PENGUMUMAN
Gembala Paroki Trinitas
Profile - Gembala Paroki
Paroki Cengkareng yang memiliki sekitar 5.000 keluarga atau hampir 20.000 jiwa ini digembalakan oleh para Imam dari Kongregasi Oblat Maria Immaculata (OMI). Dalam mengemban tugas memelihara, merawat dan membesarkan Paroki Cengkareng lewat reksa pastoralnya, para Imam OMI ini dibantu oleh para Suster dari Kongregasi Amalkasih Darah Mulia (ADM) dan Jesus Maria Joseph (JMJ). Imam OMI yang kini sedang berkarya di Paroki Cengkareng hanya 4 orang saja. Marilah kita mengenal lebih dekat satu per satu dari mereka:

Romo Peter Kurniawan Subagyo, OMI

Lahir di Melbourne, 16 Agustus 1953, Romo Peter – begitu Beliau biasa disapa – menghabiskan masa kecil dan mudanya di Melbourne.  Beliau masuk seminari di tahun 1972 dan ditahbiskan sebagai imam di Gereja St. Michael, North Melbourne, 24 November 1978.  Selepas menerima tahbisan imamat, Romo yang murah senyum, jenaka, dan ramah ini berkarya di Paroki Sefton, Sydney, Australia selama 5 tahun.  Cita-citanya menjadi Misionaris OMI tercapai saat Beliau diutus ke Indonesia di tahun 1983.

Tugas pertama yang diemban Beliau adalah sebagai Asisten di Seminari Tinggi OMI, Condongcatur, Yogyakarta.  Di tahun 1985, Romo Peter diutus berkarya di Paroki Cengkareng, sebagai Pastor Kepala Paroki, menggantikan Romo Petrus McLaughlin, OMI.  Selama 5 tahun Romo Peter menggembalakan umat muda Cengkareng yang kala itu sedang mengusahakan berdirinya gedung gereja impian mereka.  Dalam masa itulah gedung gereja berhasil dibangun dan diresmikan pada 21 Februari 1990 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Bapak Wiyogo Atmodarminto dan diberkati oleh Bapa Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, SJ.  Mengakhiri masa karyanya di Cengkareng, di bulan Agustus 1990  Romo Peter ditugaskan kembali ke Yogyakarta sebagai Rektor Seminari Tinggi OMI hingga tahun 1996 saat Beliau dikirim kembali ke Jakarta untuk berkarya di Paroki Kalvari, Lubang Buaya.   Selama masa karyanya di luar Cengkareng, Romo Peter masih cukup sering terlihat mampir di Cengkareng pada acara-acara khusus yang diadakan oleh Paroki.

Pada September 2007, oleh Provinsial OMI Indonesia, Romo Peter ditugaskan kembali ke Cengkareng.  “Wah... saya rasanya senang sekali.  Saya punya banyak teman lama di sini, meski tidak berkarya di sini, saya masih terus mengikuti perkembangan Paroki Cengkareng.  Saya senang karena begitu banyak saudara-saudari yang saya kenal dahulu hingga kini masih terlihat di gereja. Jadi saya datang ke tempat yang tidak begitu asing buat saya,” ujar Romo Peter yang sangat memperhatikan perkembangan iman kaum muda dan yang membawa masuk kegiatan pembinaan iman kaum muda, Antiokhia, ke Cengkareng ini.

Menurut Romo Peter, Paroki Cengkareng punya potensi yang besar sekali,  “Saya melihat ada begitu banyak potensi dalam diri umat Cengkareng.  Kita harus bersama-sama menggalinya.  Di Paroki ini juga banyak terdapat keluarga muda.  Melihat perkembangan zaman dengan segala masalahnya, juga dengan terjadinya krisis ekonomi global sekarang ini, saya pikir banyak keluarga di Paroki ini yang kena imbasnya.  Mari bersama-sama kita bantu mereka yang berkesusahan.  Saling menguatkan dalam menghadapi masa depan.  Semangat menggereja umat yang luar biasa di Cengkareng ini dapat menjadi bekal untuk saling membantu sesama umat dalam menghadapi masalah.  Tidak perlu menunggu Romo, umat pun dapat saling menguatkan dan memberi nasihat.  Mungkin sekali tanpa sadar umat sudah melakukan hal demikian,” kata Romo Peter yang punya hobi berolahraga tenis lapangan ini.

Dengan motto tahbisan “All you priests praise the Lord” – Pujilah Tuhan, hai para imam Tuhan (Daniel 3:84), Romo Peter yang terus ingin menjadi seorang imam misioner yang melayani umat ini berharap: “Kita semua harus menjadi Paroki yang menghadapi masa depan.  Memang ada beberapa peristiwa yang tidak bagus yang harus kita hadapi, tapi dengan potensi dan kemampuan luar biasa yang ada pada umat, kita bisa terus maju.  Banyak tantangan ke depannya, kita harus dapat melupakan kekurangan masa lampau untuk bergerak maju ke depan supaya Paroki kita bisa menjadi Paroki besar di lingkup Keuskupan Agung Jakarta.  Jangan kita nanti malah menjadi Paroki dengan persoalan-persoalan besar, tapi jadilah Paroki yang bisa menunjukkan kekuatan dan potensi yang ada di Gereja kita ini.”


Romo Antonius Widiatmoko, OMI

Sulung dari 4 bersaudara yang lahir di Muntilan, 08 Februari 1975 ini menerima tahbisan imamatnya di Gereja Dahor, Balikpapan pada 07 Desember 2003.  Adalah keinginan dan harapan  Romo Widi – begitu sapaan biasanya -  untuk dapat melayani umat Katolik di pedalaman Kalimantan yang cukup sulit dijangkau dan yang hanya merayakan Ekaristi 3 bulan sekali.  Maka dengan gembira Romo Widi menerima tugas pertamanya sebagai imam di Paroki St. Fidelis, Sejiram, Kalimantan Barat.  Di bulan Juli 2005, Romo Widi berkarya di Paroki St. Petrus & Andreas, Sepauk, Kalimantan Barat hingga turunnya surat penugasannya ke Paroki Cengkareng pada 15 September 2008. Bagaimana Romo Widi menanggapi medan tugasnya yang baru ini?

“Saya cukup sedih untuk meninggalkan daerah misi Kalimantan yang selama ini saya geluti bersama kesederhanaan umat, lumpur, banjir, dan juga debunya.  Saya juga merasa sayang harus berpisah dengan umat Sepauk yang punya kesungguhan dalam perjuangan JPIC-nya untuk mempertahankan hutan dan air sungai yang bersih bagi masyarakat asli suku Dayak yang sekarang ini berada dalam bahaya pengrusakan/penghancuran secara sistimatik.  Tetapi sekaligus saya merasa senang karena akan masuk ke Paroki Cengkareng yang luar biasa.  Paroki yang hidup, diberkati oleh Tuhan sendiri dengan kehadiran umat yang begitu aktif, bersemangat, murah hati, setia dan punya komitmen kuat untuk mencintai Tuhan melalui sesamanya.  Diutusnya saya untuk berkarya di Cengkareng ini saya terima dengan ketaatan sebagai seorang Oblat.  Saya hanya berharap bahwa saya dapat bekerja bersama umat dengan segala yang ada pada diri saya,” demikian Romo Widi yang saat bertugas di pedalaman Kalimantan punya hobi keluar masuk kampung dengan mengendarai motor.

Memilih motto tahbisan imamatnya “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10b), Romo Widi ingin senantiasa menjadi seorang imam yang dapat melayani umat dengan segenap hati, berkomitmen sebagai seorang Oblat, dan dapat bekerjasama dengan umat. Dalam pandangan Romo yang murah senyum dan ramah ini, umat Cengkareng sungguh amat diberkati oleh Tuhan.  Hal ini dapat dilihat dari segala macam kegiatan yang selalu berlangsung di seputar gereja.

“Paroki Cengkareng sungguh diberkati oleh Tuhan dengan umat yang begitu bersemangat. Hal ini sungguh saya syukuri sebagai seorang imam, dan saya pun yakin, umat Cengkareng pun pasti mensyukuri berkat yang luar biasa ini,” kata Romo Widi sambil menambahkan: “Semoga umat Cengkareng dapat terus mempertahankan dan meningkatkan apa yang sudah baik demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa yang lebih banyak lagi.  Tentu saya juga mengharapkan agar umat Cengakreng tetap ada dalam satu visi dan misi dengan Keuskupan, yaitu meningkatkan kualitas umat basis dengan strategi pastoral Gembala yang Baik. Jangan sampai satu orang pun tercecer.  Imam menjadi gembala baik bagi umatnya, begitu juga umat dapat saling menggembalakan satu dan lainnya entah itu di dalam lingkup terkecil yaitu keluarga, antar tetangga, di Lingkungan, Stasi, atau Gereja.  Sehingga umat tidak melulu bergantung pada imamnya, selalu meminta pelayanan seorang imam, tetapi bisa pula menerima pelayanan dari para Prodiakon. Saya juga berharap agar kita semua menaruh perhatian yang serius untuk peningkatan kualitas kehidupan keluarga-keluarga Kristiani dan kaum muda kita. Jangan sampai ada yang tertinggal.”

Tak lama tiba di medan tugas yang baru, Romo Widi langsung diberi tugas khusus oleh Pastor Kepala Paroki Cengkareng: ditunjuk untuk menangani Gereja Stasi Santa Maria Imakulata, yang nantinya merupakan pemekaran dari Paroki Cengkareng.  Sejauh ini, Romo Widi dan Tim Panitia Pembangunan Gereja (PPG) masih terus mengupayakan perolehan izin mendirikan bangunan bagi pembangunan rumah ibadah tersebut.  “Ya, saya hanya ingin berpesan pada seluruh umat Paroki Cengkareng – khususnya kepada umat yang termasuk dalam Stasi tersebut, agar dengan tak jemu-jemu melambungkan doa permohonan pembangunan gereja ini kepada Tuhan.  Di Lingkungan-Lingkungan, adakanlah Doa Novena.  Berdoalah..... Doa, doa, dan doa, karena kuasa doa besar sekali.  Jangan kita meragukan kekuatan doa sebab Tuhan sendirilah yang bekerja melalui dan untuk kita. Semoga Tuhan mengabulkan permohonan kita dan memberikan hadiah tak terduga bagi kita semua yang senantiasa berharap padaNya.”


Romo Gregorius Basir Karimanto, OMI

Lahir di Promasan, 21 Mei 1956 dan ditahbiskan di Cilacap, 27 Februari 1987 sebagai putera Indonesia pertama yang menjadi Imam Kongregasi Oblat Maria Imakulata (OMI).  Sebagai karya pertamanya, Romo Basir diutus berkarya di Paroki St. Stefanus, Cilacap (1987-1992).  Beliau kemudian dikirim belajar di Saidi Centre, Filipina selama setahun (1992-1993) dan kemudian menjadi Magister Novis selama 6 tahun di Yogyakarta (1996-2000).  Di pertengahan September 2000, Romo Basir mulai berkarya di Paroki Trinitas, Cengkareng, sebagai Romo Rekan hingga Agustus 2002 saat Beliau dipercaya menjadi Kepala Paroki Trinitas, Cengkareng (2002-2007).  Romo Basir kemudian melanjutkan karya pelayanannya di Paroki St. Petrus dan Paulus, Dahor, Balikpapan mulai awal tahun 2007 hingga tahun 2009.  Dalam Masa Sabatikal yang dijalaninya di tahun 2010, Romo Basir mengikuti kursus di Yerusalem dan Louven, Belgia.  Sebelum kembali diutus untuk berkarya di Paroki Trinitas, Cengkareng mulai awal tahun 2012, Romo Basir sempat pula berkarya di Paroki St. Stephanus, Malinau, Kalimantan Timur, selama 1 tahun (2011-2012).

Romo Basir mengakui bahwa kembali berkarya di Paroki Trinitas, Cengkareng adalah seperti masuk ke tempat yang baru meski baru 5 tahun meninggalkan Cengkareng.  "Banyak sekali perubahan, terutama cara-cara karya Paroki.  Saya harus menyesuaikan lagi, harus banyak belajar lagi."  Romo Basir berharap Beliau dapat bekerjasama dalam mengembangkan Paroki Trinitas.  "Saya akan berharap sekuat tenaga untuk terus melayani umat.  Banyak yang belum dikerjakan selama saya berkarya di Trinitas waktu lalu, banyak juga karya-karya yang diperlukan dalam kondisi umat yang semakin berkembang."


Romo Tarsisius Riswanta, OMI

Romo Tarci megnenal Paroki Trinitas, Cengkareng, sejak tahun 1978 saat masih sebagai Frater.  Pada tahun 1989, Romo Tarci berkesempatan untuk berkarya di Trinitas selama 7 bulan.  Pada saat itu memang belum ada gedung gereja.  Pada tahun 1999, Beliau menjalani Masa Diakonat di Cengkareng.  Meski kemudian berkarya lama di Paroki Purwokerto, Romo Tarci tidak "putus hubungan" dengan Trinitas, karena sering datang ke Cengkareng membantu karya pastoral para Oblat seperti pada saat menjelang Natal dan Paskah.

Lahir pada 30 Juli 1967, Romo Tarci menerima Tahbisan Imamat pada 06 Juli 1998.  Pada tahun 1995, Romo Tarci sempat mengikuti Studi Spiritualitas di Roma, Italia, selama 1 tahun.  Karya pertama Romo Tarci setelah menerima Tahbisan Imamatnya adalah di Stasi Sidareja, Paroki Cilacap (1998-2000).  Kemudian Beliau menjadi Pastor Paroki Sta. Maria Imakulata, Tarakan, Kalimantan Timur sejak tahun 2000-2004.  Pada tahun 2004, Romo Tarci menjadi Bendahara OMI Provinsi Indonesia dan berdomisili di Semarang.  Tahun 2008, Beliau diutus untuk berkarya di Paroki Sta. Maria Imakulata, Banyumas, Purwokerto sambil juga menjabat sebagai Bendahara OMI Provinsi Indonesia.  Di bulan Februari 2012, Romo Tarci bergabung bersama para Oblat yang ada di Cengkareng untuk memulai karya imamat selanjutnya.  Dalam pandangan Romo Tarci, Paroki Trinitas, Cengkareng, bertumbuh dengan cepat.  Pertumbuhan kuantitas umat yang pesat dan sangat luar biasa kiranya juga diikuti oleh pertumbuhan kualitas umat yang baik.  "Cengkareng memang termasuk Paroki yang besar, umat pun sudah cukup mandiri dalam berkegiatan di Gereja.  Ini terbukti dari umat yang dapat menjalankan karya-karya Gereja tanpa harus disuruh-suruh oleh Romonya, begitu juga ada tanggungjawab jelas dalam bidang masing-masing.  Saya kagum akan hal ini.  Saya memang lama berkarya di Paroki kecil dengan umat yang tidak banyak jumlahnya sehingga sulit untuk saya mencari sumber daya.  Hal ini tidak saya temukan di Trinitas.  Sumber daya - umat - yang siap melayani begitu melimpah.  Saya merasa dapat lebih leluasa berkarya di Trinitas.  Gereja adalah milik kita bersama, maka mari kita bekerjasama mengembangkan Trinitas supaya semakin mandiri."


Para Gembala yang Pernah Bertugas di Paroki Cengkareng

Seiring dengan perkembangannya, Gereja Katolik Trinitas, Paroki Cengkareng, mengenal lebih dari 10 orang gembala. Para gembala ini datang dan pergi silih berganti, sesuai dengan kaul ketaatan mereka untuk bersedia ditugaskan di segala penjuru mata angin. Sumbangan jasa dan pemikiran para gembala yang tak kenal lelah dalam memimpin dan membimbing domba-domba kekasih Allah di Paroki Cengkareng ini tentu tak dapat kita lupakan begitu saja. Berikut adalah nama-nama para gembala yang pernah bertugas dari sejak terbentuknya Stasi Cengkareng:


Nama : Romo Anton Mulder SJ
Masa Tugas : Juli 1972 - 1975
Pastor Kepala Paroki Tangerang yang mulai mempersiapkan umat bakal Paroki Cengkareng ke arah terbentuknya Paroki yang baru. Romo Anton menyelenggarakan Misa mingguan dan menunjuk beberapa umat untuk melaksanakan pendataan umat Katolik di wilayah Cengkareng.


Nama : Romo Patrick Moroney, OMI
Masa Tugas : Februari 1975 - Juni 1976
Romo Patrick Moroney, OMI adalah Imam OMI pertama yang menjejakkan kakinya di wilayah bakal Paroki Cengkareng. Romo yang bertugas dengan sarana yang tidak memadai ini menaruh perhatian pada perkembangan Mudika.



Nama : Romo David Shelton, OMI
Masa Tugas : Juni 1976 - Agustus 1978
Sebagai Pastor Kepala Paroki dan Ketua Dewan Paroki yang pertama. Dalam bimbingannya, lahirlah Dewan Paroki, Seksi Liturgi dan dimulainya pelajaran agama Katolik bagi para calon baptis.


Nama : Romo Peter John McLaughlin, OMI
Masa Tugas : Agustus 1978 - Mei 1984
Pastor Kepala Paroki dan Ketua Dewan Paroki I & II. Romo yang halus tutur katanya ini dijuluki "Romo Peternak Ayam" karena Beliau mengusahakan peternakan ayam potong sebagai salah satu sarana pengumpulan dana penunjang kegiatan Gereja.



Nama : Romo James C. Kalchthaler, MM
Masa Tugas : September 1980 - 1994
Romo James berasal dari Tarekat Maryknoll Missioners - sebuah Tarekat Imam Praja di Amerika Serikat. Romo James bertugas sebagai Pastor Pembantu dan menjadi penggagas dimulainya Pelayanan Karismatik Katolik (PKK) di Paroki Cengkareng dan menjadi pembimbingnya. Beliau juga dikenal sebagai penggerak Koperasi Kredit Usaha Sejahtera.  Romo James telah berpulang ke Rumah Bapa, 24 Juni 2007, dalam usia 81 tahun di Wisma Sta. Teresa, Maryknoll, New York, Amerika Serikat.


Nama : Romo John O'Doherty, OMI
Masa Tugas : Mei 1984 - 1985 dan Oktober 1997 - Agustus 2002
Pastor Kepala Paroki dan Ketua Dewan Paroki III, VII & VIII. Beliau menaruh perhatian pada kemajuan Liturgi dan Prodiakon.



Nama : Frater Heribertus Boedhy Prihatna, OMI
Masa Tugas : 1987
Menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Cengkareng selama 1 tahun. Setelah ditahbis menjadi Imam di bulan Mei 1990, Romo Budi ditugaskan ke Kalimantan Barat dan meninggal dalam karya karena kecelakaan lalu lintas.


Nama : Romo P. Jean-Pierre Meichel, OMI
Masa Tugas : 1994 - 1998
Sebagai Pastor Pembantu, Beliau yang tidak muda lagi ini tercatat berhasil membuat pemetaan Paroki Cengkareng secara tepat.


Nama : Romo Fransiskus Asisi Rumiyanto, OMI
Masa Tugas : 1995 - 1997
Pastor Kepala Paroki dan Ketua Dewan Paroki VII. Beliau dikenal dekat dengan umat tanpa pandang golongan sosial.



Nama : Romo Antonius Rajabana, OMI
Masa Tugas : Hingga Juni 1996 (Masa Diakonat) dan 1996 - 2000
Menjalani Masa Diakonat di Paroki Cengkareng, setelah menerima tahbisan imamatnya Romo Bono kembali ditugaskan di Cengkareng sebagai Pastor Pembantu hingga tahun 2000, saat Beliau meneruskan studi S2-nya di Yogyakarta.


Nama : Romo Diakon F.X. Siswo Murdiono, OMI
Masa Tugas : 1996 - awal 1997
Menjalani Masa Diakonat di Paroki Cengkareng.



Nama : Romo Marcello, OMI
Masa Tugas : Akhir 1998 - Desember 1999
Rencananya, Romo Marcel akan bertugas ke pedalaman Kalimantan, tetapi karena tersangkut masalah perizinan, rencana ini kemudian tidak terealisir.




Nama : Romo Yakobus Priyana, OMI
Masa Tugas : 2000 - Desember 2002.
Sebagai Pastor Pembantu, Beliau menaruh perhatian besar pada perkembangan Sekolah Bina Iman dan Serikat Kepausan Anak Misioner Indonesia (SEKAMI).



Nama : Bruder Widodo, OMI
Masa Tugas : beberapa bulan hingga Agustus 2000
Sebagai Bruder yang diperbantukan pada Seksi Pengembangan Sosial dan Ekonomi (PSE).


Nama : Romo Yohanes Wasisa Kusnandar, OMI
Masa Tugas : Februari 2000 - September 2000 (Masa Pastoral Sesudah Studi); September 2000 - Mei 2001 (Masa Diakonat) dan Mei 2001 - Agustus 2001.
Menjalani Masa Pastoral Sesudah Studi dan Masa Diakonat di Cengkareng. Beliau kembali ditugaskan di Cengkareng seusai menerima tahbisan imamatnya sebagai Pastor Skolastik yang diperbantukan di Paroki hingga penugasan barunya ke Mukok, Kalimantan Barat.



Nama : Romo Bernardus Agus Rukmono, OMI
Masa Tugas : Agustus 2002 - Januari 2005
Usai menerima tahbisan imamatnya di bulan Mei 2002, Romo Rukmono sempat sebentar bertugas di Paroki Kalvari, Lubang Buaya, sebelum kemudian berkarya di Paroki Cengkareng sebagai Pastor Pembantu. Romo yang dikenal akrab dan dekat dengan Mudika ini dikirim ke Pakistan sebagai Misionaris OMI.



Nama : Romo Henricus Asodo, OMI
Masa Tugas : Desember 2003 - April 2005
Berkarya di Paroki Cengkareng selepas menerima tahbisan imamatnya di bulan Desember 2003, Romo Asodo yang dikenal humoris dan dekat dengan anak-anak ini kemudian berkarya di Paroki Kalvari, Lubang Buaya dan dikirim belajar ke Australia.



Nama:  Romo Ignatius Wasono Putro, OMI
Masa Tugas:  2000-2001 (Tahun Orientasi Pastoral) ; Januari 2005 - September 2008
Usai menerima tahbisan imamatnya di bulan Desember 2004, Romo Wasono diutus untuk berkarya di Paroki Cengkareng sebagai Pastor Pembantu.  Romo Wasono banyak mendampingi kegiatan-kegiatan Mudika dan WKRI Cabang Trinitas.  Beliau menaruh perhatian pada bersatunya semua kelompok remaja/Mudika di Paroki.



Nama: Romo F.X. Sudirman, OMI
Masa Tugas: 1990-1995 dan Agustus 2005 - Februari 2012
Berkarya di Paroki Cengkareng sejak Masa Diakonat, setelah menerima tahbisan imamatnya di Gereja Paroki Trinitas, Cengkareng, Romo Dirman kembali diutus sebagai Imam di Cengkareng.  Tahun 1992 Romo Dirman dipercaya menjadi Kepala Paroki Trinitas.  Berkarya kembali di Cengkareng sejak Agustus 2005 sebagai Romo Rekan, Romo Dirman juga menjadi Romo Stasi St. Vincentius Pallotti, Dadap.