|
Renungan -
Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ
|
|
Thursday, 14 March 2013 00:00 |
|
“Aku tidak memerlukan hormat dari manusia.”
(Kel 32:7-14; Yoh 5:31-47)
“Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. Aku tidak memerlukan hormat dari manusia.” (Yoh 5:37-41), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
- Ketegangan antara Yesus dengan ‘musuh-musuhNya’, orang-orang Farisi dan ahli Taurat, mulai muncul ketika Yesus menyatakan “Jati DiriNya” sebagai utusan Allah Bapa. Apa yang dilakukan oleh Yesus merupakan kesaksian sebagai ‘utusan Allah Bapa’, dan siapapun yang percaya kepada ajaran dan pewartaanNya maupun cara hidup dan cara berindakNya akan menerima hidup kekal, bahagia selamanya di sorga setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Orang-orang Farisi maupun para ahli Taurat meskipun mereka mempelajari Kitab Suci, yang tidak lain berbicara perihal Yesus, sebagai ‘utusan Allah Bapa’, tidak percaya kepadaNya serta utusan-utusan Allah Bapa lainnya seperti Yohanes Pembaptis maupun para nabi yang hadir sebelumnya. Sabda hari ini mengingatkan kita semua agar kita percaya kepada ‘utusan-utusanNya’ maupun tidak gila hormat dari manusia, karena kita telah berbuat baik atau melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan. Seorang utusan memang tidak akan dihormati oleh manusia, karena yang bersangkutan hanya meneruskan pesan orang lain yang harus disampaikan kepada orang lain juga, dengan kata lain dari dirinya hanya menyumbangkan tenaga dan waktunya. Sebagai orang beriman yang dipanggil untuk menjadi saksi iman dalam hidup sehari-hari, hendaknya kita juga tidak gila hormat dari saudara-saudari kita, bahkan siapapun yang setia menjadi saksi iman pada masa kini akan disingkirkan atau dilecehkan. Orang jujur dan disiplin dalam pelayanan dan kerja di masyarakat, bangsa atau Negara kita ini pasti akan menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, atau bahkan diancam untuk disingkirkan oleh mereka yang gila harta benda, gila hormat dan gila kedudukan atau jabatan.
- “Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu. Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.” (Kel 32:12-13), demikian doa permohonan Musa kepada Allah. Allah memang Mahakasih dan Maha-pengampun, dan siapapun yang dengan rendah hati mohon kasih pengampunanNya pasti akan dikabulkan. Memang kita sering menerima ancaman sebagaimana dialami oleh bangsa terpilih dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji, yaitu ancaman dimusnahkan ketika kita tidak setia dalam perjalanan, yaitu setia pada kehendak dan perintah Allah. Kiranya selama mawas diri dalam aneka kegiatan Prapaskah kita juga menerima kelemahan dan dosa-dosa kita, maka hendaknya tidak takut untuk menghadap Allah mohon kasih pengampunan, dan tentu saja mohon kasih pengampunan kepada mereka yang telah kita sakiti atau lukai dengan perilaku, cara hidup dan cara bertindak kita yang tak bermoral. Percayalah bahwa jika kita dengan rendah hati mohon kasih pengampunan kepada saudara-saudari kita pasti akan diampuni. Tentu saja kita sebagai orang beriman juga dipanggil untuk dengan murah hati mengampuni saudara-saudari kita yang mohon pengampunan kepada kita. Dengan kata lain marilah kita hidup saling mengampuni sehingga kehidupan bersama kita dimana pun dan kapan pun enak, dalam dalam sejahtera baik lahir maupun batin, fisik maupun spiritual.
“Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; mereka menukar Kemuliaan mereka dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput. Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal yang besar di Mesir: perbuatan-perbuatan ajaib di tanah Ham, perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau” (Mzm 106:19-22)
|
|
|
Renungan -
Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ
|
|
Wednesday, 13 March 2013 00:00 |
|
“Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku,”
(Yes 49:8-15; Yoh 5:17-30)
“Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga." Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yoh 5:17-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
- Yesus menyatakan Diri bahwa DiriNya adalah utusan Allah Bapa alias sebagai Anak Allah, dan karena itu Ia harus melaksanakan tugas pengutusan Allah Bapa. Karena Ia menyebut Allah sebagai Bapa, maka orang-orang Yahudi semakin ingin membunuhNya. Pengakuan Yesus ini bagi kita masa kini berarti pengakuan iman kita pada Allah Tritunggal, yang memang hanya dapat diimani dan tak mungkin dimengerti secara jelas dan memuaskan sesuai akal sehat alias mengerti sepenuhnya Allah, yang maha segalanya. Gambaran atau pemahaman kita perihal Allah kita terima melalui para pendahulu kita, yang kita imani sebagai utusan Allah: bagi umat Kristen berarti dari Yesus, bagi umat Islam berarti Nabi Muhamad saw, bagi umat Budha berarti Sidharta Gautama dst… Dengan kata lain pemahaman kita perihal Allah memang tidak pernah sempurna, namun kita beriman atau percaya kepada Allah, maka marilah di Tahun Iman ini kita perdalam iman kita kepada Allah. Hendaknya dalam dan dengan semangat iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, jika kita mendambakan hidup berbahagia dan damai sejahtera lahir dan batin, spiritual dan fisik. Allah hadir dimana-mana, dalam semua ciptaanNya, terutama dalam diri manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah, maka baiklah kita saling percaya dan berbakti satu sama lain, terutama percaya bahwa perbuatan baik yang dilakukan oleh siapapun karena rahmat dan anugerah Allah alias Allah hidup dan berkarya dalam diri orang yang berlaku baik.
- “ Aku akan membuat segala gunung-Ku menjadi jalan dan segala jalan raya-Ku akan Kuratakan. Lihat, ada orang yang datang dari jauh, ada dari utara dan dari barat, dan ada dari tanah Sinim.” (Yes 49:11-12). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita sebagai umat beriman. Allah menghendaki adanya kejujuran atau ketulusan hati dalam diri kita, umat beriman, dan memang untuk menjadi orang yang jujur dan tulus hati pada masa kini tak akan pernah lepas dari aneka tantangan, hambatan dan masalah. Tumbuh-berkembang menjadi orang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur harus disertai dengan pengorbanan dan perjuangan. “Jer basuki mowo beyo” = Untuk memperoleh hidup bahagia dan damai sejahtera orang harus berjuang dan berkorban. Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua: hendaknya segala tantangan, masalah dan hambatan yang lahir dari kesetiaan hidup beriman dijadikan sarana atau wahana untuk tumbuh berkembang sebagaimana dikehendaki oleh Allah, dengan kata lain jangan dihindari, melainkan hadapi dengan rendah hati dan rahmat Allah. Bersama dan bersatu dengan Allah kita akan mampu mengatasi aneka tantangan, hambatan dan masalah. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, marilah kita meneladanNya, yaitu meskipun harus menghadapi ancaman untuk dibunuh atau disingkirkan, hendaknya tetap setia pada iman kepercayaan kita kepada Allah, yang telah menciptakan dan mengutus kita untuk dalam kelemahan dan kerapuhan berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya.
“TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (Mzm 145:8-9)
|
|
Renungan -
Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ
|
|
Tuesday, 12 March 2013 00:00 |
|
"Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi,”
(Yeh 47:1-9.12; Yoh 5:1-3a. 5-16)
“ Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit.. Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?" Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat. Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: "Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu." Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah." Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?" Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.” (Yoh 5:1-3a.5-16), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
- Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia seisinya, antara lain menyembuhkan orang-orang sakit. Dan memang orang jatuh sakit pada umumnya juga kurang setia pada iman, kurang taat pada kehendak Allah dan lebih cenderung mengikuti selera atau keinginan pribadi dalam cara hidup dan cara bertindaknya. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan bahwa Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, yang menurut tradisi orang-orang Yahudi tidak boleh dilakukan. Kepada orang yang telah disembuhkan Ia berpesan agar jangan melakukan dosa lagi, sehingga tidak akan terjadi sesuatu yang lebih membuatnya menderita dan sengsara, sementara itu orang-orang Yahudi ‘berusaha untuk menganiayaNya, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat’. Hari Sabat adalah hari khusus bagi Allah, dan menurut tradisi pada hari Sabat orang-orang Yahudi: tidak boleh berjalan lebih dari 1000 meter, membaca Kitab Suci dan bagi suami-isteri merupakan waktu untuk berhubungan seks dengan pasangannya sendiri, dengan kata lain ‘melanjutkan karya penciptaan Allah’ alias senantiasa melaksanakan kehendak atau perintah Allah dengan berbuat baik, melakukan apa-apa yang menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa manusia. Menyembuhkan orang sakit senada dengan mengampuni dosa, maka apa yang dilakukan oleh Yesus tidak bertentangan dengan tujuan hari Sabat. Demi keselamatan dan kebahagiaan jiwa manusia orang dapat melakukan apapun asal tidak melecehkan atau merendahkan harkat martabat manusia.
- "Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup” (Yeh 47:8-9). Air memang menjadi sumber kehidupan, tubuh kita kurang lebih 70% terdiri dari air, maka ketika orang kekurangan air akan mengalami lemah fisik dan ada kemungkinan jatuh sakit. Maka dengan ini kami mengharapkan anda sekalian untuk menjaga kelestarian atau keberadaan air bersih demi kesehatan umat manusia. Menjaga, merawat atau meng-usahakan lingkungan hidup yang penuh dengan aneka tanaman dan tumbuh-tumbuhan merupakan cara yang mendesak dan up to date untuk kita laksanakan bersama, maka usahakan lingkungan rumah atau tempat tinggal dan tempat kerja anda ‘penghijauan’ yang memadai. Semoga para pengusaha kayu tidak serakah membabati hutan, demikian juga para pengusaha tambang hendaknya tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup. Perubahan iklim dan ekosistem yang terjadi akibat keserakahan manusia mengancam kehidupan manusia. Demikian juga kami berharap kepada para pengusaha air kemasan tidak serakah menyedot air tanah dan mencegat air yang mengalir dari sumber-sumber air untuk dikemas dalam botol-botol, dengan kata lain semoga komersialisasi air dikurangi dan syukur dihentikan.
“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi”
(Mzm 46:2-3.5-6)
|
|
Renungan -
Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ
|
|
Monday, 11 March 2013 00:00 |
|
"Tuhan datanglah sebelum anakku mati."
(Yes 65:17-21; Yoh 4:43-54)
“Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Maka setelah Ia tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu. Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang."Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: "Anakmu hidup." Lalu ia pun percaya, ia dan seluruh keluarganya. Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.” (Yoh 4:43-54), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
- Pegawai istana pada umumnya orang-orang yang sungguh tahu sopan santun serta berbudi pekerti luhur, maka boleh dikatakan sungguh beriman. Maka kiranya dapat difahami bahwa ia tergerak dengan rendah hati mohon kepada Yesus untuk kerumahnya guna menyembuhkan anaknya yang sedang menderita sakit keras. Hal ini kiranya dapat menjadi bahan mawas diri bagi kita semua, yaitu bahwa sehat dan sakit erat kaitannya dengan beriman dan tidak/kurang beriman. Sementara itu bagi mereka yang menderita sakit kami harapkan dengan rendah hati membuka diri untuk disembuhkan melalui bantuan atau pertolongan orang-orang yang dapat menyembuhkan. Mungkin kebanyakan dari kita sedang menderita sakit hati atau sakit jiwa, dan memang belum parah. Maka baiklah sebelum penyakit kita parah kita segera berobat. Jika kita masih sakit hati terhadap seseorang hendaknya segera minta maaf, demikian juga jika masih sakit jiwa alias kita belum memiliki spirit atau semangat yang seharusnya kita miliki dan hayati, misalnya spiritualitas atau visi tarekat atau organisasi, dan sebagai orang yang telah dibaptis kurang menghayati janji baptis dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Dalam hal spiritualitas atau janji baptis ini kiranya dengan rendah hati kita dapat saling belajar bersama dengan rekan-rekan seiman atau sepanggilan dalam pendalaman iman bersama selama masa Prapaskah ini. Dengan kata lain baiklah jika selama masa Prapaskah ini kita sempatkan untuk membaca dan merenungkan aneka jenis tatanan atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, seperti konstitusi, anggaran dasar, pedoman hidup dst…
- "Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati. Tetapi bergiranglah dan bersorak-sorak untuk selama-lamanya atas apa yang Kuciptakan, sebab sesungguhnya, Aku menciptakan Yerusalem penuh sorak-sorak dan penduduknya penuh kegirangan. Aku akan bersorak-sorak karena Yerusalem, dan bergirang karena umat-Ku; di dalamnya tidak akan kedengaran lagi bunyi tangisan dan bunyi erang pun tidak. Di situ tidak akan ada lagi bayi yang hanya hidup beberapa hari atau orang tua yang tidak mencapai umur suntuk, sebab siapa yang mati pada umur seratus tahun masih akan dianggap muda, dan siapa yang tidak mencapai umur seratus tahun akan dianggap kena kutuk” (Yes 65:17-20). Kutipan ini menggambarkan sebuah situasi dan kondisi ideal yang harus kita usahakan bersama-sama, bersama dengan saudara-saudari kita serta bersama dengan Allah, yang telah menciptakan langit dan bumi seisinya. Kita semua dipanggil untuk memperbaharui diri alias bertobat, kembali ke jalan yang benar dalam menuju Allah. Dengan kata lain marilah kita membuka diri terhadap bisikan atau dorongan Roh Kudus, yang antara lain menggejala dalam kehendak dan perbuatan baik saudara-saudari kita. Kami percaya bahwa kita semua berkehendak baik dan senantiasa melakukan apa yang baik, namun karena kelemahan dan kerapuhan kita perwujudannya berbeda satu sama lain, dan untuk itu perlulah kita saling mensinerjikan kehendak dan perbuatan baik kita dalam kerendahan hati. Marilah kita saling berbagi keutamaan-keutamaan yang kita imani dan miliki, sehingga kita semakin diperkaya dengan aneka keutamaan-keutamaan. Semoga kita senantiasa bekerjasama melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa.
“Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku. TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur. Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus” (Mzm 30:2.4-5)
|
|
Renungan -
Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ
|
|
Sunday, 10 March 2013 00:00 |
|
Mg Prapaskah IV: Yos 5:9a.10-12; 2Kor 5:17-21; Luk 15:1-3.11-32
“ Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."
Ketika saya bertugas sebagai Direktur Perkumpulan Strada di Jakarta menyelenggarakan ‘pertemuan kepala sekolah’, ada seorang kepala sekolah, yang telah kurang lebih 25 tahun berkarya di lingkungan Perkumpulan Strada, menyampaikan keluhan atau ‘unek-unek’ sebagai berikut: “Romo, kami ini sudah melayani/bekerja selama kurang lebih 25 tahun di Perkumpulan Strada, namun sampai saat ini belum menerima sumbangan/restitusi kesehatan sedikitpun. Sementara itu salah satu guru kami yang bekerja belum genap 10 tahun telah menerima restitusi kesehatan jutaan rupiah”. Kepala sekolah yang bersangkutan memang dikenal sebagai pribadi yang kritis, dan boleh dikatakan cerdas juga. Saya teringat akan hal tersebut setelah merenungkan bacaan Injil hari ini, yang mengkisahkan perihal ‘anak hilang’. Hemat saya perumpamaan ‘anak hilang’ ini pertama-tama untuk menanggapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersungut-sungut menyaksikan Yesus menerima orang-orang berdosa. Dalam perumpamaan ditampilkan ‘tiga tokoh’, yang kiranya dapat menjadi bahan refleksi atau mawas diri bagi kita semua, yaitu : bapa yang baik dan penuh belas kasih, anak sulung dan anak bungsu/hilang. Maka marilah kita mawas diri: bagaimana keadaan kita saat ini, apakah seperti bapa yang baik dan penuh belas kasih, anak sulung atau anak bungsu?
“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa” (Luk 15:18-19)
Anak bungsu dalam ‘keluarga dua anak cukup’, sebagaimana terjadi pada masa kini, pada umumnya akan lebih dimanjakan oleh orangtuanya daripada anak sulung. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan bahwa anak bungsu minta hak waris dari bapanya dan dikabulkan dengan diberi separoh dari kekayaannya. Si anak bungsu pun akhirnya bersenang-senang, berfoya-foya dengan sepuas-puasnya, termasuk pergi ke pelacuran. Seberapa besar jumlah uang atau harta benda ketika digunakan untuk berfoya-foya akhirnya habis juga, dan itulah yang terjadi dalam diri anak bungsu, sehingga ia sungguh sangat menderita. Dalam puncak penderitaannya ia baru ingat akan bapanya, sebagaimana juga dialami oleh kebanyakan dari kita, yaitu ketika bersenang-senang lupa daratan, melupakan segala-galanya dan baru setelah menderita ingat akan kebenaran yang harus dipeluk dan dihayatinya.
Anak bungsu akhirnya menyadari dan menghayati kedosaan dan kerapuhannya serta kemudian tergerak untuk mohon kasih pengampunan dan kemurahan hati kepada bapanya. Hal ini kiranya juga dapat menjadi bahan permenungan atau refleksi kita. Dalam mawas diri selama masa Prapaskah ini kiranya kita juga menyadari segala kelemahan dan dosa-dosa kita, maka marilah dengan rendah hati kita mohon kasih pengampunan dan kemurahan hati Allah, antara lain dengan mengaku dosa, dan tentu saja juga perlu disertai dengan mohon kasih pengampunan kepada mereka yang telah kita sakiti atau kecewakan karena dosa-dosa dan kelalaian atau kesambalewaan kita. Salah satu kebenaran sejati adalah bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang dikasihi oleh Allah dan dipanggilnya untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya, maka marilah kita tak perlu takut menghadap Allah maupun saudara-saudari kita untuk mohon belas kasih, kemurahan dan kasih pengampunannya, karena Allah sungguh maha kasih dan maha pengampun, demikian pula kebanyakan dari saudara-saudari kita.
“Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia” (Luk 15:20).
Ayah atau bapa dalam kisah hari ini menggambarkan Allah yang sungguh berbelas kasih kepada umatNya yang tergerak menghadapNya guna mohon kasih pengampunan. Sebelum kita secara konkret mohon kasih pengampunan melalui imam dalam kamar pengakuan, Allah telah mengetahui apa yang kita rindukan atau dambakan. Ia sungguh akan ‘merangkul dan menciumi kita’. Maka Paulus berani memberi kesaksian iman sebagai berikut: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.” (2Kor 5:17-19)
Sebagai orang yang beriman kepada Allah kita semua dipanggil juga untuk memiliki hati yang tergerak orang belas kasihan terhadap orang-orang berdosa, yang menyadari dosa-dosanya serta mendatangi kita untuk mohon belas kasih dan pengampunan. Kami percaya bahwa diri kita masing-masing telah menerima belas kasih, kemurahan hati dan kasih pengampunan secara melimpah ruah melalui orang-orang yang telah mengasihi dan memperhatikan kita, maka marilah apa yang kita miliki tersebut kita salurkan atau bagikan kepada saudara-saudari kita. Kerajaan Allah adalah kerajaan hati, maka beriman kepada Allah memang diharapkan sungguh memiliki hati yang bebelas kasih. Ketika ada orang salah minta maaf kepada kita marilah yang bersangkutan kita rangkul dan ciumi dengan belas kasih, demikian pula hendaknya memperlakukan anak-anak nakal dengan belas kasih, bukan dengan kekerasan. Percayalah bahwa belas kasih akan memotivasi dan mendorong orang untuk bertobat dan memperbaharui diri.
“Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia” (Luk 29-30).
Kutipan di atas ini kiranya terarah bagi siapapun yang bersikap mental Farisi atau orang-orang sombong, yang merasa dirinya paling baik dan melecehkan orang lain. Memang secara yuridis mereka begitu setia dan taat pada aneka tatanan atau aturan, tetapi mereka hanya lebih mengandalkan diri pada otak atau pikiran, bukan pada hati dan belas kasih. Pembinaan dan pendidikan di Indonesia ini, entah pendidikan informal dalam keluarga maupun formal di sekolah-sekolah pada umumnya juga lebih mengedepankan otak atau pikiran alias kecerdasan intelektual daripada hati atau kecerdasan spiritual, sehingga tidak mengherankan orang berlomba untuk mencapai nilai ulangan maupun ujian setinggi mungkin, meskipun untuk itu harus menyontek, dan dalam kenyataan banyak sekolah membiarkan para peserta didiknya menyontek dalam ulangan maupun ujian. Buah dari semua itu cukup jelas: sikap mental yuridis atau orientasi pada hukum untuk menjatuhkan orang lain dan mengutamakan kepentingan pribadi.
Hati mereka sungguh keras, sebagaimana digambarkan dalam warta gembira sebagai anak sulung, yang didekati ayahnya dengan penuh belas kasih, tak terusik atau tak tergerak sedikitpun hatinya untuk membuka diri atas sentuhan belas kasih tersebut. Anak sulung tak menanggapi undangan ayahnya untuk berpesta bersama dengan anak bungsu yang bertobat, dan hal ini hemat saya juga menggambarkan orang-orang yang tidak ada kepedulian sedikitpun dalam kebersamaan, menghindar dari ajakan untuk bertemu dengan saudara-saudarinya alias senantiasa menyendiri, mengasingkan diri. Hemat saya orang yang demikian ini tidak hanya secara fisik saja memisahkan diri dari sesamanya, melainkan juga secara spiritual. Kepada mereka yang tertutup hatinya, dengan rendah hati kami ajak untuk membuka diri. yang sombong untuk bertobat menjadi rendah hati.
“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” (Mzm 34:2-5)
|
|
|