Beberapa waktu yang lalu, kita sebagai umat Paroki dikejutkan dengan kabar adanya seorang remaja yang membunuh ayah dari sahabatnya hanya karena sang ayah mencoba melerai perkelahian antara si remaja dengan sahabatnya itu. Juga kita mendengar ada seorang remaja – umat Paroki kita juga – yang bunuh diri lantaran satu dan lain masalah yang dirasakannya sudah tak dapat lagi ia pecahkan. Dalam 2 kasus ini, kita tentu bertanya-tanya: “Mengapa bisa terjadi demikian?”
Kesibukan orangtua di luar rumah memang sering meninggalkan masalah tersendiri: anak-anak menjadi lebih banyak ditinggalkan di rumah. Memang ada orang-orang yang kita percayai untuk menjaga dan mengasuh anak-anak, tetapi bukankah anak-anak akan lebih merasa aman dan nyaman bersama orangtua mereka?
Bentuk kebersamaan keluarga bisa bermacam-macam. Tidak harus semuanya dilakukan di luar rumah dan menelan biaya ekstra. Kita bisa menciptakan suasana akrab kekeluargaan justru di dalam rumah kita sendiri, misalnya: Makan bersama di satu meja makan dengan sajian masakan ibu, ayah atau bahkan anak-anak yang sudah mulai beranjak besar; Nonton tivi bersama; Mengerjakan tugas-tugas rumah tangga bersama; Bermain bersama dengan permainan yang disesuaikan dengan usia anak-anak; Baca buku bersama; Menelusuri internet bersama; Membantu anak memecahkan soal-soal pekerjaan rumahnya, dan lain sebagainya.
Kebersamaan bukan saja menciptakan rasa saling mengasihi di antara anggota keluarga, tetapi juga rasa saling memiliki, saling memperhatikan, dan saling merindukan. Kebersamaan pada akhirnya mampu merekatkan hati anggota keluarga satu dengan yang lainnya, bahkan dapat menjadi ajang pembelajaran toleransi, saling berbagi, beriman, bersaudara dan berbelarasa.
Read more