PENGUMUMAN
Hari Minggu Biasa XXIII, 05 September 2010
Saturday, 04 September 2010 12:04
Bacaan 1: Keb 9:13-18; 
Bacaan 2: Flm 9b-10.12-17;
Bacaan Injil: Luk 14:25-33

“Yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi
murid-Ku.”

Akhir-akhir ini kita dengarkan melalui aneka informasi bahwa kesetiaan hidup
terpanggil, entah menjadi imam, bruder atau suster maupun hidup berkeluarga
sebagai suami-isteri cukup memprihatinkan. Ketidak-setiaan pada panggilan
tersebut antara lain karena godaan atau rayuan kenikmatan seksual alias
hubungan seksual yang begitu menguasai cara hidup dan cara bertindak banyak
orang. Nafsu atau gairah seksual begitu mendominasi semangat maupun gaya
hidup, yang tidak lain demi kenikmatan atau kepuasan diri sendiri. Bahkan
dari aneka info yang dapat saya lihat atau peroleh dari situs-situs di
internet ada kasus yang sungguh memprihatinkan, yaitu ada sementara
gadis/perawan dengan sadar dan sengaja menjual keperawanannya kepada para
hidung belang yang bersedia membayar mahal, demi kebutuhan uang atau
ekonomi. Di satu sisi ada orang yang sungguh menderita kekurangan dalam hal
ekonomi atau uang, dan di sisi lain ada orang berfoya-foya dengan uang demi
kenikmatan seksual, untuk memenuhi gairah atau nafsu seksual yang begitu
kuat dan menggebu-gebu. Uang dan seks memang saling kait mengait dan rasanya
cukup banyak orang lebih dikuasai atau dijiwai oleh uang atau seks, yang
tidak lain menunjukkan sikap mental.egois, dimana orang hanya mengikuti
keinginan sendiri, pribadi, hidup dan bertindak seenaknya sendiri dan tidak
memiliki kepekaan sosial sedikitpun.

“Yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi
murid-Ku.” (Luk 14:33)

“Ambillah ya Tuhan kebebasanku, kehendakku budi ingatanku. Pimpinlah diriku
dan Kau kuasai
Perintahlah akan kutaati. Hanya rahmat dan kasih dariMu, yang kumohon
menjadi milikku
Hanya rahmat dan kasih dariMu, berikanlah menjadi milikku. Lihatlah semua
yang ada padaku, kuhaturkan menjadi milikMu. Pimpinlah diriku dan Kau
kuasai. Perintahlah akan kutaati*” (St.Ignatius Loyola). Doa dari St.
Ignatius Loyola ini kiranya dapat dikatakan sebagai perwujudan inti sabda
Yesus hari ini, antara lain *“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak
membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya
laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi
murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak
dapat menjadi murid-Ku*” (Luk 14:26-27). Maka baiklah sabda Yesus ini kita
renungkan dan hayati dalam hidup kita sehari-hari sesuai dengan panggilan,
tugas pengutusan atau pekerjaan kita masing-masing.

Sebagai orang yang terpanggil kita diharapkan hidup dan bertindak sesuai
dengan semangat atau spiritualitas cara hidup baru yang telah kita pilih
dengan bebas, entah sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster. Maka
pada kesempatan ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri sejauh mana
kita setia pada spiritualitas cara hidup baru atau panggilan kita
masing-masing, dan perkenankan di bawah ini saya sampaikan bantuan
sederhana, mungkin dapat membantu dalam mawas diri:

1) Suami-isteri: *Yang menjadi dasar dan pengikat hubungan serta
hidup bersama suami-isteri adalah cintakasih, sebagaimana diikrarkan bersama
ketika mengawali cara hidup baru, sebagai suami-isteri, yaitu ‘saling
mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati’.
Dengan menjadi suami-isteri, apakah bapak-ibu, kiranya tak mungkin hidup dan
bertindak hanya mengikuti keinginan atau kemauan pribadi jika mendambakan
hidup bahagia, damai sejahtera. Dalam saling mengasihi dibutuhkan
pengorbanan, sebagaimana Yesus mengasihi dunia, demi keselamatan dunia dan
seluruh umat manusia, telah mengorbankan atau mempersembahkan Diri di kayu
salib. Salah satu tanda dimana orang saling mengasihi adalah saling boros
waktu dan tenaga, dan dengan demikian berarti juga saling berkorban. Maka
kami harapkan anda berdua, suami dan isteri, untuk saling memboroskan waktu
dan tenaga bagi pasangannya.

2) Bruder/suster atau anggota Lembaga Hidup Bakti: Awal cara hidup
para anggota Lembaga Hidup Bakti antara lain ditandai dengan ‘kaul’ atau
‘serah-setia’, dimana orang menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui
Lembaga Hidup Bakti yang ia masuki. Yang diserahkan antara lain apa-apa yang
terkait atau ada hubungannya dengan keperawanan, kemiskinan dan ketaatan.
Kesetiaan pada penyerahan diri ini butuh matiraga/lakutapa maupun
pengorbanan. Apa saja yang telah diserahkan berarti bukan lagi menjadi
miliknya dan jika ingin menggunakan harus minta izin kepada Tuhan melalui
pembesar yang terkait. Keperawanan erat kaitannya dengan kenikmatan seksual
maupun kehangatan kasih sebagaimana terjadi antar laki-laki dan perempuan
yang menjadi suami-isteri. Setia pada panggilan berarti tidak mencari-cari
atau memberi kesempatan pemenuhan kenikmatan seksual maupun kehangatan kasih
tersebut, melainkan kenikmatan dan kehangatan bersama Tuhan. Melanggar
keperawanan maupun ketaatan mungkin sulit dilihat, dan yang paling mudah
dilihat adalah pelanggaran kemiskinan. Namun ketika terjadi pelanggaran
kemiskinan pada umumnya keperawanan maupun ketaatan juga telah repuh. Kepada
para anggota Lembaga Hidup Bakti kami ajak untuk hidup dan bertindak dengan
sederhana, karena dalam kesederhanaan kiranya kita terbantu untuk setia pada
panggilan kita.

3) Imam. Menjadi imam antara lain berfungsi sebagai ‘penyalur’:
penyalur rahmat atau berkat Tuhan bagi umat manusia dan doa, dambaan, keluh
kesah, syukur, pujian dst.. dari umat manusia kepada Tuhan. Maka kami
berharap kepada rekan-rekan imam untuk setia pada fungsi penyalur tersebut,
yang antara lain ditandai oleh keutamaan-keutamaan seperti jujur,
tranparant, rela berkoban, tidak korupsi dalam bentuk apapun, siap sedia
menderita bagi umat manusia, dst.. Penyalur yang baik juga tidak pernah
menyakiti orang lain.

“Siapa gerangan sampai mengenal kehendak-Mu, kalau Engkau sendiri tidak
menganugerahkan kebijaksanaan, dan jika Roh Kudus-Mu dari atas tidak Kauutus?”
(Keb 9:17)

Kutipan dari kitab Kebijaksanaan di atas ini kiranya dapat menjadi acuan
bagi kita semua dalam menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas
pengutusan. Marilah kita sadari dan hayati bahwa aneka macam bentuk
kebijakan yang kita terima maupun lakukan adalah anugerah Tuhan, karya Roh
Kudus dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Segala macam jenis kekayaan
yang kita miliki dan kuasai sampai saat ini adalah anugerah Tuhan, misalnya
kepandaian, kecerdasan, keterampilan, kesehatan, ketampanan atau kecantikan,
harta benda atau uang, kehormatan duniawi dst.. Karena semuanya adalah
anugerah Tuhan maka selayaknya kita fungsikan atau gunakan sesuai dengan
kehendak Tuhan, demi keselamatan jiwa kita sendiri serta siapapun yang kita
layani atau kena dampak cara hidup dan cara bertindak kita.

Tanda bahwa Roh Kudus dianugerahkan kepada kita, hidup dan berkarya dalam
diri kita, maka cara hidup dan cara bertindak kita dijiwai oleh Roh sehingga
menghasilkan buah-buah atau keutamaan-keutamaan seperti *“kasih, sukacita,
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri.”* (Gal 5:22-23). Maka jika kita semua hidup dari dan oleh
Roh Kudus berarti kita saling mengasihi, sabar, bermurah hati, setia, lemah
lembuh dan rendah hati. Kita semua setia pada panggilan kita masing-masing
dan dengan demikian hidup bersama sungguh merupakan tanda hidup bahagia dan
damai sejahtera selama-lamanya di sorga.

“Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai
anak-anak manusia!" Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin,
apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau
menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,
di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.”
(Mzm 90:3-6)
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 79