PENGUMUMAN
Senyum Para Penjual Koran Perempatan
Renungan - Mari Merenung
Sunday, 19 June 2011 12:18

Hampir setiap pagi aku melewati dua perempatan, Ring Road dan Gejayan.  Kuperhatikan bapak-bapak menawarkan koran-koran yang diletakkan di tangan mereka, mulai dari Kompas, Kedaulatan Rakyat, dan beberapa yang lain.  Koran-koran itu tertata rapi di tangan mereka dengan memperlihatkan judul-judul koran paling atas.

Sebelum mendekat ke pengendara mobil dan motor, para penjual koran, dari jauh, sudah tersenyum.  Mereka mendekat dan memperlihatkan judul-judul koran yang mereka bawa, menawarkannya dengan harga yang bervariasi.  Meskipun korannya tidak dibeli sang pengendara atau bahkan senyuman pun tidak dibalas, mereka tetap tenang dan mampu tersenyum pada pengendara berikutnya.  Kulihat senyuman yang nyaris tanpa beban.

Add a comment

Read more...
 
Keinginan Yang Sederhana
Renungan - Mari Merenung
Tuesday, 07 June 2011 19:33

Pada suatu hari, 3 orang Cina yang bersahabat sejak kanak-kanak bertemu.  Salah seorang dari mereka kini menjadi seorang pejabat negara.  Yang seorang lagi menjadi seorang guru besar di sebuah universitas.  Yang seorang lainnya lagi adalah seorang petani sederhana.  Sambil duduk santai, mereka bercakap-cakap tentang apa yang masih mereka inginkan untuk dimiliki di hari esok.

Sang pejabat negara menyatakan bahwa ada 2 hal yang paling ia inginkan, yaitu memiliki sebuah cangkir porselin antik untuk minum teh dan seekor kuda yang tinggi untuk mengantarnya bersafari keliling pelosok negeri.

Sementara itu sang guru besar menyatakan bahwa 2 hal yang paling ia inginkan adalah selalu tersedia baginya secangkir cokelat manis yang hangat dan sepasang mata yang selalu sehat sehingga ia bisa memuaskan hobinya untuk membaca buku.

Sedangkan sang petani hanya menginginkan hal-hal yang biasa terjadi setiap hari, seperti terbitnya matahari, burung-burung yang berkicau di atas pohon di kebun buahnya dan sungai yang tidak pernah kering.

Add a comment

Read more...
 
Doaku, Keindahan Jiwaku
Renungan - Mari Merenung
Tuesday, 24 August 2010 11:50

1. Ada waktu-waktu tertentu saat satu-satunya yang kita perlukan ialah BERDOA.

2. Berdoa dengan seluruh tenaga, lahir dan batin. Kekuatan batin sangat bertambah. Jiwa dan roh kita sempat merekah dan menjadi sangat indah.

3. Ada doa yang muncul spontan bagaikan kenangan-kenangan masa silam. Biasanya itu semua adalah doa-doa kesayangan kita.

4. Doa-doa lama yang datang kembali ini, biasanya berdering manis dan bening.  Begitu beningnya hingga mengubah suasana batin yang muram menjadi terang temaram.

 

Add a comment
Read more...
 
Ruang Doa
Renungan - Mari Merenung
Tuesday, 10 August 2010 17:30

“Saya ingin di sebalah sini ada ruang sholat. Tidak perlu besar,” begitu pesan salah seorang klien saya ketika mendesain rumahnya. Saya tidak merasa sesutu yang aneh lagi kalau ada orang yang menginginkan ruang sholat di rumahnya. Saya sering melihat ruang sholat di dalam rumah kalau sedang berkunjung ke tempat kerabat. Di dalam ruang kosong, hanya ada hamparan karpet dan sajadah. Di situlah mereka biasanya melakukan sholat 5 waktu. Baik sendirian maupun berjemaah bersama keluarga. Add a comment

Read more...
 
Surat Dari Seorang Mantan Koruptor
Renungan - Mari Merenung
Sunday, 27 June 2010 22:03

MARI BELAJAR DARI ZAKHEUS!  (Lukas 19:1-10)

(Perhatian: Bila Anda merasa sebagai seorang koruptor, sebaiknya Anda  jangan membaca renungan ini!)

Pada suatu hari saya menerima sebuah surat. Pengirimnya tanpa nama alias anonim.  Meski demikian, bagi saya, isinya sangat menarik dan ada baiknya saya sharingkan juga kepada Anda sekalian pada saat ini. Demikian bunyi surat itu:

Yth Pastor di tempat,

Salam sejahtera. Izinkan saya untuk berbagi cerita dengan Pastor. Meski saya tidak mencantumkan nama saya pada sampul belakang surat ini, sudilah Pastor tetap membaca surat ini. Saya tidak keberatan, bahkan akan sangat berterima kasih seandainya Pastor juga berkenan memuat surat saya ini dalam majalah Gereja.

Saya Suka Korupsi

Saya adalah seorang mantan koruptor. Saya pernah mengumpulkan banyak uang dalam waktu yang relatif singkat tanpa harus mengeluarkan banyak keringat. Uang yang saya peroleh melalui korupsi kadangkala jumlahnya jauh lebih banyak dari pada gaji bulanan saya.  Saya adalah seorang sarjana teknik lulusan sebuah perguruan tinggi di luar negeri. Sepulang dari luar negeri, saya bekerja di sebuah perusahaan  minyak swasta. Setelah beberapa tahun meniti karier, akhirnya saya menjadi salah seorang manajer di perusahaan tersebut. Sebagai orang yang berposisi manajer, saya sering memberikan instruksi kepada karyawan untuk membersihkan gudang dari timbunan material-material yang angka penyusutannya sudah dianggap mencapai 100%. Saya kemudian menjual material itu sebagai “rongsokan” kepada para pengumpul besi tua. Sebagian besar hasil penjualan itu masuk ke rekening saya di bank.  Sebagian kecil masuk ke perusahaan sebagai pemasukan tambahan.

 

Add a comment
Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next > End >>

Page 1 of 7