PENGUMUMAN
Cinta Yang Sempurna
Renungan - Semenit Bermakna
Tuesday, 16 August 2011 11:23

"Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44)

Cinta dalam ajaran Yesus tidak hanya berarti mencintai diri kita, keluarga kita, kenalan dan orang-orang yang dekat dengan kita, tapi juga dengan orang-orang yang tidak kita sukai, yang melawan kita, yang menistakan kita.  Singkatnya, cinta berarti mencintai juga musuh-musuh kita.  Cinta harus menjadi seperti matahari, yang menerangi dan menghangatkan siapa saja, yang baik maupun yang jahat.  Juga seperti hujan, yang turun bagi yang benar dan yang tidak benar.  Siapa menciptakan dan menurunkan matahari dan hujan yang tidak membeda-bedakan ini?  Dialah Tuhan, sumber segala cinta, yang tak pandang bulu dalam mencinta.

Maka jika kita ingin sampai pada hakikat cinta, yakni mencintai musuh-musuh kita, tak bisa tidak, kita harus memohon cinta itu kepada Tuhan.  Tanpa anugerah cinta Tuhan itu, tak mungkinlah kita bisa mencintai sampai sehabis-habisnya.  Kita gagal dalam mencinta, karena sering kita menyangka, kita bisa mencinta begitu saja.  Kita lupa, hanya Tuhan yang memungkinkan kita mencinta.  Rasakanlah kehangatan matahari di pagi hari, dan marilah berdoa pada Tuhan, agar Dia memperolehkan bagi kita cinta untuk orang-orang yang tak kita sukai. (G.P. Sindhunata, SJ)

Sumber: Majalah Utusan No. 08, Tahun ke-61, Agustus 2011

Add a comment
 
Minggu H.R. Tubuh dan Darah Kristus, 26 Juni 2011
Renungan - Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ
Saturday, 25 June 2011 16:58

Bacaan 1: Ul 8:2-3.14b-16a;

Bacaan 2: 1 Kor 10: 16-17;

Bacaan Injil: Yoh 6:51-58

“Akulah Roti Hidup Yang Turun Dari Sorga”

Pada masa kini di pasaran dijual aneka macam jenis roti, entah roti basah atau roti kering, dengan harga murah atau mahal dst.. Dan cukup banyak orang yang memiliki simpanan roti kering dalam kaleng atau kemasan dalam rangka persiapan menjamu tamu atau bekal dalam perjalanan agar tidak kelaparan. Bahkan juga ada jenis makanan dalam bentuk tablet yang dapat berfungsi sebagai pengganti makanan biasa, demi kepraktisan atau effisiensi.  Aneka macam jenis makanan kemasan atau minuman yang tidak sehat seperti roti, minuman berwarna, dll melanda rakyat miskin di desa-desa atau anak-anak sekolah desa/miskin. Karena begitu dominan mengkonsumsi jenis makanan kemasan yang tak sehat tersebut, maka tidak mengherankan bahwa kesehatan warga masyarakat rendah atau menurun, dan lebih memprihatinkan lagi ada kemalasan bergerak atau olahraga. Dengan kata lain boleh dikatakan ada aneka jenis makanan atau minuman dalam kemasan yang mematikan bukan menghidupkan. Memang untuk mengkosumsi makanan atau minuman sehat lebih butuh waktu dan tenaga alias harus sabar dan kerja keras, sehingga hanya sedikit orang yang menempuhnya. Makanan dan minuman sehat dibutuhkan oleh tubuh kita agar kita hidup sehat, bergairah, dinamis, tidak bermalas-malas, dst… Hari ini kita kenangkan “Tubuh dan Darah Kristus”, jenis makanan khusus yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, yang dapat kita terima selama berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi. Apa arti atau maknanya setiap kali kita menerima Tubuh Kristus? Marilah kita renungkan sabda Yesus pada hari ini.

“Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu adalah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia”(Yoh 6:51)

 

Add a comment
Read more...
 
Senyum Para Penjual Koran Perempatan
Renungan - Mari Merenung
Sunday, 19 June 2011 12:18

Hampir setiap pagi aku melewati dua perempatan, Ring Road dan Gejayan.  Kuperhatikan bapak-bapak menawarkan koran-koran yang diletakkan di tangan mereka, mulai dari Kompas, Kedaulatan Rakyat, dan beberapa yang lain.  Koran-koran itu tertata rapi di tangan mereka dengan memperlihatkan judul-judul koran paling atas.

Sebelum mendekat ke pengendara mobil dan motor, para penjual koran, dari jauh, sudah tersenyum.  Mereka mendekat dan memperlihatkan judul-judul koran yang mereka bawa, menawarkannya dengan harga yang bervariasi.  Meskipun korannya tidak dibeli sang pengendara atau bahkan senyuman pun tidak dibalas, mereka tetap tenang dan mampu tersenyum pada pengendara berikutnya.  Kulihat senyuman yang nyaris tanpa beban.

Add a comment

Read more...
 
Minggu H.R. Tritunggal Mahakudus, 19 Juni 2011
Renungan - Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ
Saturday, 18 June 2011 11:17

HR TRITUNGGAL MAHAKUDUS: Kel 34:4b-6.8-9; 2Kor 12:11-13; Yoh 3:16-18

“Setiap orang yang percaya kepadaNya tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup kekal”

Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu”, itulah peribahasa untuk menggambarkan bagaimana panjang, lebar, dalam dan luasnya hati orang yang sedang saling mengasihi satu sama lain. Orang yang sungguh saling mengasihi berarti sehati dan sebudi, dan kiranya kata-kata tak akan mampu menjelaskan pengalaman indah, mesra dan nikmat dalam saling mengasihi, karena kasih memang bebas alias tak terbatas, tak mungkin terfahami oleh otak atau pikiran kita yang terbatas ini. Kasih sejati adalah Allah dan Allah adalah kasih; sebagai ciptaan Allah kita semua tak akan mampu memahami secara akal sehat siapa itu Allah, namun dalam pengalaman iman, harapan dan kasih kita dapat menikmatiNya, menghayati dan menikmati kasih Allah yang melimpah ruah. Hari ini adalah Hari Raya Tritunggal MahaKudus, hari untuk mengenangkan iman kita akan  Allah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Penjelasan perihal Tritunggal kita terima dari Yesus, dan apa yang disabdakan atau disampaikan mungkin sulit atau tak mungkin kita fahami dengan akal sehat, dan hanya dapat difahami dalam iman, harapan dan kasih; maka marilah dalam iman, harapan dan kasih kita renungkan sabdaNya pada hari ini, sebagaimana dikatakan oleh penginjil Yohanes.

Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia menganugerahkan AnakNya yang tunggal, supaya orang yang percaya kepadaNya tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup kekal” (Yoh 3:6)

Sebut saja namanya ‘Anton’, yang tergerak atau berminat untuk menjadi imam alias setelah menyelesaikan SMP ia ingin masuk ke Seminari Menengah. Namun karena ia adalah anak tunggal, maka dengan keras kedua orangtuanya melarang; ia adalah satu-satunya anak yang terkasih, maka kalau menjadi imam dengan demikian putuslah keturunan orangtuanya. Mempersembahkan anak tunggal kepada Allah untuk menjadi imam, yang diharapkan membaktikan diri seutuhnya demi keselamatan jiwa sesamanya, sungguh berat, dan memang butuh pengorbanan.  Kiranya jika Anton sungguh menjadi imam pasti cukup banyak orang yang kenal dia maupun orangtuanya akan merasa tak mampu memahami lubuk hati terdalam Anton.

Allah Tritunggal Mahakudus yang adalah ‘Kasih’ kiranya juga sulit difahami oleh banyak orang dengan akal sehat saja, namun bagi mereka yang percaya kepadaNya pasti akan faham dan menikmatinya. Allah adalah maha segalanya, maka hanya iman kepercayaan sepenuhnya kepadaNya akan memahami. Memang orang yang tidak percaya tak akan mampu memahami, bahkan sering mengejek atau mencemoohkan orang-orang Kristen dan Katolik, antara lain dengan kata-kata “Katanya percaya kepada Tuhan Allah yang Maha Esa, sebagaimana dinyatakan di dalam Pancasila, tetapi gimana itu ada Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus? Berarti Allah orang-orang Kristen dan Katolik ada tiga”. Mendengar kata-kata macam itu jawab saja:”Allah adalah maha segalanya, maka Ia mau apa saja terserah, dan kita tak akan mampu memahami”. Saya sendiri ketika masih belajar di Sekolah Rakyat(SR), yang sekarang disebut Sekolah Dasar (SD), sering dalam perjalanan ke sekolah juga mendapat ejekan dari murid-murid sekolah Muhamadiyah/Islam, yang secara kebetulan sering berpapasan karena sekolah kami berdekatan. Ejekan yang pernah saya terima, maaf dalam Bahasa Jawa, adalah “Konjuk is asmo Dalem Hyang Romo, Hyang Putra, Hyang Suci, yang-yangan, yangmu dhewe”. Karena saya sendirian saja, maka ya diam saja, seraya berdoa dalam hati dengan harapan mereka tidak menyakiti secara phisik. Diejek dengan kata-kata tak ada yang berkurang sedikitpun pada diriku, justru ejekan tersebut merupakan penggemblengan imanku.

Maka dengan ini kami mengajak rekan-rekan umat Kristen dan Katolik atau yang percaya kepada Allah Tritunggal Mahakudus untuk menjadi saksi iman dengan hidup dalam persaudaraan atau persahabatan sejati, saling mengasihi, sebagai tanda atau bukti bahwa kita beriman kepada Allah Tritunggal Mahakudus. Hari Minggu yang lalu kita baru saja mengenangkan anugerah Roh Kudus dalam Hari Raya Pentekosta, maka baiklah tidak kita sia-siakan anugerah tersebut, artinya marilah kita hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan atau bisikan Roh Kudus, yang tidak lain adalah Roh Allah  Bapa dan Putra/Anak. Dengan kata lain beriman kepada Allah Tritunggal Mahakudus berarti hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita berbuahkan keutamaan-keutamaan seperti “ kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,  kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Maka ketika kita menghadapi ejekan atau cemoohan perihal iman kita kepada Allah Tritunggal Mahakudus, marilah kita sikapi atau tanggapi dengan keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh Kudus di atas. Dengan menghayati anugerah-anugerah Roh Kudus tersebut, percayalah bahwa dengan demikian kita akan menikmati hidup kekal selamanya di sorga setelah meninggal dunia nanti.

Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera, maka Allah, sumber damai dan sejahtera, akan menyertai kamu. Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus” (2Kor 13:11-12)

“Sehati sepikir dalam saling ciuman yang kudus” itulah ajakan bagi kita semua dari Paulus. Kiranya para suami-istreri atau bapak-ibu memiliki pengalaman mendalam dalam hal ini, sebagai pasangan hidup yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh. Maka kami berharap para bapak-ibu dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam menahayati ‘sehati sepikir dalam saling ciuman yang kudus’ ini. Ciuman yang kudus merupakan tanda atau bukti saling mengasihi, saling mempersembahkan diri seutuhnya demi kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Saling mencium juga berarti merupakan tanda hidup dalam damai sejahtera. Hidup dalam damai sejahtera berarti hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah, sumber damai dan sejahtera.

Setiap kali bertemu dengan orang lain kita juga saling memberi salam, misalnya “selamat datang, selamat pagi, selamat berjumpa, berkat Tuhan (berkah Dalem), asalamualikum, dst..”. Memang ada kemungkinan pemberian salam tersebut hanya sopan santun atau formalitas belaka atau sungguh keluar dari lubuk hati yang terdalam sebagai tanda saling mengasihi. Tentu saja kami berharap saling memberi salam tersebut merupakan luapan hati yang saling mengasihi, sehingga sungguh saling meneruskan damai sejahtera yang dianugerahkan Allah kepada kita yang lemah dan rapuh ini. Dalam saling memberi salam sering  juga disertai dengan ciuman atau pelukan yang mesra dan nikmat, sehingga masing-masing merasa digairahkan hidupnya.

Hidup dalam damai sejahtera sejati, saling bersaudara dan mengasihi pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat dan mempertimbangkan bahwa ada gejala saling menyandra dan menjatuhkan antar kelompok atau organisasi maupun pribadi di negeri tercinta ini.  Kami berharap kepada para tokoh hidup bersama di negeri kita tercinta ini sungguh dapat menjadi teladan dalam hidup damai sejahtera sejati, saling bersaudara dan saling mengasihi, sebagai bukti pengahayatan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, dasar negara Republik Indonesia tercinta.

“Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami, yang patut dihormati dan ditinggikan selama-lamanya, terpujilah namaMu yang mulia dan kudus, yang patur dihormati dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau dalam BaitMu yang mulia dan kudus, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya” (Dan 3:52-53)

Add a comment
 
Kamis, 09 Juni 2011
Renungan - Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ
Wednesday, 08 June 2011 13:53

“Kasih yang Engkau berikan kepadaKu ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka”

(Kis 22:30; 23:6-11;Yoh 17:20-26)

“ Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;  supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.  Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:  Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. . Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.  Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku;  dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka."(Yoh 17:20-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Allah adalah kasih, maka beriman kepada Allah berarti dengan sepenuhnya menerima kasih Allah dan hidup serta bertindak saling mengasihi, sebagaimana Allah telah mengasihi. Kasih Allah kepada kita tiada henti, sebagaimana didoakan Yesus, yaitu “Aku telah memberitahukan namaMu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya , supaya kasih yang Engkau berikan kepadaKu ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka”. Kasih Allah kepada kita melalui RohNya, Roh Cintakasih, maka baiklah di hari menjelang anugerah Roh Kudus di Hari Raya Pentekosta ini kita dalam novena Roh Kudus hari ini mohon agar Roh Cintakasih senantiasa menyertai dan menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun, sehingga kita hidup saling mengasihi. Sekali lagi saya ingatkan bahwa hidup saling mengasihi mudah kita hayati jika masing-masing dari kita menyadari dan menghayati diri sebagai ‘buah kasih’ atau ‘yang terkasih’, yang diciptakan dalam kasih serta dibina, dididik, ditumbuh-kembangkan dalam dan oleh kasih. Para suami-isteri atau bapak-ibu kami harapkan dapat menjadi saksi saling menagsihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh bagi anak-anaknya, dan anak-anak kami harapkan meneladan hidup saling mengasihi dari orangtuanya. Memang ada kemungkinan terjadi keterbatasan dalam hal pemahaman dan penghayatan cintakasih, maka kami harapkan kita sering curhat dengan saudara-saudari kita perihal hidup saling mengasihi, sehingga masing-masing dari kita diperkaya dan diperkembangkan dalam hidup saling mengasihi. Barangsiapa saling mengasihi berarti menghayati diri sebagai ciptaan Allah, gambar dan citra Allah, yang adalah Kasih Sejati.
  • "Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma."(Kis 23:11), demikian firman Tuhan kepada Paulus yang dengan berani bersaksi perihal kebangkitan orang mati.  Paulus diadili karena kebangkitan orang mati dihadapan orang-orang Saduki dan ahli-ahli Taurat, maka ketika Paulus mengangkat perihal kebangkitan orang mati timbullah keributan antar mereka, karena orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan orang mati dan ahli Taurat percaya. Ketegangan dan keributan yang terjadi antar mereka karena ketegaran dan keberanian Paulus menyebabkan pembebasan Paulus dari aneka tuduhan pengadilan. Paulus pun akhirnya menerima peneguhan dari Tuhan agar tetap bersaksi perihal kebangkitan orang mati, bahwa ada perintah “demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma”. Roma pada masa itu boleh dikatakan sebagai kota modern, atau pada masa kini disebut sebagai metropolitan seperti Jakarta, dengan kata lain mayoritas penduduknya bersikap mental materialistis dan kurang beriman alias kurang atau tidak percaya akan kebangkitan orang mati. Maka dengan ini kami berharap kepada segenap umat beriman di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dst.. untuk dengan tegar dan rendah hati menjadi saksi iman, saksi kebangkitan orang mati. Dengan kata lain hendaknya setia pada iman serta lebih mengutamakan keselamatan jiwa manusia. Keselamatan jiwa manusia hendaknya menjadi tolok ukur atau barometer keberhasilan hidup, panggilan serta tugas pengutusan dimanapun dan kapanpun. Sekolah-sekolah hendaknya lebih mengutamakan agar para peserta didik tumbuh berkembang menjadi pribadi yang beriman, baik dan berbudi pekerti luhur, bukan menjadi pandai atau cerdas secara intelektual saja. Percayalah kita anak-anak tumbuh berkembang menjadi baik, beriman dan berbudi pekerti luhur, maka kelak mereka akan survival dalam hidup, panggilan dan tugas pengutusan, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan yang cukup berat.

Aku memuji Tuhan, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang wajah Tuhan, karena Ia senantiasa berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersuka-cita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan”

(Mzm 16:7-10)

Add a comment
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 10 of 25