|
Artikel -
Romo Menyapa
|
|
Monday, 09 January 2012 09:58 |
|
EVANGELIZARE PAUPERIBUS MISIT ME
Kepada orang miskin aku diutus untuk mewartakan Kabar Gembira.
Terima kasih saya sampaikan kepada seluruh umat Paroki Trinitas, Cengkareng, yang telah bersama dalam perjalanan iman dan panggilan, dalam kegembiraan dan keprihatinan, dalam tantangan dan harapan, menuju Gereja yang hidup, setia dan bersatu sebagaimana Allah Tritunggal Maha Kudus.
Pada kesempatan ini, saya kutip sebuah lirik lagu yang terinspirasi dari Efesus 5:1-21, yang kiranya berguna bagi kita semua: “Jadilah penurut Allah, dan hiduplah dalam kasih, seperti Yesus telah mengasihi. Dia t’lah serahkan diri-Nya, sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Jauhkan dirimu dari yang jahat dan serakah, perkataan kotor dan kosong. Ucap syukurlah senantiasa dan rendahkan dirimu dan takutlah akan Tuhan. Ubah hati kami seperti hati hati-Mu Tuhan. Buatlah kami mengerti semua rencana-MU. Ubah hidup kami seperti yang Kau-inginkan. Agar saat malaikat-Mu menjemput, kami layak. Hari-hari semakin jahat, jangan sia-siakan waktu, hiduplah sebagai anak terang. Kau pasti akan berbuah kebaikan dan kebenaran, jadilah terang Tuhan.”
|
|
Read more...
|
|
|
Artikel -
Romo Menyapa
|
|
Thursday, 05 January 2012 10:42 |
|
Selamat Tahun Baru buat kita semua! Tahun baru selalu membawa kita untuk mau terus maju dan bertahan, mau terus berusaha menggapai harapan yang lebih baik lagi demi masa depan yang lebih cerah. Mari kita isi tahun yang baru ini dengan harapan baru, semangat baru, serta sukacita dan kegembiraan yang terus menghiasi hari-hari kita bersama. Ada juga kegembiraan di awal tahun yang ingin kami sampaikan kepada seluruh umat Paroki Trinitas, Cengkareng. Kami umumkan secara resmi keputusan dari Dewan Provinsi OMI Indonesia terkait dengan para Imam yang berkarya di Paroki Trinitas.
|
|
Read more...
|
|
Artikel -
Romo Menyapa
|
|
Wednesday, 26 October 2011 20:26 |
|
“Di hatiku ada gambar Allah”. Sebuah kalimat pendek yang penuh dengan kuasa spiritual. Allah menciptakan hatiku sesuai dengan hati-Nya. Hati-Nya dipenuhi dengan kasih. Hatiku pun harus dijiwai dengan kasih. Aku harus memberikan hatiku kepada Allah karena persembahan hati merupakan hak-Nya. Persembahan hati adalah persembahan kasih.
|
|
Read more...
|
|
Artikel -
Romo Menyapa
|
|
Monday, 08 August 2011 21:13 |
|
Pengantar
“Tak kenal maka tak sayang”, sebuah pepatah lama yang kita kenal bersama. Maka berdasar pada pepatah ini, saya juga ingin memperkenalkan diri saya kepada para Pembaca Sabitah supaya saya disayang. Nama saya Romo Agustinus Sattu, OMI. Saya lahir dan besar di Balikpapan, Kalimantan Timur. Saya menyelesaikan pendidikan TK, SD, SMP, dan SMA di Balikpapan, dan kemudian melanjutkan ke Seminari Menengah Stella Maris, Bogor. Setelah menyelesaikan pendidikan di Bogor, saya melanjutkan ke Seminari Tinggi OMI di Condong Catur, Yogyakarta. Saya ditahbiskan menjadi Imam pada 07 Desember 2003 di kampung halaman saya, Balikpapan, bersama Romo Henricus Asodo, OMI dan Romo Antonius Widiatmoko, OMI. Setelah menerima tahbisan, saya ditugaskan menjadi Pastor Pembantu di Paroki St. Petrus dan Paulus, Balikpapan sampai tahun 2007. Pada 17 Mei 2007, Provinsial OMI Indonesia menugaskan saya menjadi Pastor Paroki St. Stefanus, Malinau, Kalimantan Timur bagian utara sampai sekarang.
Sekilas Paroki Malinau
Paroki Malinau adalah Paroki yang berada di Kabupaten Malinau, sebuah kabupaten di bagian utara Kalimantan Timur. Perjalanan ke Malinau dapat ditempuh dengan speedboat dari Tarakan selama 3 jam perjalanan. Pada awalnya, Paroki Malinau adalah sebuah tanah misi yang dibuka oleh Misionaris OMI dari Italia pada tahun 1976. Sebagai tanah misi yang baru dan luas, Malinau menjadi lahan pelayanan yang memerlukan keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan. Mendengar langsung dari para Pastor OMI yang pernah berkarya di pedalaman Kalimantan Timur sampai saat ini, terbayang betapa sulit dan membahayakannya pelayanan ini. Tetapi dengan semangat untuk mewartakan Injil kepada orang miskin, para Misionaris OMI pertama ini bertekun dalam melayani umat sampai akhirnya tanah misi ini menjadi sebuah Paroki. Paroki Malinau menjadi sebuah “Harta Terpendam” OMI di tengah hutan Kalimantan, karena memendam berbagai “kekayaan” Gereja: Alam yang indah, anak-anak masa depan Gereja, berbagai budaya suku Dayak tempat berkembangnya Kerajaan Allah, dan keterbukaan umat menerima Kabar Gembira Keselamatan Allah.
|
|
Read more...
|
|
Artikel -
Romo Menyapa
|
|
Monday, 04 July 2011 11:54 |
|
Ada sepenggal cerita pendek dari epik/wiracarita Ramayana yang sudah dikenal sekian puluh abad yang lalu. Epik ini datang dari budaya Hindu di kaki pegunungan Himalaya ke Pulau Jawa lalu berkembang menjadi bagian budaya Jawa melalui media wayang. Di situ dikatakan bahwa Rama Wijaya (yang tak lain adalah titisan Dewa Wisnu) sedang memberikan petuah kepada Raja Alengka yang baru, Gunawan Wibisana. Adapun isi petuah itu berupa delapan butir kata sebagai delapan pegangan dalam kehidupan. Tiga kata diantaranya, yakni: Bulan, Bintang dan Matahari (BBM). Ada tiga sifat dari BBM, yakni:
Berdaya guna: Mereka memberi faedah atau manfaat kepada orang lain. Bulan (Chandra): menciptakan suasana teduh, damai, cinta, sabar dan indah. Bintang (Kartika): memberi arah atau menjadi teladan. Matahari (Surya): menerangi, memberi kehangatan, menghidupkan dan menumbuhkan. Yesus juga berguna bagi orang lain bukan? Disini, kita akan melihat tujuh mukjijat yang dibuat Yesus dari Kana sampai Betania.
Berdaya makna: Setiap manusia bisa bermakna ketika dia bisa berbagi. Donato ergo sum! Matahari berbagi panasnya, bulan berbagi cahayanya, bintang berbagi kerlap kerlipnya. Disinilah, kita akan melihat tujuh nubuat yang dikatakan Yesus dari desa Sikhar sampai Yerusalem.
Berdaya tahan: Bulan, Bintang dan Matahari setiap hari bersinar, entah tanggal tua atau tanggal muda, entah sedang sehat atau sakit, entah diterima atau ditolak. Disinilah kita akan melihat tujuh wasiat Yesus di atas salib di puncak gunung Kalvari.
Tujuh Kalimat Wasiat Sebuah Bagian dari “Bulan Bintang dan Matahari”
Dalam banyak tradisi agama monoteis, soal angka tujuh, banyak ditampil-kenangkan sebagai lambang kepenuhan, keutuhan juga kesempurnaan. Misalnya, dalam agama Islam: Setiap orang yang naik haji ke Mekkah, harus mengelilingi Kaba’ah sebanyak tujuh kali, dan mereka memiliki tujuh pintu neraka, tujuh lapisan surga dan tujuh nabi yang mereka hormati secara khusus, seperti Nabi Muhammad setiap Jumat dan Nabi Isa setiap hari Minggu. Dalam agama Yahudi: setiap hari ketujuh, mereka hormati sebagai ‘Harinya Tuhan’ (Sabat), sehingga mereka tidak banyak melakukan pelbagai pekerjaan rutin. Orang-orang Buddha pun mengenal istilah tujuh cakra manusia dan tujuh langkah meditasi. Bukankah warna pelangi juga ada tujuh, mejikuhibiniu, ada juga istilah langit ketujuh, ada tujuh hari dalam satu minggu, ada tujuh Sakramen dan bahkan setiap manusia ternyata memiliki tujuh lubang dalam tubuhnya. Dan, pada kali ini, kita akan melihat, ternyata Yesus di atas salib, menyatakan tujuh kalimat wasiat-keramat yang tercatat-ketat oleh Injil:
|
|
Read more...
|
|
|