You are here : Home OMK Liputan IOYE – Melbourne WYD – Sidney 2008

IOYE – Melbourne WYD – Sidney 2008

“Ozi…Ozi…Ozi…  Oy! Oy! Oy!....”

Itu Yel-yel yang selama 2 minggu diserukan anak-anak muda dunia yang berkumpul di Melbourne dan Sidney pada tanggal 7 – 20 Juli 2008 yang lalu. Acara IOYE dan WYD yang di selenggarakan di Australia itu benar-benar merasuki jiwa kaum muda Katolik pada khususnya dari seluruh dunia. Tema WYD 2008 kali ini adalah “Kau akan menerima kekuatan ketika Roh Kudus datang atasmu; dan kau akan menjadi saksiKu’ Acts 1:8. Semoga cerita ini bisa menjadi langkah awal menjadi saksi Kristus.

Grup OMI Youth Indonesia yang rencananya 40 orang berangkat, sangat disesalkan 2 dari kami harus membatalkan keberangkatannya karena alasan kuat. Sedih rasanya berangkat tidak lengkap. Tapi tidak mengurangi semangat 38 orang lainnya untuk tetap berangkat bertemu Paus Benedictus XVI. Sebelum hari keberangkatan, kami di karantina dulu di paroki Trinitas – Cengkareng (base camp) pada hari Minggu tanggal 6 Juli 2008, disana sudah berkumpul teman-teman dari Paroki Sepauk (KalBar), Paroki Tarakan (KalTim), Condong Catur (Jogjakarta), Paroki Kristus Raja (Purwokerto), Paroki St. Maria Immaculata (Banyumas), paroki St. Stephanus (Cilacap), paroki Trinitas dan paroki Kalvari (Jakarta). Semangat kami makin menggelora, karena diadakan misa perutusan, latihan poco-poco bersama, bernyanyi bersama theme song WYD “Receive The Power” yang dinyanyikan Guy Sebastian jebolan Australian Idol.

Hari keberangkatan tiba keesokannya… jeng...jeng… rombongan berangkat diantar oleh umat dan sebagian orang tua peserta. Kesibukan mulai terasa dengan prosedur di bandara dan bawaan koper masing-masing. Selama perjalanan 6 jam Jakarta – Sidney, kami masih harus pindah pesawat dan melanjutkan perjalanan ke Melbourne sekitar 1.5 jam untuk mengahadiri acara IOYE lebih dulu. Sampai di sekolah St. john Vianney, Melbourne kami disambut oleh panitia disana. Disambut beberapa wakil dari Srilangka, Canada, USA, Korea, Philipine dan Australia sendiri. Tuhan sayang grup kami, karena kami mendapatkan keluarga untuk ditumpangi, tidak seperti bayangan kami yang siap tidur di sekolah-sekolah. Lalu kami berpencar-pencar dan mendapatkan pengalaman bersama keluarga-keluarga yang berbeda-beda. Waaa.. benar-benar anugerah bisa tidur dengan selimut yang hangat dan heater dalam kondisi cuaca yang benar-benar dingin hingga mencapai 3-9 o C.

Selama seminggu kami mengikuti banyak acara di IOYE 2008, misa ekaristi, katekisasi, jalan salib, diskusi, festival kebudayaan, worship. Berkenalan dengan teman-teman dari negara lain menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi kami. Belajar sedikit bahasa negara lain.. seru dan mengasikkan. Oh iya, hari pertama di Melbourne, Romo Peter kasih kita waktu untuk jalan-jalan ke Melbourne city.. naik kereta dan sampai di Flinders Street Station, grup kami yang dibagi menjadi 4 sub-grup berpencar menyusuri kota Melbourne. Pengalaman yang langka datang ke St. Patrick’s Catedral Melbourne, bangunannya sangat megah dan indah. Lalu di hari lain, kita datang ke Federal Square untuk acara Peace by piece yang dibuat oleh The Oblates of Mary Immaculate. Di acara itu sungguh terlihat semangat kaum muda untuk mewujudkan kedamaian antar seluruh umat beragama termasuk aliran kepercayaan. Oh iya, disitu pertama kalinya kita disuguhi tarian Aborigin, khas Australia. Tapi kebetulan Aborigin yang kami lihat sudah lebih putih dari yang kami bayangkan.. hehehe..

Acara IOYE di Melbourne ditutup dengan Misa Konselebrasi megah yang dipersembahkan oleh kurang lebih 70 imam OMI seluruh dunia termasuk Romo Dirjen-nya OMI dan Romo Provinsial OMI Australia, juga ga mau ketinggalan ikutan Romo Carolus Putranto,Pr tercinta. Istimewa lagi misa penutupan ini, sebagai pembantu utama misa adalah Diakon Yoyon,OMI dari Indonesia lho. Makin terasa lebih istimewa lagi, pada saat misa ekaristi sekaligus diadakan tahbisan diakon salah satu frater OMI dari Vietnam (kalo ga salah ingat). Dasyat dan sungguh peristiwa yang langka, ga cuma buat frater itu karena di lakukan di perhelatan internasional, tapi juga buat saya khususnya yang tidak pernah melihat peristiwa tahbisan sebelumnya.

Seminggu sudah tinggal dengan kedinginan di Melbourne, rombongan Oblates berangkat ke Sidney dengan bis untuk acara World Youth Day. Selama 12 jam perjalanan darat, kami hanya lihat hamparan padang rumput di kanan kiri jalan dengan sapi hitam, dan domba ia atasnya. Beberapa kali melewati kota-kota kecil. Lalu sampai juga akhirnya kami di paroki St. Mary , Eaglevale. Beruntung banget kita dapet family lagi... senangnya … Mereka sungguh baik menyambut kami. Setiap hari mengantar kami ke paroki dan menjemput kami di stasiun. Setiap hari diadakan katekisasi di paroki yang dipimpin oleh uskup yang berbeda-beda dari negara yang berbeda, dilanjutkan dengan misa harian. Setelah itu, kami setiap hari naik bus dan train untuk pergi ke Sidney city, lalu lanjut jalan kaki menuju tempat tujuan. disana banyak festival dan acara-acara. Di Sidney kami bertemu lebih banyak kaum muda dari Negara-negara lain. Hari pertama di Sidney, kami menghadiri acara Indonesian Gathering di Exhibition Center dekat Barangaroo, spot berkumpulnya WYD. Karena kita datang telat di Indonesian Gathering itu, jadi yah cuma kebagian drama, pembagian doorprize, dan ditutup dengan penghormatan kepada sakramen Maha Kudus. Salut buat panitia, ga nyangka Indonesia bisa sewa tempat sendiri untuk berkumpul ketemu teman-teman dari negeri sendiri.

Hari kamis tanggal 17 Juli 2008, kami kumpul lagi di Barangaroo untuk menyambut datangnya Paus Benedictus XVI dengan berkeliling di Darling Harbour menggunakan kapal ferri. Bersamaan dengan ferri Paus, ada kapal lain yang menyemburkan air ke laut sampai ketinggian kira-kira 30 meter. Semangat ketemu paus, kami rela berdesak-desakan ambil tempat yang paling dekat dengan paus.. Sebenarnya jatah area kami sudah paling dekat dengan altar, tapi masih belum puas, beberapa ada yang menyusup ke barisan depan untuk bisa foto Paus dari jarak sedekat mungkin. Perasaan yang ga bisa diungkapkan, bisa liat Paus dan dapat berkat langsung dari paus. Saya pun ga lupa mengucapkan intensi-intensi pada saat paus memberikan berkatnya. Sekitar 500.000 orang bersorak-sorai menyambut Paus. “Benedicto… Benedicto… Viva la Pope…” Seruan seperti itu yang dilontarkan semua peserta WYD 2008. Bisa dibayangkan kalo dari satelit, Barangaroo jadi tempat yang isinya manusia semua. Pasti ini salah satu kuasa Tuhan.

Hari Sabtunya, kami siap dengan bawaan yang lebih berat, karena kami harus membawa sleeping bag, matras, dan beberapa selimut tambahan pemberian orang tua kami disana. Kami pergi ke Rendwick, tempat pacuan kuda yang sudah disiapkan untuk menginap sekitar 250.000 orang untuk tidur beratapkan langit Sidney. Ada 2 pilihan jalur yang disiapkan panitia, jalur panjang sekitar 3 jam dan jalur pendek sekitar 1 jam jalan kaki. Grup kami berpencar di 2 lajur tersebut. Jalur pendek dipimpin oleh Romo Peter, dan jalur panjang dipimpin oleh Diakon Yoyon. Hebat Romo Uut, yang ketinggalan rombongan, tiba-tiba menyusul kami di jalur panjang. Saya sendiri pilih jalur panjang, padahal malamnya sudah memantapkan diri ikut yang jalur pendek saja dengan mengukur kekuatan sendiri. Ternyata jalurnya berat, selain panjang juga turun naik. Dengan bawaan yang berat, ya semakin pelan langkah yang bisa kami buat. Beberapa kali beristirahat dan berdoa semoga perjalanannya bisa ditempuh dengan baik. Sampai di Rendwick, kita pun berdoa lagi dan lumayan terharu secara pribadi, ternyata saya mampu. Malamnya kami tidur di bawah langit dengan suhu yang dingin, masuk sleeping bag dengan diselimuti aluminium supaya tidak tembus dingin, diselingi musik-musik hiburan dan pujian, tidur bersampingan dengan orang Papua Nugini dan Italiano merupakan pengalaman yang unik dan menyenangkan.

Besok paginya, Minggu 21 Juli 2008, seluruh rangkaian WYD 2008 ditutup dengan misa yang dipimpin oleh paus Benedictus. Paus sebelumnya datang berkeliling dengan mobil kaca ke area tempat kami tidur diiringi oleh nyanyian Guy Sebastian “Receive the Power”. Banyak pesan yang disampaikan oleh paus untuk kaum muda. Seluruh muda-mudi dan masyarakat Australia mengikutinya dengan hikmat. Paus mengumumkan juga World Youth Day 2011 akan diselenggarakan di Madrid, Spanyol. Sempat diadakan sakramen krisma untuk 24 pemuda dari Australia dan beberapa Negara lain juga. Akhirnya misa ditutup dengan lagu theme song  “Receive the Power”.

Kembali ke Indonesia diantar romo Peter yang masih memperpanjang liburannya sampai di Sidney airport. Enam jam terbang mendarat di Jakarta disambut oleh orangtua di bandara Soekarno-Hatta, dikalungi bunga-bunga seperti kontingen bulu tangkis sepulang bertanding di negeri orang. Hehehe… ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Romo Wasono,OMI. Lalu kami masing-masing pulang tidak dengan tangan kosong, tapi membawa misi untuk semakin melayani Gereja dan menjadi saksi Kristus. Perjalanan yang sungguh berkesan. See you in Madrid….!

“Ozi…Ozi…Ozi…  Oy! Oy! Oy!....”