| Televisi, Kekerasan, dan Anak |
| Artikel - Umat Berbagi |
| Wednesday, 07 October 2009 22:28 |
|
Tayangan kekerasan tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga dalam berbahasa, bersikap, dan berpikir. Hal ini tampak jelas dalam acara sinetron, berita dan infotaintment. Kekerasan memicu kekerasan. Berbagai aksi kekerasan terjadi setiap hari, dalam pendidikan, rumah tangga, bahkan di jalan raya. Aksi kekerasan menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan berbangsa. Di tingkat keluarga, pendukung sepakbola, warga kampung, pilkada, sampai konflik antarnegara. Ironisnya, dalam dunia pendidikan, kekerasan terjadi dalam frekuensi tinggi. Di Makasar, Syarifah Mukti (16), siswi SMP disiksa oleh tiga teman sekelasnya di dalam mobil. Kasus gang Nero, tawuran pelajar, pemukulan terhadap guru, konflik, dan sejenisnya. Baru-baru ini, kita memperingati hari anak nasional. Untuk kasus anak-anak dalam situasi buruk, Indonesia menempati urutan ketiga di dunia di bawah Ghana dan Kongo di Afrika. Indonesia menjadi negara teratas ketiga di kawasan Asia Pasifik dalam kasus kekerasan seksual dan ekonomi yang menimpa anak. Media televisi lalai membekali karakter anak-anak Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa bekerja sama, toleran, dan saling menolong. Rating tinggi dan profit ekonomi menjadi motor penggerak industri pertelevisian nasional. Falsafah Pancasila hanya menjadi hiasan simbolik tanpa implementasi nyata. Ajaran moral sebatas menghafal dogma dan aturan, tanpa disertai penerapan praktis yang konsisten. Kita menabur bencana ketika anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama televisi daripada berdiskusi bersama orang tua. Krisis finansial global telah memaksa banyak orang tua harus bekerja ekstra keras hingga larut malam. Waktu berkualitas mendampingi anak terus berkurang. Jangan heran melihat berbagai masalah perkembangan anak terus meningkat, mulai dari tawuran, kenakalan anak, konflik dan aksi kekerasan verbal dan nonverbal. Media televisi seharusnya menumbuhkan nilai-nilai humanisme dan nasionalisme. Kenyataannya, justru menjadi agen pendidik kekerasan. Maria Hartiningsih (Kompas, 29/11) menulis bahwa televisi telah menjadi pasar di mana berbagai ide, gagasan, dan nilai dalam skala lokal, nasional, dan global dikontestasikan sebagai ruang untuk memproduksi, mereproduksi, dan mendistribusikan citra, termasuk citra suatu ideologi yang dikemas amat canggih untuk tujuan-tujuan politik tertentu. Masyarakat tak pernah membaca suatu strategi budaya, strategi mengelola cara berpikir, bertindak, dan bereaksi lokal-nasional-global. Tak ada panduan dari peta kependudukan dan geo-ekologis untuk memandu semua itu dalam jangka pendek, menengah, dan panjang yang mampu mengelola produktivitas masa depan, dilindungi politik hukum sekaligus manajemen modal sosial dan modal negara. Tayangan kekerasan yang diulang-ulang dan dikemas dalam siaran televisi akan terkristalisasi dalam kepribadian anak. Sebagai contoh, cermati aneka sinetron yang memiliki rating tinggi. Alur cerita yang dangkal mengupas berbagai masalah yang remeh temeh dan tidak mendidik, seperti kawin muda, perselingkuhan, kekejaman ibu tiri, balas dendam, iri hati, dan kemarahan yang tidak fungsional. Kekerasan menjadi bahasa universal dalam memecahkan masalah, menyatakan eksistensi diri dan komunikasi antar sesama. Program televisi mengikuti selera pasar. Program yang menduduki rating tertinggi menghasilkan nilai komersial yang tinggi. Akumulasi modal dikejar dengan berbagai strategi, bahkan bila tayangan tersebut tidak mendidik masyarakat kita. Sebagai contoh, pelecehan seksual, kekerasan yang berdarah-darah, misteri hantu yang menuntut balas dendam, tembak menembak, kejahatan dan berbagai tayangan kekerasan lainnya. Kekerasan yang ditayangkan berulang-ulang menjadi terhabituasi. Kita lupa bahwa anak-anak belum memiliki kesadaran untuk membedakan dunia nyata dengan tayangan buatan manusia. Psikolog Universitas Tarumanagara, Fidelis Waruwu, menulis bahwa pengaruh televisi terhadap anak-anak sangat nyata. Televisi mempengaruhi cara berpikir dan perilaku anak. Dampak negatifnya, antara lain, membuat anak kurang peka terhadap penderitaan orang lain, lebih cemas, takut menghadapi dunia sekitarnya dan lebih agresif terhadap anak lain. Jika televisi mempunyai pengaruh yang sangat besar, maka seharusnya televisi bisa berfungsi sebagai agen pencipta kedamaian. Pemerintah, dunia usaha, pemilik stasiun televisi dan berbagai lembaga terkait dapat bekerja sama menyelipkan pesan-pesan humanisme di setiap tayangan. Jumlah acara yang memuat kekerasan perlu dibatasi dengan bijak. Industri kreatif televisi tetap akan berkembang meskipun tayangan kekerasan dikurangi. Anak-anak selalu haus hiburan. Televisi harusnya menayangkan program edukatif yang bermutu. Peran orang tua sangat penting dalam membimbing anak menonton televisi. Indonesia yang damai tercipta berkat dukungan tayangan televisi yang humanis. Oleh : Henri Louis, S. Psi Terapi Auditory Verbal anak tuna rungu Home Visit, Bebas Macet - Hemat Biaya Call : 9870 32 77 |
Trinitas Facebook Fan Page
Join us so and get updates from our official fan page.
Gereja Trinitas on Twitter
Follow us on twitter so you will get updates from us!
Wapita
Download selebaran wapita dalam format PDF.
Televisi telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan anak. Aneka tayangan kekerasan di televisi memberi dampak negatif terhadap perkembangan karakter anak. Anak-anak mudah mengadopsi nilai-nilai yang disampaikan melalui tayangan televisi. Berbagai pesan kekerasan terus membombardir anak-anak dan terkristalisasi dalam kepribadiannya.




