PENGUMUMAN
Mengatasi Rasa Kecewa
Saturday, 29 May 2010 15:33

Banyak orang pasti pernah mengalami yang namanya kecewa. Kecewa itu bisa bikin kita BeTe abis seharian tuch. Tapi… kalo kecewa ini mulai dipendem, wah.... gawat! Jangan sampe dech! Ini bisa bikin hati kita jadi pahit dan malah bisa bikin jadi penyakit. Mesti cepet-cepet diberesin.

Berikut ini beberapa point yang bisa kita lakuin buat bikin kecewa pergi dari kita:

1. Curhat

Curhat dech sama temen-temen yang bisa kamu percayain, setidaknya ada yang menghibur, kasih pendapat atau masukan sama kamu. Memang nggak gampang juga buat cari temen-temen yang bisa dipercaya, tapi kamu bisa selalu curhat sama Tuhan. Bicaralah, Dia pasti mendengar.

2. Belajar memaafkan, melupakan dan tetap mengasihi

Mengampuni itu obat yang paling manjur buat penyakit kecewa ini. Tapi nggak cukup  itu, lupakanlah apa yang udah terjadi. Biarkan itu jadi  masa lalu. Kita nggak bisa mengubah masa lalu bukan? Tetap kasihi dan  doakan orang yang sudah membuat kita kecewa. Itu tandanya hati kita udah beres, dan nggak menyimpan kecewa itu.

3. Bereskan

Kalo memang masalah itu perlu dibereskan dengan orang yang  bersangkutan, ya bereskanlah. Bicarakan dan jelaskan secara baik-baik  permasalahannya. Waktu berbicara, jangan pake emosi.

4. Sadar bahwa manusia masih bisa buat salah

Sebenarnya kita sedang sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Karena manusia nggak sempurna, tapi sedang menuju ke kesempurnaan  itu. Bukankah kita juga masih bisa ngecewain orang?

5. Positif thinking – berpikir positif

Mungkin mereka juga nggak bermaksud untuk mengecewakan kita. Mungkin  Tuhan ijinkan untuk memproses kita supaya menjadi bertambah baik lagi.  Bukankah besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.

6. Terima apa adanya

Supaya kita nggak mudah kecewa, terimalah orang itu apa adanya.  Memang kita nggak bisa mengubah orang, cuma Tuhan yang sanggup.  Apa  kekurangan orang itu mestinya diperlengkapi dengan kelebihan kita. Tapi… kalo orang itu salah ya jangan sungkan untuk menegegur. Itu tandanya  kita sayang sama dia dan nggak mau orang tersebut jadi tambah ngaco.

7. Fokus pada orang lain

Fokus pada diri sendiri membuat kita mudah kecewa, karena kita akan  selalu merasa diperlakukan tidak adil. Coba alihkan pikiran kita pada orang lain dengan cara bagaimana membahagiakan orang lain sekalipun  mungkin kita tidak mendapat balasan kebaikan dari orang tersebut.

(Sumber: Majalah GFresh! - http://www.anakmuda.net)

(Kontribusi: Kresensia Fanny, umat Lingkungan St. Daniel)

 
Klo Gw Ngetop One Day
Monday, 12 April 2010 10:06

*** di imaji dan bila itu jadi nyata…***

‘Gw’ sering liat acara karbitan yang membuat orang ngetop. Karbitan, karena proses ngetopnya singkat ‘banget’. Dari awal ‘American Idol’, hanya perlu waktu kurang dari enam bulan untuk jadi idola dunia. Walopun ‘gw’ yakin proses buat jadi ngetop itu sendiri dimulai jauh-jauh hari… Sebelum mereka audisi, mereka sudah latihan dari sekian tahun sebelumnya, mungkin dari kecil sudah hobby nyanyi. Mereka sudah sering manggung dari satu kota ke kota lainnya, mereka sering memenuhi acara mandi di kamar mandi mereka dengan teriakan-teriakan ‘rock’-nya. Kalopun proses terkenalnya yang seolah instan, ‘gw’ sadar koq, di luar itu mereka juga ‘udah’ usaha keras.

Masalahnya dari publikasinya. Dulunya mungkin mereka ‘cuma’ bar tender, waitress di restoran, ato kata dunia mereka bukan siapa-siapa (psssst, padahal ya mereka manusia juga, ya hehehe). Sesudah acara itu kelar, langsung melesat jadi seleb kelas dunia. Yang ‘gw’ liat, gak semua artis entah Hollywood, Hongkong, Jepang, Korea, Bollywood,  ‘ato’ negeri tercinta Indonesia bisa menjaga kelakuannya dengan baik. Maksudnaaa: banyak orang-orang yang OTB (Orang Top Baru, adaptasi dari OKB – Orang Kaya Baru) seperti lupa diri. Lupa daratan, ingatnya lautan. Halah! Wkwkwk…

 

 
Sukses Gak Harus Nunggu Tua
Friday, 11 September 2009 14:48

Kalau menengok ke belakang, terutama masa-masa 10-20 tahun lalu, mungkin kita yang masih muda-muda ini cenderung berpikir bahwa untuk menjadi sukses/mapan biasanya harus menunggu usia matang/dewasa (baca: tua). Beberapa dari kita mungkin berpikir bahwa usia itu bisa di atas 30 tahunan untuk yang sukses dari bekerja di perusahaan besar.   Untuk yang bisa sukses dari usaha sendiri, cenderung menunggu usia yang hampir menyentuh angka pensiun, yakni 60 tahunan. Memang, kesuksesan itu tidak mudah untuk dicapai, sehingga cenderung membutuhkan waktu lama untuk mencapainya.

Namun dengan menyebut kata “lama” - apakah berarti harus menunggu tua untuk mencapai kesuksesan? “Lama” adalah relatif, menunggu pacar yang telat datang 10 menit, kita sudah menyebut itu “lama”. Ketika kita terlambat bangun dan terlambat masuk kelas 5 menit, guru piket sudah marah-marah dan bilang kita “lambat (lama)”. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kesuksesan bisa diraih oleh siapa saja tanpa harus menunggu waktu puluhan tahun. Dalam hal “kesuksesan berkarir”, saya meyakini bahwa dengan kerja keras yang ekstra kita bisa lebih cepat meraih kesuksesan dalam berkarir, karena kerja keras-lah yang lebih dapat menggantikan waktu yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan karir.

 
Shelter
Sunday, 30 August 2009 17:37


It’s raining.  It’s been two days in a row. The weather nowadays changes rapidly. At one moment of time, it will be sunny shiny day. And suddenly the next minute, the cloud begins to gather and flocked at one side. The color changes as well, it turned darker and darker, becomes grey. And suddenly, it rains!
 
Whether it’s hot or rain, we tend to look for a shelter.
Either it’s only an umbrella that we can carry wherever we go, a bus shelter where we can stop for a while-waiting-then continuing the journey, a mall-where we can wait and do more things, or a house- a place of our own. We need a shelter.
 

 
C A P E K
Sunday, 23 August 2009 15:13

“Capek!”

Begitu kata hatimu. Ketika lagi-lagi impian yang sudah diidam-idamkan sejak lama kandas. Tidak ada titik terang. Di luar sana sepertinya hanya ada kegelapan yang melanda. Jadi, ngapain sih terus berjuang?

 “Capek!”

Ketika tidak ada dukungan dari orang-orang yang kauanggap penting, orang-orang yang kau kasihi, keluarga, suami/istri, pacar, anak, teman dekat, sahabat, dsb. Orang-orang yang dekat di hati tidak mendukung impianmu. Padahal impianmu bukan sesuatu yang jelek. Hanya memang impianmu mungkin tidak umum. Di saat semua anak bermimpi menjadi dokter atau pilot, dengan bangga kaubilang mau jadi pelukis. Dan mulai saat itu, dirimu dicekoki begitu banyak masukan kiri kanan untuk mematikan impian itu. Anehnya, impian itu tak pernah pudar, malah makin berakar kuat. Karena kau memang suka melukis dan lukisanmu selalu keluar dari segenap kemampuan diri untuk memberi yang terbaik, dan lukisanmu memang disukai banyak orang.

 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Page 1 of 2