PENGUMUMAN
Sejarah Kongregasi OMI
Friday, 07 November 2008 14:09

Kongregasi (atau Tarekat) Oblat Maria Imakulata (OMI) adalah tarekat tingkat kepausan dengan anggota yang tersebar di sekitar 70 negara.  Tarekat ini didirikan  pada 25 Januari 1816 oleh St. Eugenius de Mazenod, seorang Imam Praja dari Keuskupan Marseilles, Perancis.  Diawali oleh 4 orang imam yang menyebut diri "Serikat Misionaris dari Provence" dan bercita-cita ingin mewartakan Injil kepada kaum miskin dan memperbaharui kehidupan Kristiani dengan "Misi Paroki" - yaitu dengan mengadaan rekoleksi di paroki-paroki di daerah Provence.    Kelompok ini ternyata mengundang minat beberapa imam maupun kaum muda untuk bergabung.  Pada 17 Februari 1826, Konstitusi yang diajukan St. Eugenius de Mazenod disetujui oleh Paus Leo XII dan sejak saat itu, kelompok ini memakai nama "Tarekat Misionaris Oblat Maria Imakulata".  Tarekat OMI mengkhususkan misinya untuk daerah-daerah yang sulit dan tak terjangkau, sesuai dengan motto Tarekat ini: "Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada kaum miskin."  Selama 187 tahun berdirinya, Tarekat OMI telah menjaring anggota sebanyak lebih kurang 14.000 orang yang bekerja di Benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia, dan Australia.  Kongregasi yang berdiri di Marseilles, Perancis ini kini dipusatkan di Roma, Italia.

Sejak tahun 1971, para Oblat - sapaan akrab para misionaris OMI - mulai berkarya di Indonesia, tepatnya di Keuskupan Purwokerto, dan sejak 1975 para Oblat asal Australia ini mulai berkarya di Keuskupan Agung Jakarta.  Di tahun 1977, datang para Oblat dari Perancis dan Italia yang diusir keluar dari Laos karena berkuasanya Partai Komunis di negara itu.  Para Oblat ini kemudian berkarya di Keuskupan Samarinda dan Keuskupan Sintang.  Meski sama-sama sebagai Oblat tetapi karena berasal dari Provinsi yang berbeda mereka menjadi terpisah-pisah.  Baru di tahun 1993 para Oblat dari 3 Provinsi ini bergabung menjadi satu membentuk Provinsialat OMI Indonesia yang berkedudukan di Kaliori, Jawa Tengah.

Sejak tahun 1974, para Oblat Australia yang berkarya di Pulau Jawa mulai menerima calon-calon Oblat asli Indonesia.  Karena belum mempunyai tempat pendidikan sendiri, maka calon-calon tersebut 'dititipkan' ke Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Yogyakarta dan menimba ilmu Filsafat dan Teologi di Institut Wheda Bhakti, Kentungan, Yogyakarta.  Para calon ini tinggal bersama calon-calon Imam Praja dari Keuskupan Agung Semarang, Surabaya, Malang, Purwokerto, Ujungpandang, dan Papua (dahulu Irian Jaya). Untuk menunjang pendidikan para calon OMI yang semakin banyak jumlahnya, di tahun 1982 dibuka Seminari Tinggi OMI di Condongcatur, Yogyakarta.  Kemudian dibuka juga Novisiat di Condongcatur, dan rumah retret di Kaliori, Banyumas. Romo Gregorius Basir Karimanto, OMI yang pernah bertugas di Paroki Cengkareng sebagai Kepala Paroki dan Ketua DP/PGDP 2002-2005 tercatat sebagai Imam OMI pertama asal Indonesia yang ditahbiskan di tahun 1987.  Hingga kini, telah ditahbiskan sebanyak 30 Oblat asli Indonesia yang berkarya di Pulau Jawa (Banyumas, Cilacap, Jakarta) dan Pulau Kalimantan (Sepauk, Dankan Silat, Tarakan, Tidung Pala, Malinau, Pulau Sapi, Balikpapan, dan Penajam).


Untuk informasi lebih lanjut mengenai Tarekat OMI, silahkan hubungi alamat berikut ini:

PROVINSIALAT OMI & RUMAH RETRET "MARIA IMAKULATA" KALIORI
Wisma OMI, P.O.Box 400, Purwokerto 53100
Jawa Tengah
Telp. 0281-796242
Fax. 0281-796234
Email:  This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
http://rrmikaliori.spaces.live.com

SKOLASTIKAT OMI
Wisma de Mazenod
Jl. Nusa Indah II no. 235
Condong Catur, Yogyakarta 55283
Telp. 0274-881741
Fax. 0274-881718
Email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

NOVISIAT OMI "Beato Joseph Gerard"
Blotan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta
Telp. 0274-889783
Email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
(alamat surat sama dengan alamat Skolastikat OMI di atas)

PERSONALIA OMI PROVINSI INDONESIA

Rm. Antonius Andri Atmaka, OMI
Provinsial OMI Indonesia Kaliori, Jawa Tengah
Rm. Tarsisius Riswanta, OMI Bendahara OMI Indonesia
Banyumas, Jawa Tengah
Rm. Nikolaus Ola Paukuma, OMI
Bendahara OMI Indonesia
Kaliori, Jawa Tengah
Rm. Henricus Asodo, OMI
Superior Skolastik
Yogyakarta
Rm. John F. O'Doherty, OMI Tim Formasi
Yogyakarta
Rm. F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI
Magister Novis
Yogyakarta
Rm. Ign. Yulianto, OMI
Tim Formasi
Yogyakarta
Rm. Petrus J. McLaughlin, OMI
Kategorial Kesehatan KAJ
Jakarta
Rm. Peter K. Subagyo, OMI
Paroki Trinitas Cengkareng, Jakarta
Rm. F.X. Sudirman, OMI
Paroki Trinitas Cengkareng, Jakarta
Rm. Antonius Widiatmoko, OMI
Paroki Trinitas Cengkareng, Jakarta
Rm. Dominikus Pareta, OMI
Koordinator Rumah Retret
Kaliori, Jawa Tengah
Rm. Yohanes Casey, OMI
Paroki St. Stephanus Cilacap, Jawa Tengah
Rm. Carolus Burrows, OMI
Paroki St. Stephanus
Cilacap, Jawa Tengah
Rm. Vincentius Kaya Wathun, OMI
Promotor AMMI
Cilacap, Jawa Tengah
Rm. Gregorius Basir Karimanto, OMI
Paroki St. Petrus & Paulus
Balikpapan, Kaltim
Rm. Yoseph Rebussi A.D., OMI
Paroki St. Petrus & Paulus Balikpapan, Kaltim
Rm. Agustinus Adeodatus Wiyono, OMI Promotor Panggilan OMI
Balikpapan, Kaltim
Rm. Nicolas Setija Widjaja, OMI
Paroki St. Maria dari Fatima
Penajam, Kaltim
Rm. Antonius Rajabana, OMI
Paroki Maria Imakulata
Tarakan, Kaltim
Rm. Antonio Bocchi, OMI
Paroki Maria Imakulata Tarakan, Kaltim
Rm. Carlo Bertolini, OMI Paroki St. Paulus
Tidung Pala, Kaltim
Rm. Agustinus Sattu, OMI
Paroki St. Stephanus Malinau, Kaltim
Rm. Ignatius Priyantoro, OMI
Paroki St. Stephanus
Malinau, Kaltim
Rm. Wan Ibung Natale Belingheri, OMI
Paroki St. Yohanes Pulau Sapi, Kaltim
Rm. Tarsisius Eko Saktio, OMI
Paroki St. Petrus & Andreas
Sepauk, Kalbar
Rm. Jacques Chapuis, OMI
Paroki St. Petrus & Andreas Sepauk, Kalbar
Rm. Ignatius Wasono Putro, OMI
Paroki St. Yohanes
Dankan Silat, Kalbar
Rm. Simon Heru Supriyanto, OMI
Paroki St. Yohanes
Dankan Silat, Kalbar
Rm. Yohanes Damianus, OMI Holy Rosary Church
Pakistan
Rm. Bernardus Agus Rukmono, OMI
St. Luke Church Pakistan

 

MENGENAL OMI DAN PENDIDIKAN CALON OMI LEBIH JAUH

Apa itu OMI?
OMI adalah sebuah kongregasi/tarekat (kelompok) para imam dan bruder yang didirikan oleh St. Eugenius de Mazenod di kota Aix-en-Provence, Perancis.  Sebagai kelompok kecil, OMI dimulai tahun 1816, kemudian disahkan oleh Tahta Suci (Bapa Paus) pada tahun 1826.  OMI adalah singkatan dari Oblat Maria Immaculata.  Biasanya, secara singkat para pengikut kelompok ini dipanggil “Misionaris Oblat”.  Sekarang ini OMI berkarya di 67 negara denagn anggota berjumlah 4.400 orang.

Apa bedanya dengan para imam Praja, SJ, MSC, atau OFM?

Bedanya terletak pada: (1) Pendirinya.  Setiap kelompok itu mempunyai pendiri masing-masing, kecuali kelompok Praja.  Praja adalah imam di Keuskupan loka, sementara kelompok yagn lain biasanya bersifat internasional, lintas bangsa dan berkarya di seluruh dunia; (2) Semangat atau keprihatinannya.  Setiap pendiri memiliki semangat atau keprihatinan yang berbeda-besa sesuai zaman atau keadaan yang waktu itu dihadapi atau terjadi.  Istilah lain adalah setiap kelompok memiliki spiritualitasnya sendiri-sendiri.

Apa spiritualitas OMI?

Melihat Bapa Pendiri, St. Eugenius de Mazenod, kelompok OMI muncul di saat Gereja di Perancis porak-poranda, hancur lebur karena Revolusi Perancis.  Gereja yang memprihatinkan itu menggerakkan hati St. Eugenius untuk berbuat sesuatu.  Beliau mengumpulkan sejumlah imam untuk berjuang memulihkan “Gereja, sebagai warisan Sang Penyelamat yagn telah diperoleh dengan darahNya sendiri.”  Maka meneladan Bapa Pendiri, setiap Oblat juga memiliki semangat yang sama, yaitu melihat keprihatinan dalam Gereja, kemudian berkumpul sebagai komunitas atau kelompok, lalu berjuang bersama.  Sudah semestinya Oblat tidak pernah bekerja sendirian, namun sebagai kelompok atau di dalam komunitas berjuang melayani orang lain yang membutuhkan.

Melayani orang yang membutuhkan – maksudnya apa?
St. Eugenius tidak sembarang melayani orang.  Beliau tidak asal-asalan atau semau gue.  Beliau memilih (opsi) orang-orang yang hendak Beliau layani.  Standar atau ukurannya adalah mereka yang tidak terlayani oleh yang lain – orang-orang yang terlupakan.  Hal ini ditiru oleh Oblat pada masa kini.  Para Oblat melayani orang-orang yang paling sedikit dilayani dan paling terpencil dari yang lain.  Ini bukan hanya berbicara mengenai tempat, tetapi lebih dari itu, berbicara mengenai perhatian terhadap martabat setiap orang.  Dulu, St. Eugenius dalam khotbah pertamanya setelah ditahbiskan pada tahun 1811, menyentuh orang-orang yang terabaikan.  Beliau menyapa buruh, tukang cuci, tukang sapu, pedagang kecil – mereka yang tidak berarti di mata dunia.  Mereka disapa sebagai saudara yang berharga di mata Allah.  Inilah pilihan Oblat, inilah kekhasan yang menjadi metode/gaya setiap Oblat dalam berkarya untuk orang lain.  Di mana pun, Oblat akan mencari, menemukan, dan melayani mereka yagn paling terpinggirkan, paling terlantar, dan paling tidak dihargai.

Di mana bukti para Oblat melayani mereka yang terlantar?

Kalau diminta jawaban berupa tempat, amat banyak!  Misi di Pakistan, di Filipina Selatan, di Jafna (Srilanka bagian utara), di Kongo (Afrika), di Laos, di Kanada bagian utara, di Colombia, di pedalaman Kalimantan, dan masih banyak daerah misi lainnya.  Semua daerah itu amat sulit dan sudah memakan sejumlah nyawa para Oblat – bukan hanya karena perang, tetapi juga karena sulitnya medan karya dan beratnya tantangan alam.  Siapa yang sanggup ke sana?  Adakah yang punya nyali?  Berani?

Tetapi para Oblat juga berkarya di kota, bukan?
Benar sekali.  Oblat juga berkarya di kota-kota. Oblat bukan hanya berlumuran lumpur dan bergaul dengan monyet dan beruang, tetapi ada juga karya-karya mereka di kota.  Di sejumlah negara, Oblat juga memperhatikan pelayanan orang miskin yagn tinggal di kota, pendidikan intektual, dan juga karya keadilan sosial.  Sekolah dan universitas juga didirikan di sejumlah negara.  Termasuk juga Oblat berkarya di negara-negara maju dan moderen.  Pertanyaan pokok yang dilontarkan oleh Oblat sebelum memulai berkarya adalah adakah orang yang tak terlayani di daerah itu?  Jawaban atas pertanyaan itu ternyata dapat ditemukan di kota besar dan bahkan di negara maju.  Pendidikan iman yang diancam oleh sekularisme dan materialisme, kemiskinan akibat modernisasi, kesepian dan frustasi orang-orang pinggiran – hal-hal seperti itu adalah wajah orang-orang miskin dan terlantar yagn mudah sekali ditemukan di kota besar dan negara maju.  Ironisnya, hal-hal demikian malah tidak (belum kuat) terjadi di daerah pedalaman dan pelosok!

Apa harapan Oblat terhadap orang yang dilayani?
Harapannya jelas yakni (1) Hidup mereka menjadi lebih baik.  Ada 3 tahapan yang ingin dicapai: menjadikan seseorang lebih manusiawi (ada banyak di sekitar kita orang-orang yang hidupnya tidak manusiawi), menjadikan lebih Kristiani (ada banyak orang di sekitar ktia yang hidup berlawanan dengan nilai-nilai Kristiani) dan terakhir, menjadikan lebih suci (tujuan utamanya adalah hidup suci di mata Tuhan dan sesama).  Ini adalah impian kita bersama.  Wujud karya bisa bermacam-macam tetapi harapannya tetap sama. (2) Umat yang dilayani juga mau terlibat dalam karya Oblat.  Kita bekerja bersama, kita maju bersama, kita bahu-membahu berkarya bersama demi kemuliaan Tuhan dan tanda keselamatan melalui Gereja.  Maka diharapkan bahwa semua yang dekat degan Oblat (umat dan sahabat-sahabat OMI) memiliki semangat yang sama.  Mari kita kerja bersama!  Satu hal lagi, jangan lupa, kita juga mesti membawa anak-anak muda untuk menjadi Oblat!

(Romo Henricus Asodo, OMI, Rektor Seminari Tinggi OMI; Sumber: Majalah Sabitah Edisi 33, Mei-Juni 2008)

 

PADA SEBUAH JUMAT AGUNG 1807

(Pengalaman rohani St. Eugenius de Mazenod pada hari Jumat Agung 1807.  Pengalaman ini baru dicatatnya pada tahun 1814 dalam sebuah retret)

Aku mencari kebahagiaan di luar Allah dan setelah sekian lama, yang kutemukan hanyalah penderitaan.  Betapa sering di masa lalu, hatiku tercabik, tersiksa, memohon bantuan kepada Allah yang telah kutinggalkan.  Dapatkah aku melupakan airmata kesedihan yang mengalir saat aku memandang Salib pada hari Jumat Agung itu? Memang air mata itu mengalir dari dasar lubuk hatiku dan tidak ada yang dapat mencegahnya.  Airmata itu terlalu banyak untuk bisa kusembunyikan dari orang lain yang juga hadir dalam perayaan yang mengharukan itu.  Aku dalam keadaan berdosa berat dan inilah yang membuat hatiku amat sedih.

Kemudian, di lain kesempatan, aku dapat merasakan perbedaannya.  Belum pernah jiwaku merasa lebih berbahagia.  Ini semua hanya karena di sela-sela banjir airmata - meskipun sedih, atau lebih tepatnya, berkat kesedihanku, jiwaku melompat sampai pada tujuan akhirnya, yaitu Allah, satu-satunya tujuan yang bila sampai hilang akan amat terasa.

Untuk apa bercerita lebih banyak lagi?  Memang, aku tak akan pernah mampu mengungkapkan dengan tepat apa yang aku alami pada saat itu.  Hanya dengan mengingatnya saja, hatiku selalu diliputi dengan penghiburan rohani yang manis.  Aku mencari kebahagiaan di luar Allah, dan di luar Dia, yang kutemukan hanyalah derita dan kemalangan.  Tetapi senangnya, seribu kali lebih senangnya bahwa Bapa yang baik - meski ketidaklayakanku - menghujaniku dengan kekayaan belas kasihNya.  Satu hal yang sekurang-kurangnya dapat kulakukan sekarang adalah menebus waktu-waktu yang telah hilang percuma itu dan menggandakan cintaku kepadaNya.  Biarlah seluruh perbuatanku, pikiranku, dan lain-lainnya diarahkan pada tujuan itu.

Adakah penyerahan yang lebih besar daripada di dalam segala-galanya dan untuk segala-galanya? Hidup hanya untuk Tuhan, mencintai Dia di atas segala-galanya.  Mencintai Dia secara lebih, karena aku telah amat terlambat mencintaiNya.  Ya, kebahagiaan surga di mulai di sini, di dunia.  Marilah kita memilihnya sekarang!

(Romo F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI, Magister Novis, blogspot Oblat Indonesia)

 


AddThis