Bacaan 1 – Yes 50:5-9a;
Bacaan 2 – Yak 2:14-18;
Bacaan Injil – Mrk 8:27-35
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Dalam kehidupan bersama para imam, bruder, suster maupun awam sering terjadi ketegangan karena adanya perbedaan, entah antara tua dan muda maupun antara mereka yang bergelar sarjana, doktor atau professor dan mereka yang hanya berijasah sekolah menengah atau sarjana biasa. Dengan kata lain ada orang-orang yang menyombongkan dirinya dengan pangkat, gelar, usia dst.., atau hidup dan bertindak hanya mengikuti selera dan keinginan pribadi, kurang atau tidak menghayati imannya. Dalam suatu kesempatan memberi rekoleksi pada suster Tarekat tertentu saya ingatkan akan apa yang tertulis dalam Kitab Hukum Kanonik, yaitu “Kerasulan semua religius pertama-tama terletak dalam kesaksian hidup mereka yang sudah dibaktikan, yang harus mereka pelihara dengan doa dan tobat”(KHK kan 679). Mendengar masukan saya ada suster senior yang bergelar sarjana marah-marah dan cukup lama membenci saya. Memang pada masa ini juga terjadi kemerosotan moral atau penghayatan iman hampir di seluruh bidang kehidupan, dimana orang hidup dan bertindak hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi. Maka marilah kita renungkan atau refleksikan sabda Yesus hari ini.
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Mrk 8:34-35)
Nyawa adalah yang menghidupkan dan menggairahkan, maka nyawa bagi kita masa ini hemat saya dapat diartikan sebagai ‘cita-cita, harapan, dambaan atau impian dst..”, yang hemat saya sungguh menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua agar kita mengintegrasikan cita-cita, harapan, dambaan atau impian pada iman kita atau secara konkret hidup dan bertindak sesuai dengan visi, charisma atau spiritualitas yang telah kita akui dan usahakan untuk digeluti atau dihayati. Kami harapakan kita semua, umat beriman sungguh dalam semangat iman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.