Malapetaka bisa datang tiba-tiba ketika kita sedang di puncak kesuksesan. Itulah yang kualami pada April 1994. Aku, Marcilianus Pratomo Putro, saat itu Sutradara Video Klip di TVRI Stasiun Yogyakarta. Menurut para relasi, aku dianggap sutradara terbaik waktu itu. Uang mudah kudapat, hidupku berkelimpahan.Bagaimana dengan kehidupanku menggereja? Aku tak bisa memberi kontribusi apa-apa. Waktuku habis untuk pekerjaan. Terakhir yang masih kuingat, aku pulang dari kerja ketika mentari pagi telah bersinar. Setelah menyiapkan mobil untuk istri tercinta yang akan berangkat kerja, aku pun tidur. Setelah itu, tidak ada lagi yang kuingat!
Ya, peristiwa kecelakaan tragis yang menjadikan aku kehilangan kedua penglihatanku tidak mampu kuingat sama sekali. Ketika itu, kata orangtuaku, dokter yang merawarku sudah angkat tangan. Mengingat kondisiku yang amat parah, mereka yakin ajal akan segera menjemputku. Hanya mukjizat Tuhan-lah yang bisa menyembuhkanku. Kata dokter, kalaupun sembuh, aku akan kehilangan daya ingat dan kemungkinan akan lumpuh seumur hidup.
“Jika Pratomo bisa sembuh, apa pun kondisinya, kami akan merawatnya,” kata ibuku mantap ketika mendengar penegasan dokter. Rupanya Tuhan mengabulkan harapan orangtuaku, aku tetap diperkenankan hidup kendati harus kehilangan penglihatan dan daya ingatku. Sepulang dari rumah sakit, aku dibawa pulang ke desa kelahiranku di pinggiran kota Klaten.
Hidupku Terasa Hancur
Tiga kali aku mencoba bunuh diri, namun selalu gagal. Setiap kaliajal telah menjelang, tiba-tiba aku seperti mendengar suara Andre, “Papa, jangan mati. Nanti Andre tak punya papa lagi…” Suara yang sama selalu terngiang di telingaku setiap kali aku melakukan upaya bunuh diri. Mungkin Tuhan menghalangi upayaku bunuh diri. Namun, di dalam hati justru muncul rasa dendam, sakit hati, dan kecewa yang membara. Muncul niat, aku harus membalas sakit hati. Aku harus menghabisi nyawa istriku, suami barunya, dan orang-orang yang telah membuatku menderita. Kalaupun tidak berhasil mati, biarlah mereka menderita seumur hidup.
Penderitaan Roh-Roh
Aku terkesima. Mengapa Bunda Maria datang padaku? Pada saat itu pula setan-setan datang membujukku agar melanjutkan niatku. Mereka bahkan menawarkan berbagai pusaka dan jimat untuk kekuatan. Emosiku memuncak lagi. Maka kulancarkan santet yang kedua. Ketika mantra-mantra siap kuluncurkan, kagi-kagi muncul seberkas sinar putih. Kali ini tampaklah di depanku Tuhan Yesus, “Jangan lakukan itu!” Dia pun menepuk punggungku, menggandeng tanganku, mengajakku ke suatu tempat, dan aku diberi kesaksian: “Di sinilah mereka yang pada masa hidupnya mempunyai pesugihan, pelarisan, ilmu hitam, kini tinggal,” kataNya.
Mendoakan Arwah Gentayangan
Tuhan Yesus bahkan telah memberi anugerah agar aku bisa menolong sesama yang dibelit berbagai masalah. Jika ada orang sakit datang padaku, maka yang kukerjakan adalah mengantar orang itu agar sampai pada sikap pasrah lahir dan batin. Percaya kepada Tuhan 100% tanpa keraguan sedikit pun. Jika orang itu benar-benar sudah mau pasrah dan percaya, hanya dengan segelas air putih sakitnya sembuh. Bukan aku yang menyembuhkan, tetapi Dia, Sumber segala kesembuhan. Itulah kesaksianku.
Kesaksianku dalam hidup maupun dalam doa. Kekuatan doa yang disertai sikap pasrah dan percaya maka orang sakit apa pun bisa sembuh, arwah gentayangan bisa dimohonkan pengampunan Tuhan dan hidup kekal di Surga. Sayang, kebanyakan orang pasrah dan percaya hanya di mulut dan tidak berani membuktikannya.
Doa bagi arwah gentayangan yang aku lakukan adalah, pertama, memohonkan pengampunan. Kedua, kalau roh masih dalam penantian, mohon kepada Tuhan, sudilah menerima mereka untuk hidup kekal di surga. Ketiga, berdoa Kemuliaan. Setelah kesaksian-kesaksian kulakukan, ada roh yang datang minta tolong. Setelah kudoakan, sang roh pun berterima kasih karena pintu surga terbuka baginya.
Pasien Berdatangan
Aku bukanlah paranormal atau dukun, karena aku tidak pernah mencari pasien. Aku hanyalah orang biasa yang pasrah dan percaya pada Yesus dan Bunda Maria melalui doa-doa. Melalui doa-doa pula aku terus belajar untuk bisa pasrah dan percaya. Untuk itu, setiap kali memulai pekerjaan, aku selalu minta restu pada Sang Bunda dan Tuhan Yesus. Inilah doaku: “Bunda Maria, mohon kasih Bunda. Bunda Maria, aku mohon restu Bunda. Tuhan Yesus, aku mohon berkatMu,” kemudian diikuti doa Kemuliaan.
Itulah rapalan dan mantera yang selalu kuucapkan dengan pasrah dan percaya. Sebaliknya, setiap kali selesai melakukan aktivitas apa pun, aku tidak pernah lupa mengucap syukur, “Bunda Maria, maturnuwun. Tuhan Yesus, maturnuwun.”
Tuhan Yesus juga memberikan karunia padaku untuk melihat peristiwa yang akan terjadi di kemudian hari. Namun, jika hal itu hanya akan membuatku sombong, buat apa? Bukankah kesombongan hanya akan membawa pada kehancuran? Karena aku tidak ingin hancur, maka aku pun tidak mau bersombong diri. Segala yang kumiliki ini semata-mata adalah anugerahNya. Tanpa Dia, aku yang sudah buta ini bisa apa? (seperti yang diceritakan kepada Lucia Indarwati)
Sumber: Majalah Utusan, No. 03/Tahun le-59, Maret 2009


