You are here : Home Artikel Dunia Pustaka Jesus Hollywood

Jesus Hollywood

Penulis:
Imam Karyadi Aryanto

Penerbit:
Kanisius, Yogyakarta, 2009

Tebal:
287 halaman

Bisa dipastikan, minimal setahun 2 x Yesus “tampil” di pentas dalam bentuk dramatisasi atau visualisasi.  Pertama di Hari Raya Natal, Yesus tampil dalam ‘rupa’ boneka bayi.  Ia digendong oleh seorang ibu, anggap saja dia lagi memerankan tokoh Maria.  Kedua, biasanya pada Hari Raya Jumat Agung.  Sosok Yesus diperankan oleh laki-laki (kalau bisa berjenggot dan agak brewok) sedang diadili oleh Pontius Pilatus dan para imam agung.  Klimaksnya adalah saat Yesus digebuki, sampai berdarah-darah, disuruh memanggul salib, dan akhirnya mati di salib.

Peragaan selesai.  Umat yang melihat tarik nafas dalam-dalam.  Begitu, ya, kisah sengsara Tuhan Yesus?

Beberapa tahun lalu koreografer Bagong Kussudiharjo juga pernah menciptakan sendratari kelahiran Yesus.  Di antara beberapa lakon wayang wahyu juga tak lupa melakonkan kelahiranNya sampai kematianNya.

Sosok Yesus dalam kisah hidupNya memang tak habis-habisnya dijadikan sumber inspirasi bagi para kreator seni.  Sementara itu ajaranNya yang tercatat dalam 4 Injil sipnotik juga tak habis-habisnya ditelaah, dibedah, diajarkan setiap hari dan setiap minggu lewat berbagai mimbar.  Belum lagi ribuan novel atau karya fiksi yang menjadikan Yesus sebagai tokoh utamanya yang penuh kontroversial.

Lepas dari semua itu ternyata para sineas Hollywood pun ikut-ikutan gatal tangannya. Mereka mengangkat sosok Yesus dalam film layar lebar.  Dalam buku ini tercatat paling tidak ada 16 judul film yang mengangkat kehidupan Yesus dari Nazareth.  Film The Da Vinci Code belum diikutkan, mungkin saat naskah ini ditulis, film itu belum beredar atau malah belum dibuat.

Dari 16 judul film tadi hanya ada 2 judul yang sangat fenomenal, yakni Jesus Christ Superstar (1973) dan The Passion of The Christ (2004).  Jesus Christ Superstar adalah film musikal adaptasi karya rock-opera Tim Rice, saat itu dipakai untuk ‘menandingi’ budaya pop yang mulai merambah dunia hiburan Amerika.  Mereka muak dan menentang perang Vietnam.  Karena itu karya seni mereka adalah bentuk perlawanan terhadap generasi mapan yang sangat mendominasi hidup mereka.

Sedang The Passion of The Christ adalah buah dari pertobatan Mel Gibson selaku produser sekaligus sutradara film tersebut.  Meski ada pihak-pihak yang menuduh film itu menonjolkan kekerasan dan terkesan anti Yahudi, namun jauh lebih banyak yang ‘tersentuh’ syaraf keimanannya setelah melihat film tersebut.  Termasuk kesaksian Jim Caviezel, pemeran Yesus.  Katanya, setelah ia disambar petir saat adegan penyaliban di Italia, “Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada di situ, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.  Semua yang ikut terlibat dalam film mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali.”

Buku ini kalau kita baca secara seksama, bisa jadi gabungan dari kritik film sekaligus mengkritisi kepicikan kita sebagai murid Yesus.  Terkadang kita melihat karya seni (film) dari layar iman yang sempit.  Kita setuju mengangguk-angguk jika adegan dan misi film itu pas dengan frame kita.  Lalu kita menolak mentah-mentah jika adegan (dalam film) itu beda jauh dengan pemahaman kita karena ajaran dari para guru agama.

Dengan membaca buku ini, paling tidak, mata kita seperti dicelikkan, bahwa banyak cara ‘menjual’ Yesus.  Terlepas dari adanya berbagai kontroversi, namun jika tokoh yang ditonjolkan adalah Yesus, tidak perlu ada tuduhan bahwa iman seseorang bisa goyah karenanya. (Mateus B.S.)

Sumber:  Majalah Utusan, No. 07, Tahun ke-59, Juli 2009