgewise System&#8221; (1928) yang menjadi dasar pengembangan piranti cekat seperti yang ada sekarang ini.  Secara garis besar, piranti yang digunakan pada perawatan ortodonti terbagi menjadi piranti lepasan (removable appliances), piranti fungsional (functional appliances), dan piranti cekat (fixed appliances).  Ketiga alat tersebut memiliki sifat, ciri-ciri, dan fungsi masing-masing.</p>
<p><strong>TIGA PIRANTI ORTODONTI</strong></p>
<p>Ada 3 macam piranti perawatan ortodonti, seperti yang dirumuskan Dr. Edward H. Angle, yaitu sebagai berikut:</p>
<p><strong>Piranti Lepasan</strong> atau yang sering juga disebut <strong>&#8220;Behel&#8221;</strong> adalah alat ortodonti yang dapat dipasang dan dilepas sendiri oleh pasien, berbentuk semacam basis akrilik.  Pada basis tersebut akan ditanam kawat-kawat yang bisa diaktifkan, yang berfungsi untuk menggerakkan gigi-geligi.  Karena sifatnya lepasan, keberhasilannya sangat bergantung pada frekuensi dan lamanya waktu pemakaian alat tersebut.  Apabila jarang digunakan, pergerakan gigi yang diharapkan akan tidak terjadi.  Di samping itu, alat ini punya keterbatasan, antara lain seringkali hanya bisa menggerakkan bagian mahkota gigi saja.  Jadi, jika tuntutannya untuk memindahkan posisi gigi secara keseluruhan dari mahkota hingga akar gigi, maka alat ini kurang efektif.  Secara umum, piranti lepasan efektif untuk gerakan gigi yang sederhana, serta seabgai piranti perawatan pasif setelah perawatan dengan piranti cekat.</p>
<p><strong>Piranti Fungsional</strong> adalah piranti lepasan yang didisain untuk melakukan koreksi terhadap gigi dan rahang, seperti gigi tonggos (struktur rahang bawah lebih mundur dibanding rahang atas) atau gigi cakil (struktur rahang bawah lebih maju dibanding rahang atas).  Perawatan ini efektif bila dilakukan pada masa pertumbuhan.  Bentuk alat ini bervariasi, tetapi umumnya digunakan untuk mengarahkan gaya dari otot-otot mulut yang terjadi pad waktu berfungsi, sehingga dapat menggerakkan gigi dan rahang ke posisi yang diharapkan.  Sama dengan piranti lepasan, keberhasilannya sangat bergantung pada sering tidaknya serta lamanya waktu penggunaan.</p>
<p><strong>Piranti Cekat</strong> atau <strong>Fixed Appliance</strong> adalah piranti ortodonti yang semua pirantinya (<em>braces</em>/braket dan <strong>band molar</strong>/cincin gigi geraham) dilekatkan pada geligi.  Kawat panjang yagn mengelilingi geligi (busur kawat) diikatkan pada <em>braces</em> dengan bantuan karet kecil warna-warni.  Alat ini punya banyak kelebihan, antara lain dapat menggerakkan geligi ke berbagai arah, mengindikasi kasus yang lebih luas dan kompleks, serta memberikan gaya (<em>force</em>) yang bisa dikontrol dan disesuaikan dengan kondisi geligi dan rongga mulut.  Hal yang mesti diperhatikan untuk piranti ini adalah soal kesehatan dan kebersihan mulut serta jaringan penyangga gigi.  Mengingat alat ini berada 24 jam di rongga mulut, maka kontrol <em>oral hygiene</em> mutlak diperlukan.  Bahan <em>braces</em> yang ada saat ini sangat bervariasi, ada yang terbuat dari logam, plastik transparan, atau keramik sewarna gigi yang bersifat estetik.  Beberapa tahun belakangan ini mulai juga dikembangkan teknik ortodonti dengan melekatkan braces di bagian belakang gigi sehingga piranti cekat tersebut tidak tampak bila tersenyum.  Teknik ini disebut <em>lingual orthodontics</em>.</p>
<p>Dari sekian banyak piranti perawatan ortodonti, piranti cekat saat ini paling banyak digunakan.  Koreksi masalah ketidaksesuaian gigit (maloklusi), ketidakteraturan posisi (malposisi) geligi dari yang ringan sampai yang kompleks, dan koreksi hubungan rahang secara terbatas dapat dilakukan dengan piranti ini.  Tapi diagnosis serta analisis kasua yang tepat dan teliti oleh dokter gigi spesialis ortodonti (orthodontist) tetap memegang peranan yang sangat penting pada keberhasilan perawatan.</p>
<p><font face="times new roman,times">Sumber: Majalah Health First, Vol. 2, April-June 2008, Pondok Indah Healthcare Group </font></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tekan Resiko Penyakit Jantung</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/tekan-resiko-penyakit-jantung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 01:57:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/tekan-resiko-penyakit-jantung/</guid>

					<description><![CDATA[Saat ini penyakit jantung menduduki tingkat pertama penyebab kematian, baik di dunia maupun di Indonesia.  Dr. Winarto, SpJP, FIHA, mengajak kita semua untuk dapat menekan resiko penyakit ini serendah mungkin. Penyakit jantung yang sekarang lebih dikenal dengan nama &#8220;penyakit kardiovaskuler&#8221; yang meliputi jantung koroner, stroke sumbatan, dan pembuluh darah perifer.  Penyakit kardiovaskular ini sering terjadi ... <a title="Tekan Resiko Penyakit Jantung" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/tekan-resiko-penyakit-jantung/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Tekan Resiko Penyakit Jantung">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Saat ini penyakit jantung menduduki tingkat pertama penyebab kematian, baik di dunia maupun di Indonesia.  Dr. Winarto, SpJP, FIHA, mengajak kita semua untuk dapat menekan resiko penyakit ini serendah mungkin.</p>
<p align="justify">Penyakit jantung yang sekarang lebih dikenal dengan nama &#8220;penyakit kardiovaskuler&#8221; yang meliputi jantung koroner, stroke sumbatan, dan pembuluh darah perifer.  Penyakit kardiovaskular ini sering terjadi mendadak tanpa ada keluhan sebelumnya.  Banyak orang tidak mengetahui bahwa sebelum terjadi serangan jantung, sebenarnya ia sudah mempunyai beberapa faktor resiko kardiovaskular.</p>
<p align="justify">Orang-orang yang mempunyai faktor resiko inilah yang kemungkinan akan mengalami serangan penyakit kardiovaskular.  Oleh karena itu, mengetahui adanya faktor-faktor resiko sebelum terjadi serangan dan mengatur faktor resiko serendah mungkin merupakan keharusan yang perlu dilakukan sehingga kejadian dan tingkat kematian penyakit kardiovaskular dapat diturunkan.</p>
<p><span id="more-296"></span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><strong>KLASIFIKASI FAKTOR RESIKO</strong></p>
<p align="justify">Semakin banyak faktor resiko yang ditemukan pada seseorang, semakin tinggi derajat resiko orang tersebut mengalami serangan penyakit kardiovaskular.  Menurut SCORE &#8211; Systemic Coronary Risk Evaluation, 2007 &#8211; yang dimaksud resiko tinggi adalah kejadian kardiovaskular vatal yang akan terjadi dalam waktu 10 tahun ke depan yang melebihi 5%.  Tampaknya, merokok juga menambah tingginya resiko tersebut.  Bila melihat faktor-faktor di bawah ini, sepertinya saat ini kita sulit menemukan orang dengan resiko rendah.  Jadi, kita semua harus waspada!</p>
<p align="justify"><strong>3 KELOMPOK FAKTOR RESIKO KARDIOVASKULAR</strong></p>
<p align="justify">1.  Tradisional yang tidak dapat diatur:  Genetik; Umur; Jenis kelamin.</p>
<p align="justify">2.  Tradisional yang dapat diatur: Merokok; Stress/depresi; Kurang aktivitas fisik; Konsumsi alkohol; Kegemukan/obesitas; Hiperkolesterol; Hipertensi (tekanan darah tinggi); Diabetes melitus (kencing manis).</p>
<p align="justify">3.  Baru/moderen dengan pemeriksaan laboratorium/penunjang medik: CRP dan hs CRP meninggi; Adiponectin menurun; Micro-albuminuria; Rasio APO-B/APO A-1 meningkat; Lp (a) meningkat; Fibrinogen meningkat; Homosistein meningkat; Kolesterol HDL rendah; Trigliserida tinggi; Keadaan hiperkoagulasi; LVH (pembesaran jantung); Skor kalsium yang tinggi pada CT-Scan; Carotid Intimal Medial Thickness; Riwayat pre-eklampsia dan eklamsia (bagi para wanita yang hamil); Sindroma metabolik.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><strong>HUBUNGAN FAKTOR RESIKO DENGAN KEJADIAN SERANGAN JANTUNG</strong></p>
<p align="justify">Inter Heart Study 2004 yang merupakan penelitian besar yang diikuti oleh 52 negara, 262 lembaga, dan melibatkan 15.000 pasien, menemukan adanya hubungan antara faktor resiko dengan kejadian serangan jantung koroner pertama kali.</p>
<table border="0" align="justify">
<tbody>
<tr>
<td> Faktor Resiko </td>
<td> Kejadian Serangan Jantung </td>
</tr>
<tr>
<td> 1. Merokok</td>
<td align="center"> 2,9 kali</td>
</tr>
<tr>
<td> 2. Diabetes</td>
<td align="center"> 2,4 kali</td>
</tr>
<tr>
<td> 3. Darah tinggi</td>
<td align="center"> 1,9 kali</td>
</tr>
<tr>
<td> 4. Apo B/Apo A-1</td>
<td align="center"> 3,3 kali</td>
</tr>
<tr>
<td> 5. Faktor 1, 2, dan 3 </td>
<td align="center"> 13 kali </td>
</tr>
<tr>
<td> 6. Faktor 1, 2, 3, dan 4 </td>
<td align="center"> 42,3 kali</td>
</tr>
<tr>
<td> 7. Kegemukan dan Faktor ke-6</td>
<td align="center"> 68,5 kali</td>
</tr>
<tr>
<td> 8. Psikososial dan Faktor ke-7</td>
<td align="center"> 182,9 kali</td>
</tr>
<tr>
<td> 9. Seluruh Faktor resiko </td>
<td align="center"> 333 kali</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="justify"><strong>BAGAIMANA MENURUNKAN FAKTOR RESIKO KARDIOVASKULAR?</strong></p>
<p align="justify">Menurut European Society of Cardiology (ESC, 2007), orang dengan resiko jantung tetapi tampak sehat harus berusaha untuk:</p>
<p align="justify">1. Tidak merokok.</p>
<p align="justify">2. Memilih makanan sehat (buah dan sayuran).</p>
<p align="justify">3. Latihan rutin dengan aktivitas sedang, minimal selama 30 menit seharinya.</p>
<p align="justify">4. Turunkan berat badan menuju berat badan ideal dengan MI &lt; 25 kg/m2</p>
<p align="justify">5. Hindari pembesaran perut (obesitas sentral) dengan lingkat perut pada pria &lt; 102 cm dan pada wanita &lt; 88 cm.</p>
<p align="justify">6. Tekanan darah harus &lt; 140/90 mmhg</p>
<p align="justify">7. Total kolesterol &lt; 190 mg/dl</p>
<p align="justify">8. Kolesterol LDL &lt;115 mg/dl</p>
<p align="justify">9. Gula darah puasa &lt; 110 mg/dl</p>
<p align="justify">Sedangkan orang dengan faktor resiko tinggi khususnya yang pernah mempunyai penyakit kardiovaskular atau diabetes, maka seharusnya:</p>
<p align="justify">1. Tekanan darah &lt; 130/80 mmhg (bila memungkinkan).</p>
<p align="justify">2. Kolesterol total &lt; 155-175 mg/dl</p>
<p align="justify">3. Kolesterol LDL &lt; 80-100 mg/dl</p>
<p align="justify">4. Gula darah puasa &lt; 110 mg/dl</p>
<p align="justify">5. HbA1C &lt; 6,5%</p>
<p align="justify">Hasil Inter Heart Study 2004 membuktikan bahwa modifikasi faktor resiko dapat menurunkan kejadian serangan jantung dengan cukup berarti.</p>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td> Modifikasi faktor resiko</td>
<td> Penurunan Resiko  </td>
</tr>
<tr>
<td> 1. Tidak merokok</td>
<td align="center"> 65%</td>
</tr>
<tr>
<td> 2. Konsumsi buah &#038; sayur</td>
<td align="center"> 30%</td>
</tr>
<tr>
<td> 3. Latihan rutin</td>
<td align="center"> 14%</td>
</tr>
<tr>
<td> 4. Minum sedikit alkohol</td>
<td align="center"> 9%</td>
</tr>
<tr>
<td> 5. Faktor 1 dan 2</td>
<td align="center"> 76%</td>
</tr>
<tr>
<td> 6. Faktor 1, 2, dan 3</td>
<td align="center"> 79%</td>
</tr>
<tr>
<td> 7. Faktor 1, 2, 3, dan 4</td>
<td align="center"> 81%</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Mari kita semua berusaha untuk mengurangi faktor resiko penyakit kardiovaskular.  Tekanlah serendah mungkin, itulah kunci untuk menurunkan kejadian dan kematian akibat penyakit kardiovaskular.  </p>
<p><strong>TAHUKAH ANDA?</strong></p>
<p>Kurang lebih 17 juta orang di seluruh dunia meninggal tiap tahun karena penyakit kardiovaskular.</p>
<p>Survei yang dilakukan Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2004, yang merupakan kerjasama antara Promkes Departemen Kesehatan, Litbang, dan Biro Pusat Statistik di tahun 2004 menunjukkan lebih dari 58% setiap rumah tangga mempunyai sedikitnya seorang perokok dalam rumahnya dan 91,8% dari mereka merokok di rumah.  Saat ini terdapat setidaknya 43 juta anak dan ibu sebagai perokok pasif.  Perokok wanita 1,4% pada tahun 2001, menjadi 1,7% di tahun 2003 dan menjadi 4,5% dalam tahun 2004.  Semua ini membuat resiko penyakit kardiovaskular meningkat. </p>
<p><strong>TERMINOLOGI </strong></p>
<p><strong>CRP/hs CRP</strong>: C-Reactive Protein/High-sensitivity C-reactive Protein; ukuran kandungan protein dalam darah yang bisa jadi sinyal peradangan.</p>
<p><strong>Adiponectin</strong>:  Hormon protein yang diproduksi oleh sel lemak yang mempengaruhi respons tubuh terhadap insulin dan juga mempunyai efek anti-peradangan pada dinding sel darah.</p>
<p><strong>Micro-albuminuria</strong>: Tes untuk melihat kuantitas protein albumin dalam sampel urin. </p>
<p><strong>Ratio Apo-B/Apo A1</strong>: Pemeriksaan yang lebih akurat daripada rasio LDL, HDL, atau Total Cholesteroal, Triglycerides berupa pengukuran apolipoprotein.</p>
<p><strong>Lp (a), lipoprotein</strong>: Protein yang berhubungan dengan lemak yang membawa zat kolesterol dalam darah; merupakan salah satu faktor resiko jantung koroner yang disebabkan oleh konsumsi alkohol.</p>
<p><strong>Fibrinogen</strong>: Protein yang memegang peranan penting dalam pembekuan darah.</p>
<p><strong>Homosistein</strong>: Asam amino sederhana yang dihasilkan tubuh ketika menyerap dan menggunakan protein; biasanya meningkat seiring bertambahnya usia.</p>
<p><strong>Kolesterol HDL</strong>: High-density lipoprotein; ukuran penanda kepadatan/kuantitas kolesterol.  Ukuran sebaliknya disebut Kolesterol LDL (low-density lipoprotein).</p>
<p><strong>Trigliserida</strong>: Merupakan lemak utama dalam tubuh, dibentuk di hati dari gliserol dan lemak yang berasal dari makanan atau dari kelebihan kalori akibat makan berlebihan.</p>
<p><strong>Hiperkoagulasi</strong>: Kondisi ketika darah lebih muda membeku.</p>
<p><strong>LVH &#8211; Left Ventricular Hypertrophy</strong>: pembesaran/penebalan dinding bilik kiri jantung.  </p>
<p><strong>Carotid Intimal Medial Thickness</strong>: Prediksi pengukuran resiko jantung dan stroke pada usia muda dan pertengahan dewasa.</p>
<p><strong>Pre-eklamsia</strong>: Penyakit hipertensi yang disebabkan kehamilan.  Ditandai dengan hipertensi, edema (pembengkakan), dan proteinuri masif setelah kehamilan minggu ke-20.</p>
<p><strong>Eklamsia</strong>: Pre-eklamsia yang disertai kejang.</p>
<p><strong>Sindroma Metabolik</strong>: Sekumpulan penyimpangan fungsi tubuh berupa obesitas sentral (kegemukan terutama pada ukuran lingkar perut yang berlebih), tekanan darah tinggi, peningkatan kadar kolesterol, gangguan resistensi insulin, maupun diabetes melitus.</p>
<p><strong>BMI</strong>: Body Mass Index, metode yang paling berguna dan banyak digunakan untuk mengukur tingkat obesitas.</p>
<p><strong>HbA1C</strong>: Tes laboratorium darah untuk mengukur jumlah molekul darah merah yang mengandung gula.</p>
<p><font face="times new roman,times">Sumber: Majalah Health First, Vol. 2, April-Juni 2008, Pondok Indah Healthcare Group  </font></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Flu Babi</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/flu-babi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 17:44:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/flu-babi/</guid>

					<description><![CDATA[Dunia tiba-tiba dikejutkan dengan wabah flu babi.  Dari Meksiko, flu ini langsung berjangkit  ke segala penjuru dunia.  Berita terakhir menyebutkan bahwa penderita flu babi telah di temukan hingga di Selandia Baru dan Israel.   Apa itu flu babi?  Bagaimana gejalanya?  Berikut kami mencoba menyarikan informasi-informasi yang penting untuk kita ketahui bersama.   Flu babi (Swine ... <a title="Flu Babi" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/flu-babi/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Flu Babi">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class=" alignright size-full wp-image-207" src="https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2009/04/flu-babi.png" border="0" align="right" width="250" height="243" /></p>
<div align="justify">Dunia tiba-tiba dikejutkan dengan wabah flu babi.  Dari Meksiko, flu ini langsung berjangkit  ke segala penjuru dunia.  Berita terakhir menyebutkan bahwa penderita flu babi telah di temukan hingga di Selandia Baru dan Israel.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Apa itu flu babi?  Bagaimana gejalanya?  Berikut kami mencoba menyarikan informasi-informasi yang penting untuk kita ketahui bersama.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Flu babi (<em>Swine Influenza Virus</em>) disebabkan oleh virus influenza Orthomyxovirus Endemic yang berjangkit pada babi.  Flu babi ini kemudian berkembang hingga sekarang yang dikenal dengan jenis Influenza Tipe C.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Flu babi menjangkiti manusia setiap tahunnya dan biasanya, orang yang mudah terjangkit adalah mereka yang punya kontak langsung dengan babi – walau ada pula ditemukan kasus penularan antar manusia.  </p>
<p>Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat melaporkan bahwa gejala-gejala dan penularan flu babi antar manusia biasanya terjadi saat musim flu, dengan tanda-tanda demam, letih, lesu, lemas, kehilangan nafsu makan, sakit tenggorokan, hidung berair, batuk, pusing-pusing, muntah-muntah, iritasi pada mata dan diare.</div>
<p>&nbsp;</p>
<p><span id="more-208"></span></p>
<p align="justify">Penyebaran antar manusia biasanya terjadi lewat batuk atau bersin dari orang yang terjangkit flu babi, menyentuh barang/sesuatu yang sudah terkontaminasi virus flu babi.  Biasanya, penularan terjadi saat orang yang terkontaminasi virus flu babi memegang hidung atau mulutnya.  Di sinilah virus flu babi mulai memasuki tubuh.  Pada manusia, flu babi dinilai paling membahayakan dalam 5 hari pertama terjangkitnya penyakit ini.  Pada anak-anak, masa ini lebih panjang, yaitu sampai dengan 10 hari.</p>
<p align="justify">Pencegahan penularan flu babi hampir mirip dengan pencegahan penularan flu burung, yaitu: (1) Memakai masker penutup mulut dan hidung; (2) Tidak mengadakan kontak langsung dengan penderita flu babi maupun hewan ternak yang menderita flu babi; (3) Sesering mungkin mencuci tangan dengan menggunakan sabun atau antiseptik; (4) Sanitasi yang baik; (5) Menjalankan kebiasan hidup yang baik seperti cukup tidur, cukup makan makanan bergizi, dan berolahraga. </p>
<p align="justify"><strong>Bolehkah memakan produk-produk yang berasal dari babi?</strong></p>
<p align="justify">Walau belum ada indikasi yang jelas mengenai kemungkinan penyebaran flu babi kepada manusia adalah karena kontak manusia dengan babi, alangkah lebih baik bagi kita untuk meminimalkan kontak kita dengan babi, khususnya babi yang sakit.  Segera laporkan kepada pejabat kesehatan yang berwenang kalau terjadi kasus babi sakit.  </p>
<p align="justify">Kebanyakan orang biasanya terjangkit flu babi lewat kontak yang lama dan berkesinambungan dengan babi yang telah terinfeksi virus flu babi.  Cuci tangan dengan sabun dan air secara seksama setelah melakukan kontak dengan hewan apa pun, khususnya setelah memotong hewan.  Bagi yang bekerja di tempat pemotongan hewan, pakailah masket penutup mulut dan hidup saat memotong hewan dan membersihkan hewan-hewan yang telah dipotong itu.  Hewan yang sakit atau hewan yang mati karena sakit sebaiknya jangan dipotong melainkan dibakar.</p>
<p align="justify">Flu babi belum terlihat menular kepada manusia lewat makan daging babi atau produk-produk turunan babi lainnya.  Virus flu babi dapat mati kalau dimasak dengan temperatur 70 derajat Celcius.</p>
<div align="justify">Flu babi sebenarnya bukan penyakit yang baru menyerang manusia.  Di tahun 1976, jenis flu ini telah mewabah di Amerika Serikat lewat seorang taruna yang ditempatkan di Fort Dix.  Saat itu ditemukan 500 kasus dengan 25 kematian.</p>
<p>Di tahun 2007, wabah flu babi ditemukan di Luzon, Filipina.  Kematian yang terjadi bukan saja karena flu babi, tetapi karena di sana mewabah juga kolera.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Di bulan Maret dan April 2009, lebih dari 1000 kasus flu babi pada manusia ditemukan di Meksiko.  Wabah ini dengan cepat merebak ke seantero dunia.  Amerika Serikat memastikan adanya kasus flu babi di negara-negara bagiannya.  Selandia Baru juga memastikan adanya 22 anak sekolah yang terjangkit flu babi saat mereka kembali dari studi tur ke Meksiko.  Dari Kanada dilaporkan adanya 5 kasus kemungkinan flu babi.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><strong>Apa bahaya wabah flu babi?</strong></div>
<p>Kebanyakan orang – khususnya yang tidak mempunyai kontak langsung dengan babi – tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap virus flu babi.  Kalau flu babi dapat menular antar manusia, maka akan terjadi wabah flu babi yang serius.  Dampak dari wabah ini sulit dikatakan, semuanya tergantung dari kekuatan virus, kekebalan tubuh manusia, dan lainnya.  </p>
<p><strong>Adakah vaksin untuk mencegah flu babi?</strong></p>
<p>Sampai sekarang belum ada vaksin yang dapat memberikan proteksi pada manusia akan virus flu babi.  Belum diketahui juga apakah vaksin influenza yang ada sekarang mampu memberikan proteksi akan virus flu babi.  Virus influenza berkembang sangat cepat.  Yang terpenting adalah membuat vaksin untuk melawan virus yang sedang berkembang sekarang agar dapat memberikan perlindungan maksimal kepada manusia.</p>
<p><strong>Apa yang harus diperbuat jika ada yang sakit flu  di rumah?</strong></p>
<p>1. Cobalah untuk memisahkan orang yang sakit itu ke bagian lain di rumah.  Kalau hal itu tidak memungkinkan, jauhkan yang sakit dari yang sehat, setidaknya berjarak 1 meter.</p>
<p>2. Tutuplah mulut dan hidung saat merawat orang sakit.  Masker dapat dibeli, atau dapat pula dari kain perca yang tersedia, buang masker yang sudah dipakai atau cucilah dengan bersih.</p>
<p>3. Cuci tangan dengan sabun dan air dengan seksama setelah berkontak dengan orang sakit.</p>
<p>4. Cobalah untuk membuat pertukaran udara di tempat orang sakit ditempatkan.  Bukalah pintu atau jendela untuk mendapatkan udara segar.</p>
<p>5. Buatlah lingkungan rumah selalu dalam keadaan bersih dengan memanfaatkan cairan pembersih bebas kuman.</p>
<p><strong>Apa yang harus dilakukan jiwa kita merasa mempunyai gejala-gejala flu babi (merasa tidak enak badan, demam hinggi, batuk dan sakit tenggorokan)?</strong></p>
<p>1.  Segera pergi ke dokter untuk mendapatkan penanganan pengobatan yang benar. </p>
<p>2.  Tinggallah di rumah, jangan pergi ke kantor, sekolah, atau kumpulan orang banyak.</p>
<p>3.  Beristirahat yang cukup, minumlah yang banyak.</p>
<p>4.  Tutuplah mulut dan hidung dengan tissue saat batuk atau bersin, buanglah bekas tissue itu di tempat pembuangan sampah.</p>
<p>5.  Cuci tangan dengan sabun dan air dengan seksama sesering mungkin, khususnya setelah batuk atau bersin.</p>
<p>6.  Beritahukan keluarga atau teman, carilah pertolongan untuk keperluan-keperluan di luar rumah, seperti berbelanja.</p>
<p>7.  Pergi ke dokter atau mantri kesehatan terdekat sebelum berpergian, laporkan semua gejala yang dirasakan, laporkan pula kemungkinan adanya perjalanan ke tempat-tempat terjadinya wabah flu babi.</p>
<p>8.  Ikuti petunjuk dokter/mantri kesehatan yang diberikan.</p>
<p>9.  Tutup mulut dan hidung selama berada dalam perjalanan.</p>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">* Artikel ini akan terus diperbaharui seiring dengan perkembangan berita-berita yang ada.</div>
<p>(Sumber: Wikipidia dan Panduan WHO Berbahasa Inggris – diterjemahkan secara bebas)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>AWAS, FLU SINGAPURA</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/awas-flu-singapura/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 14:24:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/awas-flu-singapura/</guid>

					<description><![CDATA[Setelah wabah Demam Berdarah Dengue, kini Indonesia disibukkan dengan berjangkitnya penyakit Flu Singapura.  Jenis flu barukah ini?  Apa gejala dan tanda-tanda dari penyakit ini? Flu Singapura atau lebih dikenal dengan sebutan “Hand, Foot, and Mouth Disease”  (HFMD) atau “Penyakit Ruam Tangan, Kaki, dan Mulut” sebenarnya bukan jenis penyakit yang baru muncul. HFMD sudah muncul jauh ... <a title="AWAS, FLU SINGAPURA" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/awas-flu-singapura/" aria-label="Baca selengkapnya tentang AWAS, FLU SINGAPURA">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Setelah wabah Demam Berdarah Dengue, kini Indonesia disibukkan dengan berjangkitnya penyakit Flu Singapura.  Jenis flu barukah ini?  Apa gejala dan tanda-tanda dari penyakit ini?</p>
<p>Flu Singapura atau lebih dikenal dengan sebutan “<em>Hand, Foot, and Mouth Disease</em>”  (HFMD) atau “Penyakit Ruam Tangan, Kaki, dan Mulut” sebenarnya bukan jenis penyakit yang baru muncul. HFMD sudah muncul jauh sebelum tahun 2009, dan telah pula berjangkit di Indonesia di tahun-tahun sebelum 2009.</p>
<p>HFMD adalah sindrom penyakit manusia yang disebabkan virus usus dari keluarga <em>Picornaviridae</em>.  Jenis virus yang sering menyebabkan HFMD adalah <em><strong>Virus Coxsackie A dan Enterovirus 71 (EV71).<br /></strong></em><br />HFMD seringnya menjangkiti bayi dan anak-anak hingga usia 6 tahun.  Penyakit ini cukup menular dan cara penularannya adalah lewat kontak dengan cairan lendir, ludah, maupun kotoran dari orang yang terjangkit penyakit ini.  Biasanya penyakit ini sangat mudah menular di kelas-kelas anak-anak TK maupun kelompok bermain.  HFMD mudah berjangkit di musim panas/kemarau dan musim gugur.  Masa inkubasi dari penyakit ini adalah 3-7 hari.</p>
<p>Orang dewasa diketahui sangat jarang terjangkit HFMD, meski kemungkinan akan hal ini masih tetap ada.  Hal ini dikarenakan kebanyak orang dewasa telah memiliki kekebalan tubuh yang cukup kuat untuk melawan jenis virus penyebab HFMD, tetapi mereka yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah perlu untuk selalu berhati-hati.  HFMD tidak sama dengan penyakit mulut dan kaki yang sering menjangkiti ternak seperti domba, sapi, maupun babi.  Kedua penyakit ini tidak ada hubungannya sama sekali, walau virus yang menyebabkan kedua penyakit ini berasal dari keluarga yang sama.   </p></div>
<div align="justify"> <br />Gejala-gejala umum pada HFMD adalah: <br />* Demam tinggi (38 derajat)<br />* Sakit kepala<br />* Muntah-muntah<br />* Cepat lelah<br />* Sakit tenggorokan<br />* Sariawan di sekitar mulut dan di dalam rongga mulut<br />* Ruam/bercak merah yang kemudian disusul dengan timbulnya bintil-bintil kecil berair di telapak tangan dan  </div>
<div align="justify">   telapak kaki.<br />* Pada bayi dan anak-anak kecil, ruam/bercak merah dapat pula tumbuh di sekitar bokong dan bekas popok.<br />* Hilangnya nafsu makan.<br />* Diare</p>
<p>Gejala awal berupa demam yang disertai sakit tenggorokan dan pusing-pusing.  Antara 1-2 hari dari timbulnya demam dan sakit tenggorokan, sariawan mulai tumbuh di rongga mulut dan tenggorokan.  Ruam/bercak merah mulai pula terlihat di telapak tangan dan telapak kaki, terkadang ruam/bercak merah timbul juga di bokong yang disebabkan karena diare.  Gejala-gejala umum ini biasanya tidak semua muncul dalam kasus HFMD.</p>
<p><strong>Pengobatan</strong><br />Tidak ada pengobatan khusus yang diberikan kepada pasien HFMD.  Gejala-gejala seperti demam, sakit tenggorokan, dan sariawan dapat diobati oleh dokter.  HFMD adalah penyakit yang berjalan dalam rantainya sendiri.  Biasanya para dokter tidak akan memberikan obat-obatan, kecuali infeksi yang terjadi dianggap serius.  Infeksi yang terjadi pada anak-anak, remaja, dan orang dewasa biasanya tidak parah dan akan sembuh sekitar 1 minggu.  Obat penurun demam biasanya digunakan, begitu juga dengan mandi air hangat yang dapat membuat turunnya suhu tubuh.</p>
<p><strong>Pencegahan</strong><br />Mencuci tangan dengan teliti terutama setelah membersihkan hidung, menggunakan toilet atau mengganti popok. membersihkan seluruh bagian tangan dan kaki terutama bagian kuku yang sering menjadi sarang bagi kuman.</p>
<p>Hanya sedikit kasus HFMD yang memerlukan perawatan serius di rumah sakit.  Biasanya hal ini terjadi karena adanya komplikasi otak (<em>encephalitis, meningitis, akut flaccid paralysis, pulmonary edema/pulmonary hemorrhage</em>).</p>
<p><strong>Catatan Wabah HFMD di Dunia</strong>:</p>
<p>1997     Wabah HFMD di Sarawak, Malaysia yang menyebabkan 34 anak meninggal dunia.<br />1998     Wabah HFMD terjadi di Taiwan, menjangkiti banyak anak.  Tercatat ada 405 komplikasi serius dan </div>
<div align="justify">            78 anak meninggal dunia.  Total kasus selama wabah berlangsung adalah 1,5 juta kasus.</p>
<p>2006      7 orang meninggal dunia di Kuching, Sarawak, Malaysia karena HFMD.  Di tahun yang sama, setelah </p></div>
<div align="justify">            wabah Chikungunya di bagian selatan dan barat India, tercatat juga munculnya kasus HFMD di </div>
<div align="justify">            India.</p>
<p>2007     Wabah HFMD terjadi di Cina, di daerah Fuyang, Anhui, yang menyebabkan 25.000 infeksi dengan </p></div>
<div align="justify">            42 kematian.  Di tahun yang sama, wabah HFMD juga terjadi di Singapura (lebih dari 2.600 kasus), </div>
<div align="justify">            Vietnam (2.300 kasus dengan 11 orang meninggal), Mongolia (1.600 kasus), dan Brunai Darussalam </div>
<div align="justify">            (1.053 kasus).</p>
<p>2009    Di bulan April kembali terjadi wabah di Cina, di kota Heze, Provinsi Shandong, dengan 15 kematian.  </p></div>
<div align="justify">           Sampai sejauh ini, telah dilaporkan adanya 5.770 kasus HFMD di Heze.  341 kasus masih </div>
<div align="justify">           berlangsung, sedangkan 4.549 kasus dinyatakan sembuh.  Pemerintah Daerah setempat telah </div>
<div align="justify">           meminta warga masyarakat untuk segera melaporkan timbulnya penyakit ini, memerintahkan adanya </div>
<div align="justify">           penyemprobatan desinfektan di rumah sakit-rumah sakit dan bangunan-bangunan kesehatan </div>
<div align="justify">           setempat.  Departemen Kesehatan Cina melaporkan bahwa telah terjadi lebih dari 115.000 kasus </div>
<div align="justify">           HFMD dengan 50 orang meninggal.  Kebanyakan penyakit ini terjangkit di daerah pedesaan di 10 </div>
<div align="justify">           Provinsi termasuk Henan, Shandong, Jiangsu, Guangxi, dan Zhejiang.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><em>(diterjemahkan secara bebas dari situs Wikipidia berbahasa Inggris) </em></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Awas! Demam Berdarah Dengue Mengintai!</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/awas-demam-berdarah-dengue-mengintai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 13:57:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/awas-demam-berdarah-dengue-mengintai/</guid>

					<description><![CDATA[  Musim penghujan kembali membawa banyak korban meninggal karena demam berdarah dengue (DBD).  Mari kita lebih mengenal penyakit ini. 1.  DBD, apakah itu? DBD merupakan penyakit infeksi yang dapat berakibat fatal dalam waktu yang relative singkat.  Penyakit ini tergolong “susah dibedakan” dari penyakit demam berdarah yang lainnya. Penyakit ini dapat menyerang semua umur, baik anak-anak ... <a title="Awas! Demam Berdarah Dengue Mengintai!" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/awas-demam-berdarah-dengue-mengintai/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Awas! Demam Berdarah Dengue Mengintai!">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Musim penghujan kembali membawa banyak korban meninggal karena demam berdarah dengue (DBD).  Mari kita lebih mengenal penyakit ini.</div>
<p><img decoding="async" src="images/stories/artikel/dbd-dengue.jpg" border="0" hspace="10" vspace="10" width="97" height="63" align="left" /><strong>1.  DBD, apakah itu?<br /></strong></p>
<div align="justify">DBD merupakan penyakit infeksi yang dapat berakibat fatal dalam waktu yang relative singkat.  Penyakit ini tergolong “susah dibedakan” dari penyakit demam berdarah yang lainnya.</p>
<p>Penyakit ini dapat menyerang semua umur, baik anak-anak maupun orang dewasa.  Penyebabnya adalah virus dengue, sejenis virus yang tergolong arbovirus yang masuk ke dalam tubuh manusia lewat gigitan nyamuk Aedes Aegypti betina.<br />
<span id="more-163"></span><br />
<br />DBD tidak menular melalui kontak manusia secara langsung, tetapi dapat ditularkan melalui nyamuk.  Nyamuk Aedes Aegypti betine menyimpan virus dengue pada telurnya, selanjutnya akan menularkan virus ini ke manusia lewat gigitan.  Sekali menggigit, nyamuk ini akan berulang menggigit orang lain sehingga dengan mudah darah seseorang yang mengandung virus dengue dapat cepat dipindahkan ke orang lain, yang palingdekat tentulah orang yang tinggal dalam satu rumah.</div>
<div align="justify">Namun, virus dengue yang sudah masuk ke dalam tubuh seseorang, tidak selalu dapat menimbulkan infeksi, jika orang itu mempunyai daya tahan tubuh yang kuat sehingga dengan sendirinya virus ini akan dilawan oleh tubuh.</p>
<p><strong>2.  Aedes Aegypti, nyamuk seperti apa?</strong></p>
<p>Nyamuk ini hidup di dataran rendah beriklim tropis sampai sub-tropis.  Badan nyamuk relative lebih kecil dibandingkan jenis nyamuk yang lain.  Badan dan tungkainya berbintik belang-belang hitam putih. </p>
<p>Nyamuk ini sangat menyukai tempat yang teduh dan lembab, suka bersembunyi di bawah kerindangan pohon, atau pada pakaian yang menggantung dan berwarna gelap.</p>
<p>Nyamuk ini bertelur pada genangan air yang jernih, yang ada dalam wadah, bukan pada air kotor atau air yang langsung bersentuhan dengan tanah.  Hanya nyamuk betina yang menggigit dan menularkan virus dengue.  Umumnya menggigit pada siang hari (pkl. 09.00-10.00) atau sore hari (pkl. 16.00-17.00).  nyamuk ini akan bertelur 3 hari setelah mengisap darah, karena darah merupakan sarana untuk mematangkan telurnya.  Dalam waktu kurang dari 8 hari, telur tersebut sudah menetas dan berubah menjadi jentik-jentik larva dan akhirnya menjadi nyamuk dewasa yang siap menggigit.  Kemampuan terbang nyamuk ini mencapai radius 100-200 m.</p>
<p>Tempat yang disukai dan merupakan tempat bertelurnya nyamuk ini adalah:<br />&#8211; tempayan air/ember<br />&#8211; tempat minum burung dalam sangkar<br />&#8211; vas/pot bunga<br />&#8211; bak mandi<br />&#8211; drum air bersih<br />&#8211; kaleng/botol bekas<br />&#8211; potongan bambu</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><strong>3.  Apa tanda dan gejala yang muncul pada penderita DBD?</strong></p>
<p>Tanda dan gejala penyakit ini tidak khas, bervariasi pada tiap penderita berdasarkan derajat yang dialaminya.  Umumnya penderita akan mengalami tanda dan gejala-gejala seperti:</p>
<p>&#8211; Demam<br />&#8211; Perdarahan/bintik-bintik merah pada kulit<br />&#8211; Perdarahan lain seperti mimisan, perdarahan gusi<br />&#8211; Keluhan pada saluran pernafasan: batuk, pilek<br />&#8211; Keluhan pada saluran pencernaan atau sakit waktu menelan<br />&#8211; Keluhan pada bagian tubuh yang lain seperti nyeri/sakit kepala, nyeri pada otot, tulang, sendi, dan ulu hati, pegal-pegal pada seluruh tubuh.<br />&#8211; Dapat juga dijumpai adanya pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening, yang akan kembali normal pada masa penyembuhan.<br />&#8211; Pada keadaan yang berat, penderita akan jatuh pada keadaan renjatan/shock, yang dikenal dengan DSS (Dengue Shock Syndrome), dengan tanda-tanda: kulit teraba lembab dan dingin; tekanan darah menurun, nadi cepat dan lemah; nyeri perut yang hebat; terjadi perdarahan, baik dari mulut, hidung, maupun anus yang terlihat seperti tinja hitam; lemah, mengantuk, terjadi penurunan tingkat kesadaran; gelisah; tampak kebiru-biruan pada sekitar mulur, hidung, dan ujung-ujung jari; tidak buang air kecil selama 4-6 jam.</p>
<p><strong>4.  Bagaimana perjalanan penyakit DBD di dalam tubuh kita?<br /></strong><br />Perjalanan penyakit ini sering menimbulkan gejala yang mengejutkan atau tidak terduga.  Keadaan hilangnya demam bukan berarti penyakit ini sembuh, tetapi masih perlu mendapat perhatian yang intensif, bahkan jika penderita tampak membaik sekalipun.  Pada hari ke-3 sampai ke-5 merupakan periode kritis, karena walau secara kasat mata sudah tampak membaik, tetapi kemungkinan memburuk dapat terjadi secara tiba-tiba dan penderita jatuh dalam kondisi shock (DSS).  </p>
<p>Masa inkubasi dimulai sejak nyamuk menggigit sampai menimbulkan gejala, lebih kurang 13-15 hari.  Setelah virus masuk ke dalam tubuh, hal yang pertama terjadi adalah viremia (darah mengandung virus) yang menyebabkan penderita mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal di seluruh tubuh, ruam atau bintik-bintik merah pada kulit, serta dapat juga terjadi pembesaran hati dan limpa.</p>
<p>Keadaan viremia ini menyebabkan terjadinya kebocoran plasma (plasma keluar dari pembuluh darah).  Komponen darah mengalami pengentalan, dan penurunan pembekuan darah.  Hal ini menyebabkan mudahnya terjadi perdarahan dalam tubuh.  Kekentalan darah dapat diketahui dari peningkatan hematokrit yang melebihi 20% dari nilai normal.  Maka penting dilakukan pemantauan kadar hematokrit dan trombosit dari sample darah penderita.</p>
<p>Ada 3 fase perjalnaan DBD, yaitu fase demam (2-7 hari), fase kritis (berlangsung antara 24-28 jam), dan fase penyembuhan (berlangsung 2-7 hari).</p>
<p>Pada <strong>fase demam</strong>, diperlukan pengobatan simtomatik atau pengobatan yang dilakukan untuk menghilangkan gejala saja, seperti menurunkan demam atau meningkatkan perbaikan kondisi penderita.  Selama fase ini, sulit dibedakan antara demam dengue dengan DBD.  Setelah penderita demam dengue bebas dari demam selama 24 jam tanpa obat penurun panas, ia akan memasuki fase penyembuhan.  Tapi pada penderita DBD, justru akan memasuki fase kritis, dan pada keadaan yang lebih parah, penderita DBD akan jatuh pada keadaan shock.  Tidak semua penderita DBD akan mengalami shock, dengna demikian diperlukan tindakan-tindakan untuk mencegah terjadinya keadaan ang lebih parah.  Tindakan yang dilakukan pada tahap awal ini penting supaya penderita tidak memasuki kondisi yang lebih buruk.  </p>
<p>Pada keadaan ini dokter tidak menyarankan penderita untuk menjalani rawat inap.  Penderita memungkinkan untuk dirawat di rumah tetapi memerlukan pengawasan yang ketat.  Hal-hal yang harus diperhatikan adalah suhu tubuh, adanya rasa mual dan ingin muntah, kejang, mimisan, atau terjadinya perdarahan lainnya.  Pemberian cairan yang memadai sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kekurangan cairan pada tubuh penderita.  Pada fase ini juga diperlukan pemeriksaan laboratorium darah, yang meliputi nilai trombosit dan nilai hematokrit, untuk mengontrol keadaan kesehatan penderita.  Jika sudah minum obat tetapi suhu tubuh tidak turun ataupun didapatkan tanda perdarahan yang lain, maka perlu segera kontrok ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.</p>
<p>Pada <strong>fase kritis</strong>, penderita tidak memungkinkan untuk dirawat di rumah, tetapi harus dirawat di rumah sakit karena membutuhkan penangana yang intensif.  Fase ini umumnya dimulai pada hari ke-3 sampai ke-5 sejak diketahui adanya demam yang pertama kali, berlangsung selama kurang lebih 24-48 jam.  Fase kritis merupakan fase yang sangat menentukan; apabila penderita berhasil melewati fase ini, ia akan memasuki prose penyembuhan, tetapi jika kondisi kritis ini tidak dapat teratasi (terlambat ditangani), maka penderita akan mengalami keadaan yang fatal.  Pada keadaan ini biasanya penderita mengalami muntah-muntah, tidak nafsu makan, dan sudah mengalami perdarahan, sehingga harus dilakukan pemantauan secara lebih intensif.</p>
<p>Pemantauan terhadap keadaan penderita, seperti pemeriksaan suhu, nadi pernapasan, dan tekanan darah, akan dilakukan secara periodic oleh perawat.  Selain itu, pemantauan terhadap pemasukan cairan melalui mulut ataupun infuse, dan pengeluaran cairan (buang air besar atau buang air kecil, muntahan penderita) juga akan dicatat oleh perawat.  Jika penderita mengalami shock, maka penderita akan segera mendapatkan terapi oksigen serta infuse untuk mengganti kekurangan cairan yang disebabkan oleh kebocoran plasma.  Adanya kebocoran pembuluh darah ini sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan gangguan peredaran darah yang berfungsi membawa oksigen dan makanan ke seluruh tubuh.  Biasanya pada keadaan ini juga terjadi penurunan kadar trombosit yang memungkinkan penderita mengalami perdarahan baik melalui mulut, hidung, ataupun perdarahan pada saluran cerna.  Pada kondisi yang seperti ini, sering kali penderita memerlukan transfuse darah, dengan demikian perlu disiapkan donor drah.  Apabila pemantauan nilai trombosit dan nilai hematokrit menunjukkan hasil yang normal atau stabil, maka penderita sudah memasuki fase penyembuhan atau telah melewati fase kritis.</p>
<p>Pada umumnya, penderita DBD yang telah berhasil melewati fase kritis akan sembuh tanpa komplikasi dalam waktu kurang lebih 24-48 jam setelah shock.  <strong>Fase penyembuhan </strong>ditandai dengan kondisi umum penderita yang mulai membaik, nafsu makan meningkat, disertai dengan hasil pemeriksaan tanda vital yang stabil (suhu, nadi, pernapasan, dan tekanan darah).  Pada keadaan ini, biasanya pemberian cairan infus mulai dihentikan dan diganti dengan pemberian nutrisi lewat mulut secara optimal.  Makanan yang mengandung nilai gizi tinggi sangat diperlukan untuk memperbaiki daya tahan tubuh.  Bila keadaan penderita terus membaik, tidak didapatkan komplikasi, dan disertai hasil pemeriksaan laboratorium yang normal, maka penderita biasanya diperbolehkan pulang.  Sebelum pulang, biasanya dokter atau perawat akan menjelaskan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan penderita.</p>
<p><strong>5.  Apa yang sebaiknya dilakukan terhadap penderita DBD?</strong></div>
<div align="justify">Jika terpaksa ada anggota keluarga yang dirawat di rumah kasih karena DBD, sebaiknya sikap kita adalah:</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">&#8211; Tidak panik, tunjukkan pada si penderita ketenangan dan optimisme, sebab penderita akan semakin rewel, gelisah, dan bermasalah bila melihat orang di sekitarnya gugup, cemas, atau bingung.  Berikan dukungan mental, dampingi selalu, dan alihkan perhatiannya untuk dapat mengurangi rasa sakit.</p>
<p>&#8211; Beri makanan dan minuman yang bergizi secara cukup, bila mungkin bawakan dari rumah menu kesukaan penderita yang mampu menggugah selera makannya.  Berikan makanan secara bertahap dan telaten supaya nutrisi terpenuhi.  Hal ini akan mempertahankan daya tahan tubuh penderita.</p>
<p>&#8211; Tunggui penderita (terutama anak) selama di rumah sakit, pusatkan perhatian terutama pada periode kritis.  Masa kritis DBD adalah hari ke-4 dan ke-5 dihitung dari sejak hari awal sakit.</p>
<p>&#8211; Perhatikan pengeluaran kencing penderita.  Jika kencing banyak (jumlahnya biasa), berarti penderita dalam kondisi yang ‘baik’.  Sebaliknya, bila tidak dapat/sangat jarang kencing (pengeluaran sedikit), ini menunjukkan tanda yang memburuk.</p>
<p>&#8211; Persiapkan donor darah.  Memang tidak semua kasua DBD memerlukan transfusi darah, tetapi kebutuhan darah kadang-kadang terjadi secara mendadak dalam jumlah banyak, sementara persediaan di PMI belum tentu ada/mencukupi.</p>
<p><strong>6.  Bagaimanakah klasifikasi penyakit DBD itu?</strong></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1986, penyakit DBD dibagi menurut berat ringannya.  Secara singkat klasifikasinya adalah:</p>
<p>a. <strong>Derajat 1</strong>  &#8211; jika terdapat tanda-tanda demam disertai gejala-gejala yang lain, seperti mual, muntah, sakit pada ulu hati, pusing, nyeri otot, dan lainnya, tanpa adanya perdarahan spontan dan bila dilakukan uji tourniquet menunjukkan hasil positif (+) terdapat bintik-bintik merah.  Selain itu, pada pemeriksaan laboratorium menunjukkan tanda-tanda hemokonsentrasi dan trombositopenea.</p>
<p>b. <strong>Derajat 2</strong> – jika terdapat tanda-tanda dan gejala seperti yang terdapat pada DBD Derajat 1 disertai adanya perdarahan spontan pada kulit ataupun tempat lain (gusi, mimisan, dll)</p>
<p>c. <strong>Derajat 3 </strong>– jika telah terdapat tanda-tanda shock, yaitu dari pengukuran nadi didapatkan hasil cepat dan lemah; tekanan darah menurun; penderita gelisah; dan tampak kebiru-biruan pada sekitar mulut, hidung, dan ujung-ujung jari.</p>
<p>d. <strong>Derajat 4</strong> – jika penderita telah jatuh pada keadaan shock, penderita kehilangan kesadaran dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tidak terukur.  Kondisi seperti ini disebut DSS – Dengue Shock Syndrome.  Penderita berada dalam keadan kritis dan memerlukan perawatan yang intesif di ruang ICU.</p>
<p><strong>6. Uji Tourniquet.  Apakah itu?</strong></p>
<p>Pada pasien yang dicurigai mengalami DBD dilakukan Uji Tourniquet untuk mengetahui ada tidaknya perdarahan pada kulit.  Cara sederhana yang dapat dilakukan untuk melaksanakan uji ini adalah dengan melakukan pembebatan dengan karet di bagian lengan atas.  Pembebatan dibuat secukupnya (jangan kendur, jangan pula terlalu kencang), biarkan selama kurang lebih 5 menit, lalu lepas.  Kemudian, amati kulit di sekitar lengan bawah, terutama di sekitar siku dan pergelangan tangan.  Hasil uji dikatakan positif jika muncul bintik-bintik merah mirip bekas gigitan nyamuk, bergerombol, kemungkinan besar menunjukkan terdapatnya perdarahan paa kulit.  Tanda ini dapat menambah kecurigaan kemungkinan menderita demam berdarah.</p>
<p>Sebagian orang mungkin menunjukkan hasil positif tergantung pada tekstur, ketipisan, dan suhu kulit, sehingga Uji Tourniquet ini bukan satu-satunya pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menentukan diagnosis DBD.  Untuk memastikannya, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium darah.</p>
<p><strong>7.  Bagaimana menangani penderita DBD?</strong></p>
<p>Penderita DBD memerlukan perhatian dan penanganan yang serius, karena bila terlambat, dapat menyebabkan kematian.  Karenanya, sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit.</p>
<p>Adapun penanganan yang dilakukan rumah sakit terhadap penderita DBD meliputi beberapa hal:</p>
<p>&#8211; istirahat di tempat tidur.<br />&#8211; Pemberian makanan yang lunak.<br />&#8211; Pemberian minum sebanyak 1 ½ &#8211; 2 liter dalam 24 jam, dapat berupa teh manis, sirup, susu, dan berikan oralit karena pemberian cairan merupakan hal yang penting bagi penderita DBD.<br />&#8211; Pemberian cairan biasanya melalui intravena (pemasangan infuse).<br />&#8211; Pemantauan terhadap kadar hematokrit dan trombosit.<br />&#8211; Pemantauan terhadap tanda-tanda dini adanya renjatan/shock.<br />&#8211; Dalam keadaan tertentu, diperlukan transfusi darah.</p>
<p>Tidak ada pantangan atau diet khusus untuk pasien DBD.  Pemberian makanan bernilai gizi tinggi sangat dianjurkan agar menguatkan daya tahan tubuh.</p>
<p>Seorang penderita DBD akan dinyatakan sembuh bila hasil pemeriksaan laboratorium darahnya menunjukkan hasil yang sudah normal dan stabil.  Pada kondisi ini, penderita dapat dipulangkan dan tidak memerlukan infus atau transfuse darah lagi.</p>
<p><strong>8.  Bagaimana cara mencegah DBD?</strong></p>
<p>Indonesia termasuk daerah endemis bagi DBD, sehingga kapan saja, penyakit ini dapat berjangkit dan menyerah seluruh penduduk Indonesia.  Kondisi ini terjadi karena seluruh komponen pendukung terjangkitnya DBD ada di Indonesia – mulai dari virus dengue, nyamuk Aedes Aegypti sebagai vektor/pembawa penyakit, hingga jumlah penduduk yang besar.</p>
<p>Sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat membunuh virus demam berdarah.  Namun DBD dapat dicegah jika masyarakat bersama-sama mau memahami dan peduli akan bahaya yang dapat ditimbulkan, dengan upaya ‘memutus mata rantai’ DBD.</p>
<p>Pencegahan DBD dikenal dengan istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dapat dilakukan dengan beberapa cara:</p>
<p>a. Kimia – dengan pengasapan/fogging menggunakan malathion dan fenthion yang berguna mengurangi penularan sampai batas waktu tertentu; abatisasi atau pemberian bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air seperti tempayan, ember, vas bunga, kolam, dll.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">b. Biologi – dengan memelihara jenis ikan pemakan jentik/larva seperti ikan nila merah, ikan guppy, dll.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">c. Fisik – dikenal dengan kegiatan 3M: Menguras, Menutup, dan Mengubur.  Menguras bak mandi, bak WC, menutup tempat penampungan air rumah tangga, serta mengubur barang-barang bekas seperti botol, kaleng, ban, dll untuk mencegah tergenangnya air di tempat-tempat ini.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"> <br /><font face="times new roman,times">Sumber:  Buku Seri Kesehatan Masyarakat: Demam Berdarah Dengue – Penyakit dan Cara Pencegahannya, Oktri Hastuti, Penerbit Kanisius, 2008</font></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sakit? Sakit!</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/sakit-sakit/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 07:34:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/sakit-sakit/</guid>

					<description><![CDATA[Seseorang bermimpi akan berusia 125 tahun.  Ada yang berkomentar, bagus saja, asal selama itu sehat terus.  Rupanya sakit dianggap sebagai sesuatu yang negatif untuk memandang hidup ini sebagai karuia dari Tuhan.  Maka nada suaranya selalu berbunyi: &#8220;Sayang bahwa sakit&#8221;.  Mungkin hal itu juga menyebabkan orang berburu dokter atau dukun atau orang yang dapat menyembuhkan penyakit. ... <a title="Sakit? Sakit!" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/sakit-sakit/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Sakit? Sakit!">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Seseorang bermimpi akan berusia 125 tahun.  Ada yang berkomentar, bagus saja, asal selama itu sehat terus.  Rupanya sakit dianggap sebagai sesuatu yang negatif untuk memandang hidup ini sebagai karuia dari Tuhan.  Maka nada suaranya selalu berbunyi: &#8220;Sayang bahwa sakit&#8221;.  Mungkin hal itu juga menyebabkan orang berburu dokter atau dukun atau orang yang dapat menyembuhkan penyakit.</p>
<p>Banyak yang berkeyakinan bahwa kita harus melakukan segala sesuatu agar penyakit dapat disembuhkan.  Barangkali hal itu sebabnya mengapa Misa Penyembuhan atau Acara Doa Penyembuhan selalu laku didatangi orang.  Mungkin kita dapat bertanya, apakah sikap iman mengenai sakit dan penyakit?</p>
<p>Sampai dengan tahun 1980-an saya hampir tidak pernah mengenal rumah sakit, kecuali ketika Ibu saya melahirkan saya di RS Panti Rapih, Yogyakarta 1943.  Tetapi waktu dilahirkan saya tidak ingat, bahwa saya merasa sakit, walau dugaan saya, ketika itu saya menjerit dan menangis.<br />
<span id="more-97"></span><br />
<br />Mungkin kita dapat merenungkannya dari situ.  Jerit dan tangis kerap kali dipakai sebagai ukuran apakah seorang bayi atau anak kecil mengalami sesuatu yang tidak baik atau tidak enak.  Sejumlah peneliti menemukan bahwa jerit dan tangis bayi kerap kali tidak disebabkan karena sesuatu yang perlu dirisaukan keterlaluan.  Jerit dan tangis mirip dengan alarm yang membawa kita pada sesuatu yang lainn: misalnya udara yang perlu disegarkan atau cahaya yang perlu ditambah.  Cara pandang terakhir ini sudah mengubah cara kita memandang jerit dan tangis.  Mungkin sekali sakit dan penyakit dapat dilihat dari sudut yang tidak senantiasa terlalu negatif.  Sakit dan penyakit dapat juga dilihat sebgai suatu jalan untuk pencerahan yang lebih lanjut tentang manusia. </p>
<p>Karena sakit, saya mengenal Dr. Djoko atau De. Gardjito atau Dr. Emon dengan segala sifat dan kebaikannya.  Seakit merupakan jalan bahwa saya lbeih dapat ikut serta merasakan penderitaan sesama saya.  Sakit saya menyebabkan saya mengenal kondisi Rumah Sakit Panti Rapih, Elizabeth, Carolus, atau Radboud sedemikian sehingga memberi saya cara pandang lebih luas mengenai cara pelayanan orang sakit.  Sakit juga menyebabkan saya lebih kenal tubuh saya, yang sebelumnya tidak begitu saya pedulikan sehingga segala peristiwa jasmani saya anggap &#8220;memang harus begitu&#8221;, padahal sebetulnya tidak.  Maka sakit saya adalah jalan luar biasa untuk kenal diri.  Sakit juga memungkinkan saya mengenali dinamika cara Tuhan menyentuh saya.  Ternyata, Dia menjamah saya tidak hanya melalui kata-kata dari pembimbing atau guru atau orangtua saya.  Tuhan juga sesekali menjamah saya dengan menyentakkan saya lewat tangan yang patah, lewat jantung yang agak sakit, ginjal yang agak tersendat atau melalui tenggorokan yang meradang.</p>
<p>Sakit adalah peristiwa, yang dapat dilihat dari sudut jaringan, tetpai juga dapat menjadi peristiwa kejiwaan dan juga merupakan wahana peristiwa spiritual.  Saat Elizabeth merasakan anaknya menendang perutnya, maka itu tidak dirasakan sebagai sakit seperti sebelumnya melainkan sebagai sinyal bahwa Ibu Tuhan datang.  Ketika Petrus Claver menemukan seorang budak sakit, maka sakit itu menjadi jalur rahmat.  Tatkala orang gelandangan sakit di Calcuta itu menjadi tangan Tuhan yang memanggil Teresa untuk menggerakkan sekian banyak perempuan lain terlibat pada orang nestapa.</p>
<p>Sakit kita dapta memberi banyak makna.  Maka pelayanan orang sakit dapat menjadi tempat kita memberikan pelayanan ekonomis, tempat penyediaan kerja atau peluang kontak dengan orang beragama lain; tetapi juga dapat menjadi tempat kita menyehatkan kejiwaan atau penyelamat kerohanian kita.</p>
<p>Itulah sebabnya mengapa Tuhan hadir dalam komunikasi dengan orang sakit.  Dia tidak pertama-tama mau menyembuhkan si buta atau si lumpuh.  Ia mau menghadirkan Kerajaan Allah.  Itu juga panggilan kita, yang secara istimewa diperingati dalam Hari Orang Sakit Sedunia: untuk menjadi Saksi Iman.  </p></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><em>(Sumber: Warta Kategorial, Februari-MAret 2008)</em></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sakit Gigi = Penyakit Jantung dan Stroke?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/sakit-gigi-penyakit-jantung-dan-stroke/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 13:32:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/sakit-gigi-penyakit-jantung-dan-stroke/</guid>

					<description><![CDATA[Jangan abaikan kesehatan gigi dan mulut. Salah-salah, penyakit lainpun menyerang. F1 terjadi ketika migroorganisma yang berasal dari gigi dan mulut menyebabkan infeksi atau penyakit dibagian tubuh yang lain. &#8220;Infeksi di akar gigi maupun di jaringan penyangga gigi melibatkan lebih dari 350 bakteri dan mikroorganisma. Karena letak infeksinya sangat dekat dengan pembuluh darah, produk bakteri berupa ... <a title="Sakit Gigi = Penyakit Jantung dan Stroke?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/sakit-gigi-penyakit-jantung-dan-stroke/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Sakit Gigi = Penyakit Jantung dan Stroke?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jangan abaikan kesehatan gigi dan mulut. Salah-salah, penyakit lainpun menyerang.</p>
<p>F1 terjadi ketika migroorganisma yang berasal dari gigi dan mulut menyebabkan infeksi atau penyakit dibagian tubuh yang lain. &#8220;Infeksi di akar gigi maupun di jaringan penyangga gigi melibatkan lebih dari 350 bakteri dan mikroorganisma. Karena letak infeksinya sangat dekat dengan pembuluh darah, produk bakteri berupa toksin dapat menyebar keseluruh tubuh.&#8221; Lanjut Bobby</p>
<p>Sejak ditemukan mikroskop oleh Antoni Van Leeuwenhoek pada abad ke-17, ditemukan lebih dari 6 milyar mikroba tinggal dan hidup di dalam mulut yang berasal lebih dari 500 strain yang berbeda. YAng terbanyak adalah candida albicans, porphyromonas gingivalis, streptococus mutans, antinobacillus actinomycetemcomitans, treponema denticola, dan streptococcus sanguis.</p>
<p><span id="more-48"></span></p>
<p>Gigi dan mulut, jelas Bobby, sebetulnya merupakan tempat yang sangat jorok.</p>
<p>&#8220;Banyangkan, ada lebih dari 350 mikroorganisme(bakteri) di dalam mulut. Bakteri ini sebetulnya tak akan &#8220;bermasalah&#8221; jika jumlahnya seimbang dan hidup harmonis. Tetapi bisa menjadi tidak harmonis jika muncul gangguan, seperti karies (gigi berlubang), penyakit penyangga gigi (periodontal), atau ada infeksi&#8221;. Jelas Bobby</p>
<p>Contohnya, karies (gigi berlubang). &#8220;Kalau kariesnya masih kecil dan belum begitu dalam, mungkin tidak akan menganggu. Namun, begitu karies membesar dan makin dalam, bisa terjadi infeksi. Nah, infeksi inilah yang bisa memicu penyakit&#8221;.</p>
<p><strong>Gaya Hidup</strong></p>
<p>Harus diakui, sebagian besar orang Indonesia masih belum begitu memperhatikan kesehatan gigi dan mulut.</p>
<p>&#8220;Mereka tidak pernah mengira bahwa penyakit lain yang mereka derita itu kemungkinan berasal dari kesehatan gigi dan mulut,&#8221; kata Bobby menyayangkan</p>
<p>Contoh paling sering adalah sakit kepala. &#8220;Jarang lo, yang mengaitkan sakit kepala dengan kesehatan gigi dan mulut,&#8221; ujar Bobby. &#8220;Orang juga belum memahami pentingnya dokter gigi. Gigi sakit hanya minum obat-obat painkiller, sementara penyebab utamanya tidak dihilangkan. Minum obat sembuh, tapi apakah menyembuhkan penyakitnya. Tidak, ini hanya membuat penyakit makin terlokalisir.&#8221; Kata Bobby</p>
<p>Pada karies(gigi berlubang), misalnya, makanan yang menempel akan mengundang bakteri, yang kemudian terisap lewat pembuluh darah. Lama-lama jika tak sering di tangani, karies gigi akan makin dalam dan gigi makin rusak. &#8220;Akhirnya, terkena saraf gigi(Pulpa) akibatnya, akan semakin susah dibersihkan.<br />Pulpa itu kan isinya pembuluh darah dan saraf. Nah, infeksi yang menjalar sampai ke ujung akar akan membuat bakteri masuk. Bakteri ini berjalan lewat pembuluh darah, dan bisa mampir kemana saja.&#8221;</p>
<p>Tapi, &#8220;Tentu ini bukan satu-satunya penyebab. MAsih ada penyebab-penyebab lain, misalnya daya tahan tubuh, atau memang orang itu sudah punya faktor risiko,&#8221;tutur Bobby melanjutkan. &#8220;Orang dengan gaya hidup yang tidak sehat, bisa dipastikan tidak pernah ke dokter gigi. Jangankan yang gaya hidupnya asal-asalan yang benar saja belum tentu rajin ke dokter gigi, kok. Memang butuh kemauan kuat untuk ke dokter gigi, yang biasa terjadi, orang baru kedokter gigi kalau sudah kesakitan,&#8221; lanjut Bobby. Contohnya perokok, &#8220;Orang yang merokok umumnya punya penyakit periodontal, karena kondisi mulutnya selalu panas&#8221;.</p>
<p>Gaya hidup sehat ternyata juga tak hanya menyangkut makanan sehat atau olahraga teratur, tapi juga rutin melakukan general check-up dan kedokter gigi. &#8220;Jadi, konsep gaya hidup sehat sekarang harus lebih luas lagi. Ini yang belum dipahami masyarakat. Orang yang nge-gym tiap hari belum tentu sehat, kalu ia tidak pernah melakukan general check-up atau tidak pernah kedokter gigi. Memang, risiko bisa di tekan, tapi tetap ada,&#8221;kata Bobby seraya menambahkan perbedaan pola sakit orang Indonesia. &#8220;Kalau belum ambruk, belum dianggap sakit.&#8221;</p>
<p><strong>STROKE MENINGKAT</strong></p>
<p>Bakteri yang berasal dari jaringan penyangga gigi dapat masuk ke pembuluh darah dan dapat berjalan keseluruh organ vital dan menimbulkan infeksi.</p>
<p>&#8220;Akibatnya, ini akan memperbesar risiko penyakit jantung, stroke, meningkatkan kecenderungan wanita hamil melahirkan prematur dan bayi dengan berat badan kurang, serta meningkatkan ancaman bagi pasien-pasien yang menderita diabetes, penyakit saluran pernapasan, dan osteoporosis,&#8221;kata Bobby</p>
<p>1. Jantung dan stroke</p>
<p>Ada beberapa teori yang menyatakan hubungan antara penyakit di mulut dengan penyakit jantung. &#8220;Salah satu teori menyatakan bakteri dari mulut (oral bacteria) ketika masuk ke dalam pembuluh darah akan menempel pada timbunan lemak di pembuluh arteri jantung dan akan menimbulkan bekuan&#8221;. Jelas Bobby</p>
<p>Karakteristik penyakit jantung koroner adalah menebalnya pembuluh darah koroner jantung yang disebabkan timbunan lemak. &#8220;Ini akan menghambat aliran darah ke jantung, sehingga nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan jantung menjadi terhambat, yang dapat menyebabkan terjadinya serangan jantung.&#8221;</p>
<p>Kemungkinan lainnya, pembengkakan yang terjadi akibat penderita periodontal meningkatkan timbunan lemak, yang mengontribusi pembengkakan arteri. &#8220;Orang yang menderita penyakit periodontal, berisiko 2 kali lebih besar menderita penyakit jantung koroner di bandingkan yang tidak.&#8221; Jelas Bobby</p>
<p>2. Diabetes</p>
<p>Orang yang menderita diabetes cenderung menderita penyakit periodontal dibandingkan mereka yang sehat. &#8220;Kemungkinan, ini karena orang yang menderita deabetes lebih rentan terhadap infeksi. FAktanya penderita diabetes lebih banyak mengeluh tentang adanya penyakit periodontal, seperti gusi udah berdarah, bau mulut dan sebagainya,&#8221;kata Bobby</p>
<p>3. Penyakit saluran pernafasan</p>
<p>Infeksi di mulut dapat menyebabkan penyakit saluran pernafasan bila bakteri terhisap masuk ke saluran pernafasan. Bahkan, bakteri dapat berkembang biak dan menyebar sampai ke paru-paru. &#8220;Hasil penelitian menunjukkan, pasien dengan radang paru-paru kemungkinan besar juga menderita penyakit periodontal,&#8221;kata Bobby</p>
<p>4. Bayi prematur atau bayi kurang berat</p>
<p>Sudah lama diketahui bahwa ibu hamil yang merokok, minum alkohol, dam pemakai obat-obatan berisiko melahirkan bayi lahir prematur atau bayi lahir kurang berat. &#8220;Tapi, sekarang ditemukan lagi bahwa ibu hamil dengan penyakit periodontal berisiko  7 kali lebih besar melahirkan bayi yang lahir lebih awal atau bayi kecil. Penyakit periodontal akan meningkatkan derajat cairan biologis yang  merangsang kelahiran, &#8220;Ujar Bobby</p>
<p><strong>ENAM BULAN SEKALI</strong></p>
<p>Sebetulnya, sebagian orang sudah tahu cara merawat kesehatan mulut dan gigi, tapi terkadang mengabaikan. &#8220;Yang jelas ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali. Sikat gigi 2 kali sehari sesudah makan, memakai dental floss, saran Bobby, &#8220;Juga jadikan ke dokter gigi sebagai life style, jadi enggak akan terasa sebagai beban. Dan terakhir, perkuat awareness bahwa pola hidup sehat itu tak hanya makan teratur dan olahraga, tapi juga termasuk oral hygiene.</p>
<p><strong>TAK KALAH PENTING</strong></p>
<p>Yang tak kalah penting adalah melakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan jaringan penyangga gigi. Penyakit jaringan penyangga gigi (periodontal diseases) hanya dapat terdeteksi bila dilakukan pemeriksaan cermat,&#8221; kata Bobby. Pemeriksaan jaringan penyangga gigi sangat penting, bila:</p>
<p>a. Adanya gejala penyakit penyangga gigi, seperti gusi berdarah spontan atau gusi berdarah waktu menyikat gigi, pembengkakan gusi, gigi goyang atau gusi terasa gatal.</p>
<p>b. Memiliki riwayat penyakit jantung dan pembuluh darah, kencing manis, penyakit saluran pernapasan, dan osteoporosis</p>
<p>c. Berpikir untuk hamil</p>
<p>d. Anggota keluarga memiliki riwayat penyakit jaringan penyangga gigi. Menurut penelitian, penyakit periodontal dapat menular melalui air liur. &#8220;Ini berarti anak-anak dan anggota keluarga lain berisiko tertular,&#8221;ujar Bobby</p>
<p>e. Sariawan yang tidak sembuh-sembuh dalam jangka waktu 2 minggu.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
