<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Menyambut Pekan Suci &#8211; Gereja Trinitas</title>
	<atom:link href="https://www.trinitas.or.id/kategori/pra-paskah/menyambut-pekan-suci/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.trinitas.or.id</link>
	<description>Paroki Cengkareng</description>
	<lastBuildDate>Wed, 31 Jan 2024 05:16:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://www.trinitas.or.id/wp-content/uploads/2024/01/cropped-logo@2x-32x32.png</url>
	<title>Menyambut Pekan Suci &#8211; Gereja Trinitas</title>
	<link>https://www.trinitas.or.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Rabu Dalam Pekan Suci</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/rabu-dalam-pekan-suci/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Apr 2009 04:30:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Menyambut Pekan Suci]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/rabu-dalam-pekan-suci/</guid>

					<description><![CDATA[&#160; &#8220;Para murid melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan..&#8221; Bacaan I: Yes 50:4-9aBacaan Injil: Mat 26:14-25 Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: &#8220;Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?&#8221; Jawab Yesus: &#8220;Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan ... <a title="Rabu Dalam Pekan Suci" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/rabu-dalam-pekan-suci/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Rabu Dalam Pekan Suci">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>&#8220;Para murid melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan..&#8221;</strong></p>
<p>Bacaan I: Yes 50:4-9a<br />Bacaan Injil: Mat 26:14-25</p>
<div align="justify">Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: &#8220;Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?&#8221; Jawab Yesus: &#8220;Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.&#8221; Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah. Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu. Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: &#8220;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.&#8221; Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: &#8220;Bukan aku, ya Tuhan?&#8221; Ia menjawab: &#8220;Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.&#8221;Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: &#8220;Bukan aku, ya Rabi?&#8221; Kata Yesus kepadanya: &#8220;Engkau telah mengatakannya.&#8221;(Mat26:17-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.</div>
<p>Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:</p>
<div align="justify">Pada hari terakhir menjelang Trihari Suci ini kepada kita dihadapkan kisah kesibukan para murid untuk mempersiapkan perjamuan Paskah. Paskah bagi orang Yahudi merupakan pesta kenangan akan pembebasan mereka dari Mesir dengan melintasi Laut Merah, pesta pembebasan atau pemerdekaan bangsa. Bagi kita para pengikut Yesus Kristus masa kini, Paskah berarti pesta kenangan akan wafat dan kebangkitan Yesus. Baik Yudas, yang disebut sebagai pengkhianat, serta sebelas rasul lainnya sibuk mempersiapkan Wafat dan Kebangkitan Yesus: sebelas rasul memikirkan apa-apa yang harus dipersiapkan untuk pesta, sedangkan Yudas memikirkan bagaimana menyerahkan Yesus kepada musuh-musuhNya untuk disalibkan. Rasanya kita semua dipanggil untuk mempersiapkan pesta Paskah: apa yang telah dan sedang kita persiapkan? </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Persiapan yang baik adalah membuka hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaga untuk berpartisipasi dalam perayaan Trihari Suci: Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam/Minggu Paskah. Marilah meneladan para murid yang melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka. Tugas utama dari Yesus kepada kita adalah perintah untuk saling mengasihi, maka marilah kita mawas diri apakah kita masih memiliki musuh-musuh, dan jika masih memiliki musuh baiklah berdamai dengan mereka sebelum memasuki Trihari Suci ini, agar kita dapat bersama-sama dengan gairah mempersiapkan pesta Paskah, yang antara lain di malam Paskah kita akan memperbaharui janji baptis kita. Biarlah setelah mengenangkan pesta Paskah nanti kita saling memperhatikan dan membantu dalam menghayati janji baptis: hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja dan menolak semua godaan setan.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">&#8220;Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.&#8221; (Yes50:7). J</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Jika kita berjalan atau melangkah di jalan benar, percayalah bahwa kita akan sampai ke tujuan dengan selamat, meskipun untuk itu di perjalanan harus menghadapi banyak tantangan dan hambatan. Milikilah keteguhan hati dalam perjalanan hidup menghayati panggilan dan melaksanakan tugas pengutusan. “Selama kita memiliki kemauan, keuletan, dan keteguhan hati, besi batangan pun bila digosok terus menerus , pasti akan menjadi sebatang jarum…Miliki keteguhan hati, demikian salah satu motto Bapak Andrie Wongso, Promotor Indonesia. Percayalah bahwa jika kita berjalan di jalan yang benar atau setia pada ujud lurus, aneka tantangan dan hambatan tidak akan mengendorkan semangat dan gairah kita, tetapi justru memperkuat dan meneguhkannya. Tantangan dan hambatan menjadi wahana pemurnian hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita, sehingga kita bersih seutuhnya dan dengan demikian tidak akan mendapat malu. Maka jika kita berjalan di jalan yang benar hendaknya juga tidak perlu malu untuk berbuat baik atau setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Pemalu pada umumnya tidak berbuat apa-apa dan cenderung untuk hidup menyendiri atau mengurung diri, dan dengan demikian semakin kerdil kepribadiannya. Marilah kita imani bahwa Tuhan Allah senantiasa mendampingi perjalanan kita, antara lain menggejala dalam diri sesama kita yang berkehendak baik. Bukankah kita semua berkehendak baik? Marilah kita sinerjikan kehendak baik kita untuk mengusahakan kebahagiaan dan keselamatan kita bersama.</div>
<p align="justify">&#8220;Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur; Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali! Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan.&#8221; (Mzm69:3133-34)</p>
<p align="justify"><em>(ditulis oleh Romo Ignatius Sumarya, SJ) </em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Selasa Dalam Pekan Suci</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/selasa-dalam-pekan-suci/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 03:07:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Menyambut Pekan Suci]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/selasa-dalam-pekan-suci/</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Simon Petrus berkata kepada Yesus: &#8220;Tuhan, ke manakah Engkau pergi?&#8221;  Jawab Yesus: &#8220;Ke tempat Akupergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.&#8221; Kata Petrus kepada-Nya: &#8220;Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!&#8221;  Jawab Yesus: &#8220;Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata  kepadamu: Sebelum ... <a title="Selasa Dalam Pekan Suci" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/selasa-dalam-pekan-suci/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Selasa Dalam Pekan Suci">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Simon Petrus berkata kepada Yesus: &#8220;Tuhan, ke manakah Engkau pergi?&#8221;  Jawab Yesus: &#8220;Ke tempat Aku<br />pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.&#8221; Kata Petrus kepada-Nya: &#8220;Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!&#8221;  Jawab Yesus: &#8220;Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata  kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.&#8221; (Yoh 3:36-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. </p>
<p>Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:</p>
<p>Ketika yang terkasih dalam sakit keras atau menjelang kematian, entah orangtua, kakak/adik, anak atau tokoh atau kenalan penting, pada umumnya dengan spontan orang berjanji kepada yang terkasih seperti kata Petrus kepada Yesus: ”Aku akan memberikan nyawaku bagiMu.”  Kata-kata itu muncul mungkin karena<br />selama ini mereka kurang memperhatikan yang akan segera dipanggil Tuhan.  Apakah kata-kata itu akan menjadi kenyataan alias sungguh akan dihayati kiranya menjadi pertanyaan, sebagaimana tanggapan Yesus terhadap Petrus: “Nyawamu akan kauberikan bagiKu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.&#8221;</p>
<p>Pada hari-hari Pekan Suci ini, setelah kita mawas diri sejak Rabu Abu, mungkin juga tergerak mewujudkan niat-niat atau cita-cita baru dalam hidup beriman atau beragama, sebagai bentuk pertobatan atau pembaharuan diri. Semoga kita tidak gembar-gembor menyombong diri akan berbuat baik, tetapi hendaknya<br />tetap dalam kerendahan hati dalam usaha mewujudkan cita-cita pertobatan atau pembaharuan diri. Ingat dan sadari bahwa rayuan-rayuan atau godaan setan ada di mana-mana dan kapan saja, antara lain berupa bentuk aneka macam kenikmatan duniawi, yang memang dapat menjauhkan diri kita dari Yang Ilahi atau Tuhan. Memang agar kita tidak mudah tergoda untuk ingkar diri terhadap niat atau cita-cita ada baiknya kita minta pendampingan dari sesama dan saudara-saudari kita. Maka baiklah niat atau cita-cita tersebut kita ungkapkan atau sampaikan kepada sesama atau  saudara-saudari kita yang kita nilai dapat mendampingi perjalanan pertobatan atau pembaharuan diri kita. Tentu saja ketika di dalam perjalanan pertobatan atau pembaharuan diri kita menyeleweng dan diingatkan, hendaknya dengan rendah hati menerima peringatan tersebut. </p>
<p>“Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.&#8221; (Yes 49:6), demikian firman Tuhan kepada nabi Yesaya. Firman ini kiranya juga diarahkan kepada kita semua sebagai orang beriman. Sebagaimana nyala lilin kecil dapat menjadi terang bagi<br />lingkungan hidupnya, kiranya agar kita dapat menjadi terang bagi orang lain juga tidak harus mengerjakan hal-hal atau apa-apa yang besar, melainkan yang kecil dan sederhana. Maka hendaknya jika memiliki niat atau ciita-cita pertobatan atau pembaharuan diri bukan dalam hal-hal besar melainkan sederhana dan kecil-kecil saja. Ingatlah bahwa yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari adalah hal-hal kecil dan sederhana, misalnya kebutuhan untuk makan dan minum, tidur atau istirahat maupun bekerja. “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar” (Mat 25:21). </p>
<p>Marilah kita perbaharui diri kita dalam perkara-perkara kecil seperti disiplin waktu, taat para aturan lalu lintas,<br />menjaga kebersihan kamar tidur atau ruang kerja dimana kita tinggal dan bekerja sehari-hari, dst.. Sapaan-sapaan kecil seperti ‘selamat pagi, selamat jalan, terima kasih, dst..’ kiranya juga merupakan bentuk cara menjadi terang bagi sesama dan  saudara-suadari kita. Kepada mereka yang bertugas merawat atau mengurus kendaraan, atau jika kita sendiri mengelola dan mengurus kendaraan, yang setiap hari kita pakai, hendaknya diperhatikan hal-hal kecil seperti: rutin penggantian oli pada waktunya, air pendingin, bahan baker, dst… Ketidak-cermatan atau kurang perawatan dalam perkara-perkara kecil tersebut kiranya akan menimbulkan malapetaka besar. Yang tidak kalah penting adalah memperhatikan anak-anak kecil, lebih-lebih dalam usia balita. Kurang kasih sayang pada usia balita akan menjadi malapetaka masa depan, sebaliknya kasih sayang yang memadai bagi anak-anak balita kiranya ketika mereka menjadi besar akan menjadi ‘terang’ bagi sesama dan saudara-saudarinya. </p>
<p>“Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu.Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku! Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku.Ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik” (Mzm<br />71:1-4a)</p>
<p><em>(ditulis oleh Romo Ignatius Sumarya, SJ) </em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Senin Dalam Pekan Suci</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/senin-dalam-pekan-suci/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 03:27:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Menyambut Pekan Suci]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/senin-dalam-pekan-suci/</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu.”  (Yes 42:1-7; Yoh 12:1-11) “Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak ... <a title="Senin Dalam Pekan Suci" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/senin-dalam-pekan-suci/" aria-label="Baca selengkapnya tentang Senin Dalam Pekan Suci">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div align="justify">&#8220;Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu.”  (Yes 42:1-7; Yoh 12:1-11)</p>
<p>“Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: &#8220;Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?&#8221; Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus: &#8220;Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.&#8221; Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.”(Yoh 2:1-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.<br /> </p>
<p>Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:</p>
<p>Ketika salah satu anggota keluarganya ada yang menderita sakit keras dan ada gejala akan segera dipanggil Tuhan atau meninggal dunia, pada umumnya saudara-saudarinya mulai mempersiapkan apa-apa yang perlu untuk pemakamannya. Bahkan pada masa kini juga ada orang yang telah mempersiapkan ‘tempat/lahan’ makam untuk diri sendiri atau anggota keluarganya, persiapan jika sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Pada umumnya orang mau atau siap sedia membayar mahal apa-apa yang dibutuhkan untuk pemakaman, bahkan sanak saudara atau kenalan dengan spontan dan tanpa diundang juga mempersembahkan sebagian kekayaannya demi (persiapan) pemakaman. Begitulah kiranya yang dilakukan oleh Maria yang “mengambil<br />setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya”.</div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Marilah kita meneladan Maria: mempersembahkan apa-apa yang sangat berharga atau bernilai kepada Tuhan di hari-hari menjelang mengenangkan wafat dan kebangkitan Yesus. Yang paling berharga atau bernilai dari diri kita kiranya hati, maka marilah kita arahkan atau persembahkan hati kita sepenuhnya kepada Tuhan, agar hati kita dikuasaiNya dan dapat meneladan Hati Tuhan, yang antara lain membiarkan Maria untuk mengungkapkan kasih kepadaNya. Mempersembahkan atau mengarahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan berarti secara konkret mengarahkan hati kepada sesama dan saudara-saudari kita tanpa pandang bulu, lebih-lebih dan terutama mereka yang sedang kena musibah atau menderita, lemah lesu dan tidak bergairah atau mereka yang dalam ketakutan menghadapi kematian. Jika secara konkret kita tidak mampu mendatangi, menyapa dan memberi sesuatu kepada mereka, marilah kita doakan mereka; mengarahkan hati kepada Tuhan berarti berdoa. </p>
<p>&#8220;Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara” (Yes 42:6-7) </div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify">Masing-masing dari kita dipanggil oleh Tuhan ‘untuk maksud penyelamatan, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, membuka mata orang buta dan membebaskan orang dari kegelapan’. Orang-orang yang buta hatinya serta hidup dalam kegelapan kiranya masih cukup banyak mengingat dan memperhatikan terjadinya aneka kerusuhan, permusuhan, pembunuhan, balas dendam, kebencian, dst. di sana-sini, dalam hidup sehari-hari. Kita dipanggil menjadi ‘terang’, artinya kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun diharapkan dapat membuka hati orang dan mengajak mereka untuk hidup dalam terang, jujur, transparan. “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan serta rela berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 17). Menjadi terang bagi bangsa-bangsa atau sesama manusia antara lain dengan hidup dan bertindak jujur. Memang ada rumor “jujur hancur”, tentu saja yang hancur adalah tubuh atau fisik kita, sedangkan hati, akal budi dan jiwa kita semakin murni, semakin dekat dengan Tuhan, semakin suci, semakin mengarahkan atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. </p>
<p>“TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh. Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itu pun aku tetap percaya.”(Mzm 27:1-3)</p></div>
<div align="justify"> </div>
<div align="justify"><em>(ditulis oleh: Romo Ignatius Sumarya, SJ </em>)</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PEKAN SUCI &#8211; Minggu Palma</title>
		<link>https://www.trinitas.or.id/pekan-suci-minggu-palma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seksi Komsos]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 03:09:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Menyambut Pekan Suci]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.trinitas.or.id/pekan-suci-minggu-palma/</guid>

					<description><![CDATA[Bacaan I : Yes 50:4-7Bacaan II: Flp 2:6-11Bacaan Injil: Mrk 14:1-15:47 ”Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.” Ketika ada kepala negara atau presiden atau pejabat tinggi akan mengadakan kunjungan di suatu daerah, maka pada umumnya pemimpin bersama warga masyarakat yang bersangkutan mempersiapkan diri sebaik ... <a title="PEKAN SUCI &#8211; Minggu Palma" class="read-more" href="https://www.trinitas.or.id/pekan-suci-minggu-palma/" aria-label="Baca selengkapnya tentang PEKAN SUCI &#8211; Minggu Palma">Read more</a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bacaan I : Yes 50:4-7<br />Bacaan II: Flp 2:6-11<br />Bacaan Injil: Mrk 14:1-15:47</p>
<div align="justify">”Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.”</p>
<p>Ketika ada kepala negara atau presiden atau pejabat tinggi akan mengadakan kunjungan di suatu daerah, maka pada umumnya pemimpin bersama warga masyarakat yang bersangkutan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Persiapan itu antara lain: pembersihan atau penataan lingkungan hidup atau tempat yang mau dikunjungi dan jalan-jalan yang mau dilalui, pemasangan bendera atau spanduk, dst..Kegiatan kunjungan kerja tersebut rasanya harus dibayar mahal, apalagi jika pemimpin dan warga daerah yang akan dikunjungi berusaha menampilkan diri sebaik mungkin, meskipun untuk itu sebenarnya merupakan permainan sandiwara, upaya liturgis atau formal melulu. Pada saat kunjungan pengawalan atau pengamanan bagi “sang tamu” begitu ketat, antara lain terjadi penutupan jalan untuk waktu tertentu di mana masyarakat umum pada saat itu tidak boleh melalui jalan yang bersangkutan.</p>
<p>Pada hari ini, Minggu Palma, kita mengenangkan “Sang Raja” Yesus yang naik keledai dan dielu-elukan atau disambut secara meriah oleh orang-orang yang percaya kepadaNya. Hal itu terjadi secara spontan, sehingga mereka mengelu-elukan dengan daun palma atau pakaian seadanya, tanpa dibuat-buat dan tiada permainan sandiwara.  Mereka membawa keledai itu kepada Yesus, dan  mengalasinya dengan pakaian mereka, kemudian Yesus naik ke atasnya. Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang. Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: &#8220;Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!&#8221;(Mrk11:7-10)</p>
<p>”Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:6-8)</p>
<p>Hari ini kita juga mengelu-elukan dan mengiringi perjalanan Yesus menuju ke pemenuhan tugas pengutusanNya dengan mempersembahkan Diri seutuhnya, sengsara dan wafat di kayu salib serta pada hari ketiga bangkit dari mati. Yang kita elu-elukan dan iringi perjalananNya  tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, maka selayaknya kita mengelu-elukan dan mengiringiNya dengan sederhana, rendah hati, apa adanya, dan tiada permainan sandiwara kehidupan. Rasanya cara hidup dan cara bertindak atau sikap orang-orang yang mengelu-elukan Yesus waktu itu seperti kita pada masa kini ketika mendengar ada sahabat kita yang sedang sakit keras dan mendekati kematian serta dengan spontan dan cepat-cepat untuk mengunjungi dan menyapanya dengan penuh kasih.</p>
<p>Pada hari ini kita memasuki Pekan Suci, maka marilah meneladan orang-orang yang mengiringi Yesus menuju Yerusalem. Setelah kita mawas diri sejak Rabu Abu, kiranya masing-masing dari kita lebih mengenal diri: kita lebih kenal kekuatan dan kelemahan kita, serta melihat aneka kesempatan dan ancaman dalam menghayati iman atau panggilan serta melaksanakan tugas pengutusan. Maka baiklah dengan jujur, apa adanya kita masuki?  Pekan Suci? Kita imani dan hayati bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang dipanggil Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan Yesus, karya penyelamatan seluruh bangsa manusia.</p>
<p>Marilah kita berusaha dengan  rendah hati untuk “mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan sesama manusia”.  Kita adalah sama-sama ciptaan Tuhan, sama-sama beriman, sama-sama mendambakan hidup selamat, damai sejahtera lahir dan batin, bahagia kini dan selama-lamanya. Maka marilah kita fungsikan segala kekuatan dan gunakan segala kesempatan dan kemungkinan untuk saling malayani,membahagiakan dan menyelamatkan.</p>
<p>Marilah kita bekerja sama seperti semut-semut yang membawa bangkai binatang menuju ke puncak/ketinggian dan di puncak itulah mereka berpesta pora makan bersama, sedangkan selama di perjalanan kerja sama dan bergotong-royong tanpa kenal lelah. Tiada yang korupsi, bermalas-malas, cari enak sendiri selama di perjalanan. Kita bagaikan semut-semut yang akan menghabisi bangkai-bangkai busuk dan menjijikkan, sehingga bersih dan indah serta nikmat lingkungan hidup kita. Jer basuki mowo beyo – Untuk hidup mulia, damai sejahtera, orang harus berani berjuang dan berkorban.</p>
<p>”Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan Allah telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.” (Yes 50:4-5) </p>
<p>Mendengarkan dan berbicara itulah mayoritas kesibukan kita semua sejak bayi/dilahirkan sampai lansia/mati atau dipanggil Tuhan. Begitu tersadar dari tidur kiranya indra pendengaran atau telinga kita yang pertama-tama aktif dan bekerja. Maka marilah begitu terjaga dari tidur kita dengarkan firman atau sabda Tuhan dan mungkin dapat kita awali dengan doa ini: “Tak berkesudahan kasih  setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu.” (Rat 3:22-23).</p>
<p>Kita berterima kasih dan bersyukur atas rahmat dan kesetiaan Tuhan bahwa kita  masih dianugerahi hidup serta kesegaran dan kebugaran. Dengan semangat yang sama kita masuki Pekan Suci ini. Kiranya kita juga mendambakan ketika berbicara kita juga dijiwai oleh rahmat dan kesetiaan Tuhan atau syukur dan terima kasih.</p>
<p>Berbicara dijiwai dengan syukur dan terima kasih merupakan perwujudan iman bahwa “Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid”, sehingga  apa yang kita katakan “dapat memberi  semangat baru kepada orang yang letih lesu”, sebagaimana disabdakan oleh Yesus dalam perjalananNya menuju puncak Kalvari, puncak kayu salib: “Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui. Maka orang akan mulai berkata kepada gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! Dan kepada bukit-bukit: Timbunilah kami! Sebab jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang akan terjadi dengan kayu kering?&#8221;(Luk 23:28-31) . Dalam penderitaanNya Ia mampu menghibur dan memberdayakan mereka yang lesu. Mungkin kita tahu ada rekan-rekan atau saudara-saudari kita yang lesu dalam hidup beragama atau beriman, maka marilah kita dekati dan sapa mereka serta kita ajak mereka dengan rendah hati, syukur dan terima kasih untuk berpartisipasi memasuki Pekan Suci ini. Biarlah mereka yang lesu akan segera dibangkitkan dan digairahkan, sehingga di malam Paskah dan selanjutnya kita bersama-sama menghayati iman dengan gairah dan gembira. Semoga kita tidak menoleh ke belakang dengan lesu, melainkan menatap masa depan dengan gairah dan gembira, meskipun kita melihat aneka  tantangan dan hambatan yang menghadang dan harus kita hadapi.</p>
<p>”Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah.” (Mzm 22:19-20.23)</p>
<p><em>(ditulis oleh: Romo Ignatius Sumarya, SJ)</em></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
