<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kitab Suci &#8211; Gereja Trinitas</title>
	<atom:link href="https://www.trinitas.or.id/kategori/pendalaman-iman/kitab-suci/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.trinitas.or.id</link>
	<description>Paroki Cengkareng</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 Oct 2024 10:09:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2024/01/cropped-logo@2x-32x32.png</url>
	<title>Kitab Suci &#8211; Gereja Trinitas</title>
	<link>https://www.trinitas.or.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>16 Ayat Yang Harus Anda Ingat</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/16-ayat-yang-harus-anda-ingat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Felice]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Oct 2024 09:26:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Suci]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/?p=4991</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="16 Ayat yang harus Anda ingat." width="1036" height="583" src="https://www.youtube.com/embed/VTMbAP-IWyQ?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kuasa mengajar Pimpinan Gereja, bisa salah?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/kuasa-mengajar-pimpinan-gereja-bisa-salah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 07:33:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kitab Suci]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/kuasa-mengajar-pimpinan-gereja-bisa-salah/</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan dari seorang umat pengunjung Website Trinitas: Dari Kitab Suci kita mengetahui bahwa yang menyalibkan Yesus tidak lain adalah orang  Yahudi yang notabene termasuk para imam, dan sekarang kita tahu bahwa ternyata para imam telah membuat keputusan yang salah, benar demikian? kalau &#8216;ya&#8217; maka apakah Pimpinan Gereja yang dikatakan mempunyai kuasa mengajar akan dapat mengalami ... <a title="Kuasa mengajar Pimpinan Gereja, bisa salah?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/kuasa-mengajar-pimpinan-gereja-bisa-salah/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Kuasa mengajar Pimpinan Gereja, bisa salah?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Pertanyaan dari seorang umat pengunjung Website Trinitas: </div>
<div align="justify">Dari Kitab Suci kita mengetahui bahwa yang menyalibkan Yesus tidak lain  adalah orang  Yahudi yang notabene termasuk para imam, dan sekarang kita tahu  bahwa ternyata para imam telah membuat keputusan yang salah, benar demikian?  kalau &#8216;ya&#8217; maka apakah Pimpinan Gereja yang dikatakan mempunyai kuasa mengajar  akan dapat mengalami hal yang sama seperti para imam (di zaman Yesus) tersebut? </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Jawaban yang diberikan oleh Romo Henricus Asodo, OMI, Rektor Seminari Tinggi OMI, Yogyakarta:</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Ada 2 jawaban yang dapat diberikan untuk pertanyaan ini:<br /> <br />Yang pertama, jawaban kurang serius:  Sama seperti penanya yang bisa membuat kesalahan, demikian para imam juga bisa membuat kesalahan.  Jadi cukup jelas, bahwa ini adalah &#8220;nasib&#8221; lahir sebagai manusia, bisa berbuat salah, meski inginnya tidak berbuat salah.  Yang menjadi masalah adalah bahwa kita sering tidak merasa bersalah, sudah jelas-jelas bersalah pun tetap  tidak mau mengaku, malah semakin ngotot. Lihat saja kenyataan di sekitar kita: lalulintas, politik, ekonomi, dll&#8230; sampai bosan kita membicarakannya.<br /> <br />Yang kedua, jawaban serius:   Benar bahwa para imam dan tua-tua Yahudi yang memimpin penyaliban Yesus.  Bahkan sebelum disalibkan, Yesus sendiri berulangkali mengkritik (atau malah marah besar) atas segala sepakterjang para imam dan tua-tua Yahudi.  Artinya, mereka-lah yang menyalahgunakan kuasanya untuk bertindak semau-maunya.  Kesalahan para imam sudah diungkap Yesus, dan makin kelihatan ketika mereka menyalibkan Yesus. Penyaliban menjadi ungkapan paling kelihatan dari &#8220;kenekatan&#8221; dan &#8220;kesewenang-wenangan&#8221; mereka.<br /> <br />Namun, jujur atau tidak, mereka TIDAK MERASA BERBUAT SALAH.  Mereka merasa bekerja ATAS NAMA YAHWE.  Bukan hanya membunuh Yesus, mereka juga ingin membasmi semua yang percaya akan namaNya.  Sampai-sampai Gamaliel, salah satu Guru Yahudi yang masih &#8220;waras&#8221; mengingatkan mereka: bisa jadi mereka akan melawan Allah, bukan bekerja demi Allah kalau mereka terus-menerus mengejar dan membungkam pengikut Yesus.<br /> <br />Dari sini jelas, bahwa mereka memang bersalah.  Para imam bersalah telak!  Nah, kalau dihubungkan dengan para imam (Katolik) sekarang, benar bahwa mereka bisa berbuat salah.  Yang tidak dapat salah hanyalah Paus, itu pun hanya dalam mengajar moral dan iman. amun demikian,  bukan berarti bahwa Imam tidak boleh mengajar.  Banyak imam yang bisa salah, banyak pula yang bisa benar dan lurus hari serta jernih pikirannya.  Maka, kita tida boleh memukur rata.  Kita mesti bijaksana dalam menyikapinya. Sama seperti Pak Polisi yang sekarang ini dituduh sebagai bukan pengayom masyarakat, namun kita dapat juga melihat banyak polisi yang sangat baik dan melindungi masyarakat.   Oleh sebab itu, kita diajak untuk makin bijaksana dalam memandang kuara mengajar imam, sama seperti kita memandang kuasa polisi, atau malah kuasa kita masing-masing dalam pekerjaan atau pun rumah tangga.  Kita bisa salah, tetapi bisa juga berbuat yang benar.<br /> <br />Demikian, semoga dapat memberikan pencerahan.</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wajibkah membayar persepuluhan?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/wajibkah-membayar-persepuluhan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 15:57:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kitab Suci]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/wajibkah-membayar-persepuluhan/</guid>

					<description><![CDATA[a.  Persoalannya Salah satu masalah yang selalu up to date dan membingungkan banyak orang  Katolik, dan juga para katekumen adalah soal membayar persepuluhan, yakni penyerahan 10% dari penghasilan seseorang kepada Gereja. Persepuluhan tersebut dipakai untuk macam-macam keperluan Gereja, seperti pembangunan dan pemeliharaan gedung gereja, penghidupan para petugasnya, dsb. Membayar persepuluhan itu baik-baik saja. Akan tetapi ... <a title="Wajibkah membayar persepuluhan?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/wajibkah-membayar-persepuluhan/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Wajibkah membayar persepuluhan?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>a.  Persoalannya</strong></p>
<p></p>
<div align="justify">Salah satu masalah yang selalu up to date dan membingungkan banyak orang  Katolik, dan juga para katekumen adalah soal membayar persepuluhan, yakni penyerahan 10% dari penghasilan seseorang kepada Gereja. Persepuluhan tersebut dipakai untuk macam-macam keperluan Gereja, seperti pembangunan dan pemeliharaan gedung gereja, penghidupan para petugasnya, dsb. Membayar persepuluhan itu baik-baik saja. Akan tetapi masalah terletak pada soal wajib atau tidaknya hal itu. Hampir semua Gereja Kristen mewajibkannya. Mengapa Gereja Katolik tidak?</div>
<div align="justify">Mereka yang menganggap persepuluhan itu wajib biasanya mengajukan dua pendasaran berikut ini: <br />     <br />Yang pertama, Kej 14:17-24 dalam hubungannya dengan Ibr 7:1-28 dan Gal 3:7.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Menurut Kej 14:17-24 sepulang Abraham dari perang, ia disambut dan diberkati oleh Melkisedek, raja Salem yang juga seorang Imam. Lalu Abraham membayar kepadanya persepuluhan dari semuanya. Kejadian yang sama diceriterakan dalam Ibr 7:4.   Menurut Ibr 7:16 Kristus adalah imam menurut peraturan Melkisedek sedangkan menurut Gal 3:7 kita adalah anak-anak Abraham. Oleh karena itu, sebagaimana Abraham mambayar persepuluhan kepada imam Melkisedek, demikian juga kita wajib membayar persepuluhan kepada Imam Agung Kristus. Untuk jelasnya, kami ringkas jalan pemikiran diatas sebagai berikut: </div>
<p></p>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td>Abraham</td>
<td> &#8211;  </td>
<td>membayar persepuluhan kepada </td>
<td> &#8211;  </td>
<td>Melkisedek (Kej 14) </td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>Kita sebagai anak-anak Abraham (Gal 3:7) </p>
</td>
<td> &#8211;</td>
<td>membayar persepuluhan kepada</td>
<td> &#8211;</td>
<td>Kristus sebagai Imam menurut cara Melkisedek (Ibr 7) </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>  </p>
<div align="justify">Bagaimana caranya? Melalui Gereja-Nya dan dalam hal ini melalui dan kepada para pemimpin jemaat.</div>
<div align="justify">Selanjutnya dikatakan bahwa kisah Abraham dan Melkisedek yang menjadi dasar hukum untuk persepuluhan itu terjadi pada masa sebelum Musa.  Maka persepuluhan itu termasuk “Hukum Abraham”. Sebagai konsekuensinya, biarpun hukum Taurat tidak berlaku lagi bagi umat Kristen karena sudah disempurnakan oleh hukum Kristus, hukum persepuluhan itu tetap berlaku.  Mengapa? Sebab hukum itu diturunkan jauh sebelum hukum Taurat sendiri diturunkan lewat Musa di Gunung Sinai.<br />     <br />Yang kedua, Kristus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, atas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dari hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”(Mat 23:23)</div>
<p>&nbsp;</p>
<div align="justify"><strong>b. Tanggapan kita </strong></div>
<p align="justify">Terhadap pendasaran yang pertama di atas, kita dapat mengajukan beberapa sanggahan. Pertama-tama, sulit bagi kita untuk menerima pembedaan antara Taurat Musa (yang sudah digantikan oleh hukum Kristus) dan hukum Abraham (yang masih berlaku untuk umat Perjanjian Baru). Kalau Perjanjian Baru mengatakan bahwa hukum Taurat sudah berakhir dengan Yohanes (Luk 16:16 dll), yang dimaksud adalah kelima kitab pertama Perjanjian Lama, yakni Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan.</p>
<p align="justify">Jadi, apabila dalam Luk 16:16 Yesus bersabda: “Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes,” yang dimaksudkan di situ adalah penyempurnaan dan penggantian hukum Taurat dalam arti luas, yakni (a) kelima kitab pertama Perjanjian Lama dan (b) kitab para nabi.  Maka dari itu juga kisah Abraham dan Melkisedek yang terdapat dalam kitab Kejadian sudah digantikan oleh hukum Perjanjian Baru.</p>
<p align="justify">Selanjutnya, andaikan benar bahwa membayar persepuluhan itu berasal dari “hukum Abraham” dan bukan dari hukum Musa seperti yang dikemukakan banyak orang, kita masih bisa memberikan keberatan sebagai berikut.</p>
<p align="justify">Menurut pendapat yang kami paparkan di atas, membayar persepuluhan itu wajib bagi setiap orang Kristen karena kita adalah anak-anak Abraham. Tetapi dapatkah tafsiran tersebut dibenarkan? </p>
<p align="justify">Ada dua hal yang menjadi keberatan kita:</p>
<p align="justify">a.  Seandainya cara menafsir Kej 14:17-24 dengan dihubungkan dengan Ibr 7:1-28 dan Gal 3:7 itu dapat kita terima, kita bisa berkesimpulan bahwa sebagian besar dari orang Kristen tidak perlu membayar persepuluhan. Mengapa? Sebab yang diberikan Abraham kepada imam Melkisedek hanyalah 10% dari semua rampasan perang yang diperolehnya (Ibr 7:4), dan bukan 10% dari seluruh penghasilannya. Apa yang dilakukan Abraham hanyalah hukum internasional yang berlaku pada waktu itu: raja pemenang harus membagi hasil rampasan perang dengan raja-raja sekutunya. Jadi, kalau orang tidak berperang dan tidak memperoleh rampasan perang, ya tidak ada juga kewajiban membayar persepuluhan, bukan? Jelas, kisah Abraham bukanlah dasar untuk persepuluhan.</p>
<p align="justify">b.  Tafsiran di atas menggabungkan dua atau tiga teks Alkitab begitu saja tanpa memperhatikan konteks masing-masing. Dan hal ini tidak jarang menyesatkan. Mengapa orang lari ke Gal 3:7 yang berbicara tentang orang-orang Kristen sebagai anak-anak Abraham? Seandainya kita bebas mencari hubungan antar ayat tanpa pendasaran yang kuat, mengapa tidak mencari ayat lain yang membuktikan bahwa persepuluhan itu tidak wajib? Bagaimana? Dengan jalan mencari ayat yang menempatkan kita pada pihak Kristus (di lajur sebelah kanan) dan bukan pada pihak Abraham (di lajur sebelah kiri)? Sebagai contoh: bukankah 1 Kor 3:23 mengatakan bahwa kita adalah milik Kristus? Atau bukankah menurut 1 Ptr 2:4.9 kita adalah bangsa Imami sebab kita ambil bagian dalam imamat Kristus? Jika demikian bukankah kita yang seharusnya menerima persepuluhan dari Abraham dan orang-orang Yahudi keturunannya? Jelas logika semacam itu tidak bisa diterima. Begitu juga logika yang dipakai oleh banyak orang mengenai kewajiban membayar persepuluhan seperti diuraikan di atas.</p>
<p> </p>
<p align="justify">Lebih sulit rasanya memberikan tanggapan terhadap pendasaran yang kedua. Teks Mat 23:23 memberi kesan seakan-akan Yesus menyatakan bahwa pembayaran persepuluhan itu “harus dilakukan” oleh para pengikut-Nya tanpa mengabaikan hal-hal lain yang lebih penting, yakni menjalankan keadilan, belaskasihan dan kesetiaan. Namun bila kita pelajari secara lebih mendalam, kita dapat mengajukan keberatan-keberatan berikut ini.</p>
<p align="justify">Pertama, di sini Yesus tidak berbicara tentang kewajiban orang-orang Kristen, tetapi tentang kewajiban dan praktek hidup orang-orang Farisi.  Jadi ketika Yesus berkata “yang satu [=membayar persepuluhan] harus dilakukan, yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23), Ia sebenarnya cuma berkata kepada para lawan-Nya: “yang satu harus kamu lakukan, yang lain jangan kamu abaikan.”</p>
<p align="justify">Kedua, Yesus sedang mengecam kemunafikan dan kesesatan orang-orang Farisi. Untuk itu Ia hanya masuk ke dalam cara berpikir mereka sambil mengoreksi kekeliruan mereka tanpa menarik kesimpulan apa-apa untuk tata tertib orang-orang Kristen. Coba kita bandingkan dengan ucapan Yesus pada ayat-ayat sebelumnya, yakni ay. 16-22. Di situ Yesus hanya mengikuti cara berpikir orang-orang Farisi tentang sumpah, dan mengoreksi kekeliruannya. Ia berkata: “Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak diatasnya” (ay 20). Dengan ucapan itu Yesus tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa para pengikut-Nya mesti bersumpah demi mezbah dan segala sesuatu yang terletak di atasnya!</p>
<p align="justify">Ketiga, ada petunjuk lain yang dapat mendukung pendapat di atas. Persepuluhan yang dibicarakan Yesus adalah persepuluhan dalam arti khusus, artinya, persepuluhan yang dipraktekkan oleh kaum Farisi dan ahli Taurat saja. Mereka itu membayar persepuluhan atas selasih, adas manis dan jintan. Praktek ini menurut beberapa penafsir merupakan penerapan hukum persepuluhan (Im 27:30) secara berlebih-lebihan. Sebenarnya yang dikenai hukum persepuluhan hanyalah tanam-tanaman yang besar saja dan tidak termasuk tumbuh-tumbuhan yang begitu kecil dan tak berharga. Jika tafsiran mereka itu benar, maka menjadi semakin jelas bahwa pada Mat 23:23 Yesus hanya memasuki dunia keagamaan orang Farisi (yang kadang-kadang terlalu mendetil secara kekanak-kanakan). Yesus sebenarnya tidak mengecam praktek semacam itu. Bukankah praktek itu menunjukkan juga semangat keagamaan yang besar? Akan tetapi, sebaliknya Yesus tidak juga menganjurkan praktek yang serupa untuk orang-orang Kristen. </p>
<p align="justify">Keempat, dalam Perjanjian Baru atau Gereja Rasuli tidak ada berita tentang wajibnya membayar persepuluhan. Seandainya hal itu sangat penting dan wajib, mengapa tidak ada bekasnya sama sekali dalam tulisan Perjanjian Baru? Cukup menarik untuk dicatat di sini bahwa Origenes dan Ireneus, dua penulis besar yang hidup pada  zaman yang masih cukup dekat dengan zaman para rasul, berbicara dengan nada agak meremehkan persepuluhan, seakan-akan kewajiban membayar persepuluhan itu bertentangan dengan semangat memberi dengan sukarela yang seharusnya dimiliki orang-orang Kristen. Akhirnya, bukankah Yesus sendiri dalam Mat 23:23 menyatakan bahwa ada banyak hal yang lebih penting daripada pembayaran persepuluhan?</p>
<p align="justify">Memang harus diakui, Konsili Trente pernah mewajibkan pembayaran persepuluhan itu bagi umat Katolik. Namun tidak pernah Gereja Katolik menganggap kewajiban itu sebagai hukum Alkitab dalam arti tegas. Kini praktek Gereja Katolik lebih menekankan sumbangan suka rela seperti yang ditekankan dalam 2 Kor 9:7, “Hendaknya masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Dengan macam-macam cara (sumbangan/pengumpulan dana sukarela di dalam maupun di luar ibadat) umat Katolik ambil bagian dalam pembangunan gereja, pemeliharaan gedung gereja, pemeliharaan hidup para petugas Gereja, dll.</p>
<p><strong>c. Makna Ibr 7 menurut konteksnya</strong></p>
<p>Arti Ibr 7 dalam konteksnya perlu disinggung di sini supaya lebih jelas mengapa kita tidak bisa memakainya sebagai dasar untuk persepuluhan. Surat kepada orang-orang Ibrani bermaksud mewartakan keagungan Kristus di atas semua tokoh Perjanjian Lama. Yesus Kristus itu lebih tinggi/agung daripada:</p>
<p align="justify">&#8211;    Segala nabi Perjanjian Lama (1:1)</p>
<p align="justify">&#8211;    Para malaikat (1:4-14), sehingga pewartaan-Nya patut mendapat perhatian yang lebih serius daripada pewartaan Perjanjian Lama, (2:1-15) maupun Musa (3:1-6)</p>
<p align="justify">&#8211;    Para Imam (agung) Perjanjian Lama.</p>
<p>Namun sebagian besar surat Ibrani ingin menerangkan butir yang disebut terakhir, yakni keagungan Kristus di atas para imam (agung) Perjanjian Lama. Apa buktinya? Banyak. Salah satunya ialah karena imamat Kristus itu imamat yang baru, imamat menurut cara Melkisedek, bukan imamat menurut cara Harun/Lewi. Dari fakta bahwa ada imamat baru, kita bisa menyimpulkan bahwa imamat yang lama tidak berhasil menjalankan tugasnya, seperti ada tertulis: “Karena itu, andaikata oleh imamat Lewi telah tercapai kesempurnaan – sebab karena imamat itu umat Israel telah menerima Taurat – apakah sebabnya masih perlu seorang lain yang ditetapkan menjadi imam besar menurut peraturan Melkisedek dan yang tentang Dia tidak dikatakan menurut peraturan Harun?” (7:11). Setelah itu, diterangkan mengapa imamat Melkisedek lebih agung daripada imamat Harun/Lewi? Jawabannya ditemukan dalam fakta bahwa Melkisedek itu memberkati Abraham dan menerima persepuluhan dari Abraham, padahal menurut penulis Ibrani,  hanya orang yang lebih besar yang dapat memberkati orang yang lebih kecil (7:7) dan hanya orang yang lebih besar yang menerima persepuluhan dari orang yang lebih kecil (7:4). Oleh karena itu, para imam Perjanjian Lama yang sudah terkandung dalam tubuh Abraham adalah lebih rendah daripada Melkisedek, seperti ada tertulis dalam Ibr 7:9, “ Maka dapatlah dikatakan bahwa dengan perantaraan Abraham dipungut juga persepuluhan dari Lewi, yang berhak menerima persepuluhan, sebab ia masih berada dalam tubuh bapa leluhurnya, ketika Melkisedek menyongsong bapa leluhurnya.” Karena para imam dan imamat Perjanjian Lama itu lebih rendah daripada Melkisedek dan imamatnya, maka para imam Perjanjian Lama dan imamat mereka pun lebih rendah daripada imamat Kristus. Mengapa? Sebab Kristus adalah Imam Agung menurut peraturan Melkisedek. Begitulah cara berpikir Surat kepada orang-orang Ibrani. Tidak lebih dari itu. Dengan kata lain, bukan maksud penulis Ibrani untuk membuktikan wajibnya orang-orang Kristen membayar persepuluhan kepada Kristus atau kepada Gereja-Nya. Perhatikan bahwa logika penulis surat itu berhenti pada pembuktian bahwa imamat Kristus itu lebih besar daripada imamat Perjanjian Lama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><font face="times new roman,times">Sumber: Buku Tanya Jawab Pengetahuan (minimum) Hidup Menggereja, disusun oleh Johanes K. Handoko, Ketua Panitia Perayaan 30 Tahun Gereja Katolik Trinitas, Paroki Cengkareng, 2008</font></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa diperlukan Magisterium?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/mengapa-diperlukan-magisterium/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 15:49:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kitab Suci]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/mengapa-diperlukan-magisterium/</guid>

					<description><![CDATA[Bukan suatu rahasia bahwa Kitab Suci itu bukanlah suatu buku yang mudah. Sebaliknyalah, harus kita akui bahwa seringkali kita frustasi karena tidak mampu memahami perikop atau ayat-ayat tertentu. Banyak sekali ayat yang ditulis ribuan tahun yang lalu yang tidak dapat kita pahami lagi. Jarak yang memisahkan kita dari dunia Kitab Suci terlalu jauh. Tetapi bahkan ... <a title="Mengapa diperlukan Magisterium?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/mengapa-diperlukan-magisterium/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Mengapa diperlukan Magisterium?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Bukan suatu rahasia bahwa Kitab Suci itu bukanlah suatu buku yang mudah. Sebaliknyalah, harus kita akui bahwa seringkali kita frustasi karena tidak mampu memahami perikop atau ayat-ayat tertentu. Banyak sekali ayat yang ditulis ribuan tahun yang lalu yang tidak dapat kita pahami lagi. Jarak yang memisahkan kita dari dunia Kitab Suci terlalu jauh. Tetapi bahkan pada zaman para rasul sendiri pun ada kesukaran semacam itu. Misalnya, dianggap sukar, seperti tertulis dalam 2 Ptr 3:16: “Dalam suratnya- suratnya (Paulus) itu ada hal-hal yang sukar dipahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.”<br />     </div>
<div align="justify">Justru karena kesukaran inilah maka dalam surat yang sama kita temukan nasihat ini: “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” (2 Ptr 1:20-21)<br />     </div>
<div align="justify">Jadi menafsir Kitab Suci itu tidak boleh seenaknya. Hal itu bisa mendatangkan kebinasaan bagi diri sendiri (2 Ptr 3:16). Pada kenyataannya, satu bab yang sama bahkan satu ayat yang sama dapat ditafsirkan secara berbeda-beda, bahkan kadang-kadang bertentangan. Orang yang satu bisa merasa terdorong oleh Roh Kudus untuk menafsirkan ayat tertentu secara demikian. Sedangkan orang lain yang sama-sama merasa terdorong oleh Roh Kudus, mempunyai tafsiran yang bertentangan atas ayat yang sama itu. Contoh lain, orang yang satu menganggap Sabda Yesus, “Ambilah, makanlah, inilah tubuh-KU” (Mat 26:26), sebagai lambang belaka, sedang yang lain berpendapat bahwa ucapan itu mesti diartikan apa adanya, artinya bahwa Yesus menjanjikan kehadiran-Nya secara nyata dalam roti dan anggur. Contoh lain lagi, sesudah kebangkitan-Nya Yesus bersabda kepada para rasul, ‘Terimalah Roh Kudus, jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:23). Ada orang yang menafsirkan ucapan itu sebagai mandat kepada para rasul saja, sedang orang lain menganggap bahwa mandat itu diberikan kepada para rasul dan kepada semua pengganti mereka di sepanjang zaman.<br />    </div>
<div align="justify"> Kalau begitu siapa yang benar? Terpecah-pecahkah Roh Kudus yang mengilhami para penafsir tersebut? Ataukah semua tafsiran tersebut benar? Tentunya tidak demikian. Kalau begitu, bagaimana kita bisa mengetahui tafsiran yang benar? Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa ayat tertentu itu mengandung arti simbolis atau kiasan belaka dan bukan arti harafiahnya? Kapan kita bisa mengatakan bahwa suatu perintah Yesus hanya berlaku untuk para rasul-Nya saja dua ribu tahun yang lalu dan kapan perintah-Nya itu berlaku untuk semua pengikut-Nya di segala tempat dan zaman.? Disinilah letak masalahnya. Gereja Katolik percaya bahwa kuasa menafsir Kitab Suci secara resmi dan benar ada di tangan Magisterium dengan pendasaran sebagai berikut:  Sabda Allah itu perlu diteruskan dengan setia kepada umat manusia di segala tempat dan di segala zaman. Oleh karena itu diperlukan Gereja Kristus untuk menjaga harta iman. Untuk tujuan inilah maka ada pimpinan suci dalam Gereja. Pimpinan Gereja inilah yang  mempunyai Kuasa Mengajar yang disebut Magisterium. Mereka itulah yang mendapat bimbingan khusus dari Roh Kudus untuk memelihara dan menafsir Sabda Allah secara benar.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"> </div>
<p><font face="times new roman,times">Sumber: Buku Tanya Jawab Pengetahuan (minimum) Hidup Menggereja, disusun oleh Johanes K. Handoko, Ketua Panitia Perayaan 30 Tahun Gereja Katolik Trinitas, Paroki Cengkareng, 2008</font></p>
<div align="justify"><font face="times new roman,times"> </font></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Manakah tafsiran pribadi yang ditolak Gereja?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/manakah-tafsiran-pribadi-yang-ditolak-gereja/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 15:47:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kitab Suci]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/manakah-tafsiran-pribadi-yang-ditolak-gereja/</guid>

					<description><![CDATA[Jawabannya adalah tafsiran yang bertentangan dengan pokok iman yang harus dipelihara oleh Gereja. Jadi, jika seseorang misalnya berpendapat bahwa roti dan anggur di dalam Sakramen Ekaristi tidak sungguh-sungguh diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus, melainkan tetap roti dan anggur biasa dan hanya berfungsi sebagai lambang belaka dari kehadiran Yesus, maka Kuasa Mengajar Gereja berwenang menyatakan ... <a title="Manakah tafsiran pribadi yang ditolak Gereja?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/manakah-tafsiran-pribadi-yang-ditolak-gereja/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Manakah tafsiran pribadi yang ditolak Gereja?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Jawabannya adalah tafsiran yang bertentangan dengan pokok iman yang harus dipelihara oleh Gereja. Jadi, jika seseorang misalnya berpendapat bahwa roti dan anggur di dalam Sakramen Ekaristi tidak sungguh-sungguh diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus, melainkan tetap roti dan anggur biasa dan hanya berfungsi sebagai lambang belaka dari kehadiran Yesus, maka Kuasa Mengajar Gereja berwenang menyatakan bahwa tafsiran itu perlu ditarik kembali.</div>
<p>&nbsp;</p>
<p> <font face="times new roman,times">Sumber: Buku Tanya Jawab Pengetahuan (minimum) Hidup Menggereja, disusun oleh Johanes K. Handoko, Ketua Panitia Perayaan 30 Tahun Gereja Katolik Trinitas, Paroki Cengkareng, 2008</font></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bolehkah menafsir Kitab Suci secara pribadi?</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/bolehkah-menafsir-kitab-suci-secara-pribadi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 15:46:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kitab Suci]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/bolehkah-menafsir-kitab-suci-secara-pribadi/</guid>

					<description><![CDATA[Kadang- kadang Gereja Katolik dikritik karena sangat membatasi penafsiran Kitab Suci secara pribadi. Apa yang ditulis oleh G.W Bromiley patut kita kutip di sini: “Bagi mereka (Roma Katolik) Firman Allah adalah kaidah yang mutlak.  Segala tafsiran dari orang–perseorangan ditolak …… Siapakah yang dapat menafsirkan Kitab Suci ? Jawaban Roma Katolik adalah, bahwa Kitab Suci terlalu ... <a title="Bolehkah menafsir Kitab Suci secara pribadi?" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/bolehkah-menafsir-kitab-suci-secara-pribadi/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Bolehkah menafsir Kitab Suci secara pribadi?">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">Kadang- kadang Gereja Katolik dikritik karena sangat membatasi penafsiran Kitab Suci secara pribadi. Apa yang ditulis oleh G.W Bromiley patut kita kutip di sini: “Bagi mereka (Roma Katolik) Firman Allah adalah kaidah yang mutlak.  Segala tafsiran dari orang–perseorangan ditolak …… Siapakah yang dapat menafsirkan Kitab Suci ? Jawaban Roma Katolik adalah, bahwa Kitab Suci terlalu sukar sehingga diperlukan arti manakah yang tepat.” <br />    </div>
<div align="justify"> Ucapan ini memang ada benarnya, lebih-lebih pada masa yang silam, sebelum tahun 1965. Sebagai akibat dari kekuatiran akan penafsiran pribadi yang terlalu bebas, Gereja Katolik sejak Konsili Trente membatasi pembacaan Kitab Suci oleh kaum awam. Namun sekarang sudah banyak berubah sejak adanya angin baru yang menghembusi Konsili Vatikan II. Akan tetapi, bahkan dengan catatan di atas pun pernyataan Bromily tidak seluruhnya benar. Sebelum Konsili Vatikan II pun pembacaan dan penafsiran Kitab Suci sebenarnya tidak dilarang bagi mereka yang mengenal seluk-beluk Kitab Suci. Jadi, tidak setiap penafsiran pribadi ditolak, seperti yang dikatakan Bromily. Hanya saja, memang benar bahwa menurut keyakinan Gereja Katolik yang pada akhirnya mempunyai wewenang untuk menafsir Kitab Suci secara resmi dan tidak dapat sesat adalah Kuasa Mengajar Gereja atau yang kita sebut “Magisterium.”  Magisterium adalah Paus dan persatuan dengan semua Uskup yang menjadi pewaris sah kuasa Petrus dan para rasul. Dalam Konstitusi Dei Verbum art. 12, Konsili Vatikan II menegaskan kembali mengenai hal ini:  “Semua hal sekitar penafsiran Kitab Suci ini akhirnya harus tunduk kepada penilaian Gereja, yang menjalankan perintah dan tugas ilahi untuk memelihara dan menafsirkan sabda Allah.”</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"> </div>
<p><font face="times new roman,times">Sumber: Buku Tanya Jawab Pengetahuan (minimum) Hidup Menggereja, disusun oleh Johanes K. Handoko, Ketua Panitia Perayaan 30 Tahun Gereja Katolik Trinitas, Paroki Cengkareng, 2008</font></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
