PENGUMUMAN
Belarasa: Jatidiri Orang Kristiani
Artikel - Romo Menyapa
Tuesday, 02 April 2013 19:13

Belarasa - kiranya adalah suatu kata yang tidak asing lagi di telinga kita, karena sekarang ini hampir di setiap Misa Kudus kita menyanyikan “Mars Berbela Rasa”. Arah Dasar (Ardas) Paroki Trinitas tahun 2013 juga mengambil bagian dari Ardas KAJ: “Makin Beriman, Makin Bersaudara, Makin Berbelarasa”. Suatu pernyataan yang isinya saling terkait dan makin menunjukkan intensitas kedalamannya, bahkan kata yang paling ujung yakni “belarasa”  merupakan ukuran apakah kita benar-benar layak disebut sebagai “Orang Kristiani”.

Dasar Semangat Belarasa: Allah adalah Kasih

Allah yang kita imani adalah Allah yang kita kenal dalam diri pribadi Yesus Kristus Tuhan kita. Demikianlah diungkapkan dalam 1 Yoh 4:7-8.16b, “Allah adalah Kasih. Marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia”. Dari kesaksian Injil, kita melihat bagaimana Yesus berbelarasa terhadap perempuan yang sakit pendarahan (Markus 5:25-34), terhadap lima ribu orang yang lapar (Markus 6:34), terhadap perempuan Siro-Fenesia yang anaknya sakit (Markus 7:24-30), terhadap janda Nain yang anaknya meninggal (Lukas 7:13) dan masih banyak lagi. Puncak belarasaNya ialah ketika Tuhan Yesus memberikan hidupNya di atas kayu salib demi keselamatan kita semua.

Benar! Allah telah mengasihi kita, dan ketika orang mengalami kasih, semestinya orang tersebut akan bertanggungjawab dan memberikan kesaksian akan kasih Allah itu. Oleh karena itu, kalau kita ingin semakin beriman seperti terungkap dalam Ardas Paroki kita, tentunya kita ingin makin mengasihi dan mengambil sikap belarasa, seperti yang telah Yesus berikan untuk kita.

Add a comment

Read more...
 
Romo Ignatius Yulianto, OMI: "Jangan Pernah Memisahkan Diri dari Komunitas Orang Beriman"
Artikel - Romo Menyapa
Sunday, 13 January 2013 22:19

Romo Ignatius Yulianto, OMI adalah anggota Tim Formator OMI Provinsi Indonesia yang sekarang berkarya di Novisiat OMI “Beato Joseph Gerard”, Blotan, Yogyakarta.  Pengalaman hidup iman Romo Yuli yang sempat menjalani 2 kali kemoterapi memang luar biasa.  Ditambah lagi dengan keseriusan Romo Yuli dalam berdevosi kepada Bunda Maria lewat doa Rosario dan sejumlah doa lainnya membuat Sabitah mengontak Beliau untuk wawancara singkat:

Tentang pemicu umat mengalami krisis iman:

“Sebetulnyam istilah ‘krisis iman’ ini menimbulkan pertanyaan.  Apakah  yang dimaksud adalah gejala berkurangnya aktifitas hidup keagamaan - misal hidup doa dan kegiatan menggereja? Atau ‘krisis iman’ dalam pengertian bahwa seseorang mulai  meragukan Tuhan dan penyelenggaraan kasih-Nya?”

“Setiap orang pernah mengalami kekecewaan. Kekecewaan juga dialami dalam kehidupan beragama dan sering menjadi pemicu ‘krisis iman’.    Kecewa terhadap Allah, misalnya karena harapan dan doa permohonanya tak dikabulkan, karena musibah kematian orang yang dikasihi, karena beban penderitaan dan sakit yang menahun,  dll.  Bisa juga orang kecewa terhadap Pastor dan Pengurus Gereja, menjadi tersinggung dan hatinya terluka,  merasa tak dimengerti dan tak dihargai,  merasa diperlakukan tak adil dan tak dilibatkan, dan lain sebagainya.   Kecewa dan sakit hati tersebut bisa berkembang menjadi sikap tak mau berdoa,tak mau ke gereja untuk beribadah, dan tak peduli terhadap segala macam kegiatan keagamaan.”

Add a comment
Read more...
 
Romo Daniel LeBlanc, OMI - Suara Yang Tersingkir, Miskin, dan Teraniaya di PBB
Artikel - Romo Menyapa
Wednesday, 12 December 2012 00:00

Romo Daniel LeBlanc, OMI ditunjuk untuk menjadi wakil Tarekatnya, Oblat Maria Imakulata, duduk di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).  Karya Romo Daniel di forum dunia ini tentulah membawa pengaruh positif bagi hidup dari jutaan penduduk dunia.  Mau tak mau, Romo Daniel masuk dalam lingkungan kerja yang hiruk-pikuk dan penuh beban.  Banyak waktunya dalam sehari dihabiskan untuk rapat dengan orang-orang dari berbagai bagian dunia ini untuk mengkaji masalah-masalah penting yang sedang terjadi  di dunia ini: pemberantasan kemiskinan, memperkenalkan hak-hak suku pribumi (indigenous people) , melawan perdagangan manusia khususnya perempuan dan anak-anak, dan mengurangi dampak dari pemanasan global.

Untuk waktu yang lama,  Romo Daniel berkarya di Komisi JPIC (Justice, Peace, and Integrity of Creation – Keadilan, Perdamaian, dan Integritas Ciptaan) OMI di Amerika Latin.  Sebagai Anggota yang lalu menjadi Ketua Komisi ini, Romo Daniel banyak membantu korban-korban terorisme, menyelidiki kuburan massal dan membawa para pelaku kejahatan ini untuk dapat diadili.  Romo Daniel sendiri menjadi korban serangan teroris.  Pada 5 Juni 1992, bom seberat 600 kilo yang dibawa sebuah mobil meledak di depan sebuah stasiun televisi yang letaknya tepat di seberang Rumah Provinsial OMI.  Romo Daniel saat itu sedang tidur.  Beliau menderita luka-luka serius yang membuatnya berhari-hari tidak sadarkan diri.

“Waktu itu mereka sudah katakan saya mati, tetapi ternyata pernyataan itu terlalu buru-buru.  Ada 70 ribu orang yang terbunuh selama 20 tahun perang sipil di Peru, tetapi saya tidak termasuk satu di antaranya…,” begitu Romo Daniel berujar sambil berkelakar.  Dari kejadian bom bunuh diri itu, Romo Daniel kehilangan sebelah penglihatannya.

Pertengahan September lalu, Romo Daniel datang ke Jakarta untuk mengikuti Pertemuan VIVAT International di Ruteng, Nusa Tenggara Timur.  VIVAT International adalah sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang beranggotakan 7 Kongregasi Imam dan Suster (SSpS, SVD, MSHR, OMI, CMS, CSSP, MCC).  LSM ini bergerak dalam bidang keadilan sosial, pembangunan, perdamaian, dan ekologi.  Beruntung Sabitah mendapat kesempatan bertemu dan berbincang santai dengan Romo Daniel beberapa jam sebelum keberangkatannya pulang ke New York.  Berikut adalah cuplikan dari bincang-bincang tersebut:

 

Add a comment
Read more...
 
Bangga Jadi Katolik
Artikel - Romo Menyapa
Monday, 03 September 2012 11:29

"Banyak orang sekarang ini mendirikan gerejanya berdasarkan KITAB SUCI. Pertanyaan muncul: SIAPAKAH YANG MENCIPTAKAN KITAB SUCI? APAKAH KITAB SUCI MENCIPTAKAN GEREJA ATAU GEREJALAH YANG MENCIPTAKAN KITAB SUCI? Semakin bingung kan? Walaupun topiknya lumayan sulit untuk dipahami, tapi lebih baik tahu daripada tidak sama skali.

Terhadap pertanyaan utama: "SIAPAKAH YANG MENCIPTAKAN KITAB SUCI" memang rasanya sulit untuk dipahami. Karena itu, mungkin kita bisa merumuskan seperti ini; ATAS JASA SIAPAKAH TULISAN-TULISAN BERSERAKAN ITU DIKUMPULKAN MENJADI KITAB SUCI SEPERTI YANG KITA MILIKI SKARANG INI?

1. KITAB SUCI BUKANLAH SATU-SATUNYA SUMBER IMAN

Dengan judul ini saja, kita sudah berseberangan dengan keyakinan saudara/ri kita Protestan, yang inti ajarannya adalah "SOLA SCRIPTURA" (Hanya Kitab Suci saja). Namun, saya tidak mau berpolemik tentang keyakinan yang berbeda seperti ini. Apa yang saya jelaskan adalah soal kelogisan berpikir dan keyakinan akan kebenaran yang tertulis berdasarkan sejarahnya.

Yesus selama hidup-Nya di dunia ini tak pernah menyebutkan tentang sebuah Kitab Suci (dalam arti keharusan adanya sebuah Kitab Suci seperti TAURAT dalam Agama Yahudi). Benar kan? Dia tidak pernah memerintahkan para Rasul-Nya untuk percaya kepada sebuah buku. Demikian pun IA tak pernah memerintahkan para murid-Nya untuk menuliskan sebuah buku. Karena itu, sewaktu hidupnya para Rasul, harus diakui bahwa tidak ada yang namanya KITAB SUCI. Dengan kata lain, kita bisa menyimpulkan bahwa Yesus tak pernah membangun Gereja-Nya di atas dasar sebuah Kitab/Buku sebagai dasar iman, tetapi Ia membangun sebuah Gereja sebagai pilar dan dasar dari sebuah kebenaran. (2 Tim 3:15). Dan Dia tidak pernah berjanji sebuah buku/Kitab melaikan Diri-Nya sendiri akan selalu beserta Gereja-Nya sampai akhir zaman (Mat.12:15) dan Roh Kudus akan memimpin para rasul dan para pengganti mereka sampai kepenuhan kebenaran yakni setelah Ia naik ke Surga (Yoh.14:16-17).

Add a comment
Read more...
 
Mohon Doa Keselamatan Romo Toni, OMI
Artikel - Romo Menyapa
Sunday, 26 August 2012 23:46

Komunitas Oblat Maria Imakulata Provinsi Indonesia memohon doa dari kita semua untuk Romo Antonio Bocchi, OMI yang masih mengalami koma paska operasi jantung di Italia.


Romo Toni – begitu Beliau disapa – adalah salah satu dari 7 Oblat asal Italia yang datang ke Indonesia dan berkarya di Keuskupan Samarinda di tahun 1977. Sejak menginjakkan kaki di bumi Nusantara hingga sekarang, Romo Toni berkarya di Kalimantan.

Romo Toni mengalami serangan jantung tahun lalu dan sempat dibawa ke Jakarta untuk menjalani pengobatan. Pada 17 Agustus 2012, Romo Toni menjalani operasi by-pass di kota Novara, Italia. Sesaat sebelum operasi dilakukan, Romo Toni kembali mengalami serangan jantung. Para dokter berhasil mengatasi keadaan dan tetap menjalankan operasi lewat punggung. Selesai operasi, dokter mengistirahatkan jantung Romo Toni, mengganti fungsinya dengan alat-alat.

Mari bersama kita doakan Romo Toni. Semoga Allah Tritunggal Mahakudus memberikan yang terbaik seturut dengan kehendakNya Bunda Maria, lindungilah Romo Toni.

(Sumber: Website OMI Provinsi Indonesia, www.omi-indonesia.org)
Add a comment
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 10