| Maukah Kau Berbagi? |
| Artikel - Umat Berbagi |
| Tuesday, 30 March 2010 09:55 |
|
Bukan, dua orang anak kecil mendekati. Sambil mengulurkan tangannya, memohon belas kasihan. Bahasa universal yang tak perlu ucapan kata, mereka hanya butuh sedikit recehan saja. Muka dioret sedikit arang hitam. Ditimpa panas yang menyengat. Siang hari di distrik tujuh - Ho Chi Minh City, tiga puluh tiga derajad Celcius. Seorang anak mendekati. Setengah memaksa orang untuk memberi sedekah. Mengandalkan anak kecil dalam gendongannya. Antara miris dan tercelikkan seketika: kemiskinan memang rata. Ada di mana-mana. Dan terkadang mengorbankan anak kecil yang tak tahu apa-apa. Seorang anak mendekati. Bukan, tepatnya seorang anak yang membimbing seorang buta yang memegang bahunya. Pagi hari, di suatu pasar yang tak jauh dari rumah. Mencoba menjual lotere yang entah berapa harganya. Atau bila tak mau beli, sumbang saja seadanya. Mempergunakan ketidaklengkapan fisik untuk meminta-minta. Nurani mungkin bimbang seketika: haruskah beli lotere untuk menyumbang? Padahal tak pernah dalam sejarah beli lotere sebelumnya? Masih cerita yang sama: kemiskinan membuat orang melakukan apa saja. Potret kemiskinan yang tak jauh beda dengan apa yang terlihat di negeri tercinta. Indonesia. Kemiskinan memang tak pandang bulu, bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Bukan pula sesuatu yang bisa dipilih, walaupun terkadang itu jadi alasan untuk tidak mau mandiri dan tak mau bekerja keras. Teringat, banyak yang cacat tapi mau usaha. Teringat, banyak yang miskin tapi tak kenal lelah. Teringat, banyak anak kecil yang juga membantu orang tuanya berjualan demi sesuap nasi. Yang penting niatan tulus di hati, bukan? Dibantu seribu-dua ribu Dong (mata uang Vietnam setara Rp.2000-4000), apakah ada gunanya? Ini ibarat lingkaran yang terus dan terus berputar. Kalau mau beri, berikan ikan atau pancingnya? Kemiskinan dalam berbagai rupa. Menyuarakan kepedihan yang sering terlupa. Sementara dalam hati-hati yang miskin kasih, yang tak lagi peduli. Yang penting uangku banyak, yang penting anakku sukses, yang penting keluarga kami makmur. Segalanya tentang aku dan aku. Tiba-tiba, rasa itu menyentak: kapan jadi manusia yang kaya hati kalau begini? Kapan keseimbangan itu akan lebih tercipta bila bukan dari sekarang? Belajar berbagi, belajar peduli, dan tak menghamburkan uang untuk kesenangan yang terlalu berlebihan. Tak ada yang salah dengan menggunakan uang yang dihasilkan oleh keringat sendiri. Tetapi, bila terpikir mereka yang kekurangan, masih mungkinkah nurani terketuk sekali lagi? Mungkinkah juga ketulusan berbagi terpampang lebar di pintu hati? Seorang anak menghampiri. Bukan satu, dua anak kecil itu lagi. Mungkin hanya dalam pikiran utopis ditambah harapan untuk sedikitnya masih berlaku di dunia nyata: kasih itu masih ada. Kasih itu masih menyala. Masih banyak orang yang kaya kasih dan yang masih mau berbagi. Ketika kemewahan tak lagi memberikan kepuasan batin… Ada banyak orang baru tersadar, mungkin dengan memberi hidup jadi lebih berarti. Bukan melulu uang. Bukan melulu kenyamanan. Namun, memberikan diri bagi mereka yang sulit dan menderita. Membagikan talenta, membagikan keahlian, menjadi pendengar yang baik, memberikan yang terbaik yang ada dalam diri bagi sesama yang menderita dan perlu bantuan. Hidup dalam kelimpahan bukan melulu untuk egoisme pribadi. Hidup dalam kelimpahan berarti yang lebih mau berbagi kepada yang berkekurangan. Talenta, pengetahuan, uang, atau yang lainnya. Hati berbisik kembali: maukah kau berbagi hari ini? (Kontribusi: Fonny Jodikin, tinggal d Ho Chi Minh City, Vietnam) |
Trinitas Facebook Fan Page
Join us so and get updates from our official fan page.
Gereja Trinitas on Twitter
Follow us on twitter so you will get updates from us!
Wapita
Download selebaran wapita dalam format PDF.
Seorang anak mendekati.





