|
Saturday, 29 May 2010 10:56 |
|
Gereja Paroki Trinitas, Cengkareng, lahir, tumbuh, dan besar di tengah-tengah masyarakat majemuk Kota Metropolitan Jakarta – khususnya tentu mengacu kepada daerah Cengkareng sebagai daerah wilayah Paroki. 32 tahun peziarahan Paroki Trinitas diwarnai oleh suka dan duka hidup berparoki baik ke dalam (antar sesama umat) maupun ke luar (antara umat Katolik dan umat non-Katolik di sekitarnya).
Tak sedikit umat Paroki Trinitas yang masih mengenang sulitnya membangun Trinitas yang akhirnya megah berdiri dan diberkati di tahun 1990. Sekarang pun Trinitas kembali sedang membangun gereja Santa Maria Imakulata sebagai ujud pemekarannya. Hambatan tentu ada, itu tak bisa dipungkiri. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Apakah karena kita sebagai umat Katolik belum bisa membaur diri – atau istilah yang biasa dipakai adalah: masih hidup eksklusif? Umat Katolik kurang mampu menyentuh masyarakat non-Katolik yang menjadi tetangganya? Kurang mau mengambil bagian dalam menciptakan kerukunan hidup beragama di negara ini? Perlukah kita membina hubungan atau relasi yang baik dengan sesama yang bukan beragama sama dengan kita (baca: non-Katolik)?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, Sabitah mencoba mengontak Romo Henricus Asodo, OMI, Rektor Seminari Tinggi OMI, Yogyakarta, yang juga duduk dalam Komite Dialog Antar Agama dan Misi Sekuler, pada Konferensi Regional OMI Asia-Oceania (The Committee for Inter-Religious Dialogue and Mission to Secularity, The Asia Oceania Regional Conference – AORC/AOIRD-MS).
Idealnya, umat berbagai agama dapat hidup bersama dengan rukun di satu negara, tapi mengapa hal ini sulit dicapai di negara kita?
“Saya ingin bertanya: apakah benar bahwa idealnya umat berbagai agama dapat hidup rukun di satu negara? Bukankah lebih ideal lagi kalau satu agama untuk satu negara? Di sejumlah negara ada fakta bahwa satu agama, satu negara. Nampaknya, itu ideal sekali. Namun, tetap saja dalam satu agama dan satu negara ada pertentangan dan pertikaian. Pihak konservatif melawan pihak moderat; Klaim lebih asli melawan klaim lebih sesat; Persaingan antar pemimpin satu agama itu, dan lain sebagainya. Kalau demikian keadaannya, memang menjadi serba sulit atau malah tidak ada pilihan sama sekali. Konsep “satu negara satu agama” ternyata tidak juga mampu menjamin kehidupan yang ideal, apalagi kalau dalam satu negara ada berbagai agama, bisa lebih runyam lagi. Maka menurut saya, yang menjadi pokok masalah adalah egosentrisme dalam setiap agama. Hampir semua agama memusatkan perhatian pada kepentingan agamanya itu sendiri dengan klaim kebenaran mutlak mengungguli agama-agama yang lain. Hal ini secara asali – atau pada dasarnya - tidak bisa dipisahkan dari kehadiran sebuah agama. Agama memang selalu mengandung unsur egosentris atau eksklusif. Kita bisa membayangkan kalau egosentis hidup dengan egosentris, atau eksklusif hidup berdampingan dengan eksklusif, bagaimana jadinya? Sungguh menjadi suatu perjuangan yang berat untuk bisa hidup rukun dalam keberagaman agama, bukan?”
|
|
|
Wednesday, 19 August 2009 12:27 |
Bekerja Keras Demi Penyakit Kaki Gajah
"Saya dengar Profesor suka mencangkul, ya?" sapa seorang rekan ketika Prof. Dr. dr. Fransiscus Assisi Sudjadi (61) menyambangi kantornya yang berada di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Mendengar sapaan itu, Guru Besar Bidang Parasitologi ini tersenyum dan mulai berkisah mengenai kesibukannya di rumah. "Sejak kecil saya memang suka bergelut dengan tanah. Meski sudah jadi dokter dan guru besar, saya masih senang mencangkul dan menanam pohon," tuturnya. Memang, di halaman rumahnya yang terletak di Jl. Permandian 5, Blabak, Magelang, terdapat sebuah taman kecil yang asri dan tertata apik. Ikan-ikan pun berkecipak riang di kolam belakang rumah. Sebidang lahan persawahan di luar pemukimam juga akrab disapanya ketika belum terkena stroke. |
|
Saturday, 01 August 2009 20:44 |
 Tidak banyak pastor muda yang melejit secepat Romo Antonius Benny Susetyo Pr. Ditahbiskan pada 1996, kemudian ditempatkan di Situbondo dan Bondowoso dua pekan kemudian, kini Benny Susetyo menjadi staf Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Tepatnya, Sekretaris Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan (HAK). Posisi ini memungkinkan Benny leluasa bergerak ke mana-mana, menembus sekat-sekat agama, kepercayaan, serta latar belakang lainnya. Sebagai Pastor Kategorial, Benny Susetyo tidak punya paroki. Tidak secara langsung 'menggembalakan domba-domba' layaknya pastor biasa. Dia bisa ke mana-mana, kapan saja, bergerak di seluruh Indonesia. ''Yah, saya mendapat penugasan sebagai Pastor Kategorial. Saya berusaha melaksanakan itu dengan sebaik-baiknya,'' ujar pria 39 tahun ini saat ditemui di Gereja Katedral Surabaya, Kamis (21/3/2008). |
|
Tuesday, 30 June 2009 12:42 |
|

Di mata masyarakat, tiga pasang capres-cawapres pilpres 2009 mempunyai kekuatan sekaligus kelemahan. Semua pasangan berkampanye dengannama yang sama dalam visi: hendak menyejahterakan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. |
|
Tuesday, 30 June 2009 12:23 |
|
Berdasarkan Peraturan KPU no. 32 Tahun 2009, pemilihan presiden (pilpres) putaran pertama diselenggarakan pada Rabu, 8 Juli 2009.
Apabila pada putaran pertama ini tidak ada pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang memperoleh suara di atas 50% dari suara sah, akan dilakukan pilpres putaran kedua pada Selasa, 8 September 2009. Pilpres putaran kedua hanya diikuti 2 pasangan capres/cawapres yang memperoleh suara terbanyak 1 dan 2.
|
|
|
|
|