PENGUMUMAN
Family Way
Artikel - Keluarga
Tuesday, 08 November 2011 19:34

Alkisah, terdapatlah sebuah rumah dengan 1000 cermin. Seekor anjing kecil menemukan rumah itu. Dia masuk dan menggonggong kegirangan sambil mengibas-ngibaskan ekornya dengan riang, dan melihat ada 1000 anjing kecil lain yang ramah kegirangan dengan ekor berkibas-kibas seperti dia. Waktu ia meninggalkan rumah itu, ia pikir “Ini tempat yang menakjubkan, lain kali aku akan singgah lagi disini”. Pada waktu lain, seekor anjing yang tampak stres dengan ekor terkulai lesu memasuki rumah itu. Ia melihat 1000 anjing lain yang sedang stres dengan ekor terkulai dan wajah tertekan serta menggeram seram seperti dia. Waktu ia meninggalkan rumah, ia pikir “Ini tempat tersiksa, dan aku tak akan kesini lagi”. Add a comment

Read more...
 
Surat Keluarga - Oktober 2011
Artikel - Keluarga
Monday, 10 October 2011 14:47

Oktober selalu menjadi bulan menyenangkan, ketika kita dapat merayakan kemesraan bersama Sang Bunda dalam doa bersama. Bunda yang kita hormati mengajak kita pertama-tama untuk meneladan cara hidupnya, dan selanjutnya memperkenalkan kita pada cara memastikan keselamatan terjadi, yaitu dengan iman yang utuh dan tak tergoyahkan. Add a comment

Read more...
 
Pendidikan Anak di Sekolah "Saja" Sudah Cukupkah???
Artikel - Keluarga
Tuesday, 16 August 2011 10:52

CATATAN HARIAN SEORANG ANAK SMA

Hari ini sekolahku libur....

Hari Jumat minggu kemarin adalah hari yang paling membuat setiap siswa di sekolahku deg-degan, karena pada hari itu laporan hasil belajar kami dibagikan dan jika laporan itu berisi nilai-nilai yang buruk, berarti kami harus tidak naik kelas, tapi jika sebaliknya maka kami naik kelas. Di saat semua teman-temanku sudah mendapatkan laporan itu, aku bingung karena aku tidak mendapatkannya. Setelah aku selidiki ternyata aku belum bayar uang sekolah. Kutelepon orangtuaku yang sedang berada di luar kota, mereka mengatakan akan segera mentransfer uang sekolahku  hari itu juga,mereka lupa atau karena apa - aku tidak tau . Maka selasai sudah masalah uang sekolah.

Keesokan harinya aku bangun sekitar jam 08:30 dan segera berangkat ke sekolah dengan semangat. Karena aku sudah tidak sabar ingin melihat hasil kerjaku selama 1 semester ini. Tetapi setibanya aku di sekolah aku sungguh kecewa karena meskipun uang sekolah sudah kubayarkan, aku masih juga belum bisa mengambil raport. Aku masih harus menunggu seseorang  untuk dapat mengambil raportku tersebut. Aku menunggu dia sejak jam 09:00 sampai jam 13:00. Betapa bosannya aku menunggu  lama sekali, tapi apa boleh buat demi raportku, aku rela menunggu.

Setelah raport kuambil, aku pun berusaha daftar ulang. Tapi salah satu orang di Tata Usaha berkata daftar ulang sudah tutup sejak jam 12:00. Aku kesal memang. Karena sudah terbayang liburanku akan tertunda dua hari lagi.

Setahuku, daftar ulang tidak mutlak siswa sendiri yang harus melakukan, dan menyerahkan formulir yang telah diisi kepada petugas daftar ulang. Apalagi setelah aku melihat orang tua murid dari salah satu siswa di Sekolah ini yang mendaftar ulangkan anak mereka. Aku pun menjadi tenang dan gembira karena akhirnya aku menemukan solusi. Akhirnya akupun pulang ke rumah dan menyuruh supir untuk datang dan meminta tolong padanya untuk menyerahkan formulir yang telah kutandatangani dan kuisi tersebut kepada wali kelasku untuk di serahkan kepada petugas daftar ulang. Akhirnya setelah aku tenang, akupun ingin liburan bersama teman–temanku.

Namun pada hari Senin setelah aku sudah tiba di tempat berlibur, betapa terkejutnya aku ketika menerima telephon dari supir keluargaku. Dia mengatakan masih ada beberapa faktor yang belum aku lengkapi dalam daftar ulang ini. Aku pun bingung, sepertinya sudah semua aku isi dan aku penuhi, namun betapa teledornya aku bahwa aku lupa mengumpulkan foto! Sebetulnya aku tidak lupa, namun aku hanya malas untuk foto-foto lagi dan kupikir jika foto menyusul tidak apa-apa. (karena saat aku duduk di Kelas X fotoku nyusul dan teman-temanku juga mengatakan bahwa foto menyusul tidak masalah). Memang pada hari sabtu aku juga sudah bertanya pada Pak Wakil Kepala Sekolah Bidang Administrasi bahwa apakah foto dapat nyusul atau tidak, dan Beliau memang mengatakan tidak. Namun mengapa aku tidak percaya dan begitu bodoh dengan mengelakkan fakta yang ada dengan keyakinanku sendiri yang belum tentu benar?

Aku merasa sangat  menyesal kepada  supir yang kadang menjadi teman baikku itu, apalagi setelah  bercerita bahwa dia dimarah-marahi oleh  guru atau wali kelasku. Seharusnya aku yang dimarahi, akan tetapi supirku yang akhirnya menjadi sasaran luapan emosi Pak guru karena kesalahanku. Aku merasa berdosa karena membiarkan orang lain yang menanggung  kesalahanku. Aku merasa lari dari masalah dan menarik orang lain kedalam masalahku hanya demi keinginanku sendiri. Aku merasa mengorbankan seseorang demi kepentinganku sendiri.  Aku menyesal namun semua sudah terlambat.

Terlebih lagi mengapa aku suka melakukan hal itu semua? Padahal aku sudah mengucapkan janji di depan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, bahwa aku tidak akan membuat masalah lagi di kemudian hari dan memperbaiki sikapku. Namun dalam waktu beberapa jam atau hari saja, aku melanggarnya kembali. Oh iya..., aku sampai lupa, memang sudah beberapa kali aku dipanggil bagian kesiswaan ini karena iseng dan membuat kekacauan di sekolah, aku sudah tidak ingat lagi karena sudah sangat sering.....

Tak ada lagi yang dapat kulakukan sekarang tetapi aku meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah aku rugikan. Untuk supirku aku menyesal dan meminta maaf yang sebesar-besarnya karena telah membuatnya menjadi sangat kerepotan, sangat capek, sangat bosan, karena harus bolak-balik ke sekolah untuk mengurus urusan yang bukan urusannya. Untuk Wakil Kepala Sekolah Bidang Administrasi dan Bagian Kesiswaan aku minta maaf karena telah melanggar janji, membuat masalah baru,  menambah-nambahi pekerjaan , menganggu liburan  dan membuatnya  marah . Untuk sekolah aku juga meminta maaf karena telah mengacaukan sistim yang berlaku.

Kesalahan terbesarku yang aku sangat sadari sekarang adalah betapa aku mengacaukan sistem administrasi di sekolah ini. Aku mengacaukan sistem daftar ulang yang seharusnya sudah selesai dari kemarin-kemarin, tapi harus diundur karena ulah tingkah kebodohan dan keegoisan diriku. Hanya karena satu individu yaitu aku. Aku juga telah membuat segala rencana para petugas karyawan terganggu dan mungkin juga gagal. Yang seharusnya mereka bisa berlibur dengan lebih cepat, menjadi gagal karena seorang individu diriku. Aku sadari aku mengacaukan segalanya. Aku benar-benar menyesal. Dan aku sangat berharap orang tuaku memperhatikan diriku, menemani aku, mengarahkan aku, menasehati aku atau memarahi aku yang akan aku terima dengan sangat senang hati.... tetapi semua itu tidak aku dapat dari orang tuaku yang sangat aku sayangi.

Segala masalah telah diselesaikan orang tuaku dengan uang dan orang–orang yang dipercayainya karena banyak urusan ke banyak kota dan bahkan ke lain negara yang katanya demi masa depanku.....

Catatan harian anak yang telah kita baca diatas merupakan sebuah refleksi akan perbuatanya di sekolah, dan juga catatan tentang kesendiriannya menghadapi hari–hari sebagai seorang anak. Kebiasaan berefleksi sangat baik dibiasakan oleh lembaga pendidikan, terutama Lembaga Pendidikan Katolik, Agar para murid semakin menjadi orang baik yang beriman yang sudah semakin sulit ditemukan.

Titik Pusat Pendidikan Katolik

“Orang yang menjadi murid Kristus berhak menerima Firman Iman (Rm. 10:8) bukan dalam bentuk yang timpang, palsu atau berkurang, tetapi utuh dan menyeluruh. Sekolah Katolik kususnya menjadi suatu komunitas yang memancarkan nilai–nilai kehidupan. Karyanya harus nampak sebagai promosi hubungan iman dengan Kristus karena di dalam diriNya-lah segala nilai mendapat kepenuhan. Namun iman terutama harus berasimilasi melalui hubungan dengan orang–orang yang sehari–hari berkarya demi kesaksian iman itu dan inilah peranan orang tua,  juga sekolah.

Berefleksi tentang nilai iman Katolik serta peran penting guru dan pendidikannya, perlu ditekankan apa yang menjadi titik pusat Pendidikan Iman Katolik itu sendiri. Pendidikan Iman Katolik terutama menyangkut upaya untuk mengkomunikasikan Kristus  serta bantuan untuk membentuk Citra Kristus di dalam kehidupan sesama manusia.

Tuhan menghendaki agar dunia baik adanya, orang bahagia, dan masyarakat sejahtera. Tetapi manusia suka  menuruti kemauan sendiri dan bahkan merusaknya. Seperti  misalnya melakukan tindak korupsi, merusak lingkungan, melakukan tindak kekerasan, dan berperilaku semau sendiri dengan mengabaikan prinsip hidup yang baik dan benar. Bahkan masyarakat menghambat dan mengancam anggotanya menjadi orang baik. Jadilah kekacauan, ketidakadilan, kemiskinan, dan kesengsaraan.

Diperlukan banyak orang baik dan beriman yang mau menyuarakan dan memperjuangkan kehidupan bersama yang lebih adil, bersaudara, lebih menghargai martabat manusia, memelihara pelestarian lingkungan hidup, dan memperjuangkan kesejahteraan bersama. Paradigma Pendidikan Reflektif akan menjawab ini semua, tetapi akan berhasil dengan baikkah tanpa dukungan para orang tua?

PARADIGMA  PEDAGOGI REFLEKTIF MENJAWAB PENDIDIKAN IMAN ANAK

Dalam sebuah pelatihan mengajar dan seminar pendidikan, penulis mendapatkan bebarapa hal penting, di antaranya bahwa pendidikan itu bertujuan luhur dan perlunya membimbing siswa agar memahami relevansi pendidikan yang didapat dengan kehidupannya kelak. Tugas lembaga pendidikan untuk menumbuh-kembangkan pengetahuan dan sikap batin siswa agar mampu melihat korelasi antara ilmu pengetahuan yang didalaminya, sehingga memiliki kepedulian kepada masyarakat dan alam lingkungan tempat anak hidup dan memberi kehidupan, memiliki motivasi untuk bertindak atas dasar pengetahuan yang telah dialaminya dan mampu  mewujudkan dalam aksi yang bermanfaat bagi sesamanya.

Pendidikan di sekolah  menjadikan dan menonjolkan bertumbuh-kembangnya  siswa menjadi anak yang baik, yang diharapkan kelak menjadi orang baik yang beriman. Memang sampai menyelesaikan pendidikan di suatu sekolah atau lembaga  mereka belum tentu menjadi orang baik. Namun bertahun–tahun setelah menyelesaikan pendidikan barulah menjadi orang dewasa yang baik, karena pembiasaan–pembiasaan baik yang diberikan waktu sekolah. Di sekolah siswa ditumbuhkan-kembangkan menjadi anak baik yang beriman. Anak yang baik memiliki ciri utama antara lain: Pertama, Anti korupsi, Anti kekerasan, dan Anti perusakan lingkungan yang dikembangkan dengan mengembangkan sikap budaya  tidak menyontek, persaudaraan sejati, dan mencintai lingkungan hidup. Kedua, lawan dikendalikan kepentingan sendiri, ditumbuhkembangkan melalui sikap budaya Kemanusiaan kritis dan Religiositas terbuka. Yang ketiga, kepemimpinan ditumbuh- kembangkan dengan penalaran , explorasi, kreatif, kemandirian dan kemampuan berbicara.

  • Menyontek adalah embrionya korupsi. Menyontek adalah mengakui yang bukan prestasinya sendiri, merugikan siswa lain, dan bertindak tidak adil. Siswa lain yang bekerja keras mungkin hanya dapat nilai 70, tetapi yang menyontek dapat nilai 90. Karena tidak belajar, seharusnya si penyontek dapat 40, tetapi dengan menyontek seolah–olah berprestasi hebat. Tidak menyontek berarti siswa tidak berminat menyontek dan tidak mau menyontek. Ada kesempatanpun, tidak berminat dan tidak mau menyontek. Tekad tidak korupsi dilatih dengan tidak menyontek. Tidak menyontek sekarang, besok, kelak dewasa, tidak korupsi diharapkan menjadi karakter siswa.

Agar orang dapat mengendalikan diri dengan prinsip–prinsip hidup bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa yang benar, siswa dibimbing menemukan prinsip–prinsip tersebut, memahaminya dan meyakininya. Siswa dibimbing untuk memahami bahwa prinsip utama dalam bernegara adalah menyelenggarakan kepentingan bersama.

  • Religiositas Terbuka, siapa yang mau secara konsisten mengakui dan yang punya kemauan untuk menolak korupsi pasti terbersit dalam pikiranya, apakah dengan menolak korupsi hidupnya akan terjamin? Maka sejak muda para siswa perlu ditumbuhkan kepercayaan yang kokoh pada Penyelenggaraan Ilahi. Di samping itu religiositas mesti terbuka, sehingga orang bisa bergaul dan bekerjasama dengan orang yang beragama dan berkepercayaan lain. Keterbukaan ini perlu dikembangkan dan sedapat mungkin menjadi sikap/karakter mereka dalam keseharian.
  • Kepemimpinan yang mendasar adalah kemampuan penalaran, eksplorasi, kreativitas, di samping kemampuan menyampaikan pemikiran secara lisan maupun tertulis dengan runtut, logis, mengena dan menarik.

PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF merupakan kerangka berfikir atau pola pikir pendidikan berdasarkan reflektif. Suatu istilah yang bagi kebanyakan orang tidak banyak berarti. Cara  ini dapat menumbuh-kembangkan siswa menjadi anak yang baik dan beriman dengan dinamika lima langkah yang dapat dilakukan oleh guru yaitu: KONTEKS, PENGALAMAN, REFLEKSI, AKSI DAN EVALUASI tanpa menambah atau mengurangi bahan ajar yang menjadi hak siswa, namun dapat menjawab kebutuhan perkembangan iman dan kepribadian anak di masyarakat. Namun perlu diingat pula bahwa anak juga belajar kehidupan dari lingkungan dan keluarga yang kelak akan mewarnai pola kehidupanya.

Sekolah  yang  menggunakan cara ini diharapkan akan menghasilkan anak–anak yang beriman dan menumbuh-kembangkan siswa menjadi siswa yang  baik, yang nantinya  menjadi orang baik yang mampu memperjuangkan kehidupan bersama yang semakin adil, bersaudara, semakin menghargai martabat manusia, yang memelihara pelestarian lingkungan hidup, dan yang memperjuangkan kesejahteraan bersama. (Yustina Dwi Suhantini, Kepala Sekolah TK Seraphine Bakti Utama, Cengkareng Indah)

Sumber: Majalah Sabitah Edisi 49, Juli-Agustus 2011

Add a comment
 
Menjadi Orang Tua 17 Menit
Artikel - Keluarga
Tuesday, 16 August 2011 10:46

Sebut saja namanya Ibu Tika (35 thn), yang kewalahan melihat putranya enggan menyelesaikan tugas sekolahnya. Padahal, menurut ibu dari dua anak ini, dirinya sudah berkorban banyak bagi kemajuan belajar anak-anaknya. Mulai dari menyiapkan sarapan pagi, mengantar anak ke sekolah dan menemaninya mengerjakan PR di malam hari. Kesibukannya sebagai manajer di sebuah perusahaan multi-nasional memang membatasi waktu dan ruang gerak ibu ini untuk menemani kedua putranya bermain.

Di sisi lain, suaminya bekerja 13 jam sehari, enam hari seminggu. Memang secara finansial, kondisi ekonomi keluarga Bu Tika terjamin. Namun yang menjadi kendala saat ini adalah putra sulungnya, Anto (10 thn) yang semakin banyak ‘bertingkah,’ mulai dari malas mengerjakan PR, sering bolos sekolah dan ‘menentang’ orangtua dan gurunya.

Sedih hati Ibu Tika melihat putranya memancarkan rasa benci yang mendalam terhadap disiplin yang diterapkan oleh kedua orangtuanya. Dulunya, Anto seorang putra yang tekun dan patuh pada orangtua.

Add a comment

Read more...
 
Pendidikan Anak dan Kesibukan Orangtua
Artikel - Keluarga
Tuesday, 16 August 2011 10:38

Awal Juni 2011 sepasang suami-isteri terlibat pembicaraan serius dengan seorang guru wali kelas saat konsultasi penerimaan rapor di sebuah ruangan. Pasalnya, anak mereka dinyatakan tidak berhasil dalam belajar dan dengan demikian tidak dapat naik kelas. Mereka tidak bisa menerima keputusan tersebut bahkan menyalahkan pihak sekolah karena merasa tidak pernah diberitahukan perihal perkembangan anaknya selama ini. Sementara menurut pihak sekolah melalui karyawan  Tata Usaha sudah beberapa kali melayangkan panggilan kepada kedua orangtua tetapi mereka tidak meluangkan waktu di sela kesibukannya untuk menanggapi panggilan tersebut. Perdebatan terhenti karena antrian orangtua lain yang sudah menunggu giliran mulai tak sabar dan merangsek mendekati meja tempat berkonsultasi. Setelah menyimak keterangan wali kelas, mendadak suami isteri itu mulai saling menyalahkan pasangannya. Sang Bapak menyalahkan si Ibu karena tidak hadir pada pertemuan pembinaan bersama guru bimbingan konseling di sekolah. Sementara sang Ibu menyalahkan si Bapak karena selalu beralasan sibuk dalam pekerjaan. Setelah mulai menyadari kesalahan mereka, keduanya mundur meninggalkan ruangan konsultasi.

Ilustrasi di atas mungkin pernah kita temui di sekolah pada saat pembagian rapor kenaikan kelas di akhir semester genap. Pada saat tersebut, setiap orangtua berharap anak-anaknya mendapatkan laporan hasil belajar yang baik dan bisa naik kelas atau lulus. Ini tentu beralasan karena  mereka menginginkan anak-anak memiliki masa depan yang lebih baik. Selain alasan biaya sekolah yang tidak sedikit, masih banyak kerugian lain yang harus ditanggung orangtua jika anaknya harus mengulang di jenjang kelas yang sama. Maka, sebagian orangtua yang sangat sibuk dengan berbagai aktivitas berupaya mengantisipasinya dengan mengikutsertakan anak-anaknya pada bimbingan belajar atau les privat untuk beberapa mata pelajaran di sore hari seperti Matematika, Bahasa Inggris, IPA, bahasa asing lainnya, Seni Musik, atau keterampilan lain. Adalah kebanggaan orang tua bila anak-anaknya dapat merebut peringkat terbaik di sekolah, atau setidaknya menjuarai bidang-bidang keterampilan tertentu. Di tengah kerasnya persaingan global industri moderen yang semakin kuat, semakin membuat orang tua memikirkan dan menyiapkan investasi bagi buah hatinya. Sejak dini anak-anak harus memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Sementara kesibukan dunia kerja orangtua yang saat ini menyita waktu, tenaga, dan pikiran memaksa mereka untuk melakukan pendampingan dengan cara yang paling memungkinkan, yaitu mengikutkan anak-anaknya pada bimbingan belajar atau les. Setidaknya, ketika anak-anak memiliki kegiatan les setelah waktu sekolah membuat mereka tetap belajar dan mendapat pendampingan dari ‘guru les’ sehingga orangtua lebih tenang bekerja.

Memang, pendampingan belajar oleh orangtua sendiri berbeda dibandingkan dengan para guru les atau orang lain. Sekalipun para pendamping belajar memiliki kualitas profesional, peran orangtua tetap tak tergantikan. Di ruang konseling sekolah sering terdengar keluhan peserta didik bahwa dengan banyaknya les di sore hari, mereka kehilangan waktu bermain dan istirahat, malahan ada yang merasa ikut les atau bimbel sebagai tambahan beban belajar. Ada banyak PR yang diberikan para guru mata pelajaran, ada tugas kelompok, ada tugas prakarya dan sejenisnya. Mereka sering kesulitan dalam mengatur jadwal serta mengatur prioritas tugas dan belajar. Padahal maksud orangtua adalah supaya anak-anak tidak bermalas-malas atau menggunakan waktu bermain secara berlebihan. Melalui kegiatan les, orangtua berharap tugas-tugas justru dapat diselesaikan pada saat itu. Banyak orang tua yang berpikiran sangat maju dan ingin sebanyak mungkin memberikan pengetahuan dan pengalaman yang terbaik bagi anak-anaknya, sehingga pengetahuan apa pun ingin diberikannya. Bahkan banyak orangtua yang sering merasa sudah ‘bebas’ bila sudah memberikan uang cukup bagi pendidikan anak-anaknya. Maka ada baiknya menimbang kembali segi baik-buruk dalam menangani problem belajar anak-anak dalam keluarga.

Pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia yang dicapai melalui proses interaksi antar sesama manusia. Anak-anak bertumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang mampu bepikir dan bersosialisasi dengan baik. Bahkan ‘pendidikan berlangsung sepanjang hayat’ - artinya, setiap orang melakukan pembelajaran seluas-luasnya dan terus-menerus agar mampu hidup. Manusia di abad moderen dipacu untuk meng-upgrade diri  agar mampu bersinergi dalam masyarakat mengikuti perkembangan zaman yang sangat pesat. Orang dewasa bertanggungjawab terhadap anak-anak muda dengan memberikan bekal pengetahuan untuk mengembangkan diri sesuai talenta yang dimilikinya. Hal yang tidak mudah adalah memberikan bekal dengan cara yang benar dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Sekolah reguler yang ada meliputi jenjang pendidikan dasar, menengah pertama, menengah atas, serta perguruan tinggi. Sementara sekolah non-reguler juga mulai banyak ditawarkan seperti lembaga-lembaga kursus dan berbagai lembaga pelatihan. Keduanya menyiapkan generasi bangsa yang handal dan siap untuk terjun ke  masyarakat. Sekolah dan Perguruan Tinggi memiliki kurikulum yang standar, yang dapat diketahui dan dipelajari peserta didik. Namun lembaga kursus memiliki kurikulum khusus yang ditawarkan dan dapat dipilih sesuai kebutuhan. Kehadiran lembaga-lembaga pendidikan tersebut saling melengkapi kebutuhan dunia pendidikan. Sekalipun dengan fasilitas moderen dan lengkap lembaga-lembaga pendidikan yang ada memiliki keterbatasan. Yang sering dilupakan adalah peran keluarga sebagai lembaga pendidikan utama. Keluarga selayaknya memiliki konsep dan kurikulum sendiri bagi setiap anggota keluarga. Jika sekolah bisa, keluarga pun bisa. Hal ini dapat disusun dan direncanakan bersama anggota keluarga, sehingga setiap anggota keluarga dengan segala keunikannya dapat memperoleh pendidikan di tingkat keluarga dengan lebih sesuai. Misalnya, anak pertama yang duduk di kelas 7 SMP pada tahun ini ditargetkan mengikuti kegiatan Putra Altar karena selama ini kurang bergaul dengan sesama anak Katolik. Dengan mengikuti kegiatan tesebut diharapkan anak memiliki komunitas yang lebih terarah.  Anak kedua yang duduk di kelas 5 SD penguasaan Matematikanya masih lemah dan perlu les tambahan. Anak ketiga memiliki talenta musikal yang baik maka perlu diberikan pelatihan keterampilan bermusik. Sang bapak karena tuntutan peningkatan kualitas manajerial dalam pekerjaan memilih studi lanjutan. Sang Ibu yang memiliki cukup waktu dan ingin meningkatkan pelayanan kepada keluarga belajar memasak secara mandiri.

Ada banyak keluarga yang sudah mampu mengatur hal ini dengan baik, temasuk juga mengatur pendidikan rohani anak-anaknya. Misalnya dengan menetapkan anak-anaknya mengikuti salah satu kegiatan di Paroki seperti Sekolah Minggu (SBI), Legio Ekaristi, Misdinar/Putera Altar, Antiokhia, OMK. Namun masih banyak keluarga yang masih membiarkan anak-anak menemukan pengalamannya sendiri dan belum memberikan perhatian pada pendidikan dan pengalaman rohani anak-anak melalui kegiatan-kegiatan di Lingkungan, Wilayah, atau Paroki.

Komunikasi dalam keluarga menjadi sarana sentral dari keberhasilan pembinaan dan pendidikan keluarga. Kalau di rumah anak-anak sudah terbiasa dengan pola komunikasi yang baik dengan setiap anggotanya, maka di sekolah mereka pasti juga melakukan interaksi yang baik sebagaimana dilakukannya di rumah. Anak-anak sangat mahir mengkomunikasikan setiap pengalaman dan perasaannya dengan bercurhat satu sama lain empat mata di sudut-sudut sekolah bahkan lewat dunia maya. Membagikan kegembiraan dan kesedihannya kepada teman akan sangat membantu perkembangan kedewasaan mereka. Apalagi berbagi dengan anggota keluarganya pasti akan sangat bermanfaat bagi keharmonisan keluarga.

Waktu bermain bagi anak perlu dipandang secara positif dalam kaitannya dengan kebutuhan mereka untuk berinteraksi. Pengalaman bermain dengan teman sebaya merupakan pembelajaran yang amat baik yang patut mendapatkan porsi yang cukup. Pada saat bermain anak berlatih berkomunikasi dengan berbagai suasana dan emosi. Kadang sangat mudah tertawa terbahak-bahak, tetapi sebentar kemudian berkomunikasi dengan wajah cemberut dan bahkan saling berteriak dan bertengkar. Dalam situasi ini anak saling belajar mengolah emosi, merasakan kegembiraan yang khas bagi perkembangan jiwa anak-anak,  memberi ruang terbuka dalam menyelesaikan masalah ketika mereka mempertengkarkan sesuatu. Tentu anak-anak yang kurang mempunyai pengalaman ini  akan berbeda dengan mereka  yang terbiasa berinteraksi. Pengalaman baik pada usia muda akan menjadi bagian yang indah dalam jiwa dan kehidupan manusia.

Paradigma baru dalam mendidik anak-anak untuk lebih mandiri dan memiliki daya juang di masa depan kiranya perlu ditemukan dengan lebih cermat. Betapapun pekerjaan menyita hampir seluruh waktu yang ada, perlu menyisihkan waktu untuk mendampingi anak secara langsung. Memberikan sentuhan dan siraman bak merawat bunga di taman. Sebelum layu di terpa angin dan teriknya mentari kehidupan. Keluarga kita jadikan figura indah bagi potret segenap anggotanya.

Kita sambut baik hadirnya Seksi baru di Paroki yang akan mendalami dan menggarap hal-hal yang menyangkut kepentingan dunia pendidikan di tingkat Paroki. Semoga kehadirannya turut memberi sentuhan dan warna bagi pengembangan pendidikan anak-anak bangsa dan Gereja. (Gerardus Maria Rosariyanto, Kepala Sekolah SMP Bintang Kejora, Taman Cengkareng Indah)

(Sumber: Majalah Sabitah Edisi 49, July-Agustus 2011)

Add a comment
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>

Page 1 of 5