:

Penuntun Menuju Jawaban

Judul Buku: Yesus Mengajukan Tujuh Pertanyaan Pokok Penulis: Willem Daia, Pr Penerbit: Surya Perkasa Tahun Terbit: 2010 Tebal Buku: 191 halaman Bayangkanlah diri Anda sedang berada di hadapan Yesus.  Tanpa Anda duga, tiba-tiba Yesus mengajukan 7 pertanyaan kepada Anda.  Pertanyaan-pertanyaan itu adalah: “Apakah yang kamu cari?” ; “Apa yagn kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” … Read more

The Enchanted Well, Petikan Wawancara Dengan Surya Candra

Luar biasa!! Itulah yang tertangkap dalam benak kami, setelah menonton pementasan teater “Enchanted Well”, hasil buah karya anak-anak muda Trinitas atau dikenal dengan sebutan Laskar Trinitas (Lastri) pada tanggal 05 Desember 2010 di Graha Bakti Budaya – Taman Ismail Marzuki, Cikini. Di tengah-tengah arus dunia remaja saat ini yang sudah terbawa oleh tekhnologi dunia maya, ternyata masih ada sekelompok anak muda Trinitas yang mau bekerja seni murni. Dikatakan seni murni karena mereka tidak menerima imbalan apapun atas karya mereka, namun bahkan Uniknya, apa yang mereka lakukan ini semata-mata mereka persembahkan untuk penggalangan dana bagi pembangunan gereja Sta. Maria Imakulata. Bahkan seluruh hasil keuntungan pementasan ini mereka sumbangkan kepada Panitia Pembangunan Gereja (PPG).

Tim Redaksi Sabitah yang berkesempatan hadir pada pementasan pertama pada pkl.14.00 (ada 2 kali pementasan pkl.14.00 dan 19.00),  turut pula merasakan aura semangat anak-anak muda yang berani mempersembahkan talenta mereka lewat teater ini. Dan juga berkesempatan mengadakan wawancara dengan Sdr. Surya Candra, yang adalah sutradara dari kelompok teater ini. Berikut cuplikannya:

Read more

Apa Dasar Ajaran Maria Imakulata?

Maria Imakulata atau Maria Dikandung Tanpa Noda ini berarti Maria, tidak seperti mahluk insani lain mana pun, dikandung tanpa noda dosa asal.  Kata Inggris “Immaculate” berasal dari kata Latin “Immaculata” yang berarti “Tanpa Noda”.  Seperti kita tahu, dosa asal yang dilakukan Adam dan Hawa mempengaruhi semua keturunan mereka, sehingga setiap orang dikandung dalam keadaan dosa asal.  Pada dasarnya, dosa asal ini menimpa setiap jiwa, dan dengan demikian setiap jiwa kehilangan rahmat pengudus; artinya, kehilangan hak untu ambil bagian dalam kehidupan dan kodrat Allah sendiri.  Untuk memulihkan keadaan rahmat pengudus inilah kita dibaptis.

Read more

Lingkaran Adven: Lambang dan Maknanya

Pada Masa Adven, banyak keluarga memasang Lingkaran Adven di rumah mereka. Selain hiasan-hiasannya yang tampak semarak serta membangkitkan semangat, ada banyak sekali lambang yang terkandung di dalamnya yang belum diketahui banyak orang.

Pertama, karangan tersebut selalu berbentuk lingkaran. Karena lingkaran tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir, maka lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.

Lingkaran Adven selalu dibuat dari daun-daun Evergreen. Dahan-dahan Evergreen, sama seperti namanya “ever green” – senantiasa hijau, senantiasa hidup. Evergreen melambangkan Kristus, Yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tanpa akhir bagi kita. Tampak tersembul di antara daun-daun Evergreen yang hijau adalah buah-buah beri merah. Buah-buah itu serupa tetesan-tetesan darah, lambang darah yang dicurahkan oleh Kristus demi umat manusia. Buah-buah itu mengingatkan kita bahwa Kristus datang ke dunia untuk wafat bagi kita dan dengan demikian menebus kita. Oleh karena Darah-Nya yang tercurah itu, kita beroleh hidup yang kekal.

Read more

NOVENA SANTA MARIA IMAKULATA

Kita semua sungguh merindukan mulai berlangsungnya pembangunan Gereja Santa Maria Imakulata.  Maka marilah kita bersama iringi segala jerih usaha mereka yang terlibat dalam proyek besar ini dengan turut ambil bagian dalam NOVENA SANTA MARIA IMAKULATA yang dilakukan secara pribadi maupun berkelompok (Lingkungan/Wilayah).

Novena dimulai Senin, 29 November s/d Selasa, 07 Desember 2010.  Intensi khusus Novena ini adalah untuk memohon penyertaan dan perlindungan Tuhan terhadap proses pembangunan Gereja Santa Maria Imakulata, agar dapat berjalan dengan lancar dan  dibebasakan dari segala niat yang jahat.  Novena ini akan dimahkotai dengan Perayaan Misa Syukur di Paroki Trinitas, Cengkareng, pada Rabu, 08 Desember 2010 pkl. 19.00, bertepatan dengan Hari Raya Sta. Maria Imakulata.  Berdoalah dengan tak jemu-jemu, karena Tuhan kita adalah Yang Maha Mendengarkan.  (Dewan Paroki Trinitas, Cengkareng)

Leaflet Doa Novena Santa Maria Imakulata:

Read more

Paroki Santa Maria Regina (Bintaro Jaya)

Paroki ke-61 di Keuskupan Agung Jakarta diresmikan oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo Pr Minggu, 22 Agustus 2010 Stasi Santa Maria Regina ditetapkan sebagai Paroki Santa Maria Regina oleh Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo Pr dalam Perayaan Ekaristi yang dihadiri umat SanMaRe pada hari Minggu, 22 Agustus 2010. Rasa syukur dan ucapan selamat … Read more

Romo Yohanes Damianus, OMI: “Prodiakon Bukan Supermen dan Superwomen…”

Romo Yohanes Damianus, OMI memang bukan salah seorang Romo yang sedang berkarya di Paroki Trinitas, Cengkareng, tetapi keberadaannya di Cengkareng selama pengobatan luka tembaknya membawa Romo Dami – begitu Beliau biasa disapa – untuk beberapa saat ikut masuk dalam karya pelayanan jajaran para Romo OMI yang ada di Cengkareng.  Banyak kehidupan menggereja yang diamati Romo Dami selama membantu karya para imam di Cengkareng.  Sabitah mencoba sedikit bertanya-jawab dengan Romo Dami tentang Prodiakon di Paroki Trinitas, Cengkareng.

Definisi Prodiakon?

“Berdasarkan pandangan pribadi saya, Prodiakon berasal dari penggabungan dua kata yakni ‘Pro’ dan ‘Diakon’. ‘Pro’ menunjuk pada suatu keterlibatan dan keterkaitan dengan suatu figur tertentu dan atau tugas tertentu. Sedangkan ‘Diakon’ berarti pelayanan, yang dalam hal ini konteksnya adalah pelayan Gerejawi. Maka Prodiakon menunjuk pada seorang pelayan yang terlibat dan terkait dengan figur tertentu – yaitu Yesus Kristus – untuk bersamaNya masuk dalam tugas pelayanan Gerejawi.  Tentu saja pelayanan Gerejawi itu seluas dunia sifatnya, karena memang cita-cita Gereja adalah Gereja yang sungguh-sungguh terlibat dengan persoalan dan kemaslahatan dunia. Di sinilah perlu pembatasan ruang pelayanan bagi semua petugas pelayanan Gereja, termasuk juga bagi para Prodiakon.”

Maksud Pembatasan Ruang Pelayanan?

“Sebenarnya masing-masing Keuskupan atau juga di dalam suatu negara akan ada penentuan dari batas-batas pelayanan atau kewenangan yang boleh dilakukan oleh para pelayannya – biasanya kita kenal dengan hirarki. Pembatasan ini dimaksudkan agar ada fokus dalam melayani dan tidak saling tumpang tindih  dalam mengatur dan melaksanakan pelayanannya. Maka, semua orang yang masuk dalam Dewan Paroki dan semua Kelompok Kategorial, baik di tingkat Paroki, Keuskupan setempat ataupun di tingkat internasional, mestinya ada pengaturan batas pelayanan ini agar pelayanan dilakukan sungguh-sungguh dan tidak terjadi tumpang tindih, tapi berlaku seperti yang diungkapkan St. Paulus: Bagaikan anggota tubuh yang saling melengkapi. Demikianlah halnya juga dengan pelayanan para Prodiakon.  Saya yakin, di setiap Keuskupan dan Paroki yang memang memerlukan pelayanan para Prodiakon sudah disusun pula kerangka kerja atau ‘job description’ yang jelas untuk Prodiakon. Dan saya yakin pula bahwa  paska pemilihan para Prodiakon oleh umat yang kemudian diangkat dan dilantik dengan resmi oleh Gereja untuk pelayanan selama periode tertentu, para Prodiakon ini pasti sudah dibekali dengan berbagai pelatihan dan pembinaan mental dan spiritual yang baik.”

Read more

Gereja dan Simbol

Ibadah di teras

Hari Minggu, Misa jam 08.30 di Gereja Trinitas. Matahari sudah mulai menampakkan wajahnya. Jalan kecil di depan gereja ramai dan padat. Ada yang datang dari Jalan Cendrawasih dan juga Jalan Utama, maka kendaraan berjalan pelan-pelan. Untuk menghindari kejadian itu saya biasanya selalu naik motor ke gereja supaya pulangnya lebih cepat. Saya sering datang ke gereja kurang dari 5 menit sebelum Misa dimulai, malah cenderung terlambat. Kalau sudah begitu, parkiran motor sudah penuh, bahkan di sela-sela parkiran juga sudah sesak.  Saya parkir paling belakang. Untungnya saya selalu pulang duluan, tidak perlu menunggu yang lainnya. Tempat parkir menjadi barometer apakah gereja penuh atau sedikit umat yang datang. Kalau gereja penuh, agak susah mendapatkan kursi, terutama di dalam bangunan gereja. Walau ada satu atau dua kursi yang kosong, tapi agak sungkan juga rasanya untuk masuk ke dalam gereja. “Nggak enak mengganggu yang lain…” Biasanya saya selalu duduk di teras gereja.

Kebanyakan kursi kosong berada di teras. Teras merupakan perpanjangan dari ruang gereja kalau ruangan sudah penuh. Kita masih bisa mengikuti Misa sama seperti umat di dalam ruangan walaupun agak jauh dari Altar. Tetapi dalam hal suasana, tentu ada perbedaan. Dari kursinya saja ada perbedaan… Kalau di dalam gereja, kursinya panjang dan ada tempat berlututnya. Jadi semua tata liturgi dapat kita ikuti.  Sedangkan kalau di teras, kita hanya bisa berdiri dan duduk. Pas giliran berlutut, umat yang di teras hanya duduk saja – walau ada juga terlihat umat yang ikut berlutut juga di lantai.  Secara fisik juga ada perbedaan antara bangunan dalam dengan teras. Plafon di teras tidak tinggi, hanya sekitar 2,5 meter saja. Posisinya  juga sedikit di bawah bangunan inti. Pandangan ke arah Altar agak terhalang oleh tiang-tiang besar yang menyanggah bangunan gereja.  Enaknya duduk di teras adalah udaranya tidak terlalu panas, kita masih bisa merasakan hembusan angin. Asal jangan duduk berhadapan -langsung dengan sinar matahari – dijamin pasti berkeringat.

Selain itu duduk di teras banyak godaannya, sehingga konsentrasi doa sering agak pecah. Ada orang yang lalu lalang di belakang, ada yang datang lebih terlambat dan ada juga anak-anak yang berlarian.  Semuanya itu sudah menjadi pemandangan yang biasa. Itulah konsekuensinya kalau duduk di teras. Misa dapat diikuti sampai akhir tapi pulang dengan perasaan hampa.

Read more

Rahasia-Rahasia Vatikan

Judul Buku: Rahasia-Rahasia Vatikan (Secrets of Vatican)

Penulis: Cyrus Shahrad

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Tahun Terbit: 2009

Tebal Buku: 206 halaman

Vatikan adalah sebuah negara kecil berdaulat yang luasnya hanya kurang dari 1 km2 dan terletak di dalam kota Roma, Italia.  Vatikan yang telah menjadi jantung hidup Katolik selama lebih dari 1500 tahun dipercaya menyimpan begitu banyak rahasia, konspirasi, dan intrik dari salah satu organisasi terkuat di dunia yang memiliki pengikut lebih dari 1 milyar orang.

Dalam buku ini dijelaskan status Vatikan sebagai sebuah monarki absolut terakhir di Eropa dan kemerdekaannya yang unik: Vatican City punya kewarganegaraannya sendiri, punya bendera, perangko, pasukan keamanan bayaran, korps diplomatik, dan sumber penghasilan sendiri.

Cyrus Shahrad sebagai penulis buku ini adalah seorang penulis lepas yang secara rutin memberi kontribusi artikel untuk majalah dan surat kabar nasional di Inggris.  Ketertarikannya pada Katolik muncul saat ia mempelajari Bahasa Inggris di Universitas Cambridge.  Ia lalu mengunjungi Vatikan beberapa kali untuk melakukan riset. 

Beberapa hasil riset yang dikemukakan dalam buku ini antara lain:

1.  Paus Pius XII menyatakan “kesempurnaan kepausan, sebuah doktrin di mana beberapa deklarasi kepausan tertentu, yang disampaikan dalam kondisi-kondisi khusus dianggap tidak mampu untuk menjadi salah.”

2.  Paus Yohanes XXIII meneliti Kitab Injil dan menemukan tidak ada bukti bahwa seorang Paus harus makan sendiri (Paus Pius XII selalu bersantap sendirian).

Read more