:

Wapita dan Sabitah dapat INMI Awards

Bertepatan dengan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-46, digelar anugerah INMI Awards yang diselenggarakan oleh Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Jakarta (Komsos KAJ), pada Minggu, 20 Mei 2012, di Aula Katedral, Jakarta Pusat.  Diawali dengan Misa Kudus yang dipimpin oleh Bapa Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo, acara dilanjutkan dengan ramah-tamah dan penganugerahan INMI Awards untuk majalah dan warta paroki terbaik se-Keuskupan Agung Jakarta.

Read more

Pesan Bapa Suci Benediktus XVI untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia Ke-46

Keheningan dan Kata: Jalan Evangelisasi

Saudara dan Saudariku yang terkasih,

Menjelang hari Komunikasi Sedunia tahun 2012, saya ingin berbagi dengan anda beberapa permenungan tentang salah satu aspek dari proses komunikasi manusia yang meskipun penting, sering diabaikan, dan kini tampaknya sangat perlu untuk diingat. Ini menyangkut hubungan antara keheningan dan kata: dua aspek komunikasi yang perlu dipertahankan agar tetap berimbang, untuk diterapkan  secara bergantian dan diintegrasikan satu sama lain jika ingin mencapai dialog yang otentik dan hubungan kedekatan yang mendalam di antara manusia. Ketika kata dan keheningan terpisah satu dengan yang lain, komunikasi menjadi putus entah karena keterpisahan itu menimbulkan kebingungan atau  karena, sebaliknya, menciptakan suasana dingin. Namun apabila mereka saling melengkapi, komunikasi memperoleh nilai dan makna.

Keheningan adalah unsur utuh dari komunikasi;  tanpa keheningan, kata yang kaya pesan tak akan ada. Dalam keheningan, kita lebih mampu mendengar dan memahami diri kita sendiri, gagasan-gagasan dapat lahir dan mencapai kedalaman makna. Dalam keheningan, kita memahami dengan lebih jelas apa yang ingin kita katakan, apa yang kita harapkan dari orang lain dan bagaimana mengungkapkan diri. Dengan  keheningan, kita membiarkan  orang berbicara  dan mengungkapkan dirinya; dan  kita mencegah diri kita terpatok pada kata-kata dan gagasan kita sendiri tanpa ditelaah secara memadai. Dengan demikian, ruang yang diciptakan untuk saling mendengar dan membangun hubungan manusiawi menjadi lebih mungkin.

Read more

Semua Indah Jika Berjalan Bersama Tuhan (2)

Catatan Redaksi:

Bapak Nicholas Suhadi, salah seorang umat yang banyak berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan Gereja tingkat Paroki berpulang ke Rumah Bapa pada 23 Oktober 2011 setelah 11 minggu menderita stroke.  Sabitah berterima kasih kepada Ibu Fransisca, istri Alm. Bpk. Nicholas Suhadi yang berkenan membagikan pengalaman pergumulan imannya dari sejak menemani suaminya di rumah sakit hingga sekarang.

Hari- hari persemayaman jenazah Suamiku berlalu cepat.  Setiap hari adalah hari penghiburan buatku.  Begitu banyak saudara dan sahabat yang berkumpul menemaniku dan anak-anak, juga untuk memberikan penghormatan terakhir bagi Suamiku. Saat Suamiku dikremasi, aku tak ikut serta.  Memang, itulah kehendak Suamiku, katanya, supaya aku tak akan pernah punya pikiran bahwa kami telah terpisah.  Kata teman yang ikut ke krematorium, iring-iringan mobil begitu panjangnya, tetapi semua prosesi kremasi berjalan lancar dan sesuai dengan rencana waktu.  Sungguh, aku yakini sebagai sebuah rencana kerja Tuhan yang luar biasa juga.

Dalam seminggu pertama setelah kepergian Suamiku, aku sungguh masih berjuang untuk menjadi sadar bahwa Suamiku telah tiada, bahwa kini, akulah yang menjadi tumpuan hidup ketiga anakku.  Aku yang menjadi kepala keluarga sekaligus ibu rumah tangga.  Aku yang kini harus menjalankan semua usaha dan kerja yang ditinggalkan Suamiku.  Sebuah kenyataan yang harus kuterima dengan cepat, tanpa pikir-pikir atau bahkan tak mungkin kutolak.  Aku memang harus terus berdiri tegak, tegar menatap hari depan demi anak-anakku.

27 Oktober 2011 adalah hari ulang tahun pernikahanku yang ke-22.  Pada hari itu aku mengulang kembali rekaman memoriku akan hari-hari indah yang kurajut bersama Suamiku.  Suka dan duka, pahit dan manis yang telah kami lalui bersama.  Hingga akhirnya aku tersadar bahwa aku sekarang tidak lagi berstatus “istri” tetapi telah menjadi seorang “janda”.  Berat rasanya mendapat predikat demikian, malu dan belum siap rasanya, apalagi kalau sedang berada bersama teman-temanku yang pasangan hidupnya masih utuh.  Tetapi Tuhan dengan lembut menyapaku:  “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediamanNya yang kudus..” (Mzm 68:6).   Tak seharusnya aku malu menjadi janda, karena sekarang Allah sendiri yang akan menjadi Bapa, Pelindung, dan Suami bagiku dan anak-anakku.

Read more

Cerdas Ber-Facebook

Tak ada yang meragukan kegunaan Facebook (FB). Tapi, tak dapat diingkari pula bahwa tak sedikit orang terkena dampak buruknya. Sementara itu, para remaja terlalu naif menggunakannya dengan mengunggah foto atau komentar yang seharusnya tak pantas dipublikasikan. Dan banyak di antara mereka merasakan akibat buruk unggahan itu sendiri.

Read more

Sahabat Spesial

Siapa saja pasti sudah sering mendengar kata ‘autis’.  Lewat tulisan ini saya ingin membagikan pengalaman tentang apa dan bagaimana saya memahami para penderita autis.  Namun sebelumnya, saya akan memberi gambaran teoritis tentang apa itu autis sehingga muncul kesamaan persepsi tentang autis.  Kadang karena kurang memahami apa dan siapa penderita autis, kita mendengar orang berkata “dasar autis” dengan maksud bercanda.

Autis berasal dari Bahasa Yunani “autos” yang berarti “diri” (self).  Pengertian autis adalah gangguan pada perkembangan otak dan sistem syaraf sehingga anak berpola tingkah laku hiperaktif.  Anak-anak autis mengalami gangguan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial, dan gangguan aktivitas imajinasi.  Ciri-ciri penderita autis adalah anak cenderung menyendiri, berforkus pada diri, dan bermain dengan dunianya sendiri.  Anak sulit berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas atau tidak fokus.  Penderita autis juga sensitif terhadap makanan yang baunya tajam dan menyengat, mereka sensitif terhadap cahaya, suara ramai dan keras.  Anak-anak autis kadang memiliki kemampuan yang cukup tinggi di bidang-bidang tertentu, walaupun di sisi lain ada juga yang mengalami keterbelakangan mental.  Mereka membutuhkan pendampingan ekstra dari orangtua dan orang-orang di sekitarnya agar dapat tumbuh berkembang seperti halnya anak-anak lainnya.

Read more

Teladan Sang Gembala Mengubah Hidupku

(Oleh: YW – umat Lingk. St. Alfeus)

Puji syukur atas kasih dan anugrah-Nya dalam hidup saya. Pada saat menulis ini,  saya teringat akan  minggu panggilan dan tiba-tiba ingin sekali membagikan pengalaman yang pernah saya rasakan dan alami bersama para gembala Gereja.  Saya adalah umat awam biasa yang merasakan kasih Allah lewat gembala-gembala-Nya yang luar biasa. Terima kasih kepada Allah Bapa yang telah mengijinkan saya mengenal dan bersahabat dengan beberapa gembala-Nya. Tak ada maksud lain dalam tulisan ini, saya  hanya ingin men-sharingkan perjalanan hidup dan iman saya sebagai seorang umat Katolik. Semoga kenangan saya ini memberi inspirasi dan  manfaat bagi para rohaniwan, calon rohaniwan dan umat dalam pelayanannya. Senang rasanya saya menjadi seorang katolik yang  perjalanan imannya dikelilingi oleh  pembimbing rohani (Pastor, Suster, dll) yang memiliki keunikan pribadi, komitmen, kasih dan hati dalam pelayanannya.  Saya percaya ini adalah anugrah dari Allah buat saya boleh mengenal mereka lebih dekat sebagai  teman, sahabat, kakak bahkan ayah mungkin,  sehingga saya boleh bertumbuh dalam kasih kepadaNya. Saya juga percaya masih banyak lagi rohaniwan-rohaniwan yang luar biasa di luar rohaniwan yang saya sebut dibawah ini.

Masa kecil saya tumbuh di lingkungan non katolik; ayah dan ibu saya bukan penganut katolik.  Sejak kecil, ketika usia sekolah, saya aktif sekolah minggu di klenteng, sembahyang dan dilanjutkan belajar bahasa mandarin. Saya termasuk anak yang aktif dalam berbagai kegiatan di sana, kalau ada perayaan, saya juga ikut serta sebagai pengisi acara, biasanya menari dan membaca puisi. Boleh dibilang saya dibimbing menjadi seorang Khong Hu Cu dari usia kecil.

Pada saat menginjak kelas 1 SMP (sekitar 12 thn), kakak saya mengikutsertakan saya pada katekumen  untuk menjadi Katolik. Pada saat itu saya tidak mengerti apa itu katekumen, karena saya anak paling kecil, jadi ya cuma manut saja, apalagi pertemuan katekumennya di rumah. Yang saya tahu ada seorang Romo yang suka mendatangi umat dari rumah ke rumah. Romonya masih muda, sangat ramah dan mudah bergaul , beliau juga suka becanda dengan anak-anak seusia saya pada saat itu. Seminggu sekali kalau tidak salah hari selasa, kami (saya, kakak, tante dan beberapa orang) mendapatkan pelajaran agama katolik. Saat itu, saya cuma duduk tanpa tahu tujuannya untuk apa, selama kurang lebih 1 tahun belajar hingga akhirnya kami dibaptis.  Saya pun jadi punya nama baptis dan senang bisa menyambut Tubuh dan Darah Kristus.

Read more