PENGUMUMAN
Mgr. Soegijapranata: 100% Katolik 100% Indonesia
Artikel - 100% Katolik-Indonesia
Tuesday, 11 October 2011 16:31

Pagi itu Soegija hanya duduk termenung di ruang makan. Romo Soegijapranata panggilannya saat ini. Ia sudah menjadi Pastor Paroki Bintaran selama beberapa tahun ini. Sebuah paroki yang memang dikhususkan untuk orang-orang Jawa, yang sengaja dipisahkan dari Gereja Kidul Loji yang jaraknya tidak terlalu jauh tapi memang dikhususkan untuk umat Belanda yang ada di Yogyakarta.

Add a comment
Read more...
 
Selamat Idul Fitri 1432 H
Artikel - 100% Katolik-Indonesia
Tuesday, 30 August 2011 19:22

Akhir bulan puasa Ramadhan adalah merupakan sebuah kesempatan yang menggembirakan bagi Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama untuk mengirimkan ucapan Selamat yang paling tulus kepada Anda dengan harapan, agar segala upaya yang telah dilakukan dengan senang hati selama bulan ini akan menghasilkan buah-buah rohani yang diidam-idamkan.

Add a comment
Read more...
 
Pahlawan kota Solo dan Yogyakarta
Artikel - 100% Katolik-Indonesia
Tuesday, 16 August 2011 11:29

Banyak pahlawan nasional yang kita kenal.  Untuk menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, kami sajikan 2 Pahlawan Nasional Indonesia yang beriman Katolik untuk lebih menyadarkan kita akan tugas dan kewajiban kita sebagai Warga Negara Indonesia.  Jadilah 100% Katolik, 100% Indonesia!

Ignatius Slamet Riyadi lahir di Surakarta, 26 Juli 1927.  Setelah tamat dari Sekolah Pelayaran Tinggi, ia sempat menjadi navigator kapak kayu.

Pada 1942, saat Jepang menduduki Indonesia, Slamet Riyadi meninggalkan pekerjaannya untuk mengobarkan perlawanan.  Setelah diangkat sebagai Komandan Resimen I Divisi X, ia bertugas merebut kekuasaan politik dan militer di kota Solo dari tangan Jepang.  Ketika terjadi Agresi Militer Belanda, taktik gerilya yang diterapkannya membuat Belanda kewalahan.

Add a comment

Read more...
 
Jadi Katolik yang Jernih, Kuat, Sopan, dan Toleran
Artikel - 100% Katolik-Indonesia
Saturday, 29 May 2010 10:56

Gereja Paroki Trinitas, Cengkareng, lahir, tumbuh, dan besar di tengah-tengah masyarakat majemuk Kota Metropolitan Jakarta – khususnya tentu  mengacu kepada daerah Cengkareng sebagai daerah wilayah Paroki.  32 tahun peziarahan Paroki Trinitas diwarnai oleh suka dan duka hidup berparoki baik ke dalam (antar sesama umat) maupun ke luar (antara umat Katolik dan umat non-Katolik di sekitarnya).

Tak sedikit umat Paroki Trinitas yang masih mengenang sulitnya membangun Trinitas yang akhirnya megah berdiri dan diberkati di tahun 1990.  Sekarang pun Trinitas kembali sedang membangun gereja Santa Maria Imakulata sebagai ujud pemekarannya.  Hambatan tentu ada, itu tak bisa dipungkiri.  Mengapa hal demikian bisa terjadi?  Apakah karena kita sebagai umat Katolik belum bisa membaur diri – atau istilah yang biasa dipakai adalah: masih hidup eksklusif?  Umat Katolik kurang mampu menyentuh masyarakat non-Katolik yang menjadi tetangganya?  Kurang mau mengambil bagian dalam menciptakan kerukunan hidup beragama di negara ini?  Perlukah kita membina hubungan atau relasi yang baik dengan sesama yang bukan beragama sama dengan kita (baca: non-Katolik)?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, Sabitah mencoba mengontak Romo Henricus Asodo, OMI, Rektor Seminari Tinggi OMI, Yogyakarta, yang juga duduk dalam Komite Dialog Antar Agama dan Misi Sekuler, pada Konferensi Regional OMI Asia-Oceania (The Committee for Inter-Religious Dialogue and Mission to Secularity, The Asia Oceania Regional Conference – AORC/AOIRD-MS).

Idealnya, umat berbagai agama dapat hidup bersama dengan rukun di satu negara, tapi mengapa hal ini sulit dicapai di negara kita?

“Saya ingin bertanya: apakah benar bahwa idealnya umat berbagai agama dapat hidup rukun di satu negara? Bukankah lebih ideal lagi kalau satu agama untuk satu negara? Di sejumlah negara ada fakta bahwa satu agama, satu negara. Nampaknya, itu ideal sekali.  Namun, tetap saja dalam satu agama dan satu negara ada pertentangan dan pertikaian.  Pihak konservatif melawan pihak moderat; Klaim lebih asli melawan klaim lebih sesat; Persaingan antar pemimpin satu agama itu, dan lain sebagainya.  Kalau demikian keadaannya, memang menjadi serba sulit atau malah tidak ada pilihan sama sekali. Konsep “satu negara satu agama” ternyata tidak juga mampu menjamin kehidupan yang ideal, apalagi kalau dalam satu negara ada berbagai agama, bisa lebih runyam lagi.  Maka menurut saya, yang menjadi pokok masalah adalah egosentrisme dalam setiap agama. Hampir semua agama memusatkan perhatian pada kepentingan agamanya itu sendiri dengan klaim kebenaran mutlak mengungguli agama-agama yang lain. Hal ini secara asali – atau  pada dasarnya - tidak bisa dipisahkan dari kehadiran sebuah agama. Agama memang selalu mengandung unsur egosentris atau eksklusif.   Kita bisa membayangkan kalau egosentis hidup dengan egosentris, atau eksklusif hidup berdampingan dengan eksklusif,  bagaimana jadinya?  Sungguh menjadi suatu perjuangan yang berat untuk bisa hidup rukun dalam keberagaman agama, bukan?”

Add a comment

Read more...
 
Prof. Dr. dr. F.A. Sudjadi, OFS
Artikel - 100% Katolik-Indonesia
Wednesday, 19 August 2009 12:27

Bekerja Keras Demi Penyakit Kaki Gajah

"Saya dengar Profesor suka mencangkul, ya?" sapa seorang rekan ketika Prof. Dr. dr. Fransiscus Assisi Sudjadi (61) menyambangi kantornya yang berada di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta.  Mendengar sapaan itu, Guru Besar Bidang Parasitologi ini tersenyum dan mulai berkisah mengenai kesibukannya di rumah.

"Sejak kecil saya memang suka bergelut dengan tanah.  Meski sudah jadi dokter dan guru besar, saya masih senang mencangkul dan menanam pohon," tuturnya.  Memang, di halaman rumahnya yang terletak di Jl. Permandian 5, Blabak, Magelang, terdapat sebuah taman kecil yang asri dan tertata apik.  Ikan-ikan pun berkecipak riang di kolam belakang rumah.  Sebidang lahan persawahan di luar pemukimam juga akrab disapanya ketika belum terkena stroke.

Add a comment
Read more...