You are here : Home Artikel 100% Katolik-Indonesia Memilih Cerdas dengan Hati Nurani

Memilih Cerdas dengan Hati Nurani

Pemilihan Umum merupakan peristiwa politik yang perlu dipahami oleh umat Katolik sebagai bagian dari tanggungjawab untuk terlibat secara aktif dalam pembentukan tata dunia berdasarkan semangat Injili. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan , duka dan kecemasan para murid Kristus juga”(GS 1)

Agar keterlibatan umat dalam membangun tatanan dunia berdasarkan semangat Injili menjadi efektif, Konsili Vatikan II menegaskan peran dan tanggungjawab hirarki dan awam dalam rangka pengudusan dunia. Hirarki meneguhkan umat melalui ajaran-ajarannya, dan umat melaksanakan tugas perutusan itu dalam terang ajaran moral dan sosial Gereja.

Dua Kata Kunci : Cerdas dan Hati Nurani

Agar umat Katolik menjadi pemilih cerdas dan mendasarkan diri pada nurani, Gereja memberikan panduan agar para pemilih memilih calon legislatif (Caleg)/Presiden (Capres) secara baik sehingga umat dapat menjadi pemilih cerdas dan bebas mempergunakan hati nurani dalam menentukan pilihan. Cerdas berarti umat Katolik memilih para caleg dan partai yang memiliki rekam jejak baik dan memperjuangkan prinsip-prinsip Kristiani. Sedangkan memilih berdasarkan hati nurani berarti umat Katolik diajak untuk mempergunakan hak pilihnya sebagai tanggungjawab moral yang mendasarkan diri pada pilihan bebas bukan berdasarkan paksaan, baik itu secara ideologis (keterpaksaan politik), ataupun ekonomis (politik uang).

Kebangsaan dan Kerakyatan

Rekam Jejak partai dan caleg yang baik bisa diringkas dengan dua kata kunci, yaitu memiliki wawasan kebangsaan dan semangat kerakyatan. Ciri-ciri rekam jejak calon dan partai yang sesuai dengan prinsip Kristiani ini adalah sebagai berikut:

Kriteria rekam jejak caleg yang baik: menghayati nilai-nilai agama, jujur, peduli terhadap sesama, berpihak pada rakyat kecil, cinta damai, anti kekerasan, menghargai toleransi antara umat beragama, peduli pelestarian lingkungan hidup. Bila memilih caleg perempuan, umat diharapkan memilih caleg perempuan yang berkualitas.

Kriteria rekam jejak partai yang baik: menghayati semangat Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945, menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menghargai keragaman sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika, memiliki caleg yang kompeten, mampu, dan berwawasan kebangsaan.

Jangan Dipilih

Hirarki juga memberikan panduan bagi umat Katolik agar tidak memilih Caleg dan partai yang memiliki ciri-ciri seperti ini: berwawasan sempit, mementingkan kepentingan kelompok, dikenal tidak jujur, melakukan korupsi, dan menghalalkan segala cara untuk memperoleh kedudukan.

Umat katolik harus waspada terhadap berbagai macam sikap politik sesaat, hipokrisme politik, yang terkesan membela bangsa dan rakyat selama masa kampanye, serta melakukan politik uang. Sebaliknya, umat diminta untuk aktif bekerjasama dengan semua pihak yang memperjuangkan Pemilu yang Jujur Umum dan Adil (Jurdil), Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (Luber), dengan cara bekerjasama dengan orang-orang lain yang memperjuangkan Pemilu yang Luber dan Jurdil.

(Disadur dari situs www.gerejamasadepan.org)